KEJUTAN-KEJUTAN DI SEKOLAH BARU

Hari ini adalah hari pertama tahun ajaran baru dimulai. Aini (6,5 tahun) akan mulai belajar di sekolah barunya. Akan tetapi, sejak sepagian tadi ia tampak tidak bersemangat. Padahal hari-hari sebelumnya ia nampak sangat antusias menyambut hari datangnya sekolah baru. 

“Bunda, nanti Aini dapat teman nggak ya? Aini disayang ibu guru nggak, ya? Nanti belajarnya di SD susah nggak, ya?” Pertanyaan tersebut berulang kali dilontarkannya pada sang Bunda, bahkan saat di perjalanan menuju sekolah. 

Bunda Aini cukup memaklumi, sebab selama ini Aini selalu menjadi pusat perhatian guru di sekolah, dan cukup banyak memiliki teman. Namun, kepindahan mereka ke kota lain membuat Aini tidak bis amelanjutkan sekolah baru bersama teman-temannya dari TK yang sama. 

Nah, bagaimana dengan Anda dan putra-putri Anda, Moms? Apakah Anda mengalami hal yang sama?

Yap, masuk sekolah baru, terutama pada saat transisi dari TK (taman kanak-kanak) ke SD (sekolah dasar) adalah sebuah masa yang membutuhkan perhatian ekstra pada kebanyakan anak. Untuk tipe anak-anak aktif dengan kepercayaan diri tinggi, mungkin masalah ini cukup dapat teratasi. Tapi, tidak semua lho. Sering kali anak aktif juga ikut stress dan khawatir karena “ketularan” stress orangtuanya.

Diakui atau tidak, kita sebagai orangtua-lah yang paling sering memberikan pengaruh “demam sekolah baru” pada anak-anak. Mulai dari memberikan wejangan “jangan terlalu banyak main, karena kamu sudah SD” atau “jangan bikin masalah di sekolah, kamu sudah besar” atau “kamu harus lebih tekun lagi belajar membacanya, malu kalau masuk SD membaca dan berhitungnya masih belum lancar” atau “kalau bangun lebih pagi, karena masuk sekolahnya juga lebih pagi” atau “jangan bikin malu mama-papa di sekolah baru”, dan lain sebagainya.

Betul lho, Moms, disadari atau tidak, “wejangan-wejangan” seperti tadi sebenarnya adalah bentuk kekhawatiran kita sendiri sebagai orang tua, dan ternyata hal tersebut akan memberikan kesan “berat” pada anak-anak untuk memulai sekolah barunya. Anak-anak pasti akan berpikir, “wah, berarti bakalan sulit belajarnya” atau “kira-kira aku bisa punya teman baik nggak, ya?” atau “guruku pasti galak banget” atau “wah, ngga bisa main lagi dong”, dsb. Padahal, seharusnya seorang anak bangga dan senang ketika ia mulai menapaki tahap baru dalam pendidikannya di SD. Karenanya, kita sebagai orangtua harus selalu memberikan kondisi senang dan memberitahunya bahwa akan ada banyak hal baru yang akan ia pelajari, dan semua itu menyenangkan.

Faktor pelajaran yang semakin “sulit” juga sering kali membuat orangtua mengambil jalan pintas dengan memberikan jadwal les tambahan untuk anak-anaknya. Ya, memang benar, pelajaran di SD memang lebih sulit dan akan selalu bertambah sulit dalam setiap jenjang. Namun, sesuatu yang sulit itu sebenarnya bisa dibuat mudah, tanpa harus memberikan penekanan pada anak, atau mengekang jadwal bermainnya. Jangan karena kita ingin anak kita menjadi nomor satu di sekolah lantas kita menganggap bahwa mereka sudah tidak butuh bermain lagi dan memberikan mereka beban kursus atau les privat tambahan untuk mereka. Jika mereka menginginkannya sendiri, tidak mengapa, Moms. Tapi jika kita sendiri yang memaksa mereka untuk les ini-itu, dikhawatirkan justru anak-anak akan menjadi bosan dan jenuh untuk belajar.

Bayangkan, saat di TK, anak-anak cenderung belajar dengan metode bermain, bernyanyi, dan aktivitas gerak tubuh yang banyak. Jika kita kemudian langsung menghentikan semua aktivitas “belajar sambil bermain” ini saat ia mulai masuk SD, pastilah anak akan menjadi stress dan tertekan. Sebab, dunia bermain adalah dunia anak-anak. Biarkan mereka melewati  masa transisi ini dengan “pencarian” mereka dan bantuan pengarahan dari kita. Sudah saatnya anak-anak mematangkan kemandiriannya saat mulai masuk SD. Tapi ingat, tanpa tekanan. Semua harus dijalani dan dilaluinya dengan enjoy.

Saya khawatir kalau prestasinya menurun di kelas dan ia jadi anak paling tidak mengerti apa-apa…

Prestasi menurun di sekolah baru itu biasa. Sungguh, biasa itu, Moms. Kita harus memahami bahwa anak-anak memiliki kemampuan beradaptasi yang berbeda-beda. Ada anak yang harus “mempelajari” lingkungannya terlebih dahulu, baru ia menemukan cara untuk menjadi bintang di kelasnya. Tapi ada pula anak-anak adaptif yang langsung bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya. Nah, anak-anak yang kurang adaptif ini akan bisa menjadi bintang atau menjadi adaptif bila kita memberikan kondisi yang sehat untuknya, utamanya adalah tidak memberikan penekanan berlebih padanya. Sebaliknya, jika kita terlalu memberikan tekanan dan kekangan padanya, ia justru akan semakin menurun prestasinya. Dan itu sudah banyak sekali dibuktikan.

Kita juga harus belajar membedakan, mana yang menjadi kepentingan pendidikan anak dengan “harga diri” orangtua. Jangan sampai keinginan kita untuk menjadikan anak kita bintang di kelas membuat kita memberikan tekanan-tekanan yang membuat anak justru jenuh belajar.

Saya mempelajari konsep Prestasi vs Tekanan orangtua ini sejak saya mulai magang di sebuah sekolah. Kemudian, saya mencoba mengingat masa-masa kecil yang pernah saya lalui dan membandingkannya dengan masa kecil adik-adik dan murid-murid saya.

Dulu, orangtua saya memberikan sebuah penekanan mutlak pada saya dan abang saya, bahwa anak-anak mereka harus menjadi juara. Yang saya rasakan saat itu adalah sebuah tekanan untuk harus selalu rangking satu di sekolah. Saya mendapatkannya, tapi saya merasa tidak enjoy dan tidak suka belajar. Saya hanya belajar jika orangtua saya marah. Dan pada suatu titik, dimana saya harus pindah ke sekolah baru, dari SD di desa pindah ke SD di kota, kejenuhan itu memuncak dan prestasi saya menurun sangat drastis. Dari semula juara kelas, saya turun di urutan 21 dengan jumlah siswa yang nyaris sama.

Penekanan orangtua saya mulai berkurang saat adik saya yang nomor 4 mulai masuk sekolah (SD), dan saat itu saya sendiri sudah hampir lulus SD dan mau masuk SMP. Dari semula, adik saya juga anak yang pintar. Tapi, belajar dari kesalahan di masa lalu, ibu saya mulai tidak memberikan penekanan berlebih pada anak-anaknya. Kami mulai diberikan kepercayaan untuk bisa belajar sendiri, dan tidak harus menjadi juara kelas. Dan ternyata kepercayaan dari orangtua itu membuat prestasi saya kembali menemukan “jalan”nya, dan itu berlanjut sampai saya SMA. Begitu pula dengan adik saya. Ia menapaki prestasinya di sekolah mulai dari rangking 11, naik ke posisi 9, kemudian 5, dan berlangganan juara kelas sampai ia SMA.

Di sekolah, saya memiliki 2 orang murid. Sama-sama pintar, dari keluarga yang cukup berada, keduanya juga anak sulung, dan keduanya laki-laki. Tingkat kecerdasannya sama, meski saat di TK mereka berbeda kelas. Namun saat masuk SD, perbedaan itu mulai terlihat. Si A cenderung dijejali dengan berbagai les privat ini dan itu oleh orangtuanya. Dalam sehari bisa ada 3 jadwal les yang menunggunya. Padahal jam sekolah sendiri berakhir pukul 2.30 siang. Sementara si B, dibiarkan lebih natural dan hanya seminggu sekali ia belajar privat.

Hasilnya ternyata cukup mencengangkan saya sebagai mantan guru keduanya. Sejak dari semester awal hingga kini (kelas 4 SD), si B justru terlihat lebih menonjol di kelas, selalu masuk 5 besar, meski pribadinya cenderung lebih kalem dan santai. Sementara si A, dengan segudang jadwal les-nya, prestasinya justru semakin menurun. Padahal di TK dulu keduanya adalah murid-murid saya yang paling menonjol dan paling bisa mengikuti apa yang saya ajarkan.

Dari berbagai kejadian dan pengalaman yang saya lihat ini, kemudian saya mencoba sharing dengan teman-teman yang ahli di bidang pendidikan anak, saya simpulkan bahwa ternyata memang benar, bahwa sering kali penekanan dan tuntutan orangtua justru membuat prestasi anak menurun. Maka kita semua harus bisa mengambil hikmah dari berbagai pengalaman orangtua lain, dan mencoba menjadi bijaksana terhadap anak-anak kita. Tidak perlu malu anak kita bukan rangking satu, karena rangking satu bukanlah jaminan seorang anak sukses di masa depan. Tapi berbanggalah ketika kita bisa membuatnya menyukai belajar sebagai proses alami yang harus ia lalui, seiring dengan bertambahnya kematangan dirinya. Jika anak kita yang meminta tambahan belajar, oke, berikan fasilitas sesuai dengan kemampuan kita. Dan biarkan ia mencari jalan suksesnya sendiri, dengan pengawasan dan pengarahan kita.

Kendala lain yang sering juga menjadi kekhawatiran orangtua adalah anak-anak yang kurang mandiri, terutama dalam mengurus hal-hal kecil. Misalnya, berpakaian sendiri, makan sendiri, ke kamar mandi sendiri, dsb. Anak-anak yang cenderung dimanja dan banyak dilayani oleh orang lain, biasanya akan menemukan kesulitan yang sangat berarti saat ia mulai masuk SD. Dan orang yang paling akan ia repotkan adalah guru kelasnya sendiri. Bayangkan bila putra atau putri kita tidak bisa membersihkan dirinya sendiri saat ke kamar kecil, tentu gurunya yang harus membantunya. Padahal di SD, satu orang guru akan memegang sedikitnya 25 anak dalam 1 kelas. Bila anak kita tidak terlatih mandiri, maka ketidakmandirian itu akan membuat guru melalaikan hak 24 anak lainnya.

Padahal, kemandirian seorang anak, umumnya sudah diajarkan di TK mulai saat TK A, bahkan playgrup sekalipun. Karena itu, mari, latih anak-anak untuk bisa menangani “masalah kecil”nya sendiri. Misalnya, memakai/membuka sepatu dan kaos kaki sendiri,  makan sendiri tanpa disuapi, ke toilet sendiri.

Anak-anak yang aktif juga ternyata cukup membuat orangtua khawatir. Saya pernah menjumpai seorang ibu yang menunggui anaknya sepanjang hari di dekat pintu kelas karena terlampau khawatir anaknya tidak bisa duduk diam dan berkonsentrasi lama-lama di kelas. Dan itu berlangsung sampai anaknya kelas 3 SD. Padahal, sebenarnya, membuat anak-anak aktif melatih konsentrasinya lebih lama itu cukup mudah. Kita bisa memberinya mainan-mainan edukatif yang membutuhkan konsentrasi lama. Dan juga memberinya kepercayaan dan semangat bahwa ia adalah anak yang baik dan cerdas. Latihan konsentrasi dan kepercayaan ini lah kunci mendudukkan anak aktif lebih lama di kelas.

Ajak putra-putri Anda ke sekolah barunya sebelum masa sekolah tiba, misalnya saat pendaftaran. Biarkan anak melihat dan berkenalan dengan gurunya terlebih dahulu secara personal. Seorang sahabat saya bahkan rela berkeliling dari satu sekolah ke sekolah lain saat hendak mendaftarkan putrinya ke SD, hanya untuk mencari sosok guru “ideal” di mata anaknya. Jadi, ia memberikan putrinya itu kebebasan untuk menentukan dengan guru siapa dan di sekolah mana ia ingin belajar. Meski konsekuensinya ia harus mengantar-jemput putrinya itu dengan sepeda setiap pagi dan sore. Saya rasa itu efektif, dan ternyata putrinya amat sangat enjoy di sekolah. Hal itu karena ia menemukan sosok pengganti ibu atau ayah di sekolah barunya yang dapat membuatnya merasa nyaman.

Nah, bagaimana, Moms? Anda sudah siap membantu putra dan putri Anda menyongsong tahun ajaran baru dengan semangat dan menyenangkan?

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *