BELAJAR SAMBIL BERMAIN

Untuk balita, bermain adalah bagian penting dari proses belajar. Masa ini merupakan masa-masa penuh tantangan bagi mereka. Pada masa ini pulalah anak-anak mulai mengembangkan keterampilan fisik-motorik, harga diri, dan kepercayaan dirinya.Mereka selalu ingin mencoba dan meneliti segala sesuatu yang menarik minat mereka.

Sebagai orangtua, kita mungkin kuatir anak-anak melakukan banyak tindakan “berbahaya”, seperti berlari-lari, memanjat-manjat, melompat-lompat, atau bahkan bermain hujan.

Sering kali kita berteriak, “jangan begini, jangan begitu!” atau “lakukan ini, lakukan itu!” dsb. Kita banyak meneriakkan kata “jangan” dan “tidak” setiap waktu. Dan ternyata, hal ini bukan menyelamatkan anak-anak, tapi justru membunuh karakter dan kreativitasnya.

Bermain bagi anak-anak balita sebenarnya adalah sebuah proses belajar. Dengan melihat, mendengar, mencium, menyentuh, dan merasakan segala sesuatunya membuat mereka belajar tentang dunia mereka. Melarang mereka untuk mencoba banyak hal akan membuat mereka pasif dan tidak memiliki kepercayaan diri. Sebaliknya, jika kita terlibat dalam permainan mereka, ini akan membuat mereka merasa dicintai dan dihargai oleh kita.

Sebagai orang tua, kita harus bersikap bijaksana. Tentu saja, kita takut anak-anak berada dalam bahaya itu wajar. Tapi, disinilah tantangannya terletak. Bagi kita dan juga si kecil.

Konsekuensi menjadi orangtua adalah selalu mengawasi dan memperhatikan anak-anak. Dan ini merepotkan, tentu saja. Jika tak ingin repot-repot, ya, tidak usah punya anak. Begitu kan? Baby sitter atau pengasuh, itu bukan solusi. Tanggung jawab utama tentang anak-anak ada pada orangtuanya, bukan pada pengasuh.

Biarkan anak-anak berkreasi. Bermain pasir, bermain air, atau hujan-hujanan. Takut sakit? Tentunya kitalah yang harus bijak dalam memutuskan. Anak-anak akan mudah sakit jika setelah bermain air ia tak segera berganti pakaian, atau jika setelah bermain pasir ia tidak segera membersihkan diri. Beri batasan waktu, dan ini membutuhkan perjanjian antara orangtua dan anak.

Kita juga selalu takut jika melihat anak-anak memanjat-manjat. Kenapa harus takut, jika latihan memanjat akan menumbuhkan keberanian dan kepercayaan dirinya? Solusinya, kita berada di sampingnya saat ia bermain dan selalu siap menangkap jika ia terjatuh dan terpeleset. Anak-anak akan belajar tentang kehati-hatian setelah mereka terjatuh. Dengan demikian, ia akan mencari cara dan meningkatkan kewaspadaan mereka saat kembali bermain.

Berteriak-teriak juga merupakan bagian dari dunia anak-anak. Mereka senang mencoba mengeraskan suara mereka dan mendengarkan “keajaiban” dari suara keras mereka. Bagi kita, orangtua, teriakan-teriakan mereka itu membuat telinga sakit, mengganggu tetangga, dsb. Tapi bagi anak-anak, itu adalah sebuah keajaiban. Solusinya, kita buat perjanjian tentang dimana dan kapan mereka boleh berteriak sepuas hati. Juga kata-kata apa saja yang boleh mereka teriakkan. Dengan demikian, proses pembelajaran mereka akan berjalan dengan baik tanpa menimbulkan gangguan bagi yang lain.

Nah, bagaimana, siap mendampingi anak-anak Anda belajar sambil bermain?

 

Gambar : Rumah Bunda

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *