RANGKUMAN WEBINAR HOMESCHOOLING : MODEL DAN METODE HOMESCHOOLING

Rabu malam, 17 September 2014 adalah jadwal sesi kedua Webinar Homeschooling Rumah Inspirasi. Nyaris saja lupa, karena sebelumnya saya pergi belanja kebutuhan bulanan dulu di swalayan dekat rumah. Si kecil juga sedari sore sudah teriak-teriak minta nasi uduk ayam goreng di warung langganan. Jadilah kami jalan dulu selepas maghrib. Alhamdulillah, saya tidak terlambat masuk ruang webinar.

Eh, walaupun sebenarnya disediakan rekaman, tapi buat saya mendengarkan “siaran langsung” itu spiritnya beda. Hihihi. Iya…karena saya pribadi, belajar dari kesalahan yang dulu-dulu, saya tipe orang yang bakalan males-malesan dan mengundur-undur kalau hanya njagain rekaman atau kopian materi. Jadi, harus LIVE !

Pada sesi kedua webinar ini, bersama Pak Aar dan Mba Lala, kami belajar tentang Model dan Metode Homeschooling. Termasuk di dalamnya dibahas mengenai ijazah anak-anak homeschooling. Nah, berikut ini adalah catatan hasil penangkapan saya dari webinar sesi kedua ini :

Selama ini kita hanya mengenal satu model pendidikan saja, yaitu sekolah formal. Sebagaimana kita ketahui, di zaman kita (eh, kita??? hihihi), istilah homeschooling belum ada, dan bisa dikatakan hampir dari sebagian besar dari kita ini adalah produk sekolah formal. Betul kan? Kalaupun ada sebagian dari kita atau orang-orang tua pendahulu kita yang tidak bersekolah formal, biasanya ya disebutnya “tidak sekolah”, bukan “sekolah di rumah”.

Nah, dalam sekolah formal hanya menggunakan satu kurikulum yang ditentukan dari pusat, berlaku menyeluruh, dan bersifat paket. Namun dalam homeschooling, ada beberapa model yang dapat kita pilih :

1. School at Home. Model school at home juga sering disebut sekolah di rumah. Karakteristik school at home adalah menjadikan sekolah formal sebagai model utama yang biasa kita lihat. Materi pelajaran bersifat textbook, jarang sekali menggunakan podcast, video, atau project. School at home dibangun berdasarkan kurikulum dan silabus, dimana pembelajaran berdasarkan mata pelajaran yang berjenjang dan terstruktur. Ada evaluasi secara periodik sebagaimana di sekolah. Misalnya ujian harian, ujian tengah semester, dan ujian semester.

Otoritas atau kendali pendidikan sepenuhnya ada pada orangtua yang menentukan semuanya untuk anak. Dan, model school at home ini adalah model homeschooling yang paling populer. Karena selain mudah, umumnya kita sebagai orangtua juga besar di sekolah formal, jadi lebih akrab dan bisa menyesuaikan. Saya pribadi pun saat ini juga masih lebih nyaman menggunakan model ini dalam homeschooling di keluarga kami. Meski memang tidak menutup kemungkinan bisa berubah ya.

Bagaimana dengan kurikulum? Nah, kurikulum yang bisa digunakan model school at home :

  • Kurikulum Nasional / dari Diknas. Biasanya cuma satu jenis yang ditentukan oleh kebijakan pemerintah.
  • Kurikulum Luar Negeri. Contoh: ACE, Lessson Pathways, Time4learning, Ambleside online. Info mengenai kurikulum ini kita bisa googling sendiri. Sebagian ada yang free dan sebagian lain ada yang berbayar.

webinar-hs-2

Namun, meski modelnya mirip dengan sekolah formal, model school at home ini biasanya lebih informal, kita bisa buat penyesuaian. Meskipun terjadwal dan terstruktur, masih ada fleksibilitas dalam model ini. Karena bagaimanapun orangtua kan berbeda dengan guru, ya. Kalau di sekolah formal kita tidak bisa atau sulit untuk tawar-menawar jadwal, kalau school at home masih bisa memungkinkan untuk disesuaikan. Ada baiknya kita menggunakan model belajar modular, agar sesuai dengan minat dan kemampuan anak-anak. Tidak perlu terpatok seperti di sekolah formal yang mengharuskan sistem berjenjang. Sekolah di rumah kita bisa memacu mata pelajaran lain lebih dulu dan menerobos jenjang, bila itu memang disukai dan diminati anak. Jadi misalnya anak Anda usia 7 tahun dan sangat suka matematika, boleh pelajaran matematika ini lebih diunggulkan dan lebih dipacu. Perkaya materi dan alat belajar, jangan juga hanya terpatok pada 1 sumber saja.

2. Unschooling. Yaitu model yang tidak terstruktur. Model ini memperlakukan anak sebagai satu sosok individu, bukan kertas kosong. Sebagai sosok individu, anak memiliki insting dan naluri untuk selalu ingin tahu, naluri untuk belajar. Karenanya, model unschooling ini menjadikan dunia nyata sebagai ruang kelas yang paling baik. Orangtua tinggal menyediakan lingkungan dan suasana belajar yang mendukung dengan intervensi seminimal mungkin.

Proses belajar unschooling : Peran terpenting bukan pada orangtua, melainkan pada anak. Apa yang diserap anak, dan seberapa besar pengalaman yang didapatkan anak dalam proses belajar adalah kuncinya. Pintu masuk dalam sistem unschooling adalah apa yang menjadi minat anak. Peran ortu dalam unschooling disini adalah sebagai inspirator, menyediakan lingkungan yang kaya stimulus, serta membantu memperkaya kegiatan.

Tips unschooling dari Sandra Dodd :

  • Yakini dan percayai proses unschooling ini, lalu jalanilah.
  • Buatlah suasana dan kondisi keluarga senyaman mungkin.
  • Lalu jaga keseharian keluarga agar selalu berkualitas.

3. Model homeschooling lain :

  • Klasikal : Pendekatan dengan model peradaban Romawi & Yunani, pendekatan logika dan intelektual
  • Berdasarkan pemikiran tertentu : Charlotte Mason, Montessori, dll
  • Eklektik : Mix n match

4. Pendekatan praktis :

  • berbasis bisnis
  • berbasis profesional
  • berbasis akademis

IJAZAH HOMESCHOOLING

Bisakah anak homeschooling mendapatkan ijazah? Apakah ijazah anak homeschooling diakui dan bisa diterima di perguruan tinggi?

Yap, bisa, in syaa Allah. Anak-anak homeschooling juga bisa mendapatkan ijazah negara, ijazah resmi, yang dapat digunakan untuk masuk ke jenjang selanjutnya atau jenjang perguruan tinggi. Tidak perlu kuatir, karena homeschooling itu legal. Dan bila ada anggapan bahwa anak homeschooling susah mendapatkan ijazah, maka itu salah besar. Justru, anak-anak homeschooling punya peluang atau banyak jalur untuk mendapatkan ijazah.

Jalur ijazah anak homeschooling :

  1. Ijazah Sekolah. Yang dimaksud disini adalah ijazah sekolah resmi, sebagaimana anak-anak lain yang sekolah di sekolah formal. Caranya adalah melalui sekolah payung. Sekolah payung adalah sekolah yang mau menerima ujian anak-anak homeschooling. Dan sekolah payung ini -sampai saat ini- sifatnya sebenarnya harus ada pembicaraan secara personal antara pihak orangtua dengan pihak sekolah. Biasanya sekolah payung tidak mempublikasikan diri. Namun orangtua tetap bisa mencarinya. Syarat dan ketentuan adalah hasil musyawarah dan kesepakatan antara orangtua dan sekolah.
  2. Ijazah Persamaan. Biasanya kita mengenal dengan ijazah paket, karena sistem ujiannya adalah sistem paket. Yaitu paket A untuk setara SD, paket B untuk setara SMP, dan paket C untuk setara SMA. Namun ujian paket ini biasanya ada beberapa syarat tertentu. Umumnya dilakukan melalui perantaraan PKBM atau lembaga yang ditunjuk oleh pemerintah.
  3. Ijazah Cambridge Internasional. Khusus untuk ijazah Cambridge bisa dimulai dari usia 5 tahun (silakan lihat web). Ijazah bersifat internasional, dapat digunakan untuk masuk universitas di negara-negara persemakmuran Inggris. Materi ujian per mata pelajaran yang diambil sesuai dengan jurusan yang akan diambil nantinya.

Selain ijazah, ada juga portofolio dan sertifikasi. Misalnya Anda ingin mengarahkan anak-anak Anda menjadi tenaga-tenaga profesional di masa depan, sebagian profesi ada yang tidak mensyaratkan ijazah sekolah, melainkan keahlian yang dibuktikan dengan adanya portofolio atau sertifikasi.

Nah, intinya, semua ini adalah peluang, kesempatan. Kita dihadapkan oleh banyak pilihan. Tidak perlu bingung atau panik, cukup pilih dan ambil sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh keluarga kita, lalu praktekkan. Kita boleh tidak menjadikan ijazah sebagai orientasi. Ambil ijazah sebagai prasyarat saja, tapi jangan jadikan itu sebagai tujuan. Hal yang paling dibutuhkan oleh seorang anak di masa depan adalah keterampilan dan keahlian. Maka sebagai orangtua, kita harus bisa mengarahkan dan membantu anak-anak dalam menemukan dan mengasah apa yang menjadi minat dan bakat mereka, sebagai bekal di masa depan. Semua model dan bentuk HS di atas juga merupakan pilihan. Kita boleh menggunakan tidak hanya 1 model. Modifikasi saja. Mix n match. Saat kita menemukan titik ketidakcocokan, kita bisa beralih ke model lain, sesuai dengan perkembangan anak juga. Tidak perlu terpaku pada satu kurikulum saja. Jadikan kurikulum sebagai standar, sekedar acuan. Tapi prakteknya, kita bisa memasukkan dan mengeluarkan apa saja, sesuai yang dibutuhkan anak-anak kita.

Dan untuk teman-teman yang baru mengikuti informasi mengenai webinar ini, ingin mencari dan menggali lebih dalam lagi, jangan sungkan untuk bertanya kepada pak Aar dan mba Lala di Rumah Inspirasi. Beli ebooknya juga bisa, in syaa Allah.

Semoga bermanfaat ya!

 

 

Sumber gambar : http://rumahinspirasi.com/webinar-homeschooling-rumah-inspirasi/

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *