RANGKUMAN WEBINAR HOMESCHOOLING : MANAJEMEN KESEHARIAN & EVALUASI HOMESCHOOLING

Seperti biasa, Rabu malam adalah jadwalnya saya duduk manis di depan komputer sambil menyimak webinar tentang homeschooling dari Rumah Inspirasi. Dan saat ini, webinar sudah memasuki sesi ke 5 dari 8 sesi yang ada. Pada sesi ke 5 Webinar Homeschooling Rumah Inspirasi ini, bersama pak Aar dan mba Lala, kami mulai masuk ke pembahasan tentang teknis pelaksanaan Homeschooling, yaitu Manajemen Keseharian dan Evaluasi Homeschooling.

Sebagian besar peminat homeschooling (baca : yang ingin memulai homeschooling) biasanya memiliki pertanyaan-pertanyaan semacam ini : Bagaimana sih homeschooling itu dijalani? Bagaimana HS untuk anak preschool? Dan bagaimana juga dengan anak-anak yang sudah usia sekolah?

Naah, dari pertanyaan-pertanyaan semacam tadi, pak Aar pun memberikan gambaran tentang manajemen dalam keseharian homeschooling, terutama yang saat ini beliau dan keluarga jalani. Mau tau? Yap, berikut ini adalah hasil penangkapan saya dari webinar sesi ke 5 :

Proses homeschooling dengan sekolah formal memiliki beberapa perbedaan. Di antaranya adalah :

Sekolah Formal Homeschooling
Polanya terstruktur Polanya lebih fleksibel
Belajarnya terjadwal Ada pilihan, mau school at home atau unschooling
Jadwalnya pasti, diatur dan direncanakan sejak jauh-jauh hari dari pusat Jadwalnya longgar, fleksibel, bebas menentukan jadwal
Kontrol eksternal Kontrol internal, ada pada orangtua
Outsourcing Self-managed
Tantangan : anak-anak jadi seperti robot Tantangan : chaos

 

Perbedaan proses ini juga menghasilkan karakter anak-anak yang berbeda-beda pula. Anak-anak yang sekolah di sekolah formal misalnya, biasanya akan muncul kecenderungan untuk lebih taat aturan, terjadwal dan terencana, namun agak kurang bebas berkreasi, karena terbiasa dengan rutinitas yang sama setiap harinya serta dibiasakan untuk selalu mengikuti perintah guru. Sedangkan anak homeschooling, biasanya cenderung lebih fleksibel, lebih mandiri, lebih bebas berkreasi, karena terbiasa dengan fleksibilitas yang memudahkan anak untuk belajar sesuai dengan minat dan bakatnya masing-masing.

webinar-hs-5.1

Manajemen Keluarga.

Hubungan ortu dan anak beda dengan hubungan guru dengan murid. Kalau dengan guru, sifatnya fomal, suka tidak suka anak harus patuh dan menuruti gurunya. Tapi ketika berada di rumah, semua menjadi lebih informal. Komunikasi tidak bisa hanya dengan perintah. Dalam komunikasinya, yang terpenting adalah kenyamanan interaksi keluarga. Orangtua harus merasa nyaman bersama anak, anak juga merasa nyaman bersama orangtuanya. Ini penting, karena tanpa adanya rasa saling nyaman ini proses homeschooling tidak akan dapat berjalan dengan baik.

Selain itu, penting pula untuk bersepakat tentang pembagian peran antara ibu dan ayah. Dalam homeschooling, beban terbesar ada pada ibu. Jadi suara ibu harus mendapatkan porsi yang lebih besar. Karena bagaimanapun tugas domestik rumah tangga sesungguhnya sudah cukup berat bagi ibu, karena itu harus ada pembagian peran antara ibu dan ayah dalam pelaksanaan HS. Meski kembali lagi pada masing-masing keluarga. Ada yang memang kendali penuh ada pada ibu, sementara ayah cukup ACC atau memberikan fasilitas. Ada pula yang bisa dikendalikan bersama-sama dengan pembagian tugas.

Jangan lupa untuk menyepakati hal-hal yang penting dan dapat ditolerir. Seperti misalnya menyederhanakan keseharian keluarga (seperti pembagian tugas dalam memasak, mencuci, beres-beres rumah, dll), saling memaklumi dan membantu antar anggota keluarga, dan pastikan untuk mengkomunikasikan segala sesuatunya dengan baik. Sebisa mungkin, hindari konflik yang tidak perlu. Masalah sepele, tidak perlu dibuat besar. Komunikasikan saja dengan pasangan atau anak-anak.

Perlu juga melibatkan anak dalam keseharian kita, sebagai anggota tim. Dengan catatan, berikan anak-anak kepercayaan akan kemampuan mereka, mulai dari hal-hal yang sederhana, apresiasikan meskipun keterlibatan mereka belum sempurna, luangkan waktu dan sediakan stok kesabaran yang lebih dalam menghadapi mereka, lalu jalani dengan rutin. Boleh juga melakukan kegiatan-kegiatan bersama untuk membangun ikatan yang lebih antara orangtua dan anak.

Kemudian, yang tak kalah penting adalah membangun pola dalam keluarga dengan rutinitas. Anak-anak itu membutuhkan rutinitas harian sebagai persiapan diri dalam menghadapi sistem yang terstruktur dalam kehidupan mereka di masa depan, jadi ada baiknya kita membantunya menentukan rutinitas dan membangun konsistensi.

Manajemen Proses Belajar

Kita bisa menyediakan materi kegiatan yang siap pakai dan letakkan di tempat yang terjangkau oleh anak-anak. Misalnya dengan mengatur benda-benda yang sesuai dengan kepemilikan dan usia anak, materi-materi belajar, dsb. Lalu tentukan hal minimal yang dilakukan sehari-hari, misalnya belajar apa hari ini, bisa kita tentukan minimalnya. Yang terpenting adalah anak-anak harus merasa dihargai atas apa yang sudah mereka lakukan, dan kemudian menjalaninya dengan konsisten.

Tentukan juga pola belajar yang sesuai dengan masing-masing anak. Setiap anak punya pola yang berbeda-beda, jadi tidak masalah jika kita membuat jadwal dan model belajar sesuai dengan pola mereka masing-masing. Yang penting, fokus pada tujuan.

Dalam memilih alat evaluasi, kita juga bisa menentukannya bersama sesuai dengan kebutuhan keluarga kita masing-masing. Mau dengan soal ujian boleh, atau dengan menyusun portofolio atau dokumentasi proses belajar mereka.

Manajemen Waktu

Untuk mempermudah, buatlah prioritas sesuai dengan masing-masing anak. Misalnya, untuk si Sulung, buat target dalam semester ini dia selesai materi apa. Begitu juga dengan adiknya, tentukan target sesuai dengan kondisi dan kemampuannya.

Boleh juga membuat jadwal tertulis, khususnya untuk anak-anak usia sekolah. Manfaatkan fleksibilitas dalam homeschooling. Walaupun ada jadwal, tapi homeschooling bisa lebih fleksibel.

Menghindari Burnout alias Masa Capek

Tidak bisa dipungkiri bahwa dalam menjalani homeschooling, pasti akan ada masa-masa lelah, masa jenuh. Dan itu wajar. Karena itulah kita perlu menyederhanakan target, lalu fokus pada tujuan kita. Tidak perlu terlalu stress atau membebani diri sendiri.

Lakukan hal yang disenangi bersama dengan keluarga, untuk menghindari burnout. Kita bisa jalan-jalan keluar, melakukan hal-hal yang kita senangi bersama-sama dengan suami dan anak.

Latih dan support anak untuk belajar mandiri, tidak harus selalu didampingi. Jadi saat kita sedang lelah, anak-anak tetap bisa melakukan kegiatan mereka sendiri. Agar anak juga belajar untuk mencari apa yang mereka senangi sendiri, sekaligus belajar untuk mengevaluasi diri mereka sendiri.

Cari waktu bebas. Kita tetap punya hak untuk memiliki waktu untuk diri sendiri, lho!

Evaluasi Homeschooling

Evaluasi adalah alat untuk memperbaiki, bukan menghakimi. Evaluasi ini memiliki tujuan untuk merefleksikan proses homeschooling yang kita jalani. Apakah kita sudah berada di jalur yang sesuai dengan tujuan yang kita tetapkan? Apakah proses homeschooling selama ini sudah efektif dan menyenangkan?

Evaluasi juga merupakan alat komunikasi eksternal. Dengan adanya evaluasi kita juga bisa mengetahui apakah proses yang kita jalani ini sudah memenuhi standar dan apakah sudah bisa dibandingkan dengan orang lain. Evaluasi ini adalah feedback.

Alat Evaluasi

  • Pengamatan informal terhadap kegiatan
  • Komunikasi lisan melalui obrolan tentang hal tertentu
  • Portofolio karya
  • Latihan soal untuk kepentingan rapor

Nah, itulah kira-kira yang dapat saya tangkap dari penyampaian pak Aar. Lebih lengkapnya, ada di ebook yang telah beliau sediakan. Untuk mendapatkan ebook homeschooling ini, silakan kontak beliau di Rumah Inspirasi, ya!

Semoga bermanfaat.

 

Sumber gambar : http://rumahinspirasi.com/webinar-homeschooling-rumah-inspirasi/

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *