BOLEHKAH SUAMI MEMINUM AIR SUSU ISTRINYA?

Pertanyaan :

Bolehkah seorang suami menghisap air susu dari istrinya pada saat bercumbu sebelum melakukan hubungan seksual? Bagaimana hukumnya?

Sebagaimana yang telah masyhur diketahui, salah satu “muqaddimah” saat hendak melakukan hubungan intim adalah seorang suami “bermain-main” dengan payudara istrinya. Pada titik ini, terdapat sensor-sensor yang dapat membantu sang istri dalam meningkatkan gairahnya.

Nah, kemudian, bagaimana jika istri dalam masa menyusui anak, dan air susu itu terminum atau diminum dengan sengaja oleh suami saat sedang bercumbu dengannya?

Maka kita katakan disini, air susu itu tidak berpengaruh terhadap menjadi mahram atau tidaknya meski diminum sebanyak apapun oleh sang suami. Tidak ada pengaruhnya bahwa suami akan berstatus anak bagi sang istri.

Dalam masalah pemberian ASI ini, seseorang dapat menjadi mahram apabila masih dalam masa penyusuan atau 2 tahun pertama sebelum disapih. Sebagaimana firman Allah yang artinya :

“Dan para ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi mereka yang ingin menyempurnakan penyusuan.” (QS. Al-Baqarah : 233)

Demikian juga hukum  menyusui anak-anak untuk dijadikan mahram di saat usia mereka lebih dari usia penyusuan (lebih dari 2 tahun), maka hal ini tidak dapat menjadikan anak tersebut sebagai mahram.

Wallahu A’lam

 

 

 

 

2 comments

  1. DWI says:

    mohon maaf bunda.. .. menurut saya informasi yang bunda sampaikan sangat berbahaya sekali …bagi orang awam atau orang yang belum belajar banyak tentang agama islam … karena menurut saya .. knapa anak atau orang sepersusuan diharamkan menikah.. karena bisa mengganggu keturunan berikutnya..
    itu hanya karena air susu ….
    ada suatu kejadian waktu jaman rosulullah ada seorang suami menyebut istrinya .. hai istriku tulang punggungmu bagaikan tulang punggung ibu ku… dengan kata seperti itu saja istri sudah haram untuk dikumpuli apalagi meminum air susunya..
    demikian yang bisa saya sampaikan semoga bermanfaat … apabila ada kebenaran datang hanya dari Allah bila ada kesalahan kepada sayalah tempatnya ..

    • bunda says:

      Saudari Dwi yg dirahmati Allah,
      Terimakasih atas kesediaannya memberikan tanggapan pada artikel ini.

      Pertama, yg harus kita fahami mengenai konsep radha’ah atau persusuan adalah masa persusuan itu sendiri. Para ulama telah bersepakat bahwa yg dapat menyebabkan hubungan persusuan adalah ketika seorang wanita menyusui sebanyak 5 kali pada seorang anak yg masih berada dalam masa persusuan atau belum disapih, yakni pada usia 0 bulan – 2 tahun. Di atas usia itu, maka tidak termasuk dalam masa persusuan dan tidak akan memiliki dampak apapun alias tidak akan menyebabkan menjadi mahram. Silakan lihat fatwa Syaikh Utsaimin dalam Fatawa Al-Islamiyyah.

      Kedua, yg Anda sampaikan adalah tentang zhihar, dan itu berbeda.

      Ketiga, secara fitrah, seorang dewasa tidaklah memiliki kebutuhan yg mendesak untuk meminum ASI. Kalaupun untuk keperluan pengobatan, itu amat sangat jarang dilakukan, bahkan bisa dibilang, selama masih ada obat yg lain mereka akan memilih obat yg lain. Dan telah menjadi sunnatullah juga, tidak akan ada seorang suami yg (tega) meminta disusui oleh istrinya, karena itu bukanlah sesuatu yg wajar, menyelisihi fitrah manusia. Sekalipun terminum, biasanya itu terjadi karena ketidak sengajaan dalam “muqaddimah” sebelum melakukan hubungan suami istri. Wallahu a’lam.

      Semoga dapat difahami.

Leave a Reply