KECEMASAN, KETAKUTAN, DAN FOBIA

Semua orang pasti pernah merasa cemas (anxiety) dan takut (fears) pada suatu waktu. Dari anak-anak hingga dewasa pasti pernah merasakannya. Dan pada anak-anak khususnya, mengalami rasa cemas dan takut itu tidak hanya normal, tapi juga diperlukan. Munculnya rasa cemas dan takut dapat membantu seorang anak dalam mempersiapkan kematangan diri untuk menghadapi tantangan hidupnya di masa depan.

Normalkah kecemasan dan ketakutan itu?

Kecemasan atau anxiety sering kali didefinisikan sebagai ketakutan tanpa sebab yang jelas. Ini biasanya terjadi ketika tidak ada ancaman langsung terhadap keselamatan seseorang, namun ancaman terasa nyata. Kecemasan juga membuat seseorang ingin melarikan diri dari sebuah situasi. Dan yang biasa dirasakan oleh seseorang yang mengalami kecemasan adalah jantung berdetak cepat, tubuh berkeringat, dan serasa ada kupu-kupu di dalam perut. Adanya rasa cemas sebenarnya baik, yaitu membuat kita menjadi orang yang lebih berhati-hati dan waspada, namun bila rasa cemas itu berlebihan dan mulai menjadi tidak wajar, maka itu tidaklah normal dan membutuhkan penanganan lebih lanjut dari ahlinya.

Misalnya, orang yang selalu diliputi rasa was-was apakah ia sudah berwudhu atau belum. Mulanya wajar, karena terkadang manusia lupa. Tapi, bila rasa was-was dan cemas ini membuatnya bisa atau bahkan harus mengulang wudhu lebih dari sekali, membuatnya tidak bisa fokus untuk urusan yang lain, maka ini tidak wajar, dalam artian ada gangguan.

Pada anak-anak, memiliki ketakutan (fears) atau kecemasan tentang hal-hal tertentu juga dapat membantu untuk membuat anak-anak berperilaku dengan cara yang aman. Contohnya, anak-anak yang takut api, akan menghindari bermain korek api. Anak-anak yang takut ketinggian akan menghindari panjatan-panjatan yang tinggi dan lebih memilih jalan aman.

Namun, pada umumnya, ketakutan dan kecemasan ini berubah seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan anak.

Misalnya saja, bayi umumnya merasa takut dengan orang asing yang belum ia kenal, sehingga ketika ada orang asing, ia akan menempel ketat pada ibu atau ayahnya. Kemudian di usia 1-2 tahun mereka akan merasa cemas dan tertekan ketika harus berpisah dengan orangtua mereka. Pada usia 4 tahunan, mereka mulai mengenal rasa takut terhadap hal tertentu, seperti “monster” atau “hantu” atau bisa jadi sesuatu yang lebih nyata seperti boneka yang seram, api, serangga, dll.

Jadi seiring dengan pertambahan usia dan berkembangnya wawasan mereka, rasa cemas dan takut itu juga akan hilang dan berganti dengan yang lain. Contohnya, ada anak yang pada usia 4 tahun hanya bisa tidur bila lampu menyala, bila lampu mati ia akan dilanda rasa cemas dan takut serta tak bisa tidur. Namun, ketika di usia 12 tahun ia menjadi senang dengan buku-buku atau film horor bercerita hantu. Contoh lain, pada usia 5 tahun seorang anak sangat menyukai kucing hingga kemudian ia dicakar oleh kucing tersebut dan membuatnya menjadi takut kucing di kemudian hari, dan lain sebagainya.

Sedangkan pada remaja, ketakutan dan kecemasan biasanya berhubungan dengan masalah penerimaan sosial dan prestasi di sekolah. Misalnya, remaja mulai tahu bahwa mereka akan diterima dalam suatu kelompok pertemanan bila ia mau bersikap dan berpenampilan seperti kelompok tersebut. Ketika mereka memasuki sebuah lingkungan sekolah yang baru, umumnya mereka akan merasa cemas, “apakah aku bakal punya teman di sana?” atau “apakah aku bisa rangking satu lagi di sekolah yang baru?” atau “aduuh…aku ngga mau kena bully lagi kalau jadi anak baru…”, dan lainnya.

Kecemasan sosial pada remaja seperti di atas bukanlah hal sepele. Bila orangtua dan guru tidak membantunya beradaptasi dan mengatasi rasa cemasnya, maka kecemasan ini akan memiliki efek jangka panjang. Misalnya, kecemasan remaja akan ditolak dalam pergaulannya membuat ia menarik diri dari lingkungan sosial dan mengisolasi dirinya dari pergaulan. Atau sebaliknya, rasa cemas dan takut itu membuatnya memilih “mengikuti arus”, sehingga bila tidak diawasi ia akan memilih lingkungan pergaulan yang salah.

Pada orang dewasa, umumnya kecemasan dan ketakutan itu adalah efek dari hal-hal traumatis yang dialaminya di masa kecil atau remaja. Misalnya, kesulitan bicara di depan umum adalah karena sejak kecil ia selalu pemalu di hadapan teman-temannya.

Apa itu fobia?

Kecemasan dan ketakutan terhadap suatu hal tertentu yang bertahan tanpa solusi dapat menimbulkan masalah baru, yaitu fobia atau rasa takut yang ekstrim dan parah. Fobia ini menjadi sulit untuk ditoleransi, baik itu pada anak-anak atau dewasa, terutama bila hal-hal yang memicu rasa takut itu sering terjadi dan sulit dihindari. Misalnya, fobia petir atau fobia darah atau fobia terhadap hal tertentu.

Maka sangat penting bagi para orangtua untuk selalu memperhatikan, mengidentifikasi, dan kemudian memberikan dukungan dan solusi bagi anak-anak mereka dalam menghadapi rasa cemas dan takut yang mereka rasakan agar tidak berkembang menjadi fobia yang terus bercokol dalam diri anak-anaknya. Tak ada salahnya bagi orangtua untuk mendengarkan kegelisahan yang dirasakan oleh anak-anaknya. Jangan menghina atau mencemooh, bahkan bila apa yang mereka cemaskan atau takutkan itu adalah hal sepele. Bagi orang dewasa mungkin itu sepele. Tapi belum tentu sepele bagi anak-anak.

Kita harus mengakui bahwa rasa takut itu nyata, dan bersyukurlah karena memiliki rasa takut. Namun ajarkan anak-anak tentang bagaimana cara mereka mengatasi rasa takut dan cemas tersebut.

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *