RANGKUMAN WEBINAR HOMESCHOOLING RUMAH INSPIRASI : BAGIAN PENGANTAR

Ini kali kedua saya mengikuti webinar homeschooling yang diadakan oleh Rumah Inspirasi. Kalau sebelumnya saya ikut yang khusus webinar homeschooling anak usia dini, maka kali ini webinar homeschooling yang diadakan adalah untuk usia dini dan usia sekolah. Kenapa saya ikut lagi? Kan sudah pernah? Kan sudah punya bukunya juga? Banyak juga teman-teman yang tanya; ini untuk pemula atau bisa untuk yang sudah jalan HS, apa manfaatnya, apa yang didapat, atau bahkan kira-kira bakalan cocok ngga dengan beberapa orangtua yang punya pemahaman lain dari pembicara, dan lain sebagainya.

Kalau saya pribadi, webinar semacam ini bagus sekali untuk diikuti. Baik itu untuk pemula maupun yang sudah menjalani HS. Mengapa? Karena dalam webinar, kita akan selalu mendapatkan ilmu baru, mendapatkan teman-teman baru, dan menemukan “kasus-kasus” baru dalam pelaksanaan homeschooling itu sendiri. Kita bisa diskusi dan bertanya langsung dengan praktisi lain yang sudah lebih dahulu menjalani homeschooling. Kita bisa tahu tantangan-tantangan apa, kendala apa yang akan dihadapi di masa mendatang. Kita juga akan dibukakan wacana baru, pemahaman baru, serta wawasan yang lebih luas. Ini menurut saya. Dan Alhamdulillah, suami saya mensupport saya untuk mengikutinya lagi. Kata beliau, minimal saya akan bisa menemukan kekuatan baru dan semangat baru.

webinarhomeschooling

Sesi pertama (tanggal 10 September 2014), dibuka dengan bahasan mengenai Pengantar Homeschooling. Pak Sumardiono, atau kami biasa memanggil beliau dengan pak Aar, yang mengisi webinar sebagai pembicaranya. Disusul mba Lala, istri beliau pada saat diskusi atau tanya jawab.

Nah, berikut ini adalah catatan penangkapan saya tentang Pengantar Homeschooling dalam webinar homeschooling kali ini:

1. Pengertian homeschooling. Homeschooling adalah pendidikan berbasis keluarga. Sama dengan belajar mandiri atau otodidak. Jadi, anak dan keluarga adalah pusat aktivitas pendidikan itu sendiri. Homeschooling bukan lembaga, tidak untuk dibisniskan, bahkan difranchisekan. Biasanya, homeschooling diintegrasikan pada nilai-nilai dalam keluarga. Intinya, homeschooling itu ya keluarga. Tidak ada satu standar tertentu, dan setiap keluarga punya wewenang untuk mendesain atau merancang pendidikan dalam keluarganya masing-masing. Dan karena setiap keluarga itu unik, punya karakteristik yang berbeda-beda, serta memiliki kebutuhan akan pendidikan yang berbeda-benda, maka model serta pelaksanaan homeschooling di setiap keluarga itu juga berbeda-beda.  Homeschooling juga merupakan pendidikan alternatif, maka bisa saja berbeda dari sekolah formal. Tergantung bagaimana keluarga itu sendiri.

2. Filosofi/konsep homeschooling adalah “mengeluarkan”. Yaitu mengeluarkan setiap potensi yang ada dalam diri anak tersebut. Model pembelajaran dalam homeschooling juga tidak sama seperti sekolah formal. Umumnya model homeschooling sifatnya modular, yakni tidak dianggap sebagai sebuah paket, melainkan berdiri sendiri. Misalnya, anak usia 9 tahun, bisa saja dia menguasai materi matematika untuk anak kelas 6 SD, sedangkan materi pelajaran lain di kelas yang lebih tinggi atau lebih rendah. Cepat atau lambatnya penguasaan materi tergantung pada minat dan bakat si anak. Hampir mirip seperti sistem di perkuliahan ya. Dalam homeschooling juga memiliki manajemen belajar yang fleksibel. Kita boleh menggunakan buku paket, boleh juga tidak. Boleh menggunakan jadwal, boleh juga tidak. Yang terpenting adalah tujuan pembelajaran itu sendiri tercapai. Dalam homeschooling ada “benefit of doubt” : Yaitu segala sesuatu boleh dipertanyakan, dan diberikan ruang untuk bertanya. Esensinya, belajar apa saja, dimana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja.
3. Sejatinya, sekolah formal dan homeschooling adalah sama-sama alat untuk meraih tujuan pendidikan. Keduanya adalah sarana. Tidak ada jaminan salah satunya lebih baik dari yang lain atau lebih buruk dari yang lain. Tidak semua keluarga cocok dengan sekolah formal, dan begitu juga sebaliknya, tidak semua keluarga cocok menjalankan homeschooling. Yang bisa kita lakukan adalah memilih yang terbaik. Karena beda kebutuhan, dan beda tantangan yang kita hadapi.
4. Homeschooling juga punya resiko :

  1. Kompleksitas, yaitu ada banyak hal yang harus diperhatikan. Jadi, kenalilah apa yang dibutuhkan oleh keluarga masing-masing.
  2. Minimnya infrastruktur, terbatasnya perpustakaan, dukungan pemerintah, peralatan dan perlengkapan pembelajaran. Meski tentu saja ada beberapa hal yang bisa disiasati.
  3. Ketergantungan pada keluarga. Homeschooling sangat tergantung pada kualitas orangtua. Jadi, orangtua harus mau untuk terus belajar.
  4. Keberlanjutan, yakni ada resiko perceraian orangtua atau orangtua meninggal.

5. Mitos homeschooling :

  • Mahal, biasanya dibayangkan dengan banyaknya biaya yang dikeluarkan. Faktanya, biaya yang dikeluarkan sesuai dengan kebutuhan anak saja. Bisa jadi memang lebih mahal, bisa jadi minim cost. Tergantung apa kebutuhan kita saja lah.
  • Hanya untuk artis, faktanya, kebanyakan pelaku homeschooling adalah masyarakat umum. Belum terlihat artis yang benar-benar menjalani homeschooling sesuai dengan esensinya.
  • Tidak bisa sosialisasi, faktanya dalam homeschooling anak-anak justru dididik dalam pertemanan yang tanpa batas dan lintas usia.
  • Tidak kompetitif, padahal tergantung bagaimana sudut pandang orangtua itu sendiri. Kompetisi berarti persaingan, ada yang menang dan ada yang kalah. Padahal, bila semua anak bisa “menang” dalam porsinya masing-masing, dan saling melengkapi dengan yang lain serta bekerjasama, bukankah itu lebih baik?

6. Legalitas homeschooling : HS itu legal, diakui negara. HS diatur dalam UU Sisdiknas No. 20/2003 tentang 3 jalur pendidikan yaitu pendidikan formal, non formal, dan informal. Di dalam peraturan yang baru, ujian anak Homeschooling bisa dilakukan di PKBM, Majelis Taklim, Rumah Pintar, atau Lembaga Bimbingan Belajar. Peraturan perpindahan dari Homeschooling ke Sekolah Formal juga ada lho, yakni diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 17 Th 2010 pasal 73 dengan syarat ijazah sebelumnya dan tes kelayakan/penempatan. Sayangnya tidak semua sekolah formal tahu aturan ini, begitu juga petugas dinas. Jadi, jika semisal ada yang ingin memindahkan anaknya dari homeschooling ke sekolah formal, silakan copy dan cetak peraturan pemerintah ini dan tunjukkan pada pihak sekolah atau petugas dinas.

Nah, itulah kira-kira yang saya dapatkan dari webinar sesi pertama. Maih ada 7 sesi lagi, in syaa Allah. Yang pastinya dalam setiap sesi akan sangat bermanfaat sekali buat saya dan keluarga pada khususnya.

Kemarin, setelah webinar, saya dan suami sempat ngobrol-ngobrol soal pendidikan Alifa ke depannya. Kebetulan, saya pribadi sebenarnya masih merasa perlu untuk menyusun dan mempersiapkan berbagai pertanyaan, sangkalan, atau pandangan dari keluarga dan teman-teman bila mereka tahu anak saya tidak saya masukkan sekolah formal. Rupanya, suami saya menyimak jawaban dari pak Aar atas pertanyaan dengan masalah serupa. Suami saya sepakat dengan apa yang pak Aar katakan.

Yang pada intinya, kita tidak usah membuat atau menyusun sanggahan apapun. Jalan ini adalah pilihan kita, pilihan yang terbaik untuk keluarga kita. Kita tidak usah capek-capek berbantah-bantahan, yang terpenting jalani saja. Toh, ini kan keluarga kita sendiri. Begitulah. Dan, suami saya pun meyakinkan saya bahwa apa yang saat ini bisa kita jalani, ya ayo kita jalani. Oranglain mau bilang apa, terserah. Kita buktikan bahwa pilihan kita adalah yang terbaik untuk keluarga kita. Jadi terharu…padahal…psst…dulu suami saya sendiri juga masih ragu lho dengan homeschooling. Sekarang malah beliau yang banyak menyemangati saya dan mendukung saya.

Ohya, kemarin juga ada teman yang ingin ikut webinar, tapi terkendala waktu dan koneksi internet, sehingga tidak bisa ikut langsung menghadiri webinarnya. Memang sihkalau ikut kelas online semacam ini, koneksi internet harus cukup stabil. Tapi, kalaupun misalnya waktu dan koneksi belum bisa dikompromikan, teman-teman yang punya masalah serupa juga tetap bisa mengikutinya dengan mendengarkan rekaman yang ada, serta mendapatkan ebook-ebooknya. Silakan saja kontak pak Aar atau mba Lala di Rumah Inspirasi. In syaa Allah beliau berdua akan dengan senang hati menjawab email Anda.

Semoga bermanfaat ya !

 

Sumber gambar : http://rumahinspirasi.com/webinar-homeschooling-rumah-inspirasi/

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *