Mohon maaf, selama Bulan Ramadhan, toko online RumahBunda Libur (Tutup), Buka kembali insyaallah tanggal 5 Syawwal 1438 H (29 Juni 2017)

MANAJEMEN MARAH PADA ANAK

Sama halnya dengan orang dewasa, anak-anak pun mengalami kemarahan. Namun, bagaimana cara kemarahan itu diungkapkan oleh seorang anak, beserta cara penanganannya, itulah yang penting.

Kemarahan adalah suatu ungkapan emosi atau perasaan. Dan karena berkaitan dengan perasaan, maka kemarahan itu sendiri bersifat abstrak. Agak sulit bagi kebanyakan orang untuk mengungkapkannya dalam bahasa yang mudah dipahami. 

Kemarahan juga dapat digambarkan sebagai respon alami untuk ketidaksenangan dan frustrasi. Dan sering kali berhubungan dengan perilaku agresif. Perilaku agresif ini adalah manifestasi perilaku seperti perasaan, yang menyebabkan luka fisik atau mental atau bahkan kerusakan properti. Kita biasanya berpikir bahwa perilaku agresif berarti perilaku kasar seperti memukul, berteriak, saling dorong, dsb.

Agresi biasanya berhubungan kuat dengan kemarahan, namun kemarahan belum tentu selalu berakhir dengan perilaku agresif.

Orang dewasa sering kali berpikir bahwa anak-anak tidak perlu marah atau emosi. Padahal itu salah. Anak-anak juga memilikinya, dan kita seharusnya memahami bahwa bagi anak-anak, betapa sulitnya memahami apa yang terjadi pada dunia orang dewasa di sekitar mereka, sementara mereka pun harus selalu bergantung pada kita. Anak-anak juga bisa mengalami apa itu yang disebut frustrasi, ketidakberdayaan, serta rasa kehilangan.

Kita sendiri sudah mengenal perasaan marah manakala sistem saraf telah ditempatkan pada saat proses pertumbuhan janin dalam rahim ibu. Bahkan dalam rahim pula, janin telah dapat merasakan frustrasi atau ketidaksenangan yang dirasakan oleh ibu.

Lalu bagaimana caranya untuk mmbantu anak-anak dalam mengontrol emosi atau memanajemen kemarahan mereka?

  1. Ajak mereka bicara tentang perasaan-perasaan mereka. Ajarkan mereka bagaimana caranya mengungkapkan kemarahan atau emosi mereka dengan cara yang lebih baik. Jangan terlalu menyalahkan mereka dan membuat mereka berpikir bahwa memiliki perasaan negatif itu selalu salah. Hal itu adalah manusiawi, kita hanya perlu membimbingnya untuk mengungkapkan dengan cara yang lebih baik.
  2. Tetaplah bersamanya ketika ia sedang mengungkapka perasaan-perasaan marahnya. Hal ini perlu, sebab dengan demikian anak-anak merasa didengarkan dan merasa bahwa Anda sedang ingin membantunya menyelesaikan masalah.
  3. Mencegah kemarahan yang lebih besar lagi. Jika kita bisa mencegah kerusakan atau adanya tindakan agresi, maka hal ini sangat baik. Kita bisa membantunya untuk meluapkan emosinya secara aman tanpa ada yang harus terluka. Misalnya, permainan perang bantal, atau surat dalam kotak, dsb.
  4. Jadilah figur orangtua yang baik dan memberikan teladan yang baik dalam menahan emosi agar tidak meledak-ledak.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *