Yahoo Messenger Facebook twitter rss feed

AKU NGGAK MAU SEKOLAH, MA…

Dec 16, 10 AKU NGGAK MAU SEKOLAH, MA…

Sudah seminggu ini Ita tidak mau masuk sekolah. Setiap pagi, jika ibunya mau memandikan dan menyiapkannya untuk sekolah, ia selalu mogok di kamar dan mengamuk. Dibujuk dengan iming-iming mainan baru, es krim, tak pernah mempan. Bahkan ayahnya yang mengancam akan memukul pun ia tak takut. Padahal, di rumah ia hanya nonton TV dan bermain-main saja.

Kenapa ya?

Stress dan takut. Penyebab utama yang sering kali menjadi “biang” anak-anak mogok sekolah biasanya karena mereka stress dan takut tentang sekolahnya. Entah itu faktor teman-teman yang nakal, guru yang terlalu galak, atau pelajaran di sekolah yang dirasanya terlalu berat sehingga membuatnya pusing dan stress. Tapi, biasanya anak-anak juga takut untuk mengemukakan penyebab takut ini. Bisa jadi, jika ia mengadu pada orangtuanya, ia akan semakin dimusuhi teman-temannya, atau dimarahi gurunya. Atau jika ia bermasalah dengan akademisnya, ia akan cenderung takut dianggap bodoh oleh orang lain.

Bermasalah dengan pola tidur. Ada anak-anak yang mengidap insomnia atau penyakit sulit tidur di malam hari. Mereka kuat-kuat saja jika harus begadang semalaman dengan bermain-main atau nonton TV. Akibatnya, mereka akan terlambat bangun dan menjadi lesu pada pagi harinya. Tentunya mereka tidak memiliki semangat untuk sekolah, bahkan cenderung suka marah-marah dan gampang meledak.

Pengaruh lingkungan. Adanya teman sebaya di lingkungan rumah yang tidak bersekolah, juga bisa menjadi penyebab anak-anak enggan sekolah. Ditambah lagi jika di rumah ada nenek atau kerabat lain yang punya kebiasaan menonton TV sepanjang hari. Anak-anak tentunya akan berpikir, “buat apa sekolah kalau temanku nggak sekolah, kan enak, di rumah bisa nonton TV”, dsb.

Solusinya?

Memarahi anak tentu bukan solusi. Kemarahan Anda justru akan semakin membuatnya enggan ke sekolah. Berikut tips bagi Anda agar si kecil semangat ke sekolah lagi:

1. Membiasakan anak untuk membicarakan masalahnya pada Anda. Anak-anak yang terbiasa membicarakan setiap permasalahannya pada orang tua atau guru, bukanlah pengadu. Tapi, berbicara adalah cara anak-anak untuk merasa lebih baik dan merasa ada orang yang bisa ia percayai. Dengan berbicara, ia akan mendapatkan bantuan untuk mengatasi setiap permasalahan yang sulit yang sedang ia hadapi.

2. Bantuan les tambahan. Jika anak-anak bermasalah dengan pelajaran di sekolah, Anda bisa mengajukan les tambahan dengan guru di sekolahnya, atau memanggil guru privat untuk memberikan pelajaran tambahan. Tanyakan apa yang dikehendaki oleh anak terlebih dahulu.

3. Atasi masalah insomnia. Jika anak Anda mengidap insomnia, maka segera periksakan ke dokter anak untuk meminta solusi terhadap permasalahan tidurnya ini. Biasanya, dokter akan memberikan saran-saran pada Anda agar si kecil dapat tidur normal. Selain itu, Anda sendiri pun harus memiliki pola tidur yang baik pula. Jika Anda terbiasa begadang semalaman, maka si kecil bisa jadi meniru pola tidur Anda. Akibatnya, lama kelamaan ia insomnia.

4. Ajari anak untuk memiliki harga diri. Jangan biarkan anak-anak Anda diintimidasi kawannya di sekolah atau di lingkungan rumah. Anak-anak memang harus diajarkan sikap mengalah, sopan, dan melarangnya untuk senang berkelahi. Tapi, tidak berarti ia tidak melawan jika ia disakiti alias pengecut. Jika ia lemah, tentu akan membuat teman-teman superiornya menjadi senang menjahili dan menyakitinya. Jika dibiarkan, ia akan menjadi anak yang rendah diri.

5. Pilihkan guru yang terbaik. Diakui atau tidak, tidak setiap guru layak menjadi guru. Ada tipe guru yang terlalu keras pada anak-anak, tidak menguasai metode pendidikan anak yang baik dan benar, tidak sayang anak-anak, dsb. Ijazah boleh saja punya. Tapi, itu bukan jaminan menjadi guru yang baik. Nah, jika anak Anda mengadu bahwa guru di sekolahnya terlalu galak dan keras, ada baiknya Anda menyelidikinya terlebih dahulu. Tidak ada salahnya Anda mencari tahu metode pengajarannya, atau laporan-laporan dari orangtua yang lain. Sebab, bisa jadi, permasalahan guru itu mengajar dengan keras, karena anak Anda bandel atau nakal sehingga guru harus ekstra disiplin. Betul?

Nah, bagaimana? Siap mengatasi permasalahan ini?

24 Comments

  1. betty kartika /

    anak sy takut sama guru,gurunya sih mmg galak tapi bukan marah sm anakku. klu ditnyin nangis gmn ya ngatasinya km org tua pun jd stress

    • bunda /

      Dear Ibu Betty, terimakasih sebelumnya telah berkunjung di portal kami.
      Penyebab terbesar anak mogok sekolah salah satunya adalah faktor guru yang terlalu galak atau terlalu keras dalam mengajar di sekolah. dan untuk mengoreksi ini yang cukup sulit. tapi, ada beberapa langkah yang bisa ibu coba.
      1. bicara pada anak dari hati ke hati, dan sesuaikan dengan umurnya. katakan bahwa jika seorang guru marah, itu karena muridnya nakal atau bandel. jika anak tidak ingin dimarahi, maka ia harus menurut. nah, jika guru sedang marah tapi bukan pada anak Anda, katakan bahwa ia tidak perlu takut, karena kemarahan itu bukan untuknya. jangan lupa, pilihlah waktu yang tepat untuk mengajaknya bicara.

      2. Anda sebagai orangtua memiliki hak untuk memilih guru yang terbaik untuk anak-anak Anda. cobalah untuk mengajak guru anak Anda berdiskusi. secara kekeluargaan dan santai, agar sang guru juga tidak merasa tersinggung. namun, jika Anda tidak berani, maka Anda boleh saja mendiskusikannya serta meminta kebijakan kepala sekolah. karena bagaimanapun, kepala sekolah juga memiliki kewajiban untuk menegur anak buahnya yang kurang bijak dalam mendidik.

      semoga ini bermanfaat ya, bu. salam untuk si kecil Anda di rumah.

    • puji /

      anak saya 8 tahun( klas 2 sd),sdh 1 bln ini dia ingin selalu di tungguin di sekolahnya bahkan sy hrs menunggu dekat kelasnya,sebelum berangkat pun dia sdh rewel,anak sy tipe anak yg pilih2 teman dan tidak mudah bergaul,waktu klas 1 dia punya tmn akrab bahkan sampai saat ini,tapi belakangan si teman tersebut lbh dekat dengan tmnnya yang lain,dia bahkan jd sering menangis di klas meminta sy untuk menunggu,apa yang hrs sy lakukan agar anak sy kembali seperti semula,perlu diketahui anak sy mudah memahami pelajaran krn kmrn dpt rangking 2 d kelas,trims atas jawabannya.

  2. fifi lubis /

    mohon bantuan,bunda..
    anak saya 4.5tahun,sejak juli kemarin mulai bersekolah,memasuki bulan ketiga tiba2 mogok sekolah dengan alasan bosan karena ibu guru bicaranya lama.

    saat ini sudah kurang lebih 3 minggu dia tidak bersekolah.
    perlukah dan membantukah jika saya membawanya pada seorang ahli?
    saya yakin ada sesuatu di sekolah yang membuat dia tidak mau datang ke sekolah namun dia tidak bisa mengungkapkannya.

    terima kasih.

    • bunda /

      Dear Ibu Fifi, terimakasih atas kunjungan Anda di portal kami. senang rasanya Anda mau berbagi dengan kami. untuk usia 4,5 tahun berarti sudah TK ya, bu. dan usia segitu anak memang sedang senang-senangnya bermain dan bereksplorasi dengan kawan-kawannya. dan kurang tepat sebenarnya jika belajar di TK disamakan dengan belajar di SD atau tingkat yang lebih tinggi. seharusnya, konsep pembelajaran di TK adalah belajar sambil bermain. tidak melulu dalam kelas dan banyak bicara. jika guru TK terlalu lama berbicara di sekolah, pantas saja jika anak Anda bosan dan enggan sekolah.
      Jangan terburu-buru membawa si kecil ke psikolog. tenang saja, insya Allah ini masih dalam batas kewajaran. akan tetapi, Anda pun harus menyelidiki sebab lain, barang kali keyakinan Anda tentang adanya sebab lain yang membuatnya mogok sekolah memang ada. ada beberapa langkah yang bisa Anda lakukan:
      1. tanyakan dan ajak si kecil bicara dari hati ke hati. sama dengan jawaban saya kepada ibu Betty. Anda harus pintar-pintar memilih waktu yang tepat untuk mengajak si kecil berbagi dengan Anda.
      2. carilah informasi sebanyak-banyaknya tentang guru si kecil dari orangtua atau wali murid yang lain. adakah keluhan yang sama?
      3. carilah informasi dari guru dan kepala sekolah tentang teman-teman si kecil di sekolah. bisa jadi, si kecil merasa takut dengan temannya yang bandel dan senang mengganggunya.
      4. perhatikan juga sekeliling Anda dan si kecil sendiri. apa yang ia lakukan jika ia tidak mau sekolah dan di rumah saja? bagaimana lingkungan di sekitar rumah Anda? adakah anak seusianya yg tidak sekolah? bisa jadi, si kecil tidak mau sekolah juga karena ia merasa ada teman seusianya yg tidak sekolah. dan ia ingin bermain bersama temannya tersebut.
      semoga bermanfaat, salam saya untuk si kecil Anda di rumah.

  3. fifi lubis /

    terima kasih bunda atas responnya,
    saya akan terapkan kepada anak saya,semoga berhasil.
    mohon doa ya.

    • bunda /

      @ibu fifi: aamiin…mari kita sama2 berdo’a untuk kebaikan anak-anak kita ya…

  4. anak saya umur 5 tahun, sudah hampir 5 bulan sekolahnya minta ditungguin terus, padahal kalau sudah disekolah di enjoy aja dengan teman dan gurunya tidak ada masalah, hanya sekali kali menengok keluar untuk memastikan ibunya nungguin dia, kalau gak ada dia langsung keluar mencari ibunya sambil nangis. kalau ditanya kenapa minta ditunggin, jawabannya hanya takut ibunya pergi. ada yang punya saran untuk masalah ini

    • bunda /

      selamat datang di portal kami, pak Iman.
      saya mencoba berbagi sesuai dgn pengalaman saya. saya dulu juga pernah menghadapi murid yg demikian. 3 bulan pertama mamanya bahkan harus ikut masuk kelas. jika tidak melihat mamanya, dia akan menangis keras dan meraung2. di kelas bahkan tidak aktif. tidak mau ikut aktivitas apa-apa. saat ditanya mengapa dia begitu, jawabannya pun hampir sama: pingin aja begitu, katanya. Wow. saya sendiri sedikit merasa kesulitan awalnya. karena murid yg saya tangani juga banyak.
      lalu saya mencoba melakukan pendekatan yg lebih intens dgnnya. lebih memberinya perhatian, kesempatan, dan tantangan. awalnya ia juga menolak. tp saya terus bertahan, dan juga sedikit melakukan “pemanasan” untuk memacu semangatnya bersama anak2 lain. sampai akhirnya anak itu mulai merasakan kedekatan dgn saya, dia mulai mau beraktivitas, mulai tidak sering2 menengok ke jendela, dan akhirnya mau ditinggal. saat 4 bulan masuk, saya mencoba memberi tantangan pada ortu untuk “tega”. lebih baik saya susah diawal daripada semua anak malah iri dan ingin ditemani juga.
      saya pikir, anak dgn type demikian memang membutuhkan kerja sama antara ortu dan guru. maka pelan2 kami mulai bekerja sama secara lebih kooperatif. dan akhirnya si anak benar2 mau ditinggal dan mengalami perubahan yg cukup baik.
      nah, mungkin, Anda dapat mendiskusikan hal ini dgn istri, yg kemudian juga mengajak guru bekerjasama untuk melatih kemandirian si kecil. agar ia mau ditinggal. sebab, sebagai seorang ibu saya memahami betapa banyak pekerjaan rumah yg harus ditinggal untuk menunggui si kecil. dan sebagai guru, betapa canggungnya jika saya harus mengajar dengan ditemani orangtua yg “ikut” belajar. tentu tidak fleksibel dan kurang rileks.
      demikian, semoga bermanfaat.
      Adakah pembaca lain yg ingin sharing? silakan sharing disini.

  5. anak saya berusia 9 tahun sekarang sudah kelas III SD,mulai menginjak kls III sampai sekarang dia tidak mau masuk sekolah,karena takut.bagaimana solusinya?….. terima kasih…..

  6. Mohon bantuan bunda, anak saya lelaki usia 4.5 tahun. permasalahan sama dengan pak iman dan bu fifi. anak saya sekarang tidak mau sekolah sudah 1 bulan, alasan awalnya karena bosan dan takut “kamar disiplin” yang diterapkan di sekolah. Kami mencoba membawanya ke salah satu lembaga pendidikan yang lebih menonjolkan bermain, tapi harus saya tungguin. Akhirnya karena tidak mungkin saya tungguin, selama 3 hari belakang ini tidak sekolah. Dan kalo kami coba bujuk ke sekolah dia selalu bilang tidak mau sambil bertetiak.
    Dan sekarang setiap saya kekantor anak saya selalu minta ikut dan dia mengaku sudah jadi bapak dan tidak perlu sekolah lagi.

    terima kasih untuk masukannya!!!

  7. cahyani /

    anak saya usia 3,5 tahun saat ini saya berencana memasukkan dia ke play group, tapi anak saya tetap tidak mau sekolah. anak saya sangat pemalu, sempat sudah masuk sekolah tapi disekolah hanya mau dengan saya dan tidak mau ditinggal di sekolahan minta pulang trs dan menangis dan akhirnya mogok gak mau sekolah lg. gimana solusinya, mengingat anak saya sgt pemalu, hanya mau dengan ortunya dan ortu saya dengan ortu suami saja tidak mau. makasih sarannya

    • bunda /

      Ibu Cahyani, ibu mungkin bisa juga sharing dan berbagi siasat dengan guru sekolahnya. Untuk anak usia segitu memang masih banyak yg pemalu dan selalu ingin ditemani ortunya saat sekolah. Dulu saya pernah menangani murid yg demikian ibu, ada beberapa kasus, yg terparah ada seorang anak yg umurnya lebih tua, sekitar 4,5 tahun. Awalnya saya kewalahan karena saya sendirian tidak ada asisten, dan murid tersebut menangis bisa berjam-jam selama di kelas. Tapi, saya dan wali muridnya sudah sepakat untuk bekerja sama, jadi ibunya tetap pulang meski anaknya menangis. Saya butuh 2 bulan untuk membuatnya mau duduk tenang di kelas tanpa menangis, meski ia masih tidak mau dilibatkan secara aktif di kelas. Dan hampir 1 semester akhirnya anak tersebut mau terlibat aktif dalam kelas saya.
      Jadi, memang sebaiknya ada kerja sama antara guru dan wali murid dalam menanganinya di sekolah. Jika ibu sendirian, tentu saja ini akan semakin sulit. Ibu bisa membantunya untuk mengatasi pemalunya agar lebih aktif dan mau bergaul dari rumah. seperti mengajknya bertamu ke tetangga atau kerabat, mengajaknya ngobrol saat ia bermain, dsb.

  8. Bunda, apa yang hrs saya lakukan untuk anak saya yg mogok sekolah…
    awal cerita, ketika dia MOS dia ceria dan tidak ada masalah sm sekali dan waktu itu saya tungguin krn saya cuti, tp setelah MOS ada kejadian yg bikin anak saya TRAUMA, yaitu kesalahan krn dia mengatakan “Popok” untuk sebutan celana dalam. Akhirnya dia diketawakan teman2 sekelas. Sejak itu dia mogok sekolah. tidak mau masuk kelas. jd sekarang dia hanya bermain2 diruang guru tanpa melakukan kegiatan apapun. dan ditemani guru BP nya..yang saya tanyakan sampai kapan kejadian ini akan berlangsung?? Saya Stress, Sedih, Bingung krn saya juga bekerja ,,,semoga Bunda bisa membantu memberikan solusi ttg masalah saya. Sekian Terima Kasih…

    • bunda /

      Bunda Ari, dari cerita Anda, sepertinya si kecil adalah type anak yg sensitif ya? Menghadapi anak demikian memang gampang-gampang susah. Kita harus bekerja sama dengan guru kelasnya agar si kecil mau masuk kelas dan mengikuti pelajaran lagi. Apalagi, apa yg disebut dengan “kesalahan” itu sebetulnya tidak fatal dan tidak seharusnya membuatnya mogok berkepanjangan. Itu hanya sebuah kekeliruan kecil.
      Saran saya, bunda Ari konsultasi dengan guru kelas, karena kegiatan di kelas tentu merupakan tanggungjawab beliau. Tanpa adanya kerjasama yg baik antara guru dan wali murid, tentu saja ini cukup sulit.
      Kemudian, Anda pun perlu mengajak si kecil bicara dari hati ke hati. Bahwa kejadian tersebut tidak perlu lagi diingat-ingat. Dan apabila ada teman yg mengejek, anggap saja ia tidak mendengar. Anda mungkin bisa menceritakan beberapa pengalaman Anda atau ayahnya yg hampir sama, dan kemudian Anda berusaha untuk tetap sekolah, sehingga teman-teman mulai melupakan kejadian tersebut. Karena tentu saja lambat laun anak-anak akan melupakan kejadian tersebut dengan sendirinya.
      Anda juga bisa menyiasati si kecil, untuk tetap berbaik hati kepada teman-teman yg mungkin agak bandel. Misalnya, Anda membekalinya dengan kue-kue atau permen, dan si kecil bisa membagi kue tersebut untuk teman-teman sekelasnya. Yang jelas, tekankan bahwa si kecil harus berani menghadapi masalahnya, dan harus berani membalas perbuatan yg kurang baik dengan perbuatan yg baik.
      Kadang-kadang anak-anak akan ngotot atau bahkan meminta pindah sekolah. Tapi, jika Anda menurutinya, itu bukanlah solusi terbaik. Apalagi kekeliruan tersebut adalah sebuah spontanitas tak disengaja.
      Demikian ibu, semoga bermanfaat.

  9. saya seorang pengajar di prasekolah playgroup. ada seorang anak didik saya sampai sekarang masih di temani oleh orang tuanya ( 5 bulan ) bagaimana cara mengtasinya ya????? saya sudah coba dengan jurus tega tapi pada akhirnya anak tersebut tidak mau dengan saya.

    • bunda /

      mbak Nur, apakah sebelumnya sudah dicoba jurus lain? pendekatan yg intens misalnya? Anda bisa mendekatinya, memberinya semangat dan tantangan. Anda bisa memintanya untuk membantu Anda, seperti membagikan snack saat istirahat pada teman2nya, atau memberinya kesempatan untuk menjawab pertanyaan Anda lebih dulu, dsb.
      Karena kalau sebelum ada pendekatan intens Anda sudah langsung melakukan jurus tega, saya yakin anak-anak yg demikian justru akan semakin menolak untuk didekati. demikian ya…

  10. deni /

    saya ibu bekerja yang mempunyai anak berumur 2 th,saya sekarang bingung bun…semenjak umur 1 th saya tidak pake pengasuh lg pd anak saya,semua saya yang tangani sendiri.kalau saya kerja dulunya saya titip sama tetangga stlh umurnya 1,5 th saya masukan ke tpa tapi permasalahannya anak saya tidak mau ditinggal ditpa sehingga selama 2 bln dia ditunggui oleh adik saya kemudian dicoba seminggu tidak ditunggui ditpa nya ternyata dia menangis tak berhenti sampai tertidur,ini berlangsung selama seminngu dan kemudian dia tdk mau sekolah lg.skrg dia saya titip sama adik saya tp tetap saja menangis jika saya tinggalkan.mengapa anak saya begitu bun?bagaimana cara mengatasinya?terima kasih.

    • bunda /

      Ibu Deni, usia 1,5 tahun memang belum masanya untuk masuk sekolah. Anak2 di usia ini seharusnya dan sebaiknya -jika memungkinkan- berada bersama orangtua atau pengasuhnya di rumah. Hal ini karena anak-anak di usianya masih dalam tahapan beradaptasi dan mengenali lingkungan keluarga dan orang di sekitarnya.
      Ada anak-anak yg sangat sulit untuk beradaptasi dgn lingkungan baru, bahkan meski ada anak seusianya sekalipun dalam kelas tersebut. Dan pada beberapa kasus untuk anak-anak pasif, mereka cenderung lebih sulit untuk terlepas dari orangtua atau pengasuhnya.
      Saran saya, sebaiknya biarkan dulu si kecil belajar di rumah, entah bersama Anda atau pengasuhnya atau dengan kerabat Anda. Selama masa ini sampai usia 3 atau 4 tahun, pacu semangatnya dan latih ia untuk menjadi anak yg lebih aktif lagi.
      Jangan lupa, sesibuk apapun Anda bekerja, anak Anda adalah yg utama. selalu luangkan waktu khusus setiap hari untuk bersamanya, entah membaca, bercerita, atau menemaninya bermain tanpa interupsi apapun.
      Insya Allah, setelah ia siap untuk sekolah, akan lebih mudah untuk mempercayakannya pada guru di sekolahnya kelak.

  11. rini /

    bunda mnta tlong dunk… adik saya dlu pendiam smpe klas 2 smp dia slah bergaul ortu sya trmasuk org yg sibuk.k2 kakak sya udh berkeluarga dlu sya blum brkelurga bs ngawasi adek sya tp skrg aq dah pisah propinsi jd jarang skali kom.sjak sya pndah ada aja mslh yg dibuat adik sya mulai dr kebut2n dijalan,kluar mlam,bhkan skrg dia sering blos skolah.yg jdi mslahnya adik sya mau kluar dr sklahny (skrg dah kls 2 STM) yg favorit di kota.dan mau skolah di STM yg g ada mutunya cma gaara2 tmen pergaulanya ada distw.gmna saya menanganinya bun?soalny kasian org tua sya krna cma dia anak laki2 satu2nya.tlong bunda….

    • bunda /

      mbak Rini, adik Anda sedang berada pada masa transisi untuk mencari jati dirinya. umumnya, pada anak laki2 terjadi di usia seperti adik Anda.
      Di masa transisi ini, umumnya para remaja mengalami frustrasi. Di masa kanak-kanak ia dituntut untuk menuruti orangtua, kakak, guru, dsb. Maka di masa remaja ia mulai mengalami gejolak2 yg sering kali itu membuatnya frustrasi. Ia merasa terkekang dengan aturan, merasa butuh perhatian lebih, dsb.
      Dan bila itu didukung dgn kurangnya perhatian dan pengawasan orangtua, teman2 sepermainan yg kurang baik, maka jadilah perubahan itu ke arah negatif. Ia akan lebih berontak, ia meminta kebebasan lebih, ia melawan dan ingin mengatur hidupnya sendiri, dsb.
      Bila yg demikian ini ditangani dengan “kekerasan” juga, atau dalam arti orangtua dan kakak2nya semakin menceramahi dan mengekangnya, ia justru akan semakin melakukan perlawanan.
      Nah, saran saya, Anda bicarakan hal ini dengan orangtua. Misalnya, ayah atau ibu jangan terlalu menuruti apa yg diinginkannya. Namun iringi dengan memberikan perhatian yg lebih padanya. Dalam artian, sesibuk apapun orangtua Anda, terutama ayah, adik Anda sebagai anak laki-laki satu2nya membutuhkan figur laki2 sejati dari ayahnya.
      Mintalah ayah Anda untuk meluangkan waktu dan pergi berdua saja dengan adik Anda. Memancing, naik gunung, atau sekedar belanja bersama kebutuhan pria. Atau setiap hari, luangkan waktu untuk mengajak adik Anda bercerita atau berbagi pengalaman, menanyakan aktivitasnya, dsb.
      Saya yakin, awalnya mungkin kaku. Tapi, saat ini hanya ayah Andalah yg dapat membantunya menumbuhkan kembali sisi positifnya.
      Untuk ibu, mungkin ibu bisa lebih bersabar untuk memperlakukan adik Anda sebagai “anak yg sudah besar”. Adik Anda membutuhkan kepercayaan dari orangtua Anda. Semakin diatur ia akan semakin merasa bahwa ia tidak dipercaya.
      Anda dan kakak2 Anda juga dapat membantunya via SMS atau telpon, sekedar menanyakan kabarnya, dan memotivasinya. Sesekali, kirimkan buku bagus, atau CD film2 motivasi, dsb.
      Hanya ini yg dapat saya sampaikan. semoga bermanfaat ya.

  12. nila /

    anak saya waktu kelas 1 bersekolah di sd N tapi ketika kelas 2 dipindahkan ke sd z karena pertimbangan guru yang kurang memadai (malah ada pelajaran yang tidak tersedia gurunya), kegiatan yang kurang, sekolah terlalu fokus pada hal lain dan bukan pelajaran. Sekarang anak saya kangen bertemu teman-teman lamanya meski di sekolah baru dia menyukai guru yang tersedia cukup lengkap. Apakah saya salah dengan memindahkannya? Dia terkadang membandingkan sekolah lama dan baru tapi dia menyadari ada hal-hal yang kurang di sekolah lama. terkadang saya merasa bersalah karena ingin mencari sekolah yang perfect.

    • bunda /

      Halo, ibu Nila…
      Boleh saja orangtua itu memilihkan atau mencari sekolah yg terbaik untuk anak-anaknya. Terutama jika memang kendala di sekolah lamanya seperti yg Anda kemukakan. Tentu saja, kita tidak mau anak-anak justru terbengkalai di sekolahnya, bukan? Kita menyerahkan mereka setiap pagi hingga siang/sore hari adalah untuk meminta bimbingan para guru di sekolah. Jika ada yg tak sesuai dengan harapan, saya rasa itu normal saja.
      Untuk si kecil, wajar saja jika ia merasa kangen dan ingin berkumpul lagi dengan teman-teman lamanya. Anda bisa meluangkan waktu dan mencari kemungkinan untuk mengajak si kecil mengunjungi teman-teman lamanya. Misalnya, adakan acara kumpul bersama di hari libur dengan mengundang teman-teman lamanya. Atau Anda bisa mengajaknya bermain ke salah satu rumah teman lamanya, dsb. Saya rasa, si kecil perlahan-lahan akan mulai memahami mengapa Anda memindahkan sekolahnya. Terlebih jika ia sudah mulai banyak bergaul dengan teman-teman baru, saya yakin, hal ini tidak akan menjadi masalah lagi untuknya. Yang terpenting adalah bagaimana agar setiap keputusan orangtua itu bisa dikomunikasikan dengan baik terlebih dahulu kepada anak-anaknya. Agar mereka tidak merasa diabaikan atau dilanggar haknya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>