BAGAIMANA MENGHADAPI ANAK-ANAK AGRESIF

anak agresif

Tidak sedikit orangtua yang mengeluhkan betapa agresifnya anak-anak mereka. Perilaku yang cenderung untuk mudah memukul, menggigit, merebut segala sesuatunya, menendang, dan berteriak-teriak, sering kali membuat para orangtua merasa frustrasi dan menyerah. Pada anak usia 2 sampai 4 tahun, biasanya “keagresifan” ini terjadi. Dan bahkan mereka sering kali bersikap agresif kepada anak-anak yang setahun atau dua tahun lebih tua dari mereka!

Anak-anak dengan perilaku demikian sering kali dianggap kejam, nakal, dan tidak terdidik. Hal ini juga sering membuat orangtua merasa malu kepada orangtua yang lain. Dan tahukah kita, bahwa jika keagresifan ini dibiarkan untuk terus terjadi, maka anak-anak ini dapat tumbuh menjadi orang-orang dewasa yang tidak mampu mengontrol emosi dan perasaan mereka?

Umumnya, anak-anak di bawah usia 6 dan 5 tahun, memiliki pemahaman yang sangat minim tentang penerimaan sosial dan moralitas. Ego mereka masih terlalu tinggi, dan mereka belum memahami arti dan bagaimana mengontrol gejolak emosi mereka. Mereka sering kali berperilaku agresif, dan itu di luar kesadaran mereka. Ya, itu terjadi begitu saja.

Berdasarkan pengalaman saya sebagai seorang guru Taman Kanak-kanak, ada beberapa orang anak dengan perilaku agresif yang saya tangani. Salah satunya sering berperilaku agresif dengan tiba-tiba memukul kawannya, atau merebut mainan kawannya yang lain. Dan itu terjadi secara spontan. Ketika ia melihat kawannya disakiti oleh kawan yang lain, tiba-tiba ia maju dan memukul anak yang mengganggu tadi, seolah ia ingin “mengadili” anak tadi. Itu juga terjadi secara spontan. Dan sangat emosional pastinya.

Penting untuk kita ingat bahwa mengubah seorang anak yang agresif menjadi tidak agresif, bukanlah sesuatu yang mudah. Butuh kesabaran yang ekstra, dan itu tidak bisa terjadi dalam semalam.

Berikut ini ada beberapa tips bagaimana jika Anda harus berhadapan dengan anak-anak agresif, yang tentunya, ini bersifat subyektif. Tergantung bagaimana kita melakukan pendekatan dan bagaimana penerimaan si anak. Namun, tidak ada salahnya mencoba bukan?

1. Cari tahu apa pemicunya.

Setiap orang, bahkan anak-anak, memiliki saat-saat tertentu dimana mereka tidak ingin dan tidak suka diusik oleh orang atau anak lain. Atau bahkan ada saat-saat dimana mereka tiba-tiba menjadi begitu bersemangat dan lepas kendali karena kurangnya kontrol perilaku.

2. Hindari hukuman fisik

Sebagai orangtua, kitalah yang dituntut untuk lebih berhati-hati dalam mengungkapkan emosi dan perasaan kita terhadap anak-anak. Anak-anak begitu mudahnya meniru perilaku orang dewasa dalam mengekspresikan dirinya dan emosinya. Manakala Anda sering memberi hukuman fisik kepada mereka, maka begitu mudahnya mereka meniru “hukuman” fisik tersebut kepada teman-teman mereka.

3. Kenali tempramen anak Anda

Setiap orang lahir dengan temperamen unik atau kepribadiannya masing-masing. Beberapa orang cenderung lebih pasif dan takut-takut, sementara yang lain selalu aktif dan spontan. Demikian pula, beberapa anak cenderung lebih luar tegas dan agresif dan lain-lain kurang begitu. Mengetahui kepribadian anak Anda memungkinkan Anda untuk membantunya mengatasi dan mengontrol emosi dan perasaan mereka.

4. Reward good behavior

Mungkin beberapa dari Anda menganggap bahwa penghargaan bagi perilaku baik ini adalah bentuk “suap” terhadap anak-anak. Tapi, sebaiknya Anda tidak perlu menganggap demikian. Tidak, ini bukanlah hal yang ekstrim.

Sebagaimana kita, orang dewasa, anak-anak pun senang dengan penghargaan. Betapa senangnya anak-anak melihat dan merasakan bahwa usaha mereka untuk menjadi anak yang baik dihargai oleh Anda. Mereka perlu tahu, bahwa Anda senang dan bangga akan perilaku baik mereka.

5. Coba untuk bersikap tenang

Anak-anak akan cenderung lebih merasa tenang jika mereka melihat Anda tenang dan tidak terpicu kemarahan Anda dengan keagresifan mereka. Minta mereka untuk masuk ke kamar dan menenangkan diri mereka, atau Anda yang masukĀ  ke kamar Anda dan mengatakan:

“Jika kamu telah bisa mengendalikan dirimu, kamu bisa bicara baik-baik dengan ibu nanti.”

Pastikan ia tidak bisa meluapkan amarahnya dengan alat-alat yang dapat ia rusak atau mereka pecahkan.

6. Segera konsultasikan

Namun jika Anda menganggap atau bahkan melihat bahwa perilaku anak Anda sangat destruktif, maka sebaiknya Anda segera mengkonsultasikannya dengan para ahli untuk mendapatkan solusi yang terbaik bagi mereka sejak dini.

3 comments

  1. dyha says:

    ,,

    saya punya keponakkan umur 5 tahun
    emosiinya ngk bisa dikontrol kalau lagiii
    marah,semua permintaan harus dituruti,,apalagii sekarang punya adik yng berumur 1 bulan.,apakah ada faktor ketidak seimbangan kasih sayang…..

    • bunda says:

      Halo mba Dyha.
      Mungkin lebih tepatnya bukan “ketidakseimbangan kasih sayang” ya. Karena usia 5 tahun sebelum punya adik lagi itu sudah waktu yg cukup bagi si kecil untuk menikmati masa-masa Pendidikan Anak Usia Dini-nya dengan maksimal. Kalau saya boleh menebak, bisa jadi ini karena pola asuh yg kurang benar. Karena anak-anak yg terbiasa keinginannya dipenuhi alias dimanjakan, umumnya akan mudah emosi bila suatu ketika keinginannya tidak terpenuhi. Dan ketika menyadari bahwa kehadiran adik baru menyedot perhatian orang-orang yg selama ini memperhatikannya, ia pun merasa cemburu.
      Saran saya, ketika keponakan Anda mengalami tantrum lagi, bantulah kakak Anda mengalihkan perhatiannya. Kalau bisa jangan diiming-imingi sesuatu dan jangan turuti kemauannya. Tapi ajak ia untuk berfikir, karena memang sudah seharusnya anak usia 5 tahun belajar untuk mengontrol marahnya. Tegaskan bahwa segala sesuatu itu harus diminta dengan baik-baik, bukan dengan tangis dan marah. Sarankan pula bagi kakak Anda untuk selalu meluangkan waktu khusus dengannya, misal saat adiknya tidur, dimana saat itu kakak Anda dan keponakan Anda bisa bermain dan belajar bersama. Anda juga bisa membantunya dengan menunjukkan foto-foto atau video saat ia masih bayi. Katakan padanya, bahwa dulu saat ia masih bayi pun semua orang sangat memperhatikannya. dan kini, adiknya yg masih bayi pun juga harus selalu diperhatikan karena belum bisa apa-apa. begitu kira-kira. semoga bermanfaat.

Leave a Reply