MENJADI AYAH IDOLA BAGI SI REMAJA

Kesibukan bekerja mencari nafkah di luar rumah tentu saja tak boleh menjadikan seorang ayah jauh dari anak-anaknya. Inilah yang sering kali disalah artikan oleh kebanyakan orangtua, yaitu ketika tugas mendidik dan mengasuh anak adalah tanggungjawab ibu saja. Padahal, ayah pun memiliki tanggungjawab yang sama. Sesibuk apapun ayah bekerja, ayah tetap wajib untuk mendidik dan menjadi teladan bagi anak-anaknya. Apalagi, bila Anda memiliki anak laki-laki. Darimana mereka akan belajar menjadi laki-laki sejati yang tangguh dan bertanggungjawab jika bukan dari ayahnya sendiri?

Memang, kalau boleh jujur, tidak banyak ayah yang bisa dekat dengan anak-anaknya. Apalagi bila anak mulai memasuki masa remaja. Paling banter, dan ini umumnya dialami oleh ayah baru, adalah antusiasme ketika baru menjadi seorang ayah. Tapi, bertahun-tahun kemudian, antusiasme itu menurun seiring dengan bertambahnya usia, kematangan, kemandirian, bahkan disertai dengan kebandelan-kebandelan anak, dan akhirnya mengembalikan “tampuk” tanggungjawab masalah anak kepada ibu seutuhnya. 

Well, tidakkah Anda ingin menjadi seorang ayah idola? Ayah yang menjadi teladan, sekaligus sahabat untuk anak-anaknya? Mari, mulai lakukan perubahan!

Ajak remaja Anda berbicara. Yah, memang, sering kali kesibukan dan rutinitas Anda menjadi kendala. Tapi, sesibuk apapun Anda, selalu ada waktu untuk pulang ke rumah dan hari libur, bukan? Nah, gunakan saat-saat yang Anda miliki setelah pulang kantor untuk meluangkan waktu sejenak untuk anak-anak Anda. Jangan sampai hanya mengajak mereka berbicara pada saat mereka melakukan kesalahan atau saat Anda marah pada mereka saja. Tapi, ajaklah mereka ngobrol, menanyakan hari mereka, atau sebaliknya, menceritakan pengalaman-pengalaman Anda untuk mereka ambil kebaikannya dan menjadikan pengalaman berharga tersebut sebagai pelajaran bagi mereka. Beneran lho, anak-anak remaja sering kali merindukan saat-saat mereka bisa duduk dan bercerita bersama Anda. Karena bagi mereka, Anda adalah idola mereka nomor satu!

Ungkapkan rasa sayang. Malu bilang sayang sama anak sendiri? Wow…jangan dong. Rasa sayang, kecintaan Anda terhadap anak-anak Anda, harapan-harapan Anda terhadap mereka, harus Anda ungkapkan dan Anda beritahukan kepada mereka. Sering kali yang anak-anak remaja tangkap dari ayah mereka hanyalah kemarahan atau ketidaksukaan ayah terhadap perilaku mereka. Tapi, mereka jarang atau bahkan mungkin belum pernah mendengar dari Anda bahwa Anda menyayangi mereka.

Hmm…begini, Dads, mulai saat ini cobalah untuk menanamkan hal ini pada diri Anda sendiri : cinta dan amarah adalah dua hal yang berbeda. Jangan lagi pernah berdalih bahwa Anda memarahi mereka karena Anda mencintai mereka. Kenapa? Karena anak-anak tidak memahami akan hal ini. Yang mereka pahami adalah, kemarahan Anda adalah bentuk rasa benci Anda terhadap mereka, dan cinta tidak bisa diperlihatkan dengan cara seperti itu. Anda bisa memberitahu mereka bahwa Anda mencintai mereka, namun, meski Anda mencintai mereka, bukan berarti Anda  tidak bisa atau tidak boleh marah. Karena terkadang Anda harus menegur mereka saat mereka berbuat salah, terkadang Anda harus marah untuk menunjukkan bahwa Anda kecewa dengan sikap mereka yang salah. Tapi, kemarahan Anda tidaklah mengurangi kadar cinta Anda pada mereka.

Kenali teman-teman anak Anda. Di masa remaja, anak-anak begitu haus akan hubungan pertemanan dan sosial. Terkadang, mereka akan lebih senang menuruti apa kata teman-teman mereka ketimbang kata-kata Anda atau gurunya. Karena itu, cobalah untuk mengenal teman-teman bergaulnya, dan dekati mereka. Tunjukkan sikap bersahabat, bahwa Anda menerima mereka di rumah Anda. Dari keramahan dan sikap bersahabat Anda, para remaja akan lebih merasa dipercaya. Mungkin, pada awalnya, sebagian dari anak-anak itu memiliki sikap yang kurang baik. Namun, selama Anda masih bisa melakukan pendekatan dan mengontrol anak Anda dengan bijak, jangan langsung meminta anak Anda menjauhi teman bergaulnya. Lakukan pendekatan, dan tawarkan persahabatan. Terlebih bagi anak laki-laki, umumnya mereka ketika merasa dipercaya, akan lebih menunjukkan sikap positif, dan menunjukkan bahwa “lihat Yah, kau pasti akan bangga padaku”.

Bersahabat dengan orangtua teman anak Anda. Tak ada salahnya bila Anda membuka komunikasi dengan orangtua dari teman-teman anak Anda. Justru dengan demikian, Anda semua bisa saling mendukung, memantau, serta mengarahkan mereka ke arah yang positif. Anak-anak justru akan lebih senang, bila para orangtua mereka juga bersahabat. Ada rasa aman, karena kemanapun mereka pergi, selalu ada orang dewasa yang menjaga dan mempercayai mereka. Sesekali, boleh juga adakan acara bersama antara para ayah dengan anak laki-laki, memancing misalnya?

Kenali anak Anda, dan motivasi mereka. Sebagai ayah, Anda harus mengenal anak-anak Anda luar-dalam. Anda perlu tahu apa yang mereka sukai atau apa yang tidak mereka sukai. Anda harus tahu apa potensi, bakat, dan minat yang mereka miliki, kemudian motivasi mereka untuk meraih segala cita-cita yang mereka inginkan. Hindari sikap pemaksaan kehendak atau terlalu mengatur. Alih-alih Anda memaksakan kehendak Anda, lebih baik Anda mengajak mereka untuk belajar mengambil keputusan secara bijak dan matang.

Ayah, aku tahu ayah sibuk
Aku tahu ayah bekerja untukku
Karena aku
Karena ayah ingin melihatku bisa meraih semua mimpiku
Tapi, ayah…
Aku pun rindu ayah
Aku ingin sesekali ayah memelukku
Aku ingin sesekali mendengar, bahwa ayah menyayangiku
Dan mendengar bahwa ayah bangga padaku
Karena aku ingin ayah bangga
Kebanggaan ayah membuatku merasa mudah
Dan membuatku ingin terus maju
Menggapai segala asa dan impianku…

 

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *