Q & A : MENGAPA ANAKKU TAK MAU PERGI KE SEKOLAH?

Aduuh, kenapa ya anakku tiba-tiba mogok pergi sekolah?

Bunda pernah mengalami hal semacam ini? Ya, ternyata, cukup banyak orangtua yang tengah menghadapi permasalahan “mogok sekolah” pada anak-anaknya. Nah, berikut ini adalah rangkuman pertanyaan dan jawaban yang masuk ke redaksi Rumah Bunda yang berkaitan dengan masalah anak mogok masuk sekolah. Bila Anda memiliki masalah yang sama, semoga pertanyaan dan jawaban berikut dapat membantu menjawab kegundahan hati Anda.

 Question : Anak saya usia 4,5 tahun, sejak Juli kemarin mulai bersekolah. Memasuki bulan ketiga tiba-tiba mogok sekolah dengan alasan bosan karena ibu guru bicaranya lama. Saat ini sudah kurang lebih 3 minggu dia tidak bersekolah. Perlukah dan membantukah jika saya membawanya pada seorang ahli? Saya yakin ada sesuatu di sekolah yang membuat dia tidak mau datang ke sekolah namun dia tidak bisa mengungkapkannya. (Ibu Fifi Lubis)

Answer : Untuk usia 4,5 tahun berarti sudah masuk TK ya, Bu. Dan usia segitu anak memang sedang senang-senangnya bermain dan bereksplorasi dengan kawan-kawannya. Kurang tepat sebenarnya jika belajar di TK disamakan dengan belajar di SD atau tingkat yang lebih tinggi. Seharusnya, konsep pembelajaran di TK adalah belajar sambil bermain, tidak melulu dalam kelas dan banyak bicara. Jika guru TK terlalu lama berbicara di sekolah, pantas saja jika anak Anda bosan dan enggan sekolah.

Jangan terburu-buru membawa si kecil ke psikolog. Tenang saja, insya Allah ini masih dalam batas kewajaran. Akan tetapi, Anda pun harus menyelidiki sebab lain, barang kali keyakinan Anda tentang adanya sebab lain yang membuatnya mogok sekolah memang ada. Ada beberapa langkah yang bisa Anda lakukan:
1. Tanyakan dan ajak si kecil bicara dari hati ke hati dan pilihlah kalimat yang bisa difahami untuk anak seusianya. Anda harus pintar-pintar memilih waktu yang tepat untuk mengajak si kecil berbagi dengan Anda.
2. Carilah informasi sebanyak-banyaknya tentang guru si kecil dari orangtua atau wali murid yang lain. Adakah keluhan yang sama?
3. Carilah informasi dari guru dan kepala sekolah tentang teman-teman si kecil di sekolah. Bisa jadi, si kecil merasa takut dengan temannya yang bandel dan senang mengganggunya.
4. Perhatikan juga sekeliling Anda dan si kecil sendiri. Apa yang ia lakukan jika ia tidak mau sekolah dan di rumah saja? Bagaimana lingkungan di sekitar rumah Anda? Adakah anak seusianya yg tidak sekolah? Bisa jadi, si kecil tidak mau sekolah juga karena ia merasa ada teman seusianya yang tidak sekolah dan ia ingin bermain bersama temannya tersebut.

 

 Question : Anak saya umur 5 tahun, sudah hampir 5 bulan sekolahnya minta ditungguin terus. Padahal kalau sudah disekolah dia enjoy aja dengan teman dan gurunya tidak ada masalah. Hanya sekali-kali menengok keluar untuk memastikan ibunya nungguin dia, kalau gak ada dia langsung keluar mencari ibunya sambil nangis. Kalau ditanya kenapa minta ditunggin, jawabannya hanya takut ibunya pergi. Adakah saran untuk masalah ini? (Bapak Iman)

Answer : Saya mencoba berbagi sesuai dengan pengalaman saya. Saya dulu juga pernah menghadapi murid yg demikian. Tiga bulan pertama mamanya bahkan harus ikut masuk kelas. Jika tidak melihat mamanya, dia akan menangis keras dan meraung-raung. Di kelas bahkan tidak aktif, tidak mau ikut aktivitas apa-apa. Saat ditanya mengapa dia begitu, jawabannya pun hampir sama: pingin aja begitu, katanya. Wow. saya sendiri sedikit merasa kesulitan awalnya, karena murid yang saya tangani juga banyak.
Lalu saya mencoba melakukan pendekatan yang lebih intens dengannya. Lebih memberinya perhatian, kesempatan, dan tantangan. Awalnya ia juga menolak. Tapi, saya terus bertahan, dan juga sedikit melakukan “pemanasan” untuk memacu semangatnya bersama anak2 lain. Sampai akhirnya anak itu mulai merasakan kedekatan dengan saya, dia mulai mau beraktivitas, mulai tidak sering-sering menengok ke jendela, dan akhirnya mau ditinggal. Saat 4 bulan masuk, saya mencoba memberi tantangan pada ortu untuk “tega”. Lebih baik saya susah diawal daripada semua anak malah iri dan ingin ditemani juga.
Saya pikir, anak dengan type demikian memang membutuhkan kerja sama antara ortu dan guru. Maka pelan-pelan kami mulai bekerja sama secara lebih kooperatif. Dan akhirnya si anak benar-benar mau ditinggal dan mengalami perubahan yang cukup baik.
Nah, mungkin, Anda dapat mendiskusikan hal ini dengan istri, yang kemudian juga mengajak guru bekerjasama untuk melatih kemandirian si kecil. Agar ia mau ditinggal. Sebab, sebagai seorang ibu saya memahami betapa banyak pekerjaan rumah yang harus ditinggal untuk menunggui si kecil. Dan sebagai guru, betapa canggungnya jika saya harus mengajar dengan ditemani orangtua yang “ikut” belajar. Tentu tidak fleksibel dan kurang rileks.
Demikian, semoga bermanfaat.

 

 Question : Bunda, apa yang hrs saya lakukan untuk anak saya yang mogok sekolah? Awal cerita, ketika dia MOS dia ceria dan tidak ada masalah sama sekali dan waktu itu saya tungguin karena saya cuti. Tapi, setelah MOS ada kejadian yang bikin anak saya TRAUMA, yaitu kesalahan karena dia mengatakan “Popok” untuk sebutan celana dalam. Akhirnya dia diketawakan teman-teman sekelas. Sejak itu dia mogok sekolah, tidak mau masuk kelas. Jadi sekarang dia hanya bermain-main di ruang guru tanpa melakukan kegiatan apapun dan ditemani guru BP nya. Yang saya tanyakan, sampai kapan kejadian ini akan berlangsung?? Saya stress, sedih, bingung karena saya juga bekerja ? (Ibu Ari)

Answer : Bunda Ari, dari cerita Anda, sepertinya si kecil adalah type anak yg sensitif ya? Menghadapi anak demikian memang gampang-gampang susah. Kita harus bekerja sama dengan guru kelasnya agar si kecil mau masuk kelas dan mengikuti pelajaran lagi. Apalagi, apa yang disebut dengan “kesalahan” itu sebetulnya tidak fatal dan tidak seharusnya membuatnya mogok berkepanjangan. Itu hanya sebuah kekeliruan kecil.
Saran saya, bunda Ari konsultasi dengan guru kelas, karena kegiatan di kelas tentu merupakan tanggungjawab beliau. Tanpa adanya kerjasama yang baik antara guru dan wali murid, tentu saja ini cukup sulit.
Kemudian, Anda pun perlu mengajak si kecil bicara dari hati ke hati. Bahwa kejadian tersebut tidak perlu lagi diingat-ingat. Dan apabila ada teman yang mengejek, anggap saja ia tidak mendengar. Anda mungkin bisa menceritakan beberapa pengalaman Anda atau ayahnya yang hampir sama, dan kemudian Anda berusaha untuk tetap sekolah, sehingga teman-teman mulai melupakan kejadian tersebut. Karena tentu saja lambat laun anak-anak akan melupakan kejadian tersebut dengan sendirinya.
Anda juga bisa menyiasati si kecil, untuk tetap berbaik hati kepada teman-teman yang mungkin agak bandel. Misalnya, Anda membekalinya dengan kue-kue atau permen, dan si kecil bisa membagi kue tersebut untuk teman-teman sekelasnya. Yang jelas, tekankan bahwa si kecil harus berani menghadapi masalahnya, dan harus berani membalas perbuatan yang kurang baik dengan perbuatan yang baik.
Kadang-kadang anak-anak akan ngotot atau bahkan meminta pindah sekolah. Tapi, jika Anda menurutinya, itu bukanlah solusi terbaik. Apalagi kekeliruan tersebut adalah sebuah spontanitas tak disengaja.
Demikian ibu, semoga bermanfaat.

 

 Question : Selama beberapa minggu terakhir, putri saya (5 tahun) sering terlihat cemas setiap kali hendak pergi ke sekolah. Sebelumnya, dia sangat baik di sekolah dan tak ada masalah. Tapi kenapa sekarang hampir setiap pagi ia sering mogok dan menangis saat harus sekolah? (Ibu Susan)

Answer : Jika awalnya anak baik-baik saja saat di sekolah, dan baru merasa cemas akhir-akhir ini, maka bisa jadi ada “sesuatu” yang baru terjadi. Seperti intimidasi atau masalah dengan anak-anak lain. Bicaralah dengan anak Anda tentang bagaimana keadaan di sekolah, seperti misalnya bertanya tentang apa yang dia lakukan setiap hari, apa yang dia pelajari di sekolah, dan apa yang membuatnya takut atau gugup di sekolah.

Tanyakan pula pada gurunya tentang apa yang mungkin terjadi. Apakah anak Anda mengalami kesulitan dengan tugas-tugas baru di sekolah? Apakah dia mengalami kesulitan melihat atau mendengar secara memadai? Atau bagaimana dia berinteraksi dengan anak-anak lain dan gurunya?  Apakah perilakunya berubah akhir-akhir ini?

Namun, terkadang alasan anak-anak enggan untuk pergi ke sekolah sebenarnya tidak ada hubungannya dengan sekolah. Terkadang pula anak-anak tidak mau pergi ke sekolah ketika sesuatu yang besar telah berubah dalam kehidupan mereka, seperti pindah rumah, kelahiran adik baru, atau perceraian orangtua. Mereka mungkin merasa dibutuhkan di rumah karena orangtua stres atau karena sesuatu yang lain yang mempengaruhi keluarga. Jika itu terjadi,  maka jawabannya adalah dengan menangani masalah keluarga terlebih dahulu.

 

 Question : Bun, saya mau nanya, tahun ini anak saya umur 6 tahun pas Desember ini. Dia duduk di TK B, kebetulan dia baru di sekolahnya yang sekarang karena TK A nya di sekolah lain, kami pindahan dari luar kota. Waktu TK A anak saya gak ada masalah, dia anak yang mandiri dan prestasi sekolahnya bagus. Tapi di sekolah barunya ini dia agak rewel sekolah, pas saya tanya diabilang tidak suka sekolah di situ sebab gurunya galak dan suka menghukum untuk masalah-masalah sepele. Saya sudah coba ajak gurunya komunikasi tapi kayaknya susah. Mau saya pindahin sekolah juga susah sebab ini sudah 1 semester, bagaimana baiknya? (Ibu Titik Widayati)

Answer : Memang cukup sulit ya jika dihadapkan dengan masalah yang “nanggung” seperti ini. Apalagi tinggal 1 semester. Meminta anak untuk bersabar, tapi rasanya kasihan. Apalagi jika sudah jelas-jelas kita melihat bahwa guru kelasnya kurang bisa diajak komunikasi dan kurang disukai oleh murid. Yang ada justru belajar menjadi tidak enjoy dan membuat malas. Betul?
Kalau saya pribadi, jika memang guru kelas sudah tidak bisa diajak komunikasi, saya akan minta saran dari kepala sekolah terkait. Tapi, jika masalah tidak juga bisa terselesaikan dengan bantuan kepala sekolah, maka langkah yang saya ambil adalah mengeluarkannya dari sekolah tersebut. Kenapa?
Pertama, yang saya ketahui adalah tidak ada syarat memiliki ijazah TK untuk masuk SD. Jadi, bahkan meski si kecil tidak TK pun, tidak mengapa. Kita bisa mengajarinya sendiri di rumah dengan metode yang lebih mendidik. Atau bisa mencari sekolah lain yang bisa menerima murid pindahan di tengah tahun. Ada kok beberapa sekolah yang fleksibel, selama murid bisa mengikuti proses pembelajaran disana, atau bisa mengejar ketertinggalan di semester sebelumnya. Meski memang, resikonya biaya sekolah tetap membengkak.
Kedua, kita jelas tidak bisa meminta anak-anak untuk “bersabar” menghadapi gurunya yang galak dan suka menghukum. Karena faktor errornya ada di pihak guru tersebut, ini menurut saya ya. Jalan terbaik adalah menghindarkan anak dari guru yang demikian, agar tidak berimbas pada semangat belajarnya. Kita sebagai orangtua berhak dan wajib untuk memilihkan guru yang terbaik untuk anak-anak kita.