MELATIH KEMANDIRIAN ANAK DENGAN LIBURAN

Sejatinya, kemandirian adalah sebuah keterampilan hidup yang harus dipelajari dan dimiliki oleh setiap anak. Dan kemandirian ini tidak bisa muncul atau tumbuh begitu saja, namun harus ditanamkan oleh orangtua sedini mungkin.

Anak yang terbiasa semua kebutuhannya dilayani, semua keinginannya dituruti, tentu akan sulit untuk diharapkan mandiri. Karena yang membentuk anak menjadi manja atau mandiri adalah orangtua mereka sendiri.

Latihan kemandirian bisa dimulai sedini mungkin, bahkan segera setelah koordinasi anggota tubuhnya semakin membaik. Misalnya, ketika bayi dan si kecil sudah mulai makan selain ASI, kita bisa mengajarkan anak untuk menggenggam biskuitnya agar ia bisa latihan makan sendiri. Kemudian ketika anak sudah mulai bisa berjalan dan berlarian, kita bisa melatihnya memakai sepatu atau sandalnya sendiri. Kita juga bisa melatih anak untuk belajar mengembalikan mainannya ke tempat semula setelah bermain, dan lain sebagainya.

Nah, untuk anak yang usianya lebih besar atau menjelang remaja, sebenarnya liburan juga bisa menjadi ajang latihan kemandirian anak, lho. Bunda pernah membaca kisah fiktif petualangan Lima Sekawan karangan Enid Blyton, seorang ahli bercerita dari Inggris? Ya, dalam kisah tersebut tokoh utamanya sering digambarkan senang melakukan kegiatan liburan sendiri dan berlatih mengurus diri mereka sendiri. Di usia 10-12 tahun, tokoh dalam kisah tersebut digambarkan sudah cukup mandiri untuk mengurus diri mereka, bahkan belajar membuat keputusan penting untuk diri mereka sendiri dalam setiap petualangan. Dan mengambil pelajaran dari kisah tersebut, kita pun juga bisa melatih kemandirian tersebut pada anak-anak.

  • Ajak anak untuk menyumbangkan ide atau menentukan tujuan lokasi liburan, serta kegiatan apa saja yang ingin dilakukan saat liburan. Dalam rembug bersama ini, latih juga anak untuk dapat menghargai pendapat orang lain, terutama kakak atau adiknya.
  • Ajari anak untuk menyiapkan dan membereskan keperluan pribadi yang akan mereka butuhkan di perjalanan maupun di tempat liburan dalam tasnya sendiri. Orangtua pun bisa mengecek ulang sebelum berangkat kelengkapan mereka, serta menanamkan bahwa barang bawaan mereka adalah tanggungjawab mereka untuk menjaganya. Kalau perlu, bisa dibuat perjanjian untuk menjaga barang milik sendiri.
  • Liburan pun tak boleh boros. Kita bisa memberikan uang saku pada masing-masing anak sesuai dengan usia dan kebutuhan mereka, agar mereka dapat berlatih mengelola dalam membelanjakan uang mereka. Jika perlu, sebelum berangkat minta anak untuk membuat list rencana barang apa saja yang ingin mereka beli, sesuaikan dengan budget, dan arahkan untuk disiplin dalam menggunakan uang saku mereka.
  • Arahkan untuk tidak merepotkan orang lain, terutama ketika anak berlibur sendiri. Liburan di rumah nenek atau sepupu mereka bukan berarti mereka boleh bermanja-manja dan minta dilayani layaknya tamu asing. Tanamkan pada si remaja bahwa mereka harus bisa menjadi anak yang peduli dan tahu diri dengan tidak merepotkan. Misalnya, membantu mencuci piring, membereskan kamar yang mereka tempati, menyapu halaman, dan menjemur pakaian mereka sendiri. Bahkan bila ada pembantu di sana, mereka pun harus tetap diarahkan untuk bisa melayani diri sendiri.
  • Berikan anak-anak kepercayaan dan keyakinan bahwa mereka bisa mandiri. Sesekali memonitor anak boleh, tapi jangan terlalu sering karena itu bisa memicu rasa kesal pada anak dan merasa tidak dipercaya. Kita bisa meminta bantuan wali mereka selama liburan. Boleh juga untuk memberi tahu wali tersebut dan memberikan pemahaman bahwa kita ingin melatih kemandirian anak, jadi mereka pun dapat membantu dengan tidak terlalu memanjakan anak.

Selain melatih kemandirian anak, liburan sendiri juga membantu anak bertanggungjawab dan belajar berempati pada orang lain dan lingkungan sekitarnya. Liburan anak pun juga bisa dirasa lebih seru, karena umumnya, anak-anak remaja sangat ingin bisa liburan tanpa “direcoki” dengan omelan orangtua atau aturan yang terlalu ketat. Orangtua pun bisa mengambil sisi positifnya, yaitu bisa meluangkan waktu sejenak untuk diri sendiri atau untuk bernostalgia dengan romansa berdua, mengembalikan kehangatan cinta pernikahan.

Berikan kepercayaan pada anak, dan jadilah konselor, bukan diktator.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *