WEBINAR HS ANAK USIA DINI, SERU!

Sebenarnya homeschooling bukanlah hal yang terlalu asing bagi saya. Sejak masih single dan mengajar di  TK, saya membaca beberapa buku tentang pendidikan alternatif ini. Kemudian, beberapa tahun terakhir ini pun, ibu saya merintis sekaligus menjalankan “homeschooling” untuk adik bungsu saya dan menampung beberapa anak lain yang memiliki permasalahan ketika belajar di sekolah formal. Saat merintis “homeschooling” ini, ibu saya cukup banyak melibatkan saya, terutama dalam penyusunan materi dan pembuatan alat peraga. Dari sinilah saya banyak membaca lagi dan berdiskusi banyak dengan ibu saya. Sedikit banyak, saya termotivasi untuk menjalankan homeschooling.

Ketika Alifa, putri saya lahir, saya mulai mempraktekkan beberapa teori pembelajaran yang saya baca. Saya dan suami mulai lebih banyak berdiskusi. Suami saya berasal dari daerah yang masih sangat menjaga tradisi, dimana homeschooling alias tidak sekolah di sekolah formal adalah sesuatu yang sangat asing. Jadi di awal-awal, suami saya masih meragukan homeschooling sebagai pilihan pendidikan bagi putri kami. Namun, yang patut saya syukuri adalah suami saya sangat mensupport apapun keputusan yang saya ambil. Karena baginya, yang paling banyak memegang kendali dalam pendidikan anak-anak kami adalah saya. Suami saya memposisikan dirinya sebagai penasehat dan pendukung.

Maka kami berdua pun memulai pembelajaran kami semakin gencar. Pengalaman mengajar di TK sungguh sangat membantu saya dalam merancang rumah menjadi sebuah kelas yang menyenangkan, menciptakan kreativitas-kreativitas, dan menghidupkan semangat belajar.

Tapi…saya tidak memiliki komunitas. Komunitas nyata maksud saya. Saya pribadi bukan tipe orang yang introvert. Namun, semenjak menikah, saya jarang bisa berkumpul dengan teman-teman. Apalagi kebanyakan teman saya yang juga sudah menikah, mengikuti suami mereka masing-masing. Komunitas yang saya ikuti baru sebatas di social network. Itu pun pasif. Saya lebih sering menjadi pengamat ketimbang ikut aktif dalam diskusi.

Di rumah, saya membuka sebuah klub anak-anak, khusus untuk anak seusia Alifa. Niatan awal saya, klub ini saya buka untuk mencari teman belajar dan bermain putri saya, agar ia tak terlalu merasa kesepian. Sebelumnya, beberapa teman mendorong saya untuk membuka semacam PAUD di rumah. Mereka ingin menitipkan anak-anak mereka untuk belajar sebagai persiapan untuk masuk TK kelak. Namun, untuk membuka PAUD, saya merasa belum sanggup dan belum mau. Karena membuka sekolah berarti saya harus keluar dari “zona nyaman” dan pastinya waktu dan tenaga saya akan lebih banyak keluar disana. Maka saya pun membuka klub ini. Selain untuk mencari teman bagi Alifa, saya pun merasa kerinduan saya mengajar cukup terobati.

Namun, seiring berjalannya waktu, saya merasa ada perlu yang saya koreksi dari menjalankan klub tersebut. Ada ikatan yang seolah menjadi longgar antara saya dan putri saya. Ada perhatian yang harus terbagi, dan ada “kemunduran” yang terjadi pada diri saya dan putri saya. Kebimbangan pun melanda saya. Sudah benarkah jalan saya? Saya butuh teman berdiskusi, yang lebih intensif. Saya butuh guru. Saya butuh masukan. Saya butuh keyakinan.

Sampai kemudian…

Tak sengaja, hari Rabu tanggal 5 Maret 2014, saya mampir ke Rumah Inspirasi. Bukan hal yang asing juga karena alamat web sudah masuk di bookmark, walaupun jarang dibuka. Dan kalau tidak salah, dulu tulisan banyak dipusatkan di website lama Sumardiono.com dan saya pernah beberapa kali mengunjunginya (nampaknya kini semua pindah ke Rumah Inspirasi ya, pak Aar?). Ternyata, bulan Maret ini Rumah Inspirasi mengadakan Webinar Homeschooling Anak Usia Dini. Aww…inilah yang saya butuhkan. Segera saya meminta ijin suami untuk mengikuti webinar ini, segera mengontak mbak Lala, dan…disanalah saya kemudian.

Proses mengikuti webinar lagi-lagi juga bukan sesuatu yang asing. Karena saat saya kuliah, kami pun kuliah melalui DIMDIM dan WIZIQ. Kebetulan, kampus saya di Shah Alam, Malaysia, sedangkan saya berada Yogyakarta, jadi kami kuliah secara online.

Namun, berkumpul dengan teman-teman dengan diskusi mengenai homeschooling adalah sesuatu hal yang baru. Berinteraksi langsung dengan pelaku homeschooling lainnya dari berbagai daerah dan sudah lebih senior, pastilah membukakan cakrawala baru bagi saya. Biasanya, saya ngoceh sendiri di facebook atau di blog, tanya jawab tak seintensif seperti saat webinar, dan…belum banyak teman saya yang menjalankan homeschooling. Intinya, suka kesepian. Hehehe…

Dari webinar inilah saya kemudian mengerti tentang esensi dari homeschooling itu sendiri. Bahwa homeschooling adalah keluarga, bukan lembaga. Bahwa homeschooling berarti orangtua adalah penanggungjawab sepenuhnya dalam pendidikan anak. Orangtua bertindak sebagai kepala sekolah. Orangtua aktif menentukan dan merancang kurikulum serta kegiatan belajar bersama anak. Homeschooling bukan berarti orangtua menitipkan pada suatu badan atau lembaga yang dinamakan “homeschooling”, yang tinggal mengikuti konsep dari lembaga tersebut dan membayar biaya pendidikan.

Namun, homeschooling juga bukan berarti orangtua harus selalu bersama anak selama 24 jam, harus mengajar anak sepenuhnya dan menguasai semua materi pelajaran secara keseluruhan. Orangtua boleh memanggil guru, boleh mengikutkan anak ke sebuah klub atau les di bidang tertentu. Tapi, tetap…kendali berada di tangan orangtua.

Berarti, homeschooling dengan cabang dimana-mana itu apa? Bahkan ada yang biayanya jauh lebih mahal dari sekolah formal? Eww…saya mulai lagi.

Tak mau memikirkan yang lain, pikiran saya pun saya arahkan ke “homeschooling” yang dijalani oleh ibu saya sendiri. Mengapa saya memberikan tanda kutip pada kata homeschooling yang dijalankan oleh ibu saya ini? Karena ada sesuatu yang berbeda. Dari penjelasan pak Aar, saya menyimpulkan bahwa jika mengacu pada esensi homeschooling, maka “homeschooling” ibu saya lebih tepat jika disebut “flexy school”. Karena disana orangtua tidak berperan aktif. Bahkan jika ingin mengambil makna homeschooling majemuk pun, masih belum tepat. Karena disana benar-benar seperti sekolah yang hanya dipindahkan ke sebuah rumah, memanggil guru untuk mengajar bidang-bidang tertentu, secara umum terjadwal sesuai dengan yang dibuat guru, masuk dengan jam tertentu dan pulang dengan jam tertentu, orangtua membayar SPP setiap bulan. Bukankah itu sekolah? Yang membedakan hanya nama, dan proses ujian akhir nantinya.

Bahkan orangtua dan anak pun memiliki pandangan  yang berbeda ya? Hehehe…tak mengapa lah. Toh, kami menjalaninya masing-masing dan sesuai dengan keyakinan masing-masing. Perbedaan pendapat, bukan berarti kami harus berdebat dan kemudian putus hubungan orangtua dan anak, bukan?

Lalu bagaimana dengan klub yang saya jalani sekarang? Hmm…saya belum dapat memutuskan. Menunggu ilmu baru dari sesi berikutnya.

Yang jelas, saya mantap menjalani homeschooling ini bersama putri saya. Jika mengacu pada usia Alifa, berarti masuk homeschooling anak usia dini, dan alhamdulillah…ini berarti sudah berjalan 3 tahun 7 bulan semenjak kelahirannya. Semoga Allah memudahkan. Anda mau ikut? Ayo…masih ada 3 sesi lagi. Silakan lihat info lengkapnya di Rumah Inspirasi.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *