Mohon maaf, saat ini kami belum dapat melanjutkan sesi sharing dan konsultasi. Silahkan konsultasikan masalah anda ke Psikolog atau ahlinya, terimakasih.

MENDIDIK ANAK DENGAN MEMAKSIMALKAN POTENSI ANAK

Islam adalah agama yang kaamil dan syaamil. Agama yang sempurna dan menyeluruh. Karena Islam memiliki aturan yang mengatur segala aspek kehidupan manusia, mulai dari kita bangun tidur sampai tidur kembali, serta aturan dalam melakukan kegiatan apapun, sekecil apapun itu.

Dalam Islam pula, Allah telah mengatur masalah pendidikan anak. Sebab anak adalah amanah Allah. Dan hanya dengan aturan-Nya lah kita mampu mencetak generasi-generasi penerus yang rabbani.

Aturan itu dimulai sejak sebelum kita bertemu dengan pasangan kita. Islam mengatur tata cara ta’aruf yang benar, nazhor (melihat calon pasangan hidup), proses khitbah atau lamaran, proses pernikahan, bahkan hingga adab-adab berhubungan suami istri.

Lalu kemudian kita hamil, Allah mempercayakan benih baru dalam rahim kita. Dan selama kehamilan, kita merasakan banyak keanehan-keanehan yang terjadi. Perut yang membuncit, senang yang asem-asem, doyan tidur, ada yang suka berdandan, ada yang benci berdandan, manja pada suami, malas mandi, dsb. Itu adalah sebuah proses, dan banyak dari kita yang telah melaluinya.

Kemudian anak lahir, dan menjadi permata hati kita. Apakah lantas kita menyia-nyiakannya? Tentu tidak. Amanah yang telah dititipkan itu haruslah kita jaga, kita didik, agar kelak mereka tumbuh menjadi manusia-manusia terbaik.

Beberapa kewajiban kita sebagai orangtua terhadap anak-anak kita adalah:

  1. Memelihara sejak dalam kandungan. Dengan makan yang bergizi, menjaga kebersihan dan kesehatan, selalu berdoa kepada Allah agar anak lahir dengan lancar dan menjadi anak yang sholeh dan sholihah.
  2. Menjaga dan mengasuh anak dengan penuh kasih sayang. Setelah lahir, kewajiban kita adalah menjaga dan mengasuhnya dengan penuh cinta. Setiap anak memiliki hak untuk dicintai oleh orangtuanya serta mendapatkan pengasuhan yang terbaik. Untuk itulah kita dituntut untuk menjadi orangtua yang baik.
  3. Mendidik anak. Pendidikan anak yang pertama dan utama adalah dari rumahnya, yakni bersama dengan orangtuanya. Dan ini kewajiban yang sangat mutlak. Mereka memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik sejak usia dini dari kedua orangtuanya.
  4. Mengajarinya berdoa sejak dini usia. Setelah anak mampu berbicara, kita dapat mengajarinya berdoa. Dan kita juga perlu memberitahunya bahwa dengan berdoa Allah akan mengabulkan semua permohonan hambaNya. Mengajari anak berdoa juga merupana salah satu cara mendidik anak untuk mendekatkan diri pada Allah.
  5. dll

Mendidik anak adalah bagian dari dakwah dan ini merupakan investasi jangka panjang. Mengapa? Karena kita tahu bahwa setelah kita mati, hanya ada 3 perkara yang tidak terputus dari kita, salah satunya adalah do’a anak yang sholeh. Bagaimana agar kita mendapatkan do’a dari anak yang sholeh? Ya, tentunya dengan mendidik anak-anak kita dengan baik dan benar sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Mengapa kita diperintahkan untuk mendidik anak sejak usia dini?

  1. Anak adalah nikmat yang Allah titipkan sekaligus sebagai ujian bagi kedua orangtuanya.
  2. Setiap anak memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan dan kasih sayang dari kedua orangtuanya.
  3. Karena setiap orangtua mendambakan anak yang sholeh dan berbakti kepadanya.
  4. Mendidik anak sejak dini usia melatih mereka untuk terbiasa dengan hal-hal yang baik hingga ia dewasa.
  5. Mendekatkan anak kepada Allah.
  6. Mendidik anak adalah salah satu bentuk amalan yang diajarkan oleh Rosulullah.
  7. Investasi jangka panjang untuk kehidupan dunia dan akhirat.

Namun, patut diingat, dalam mendidik anak, kita membutuhkan KESABARAN. Dan tidak ada kata TERLAMBAT atau TAKUT GAGAL dalam mendidik anak. Kita semua belajar dan akan terus belajar.

Bagaimana dengan larangan dan hukuman?

Larangan dan hukuman adalah salah satu cara mendidik anak. Yaitu dengan meminta anak untuk tidak melakukan sesuatu dan mberikan sangsi atas kesalahan atau pelanggaran yang telah dilakukan oleh seorang anak. Namun, hukuman tentu tidak bisa dilakukan secara sembarangan, karena hukuman sendiri memiliki aturan pelaksanaannya.

Biasanya hukuman ini dilakukan terhadap anak yang menyalahi aturan syar’i dan melanggar adab-adab yang telah ditentukan.

Lain anak, lain penanganannya

Antara anak satu dengan anak yang lain tentu berbeda karakternya. Oleh karena itu, penanganannya pun berbeda pula. Sebagai orangtua kita dituntut untuk pintar-pintar memahami setiap anak dan memahami setiap permasalahan pada diri mereka masing-masing.

Sekolah bakat

Berdasarkan pengalaman saya sebagai seorang ibu dan seorang pendidik, saya pribadi cenderung memilih sekolah yang mengembangkan bakat dan keterampilan anak. Sehingga anak mampu mencapai apa yang mereka inginkan dengan menggali potensi mereka sedalam-dalamnya.

Apa saja yang bisa dilakukan orangtua untuk memaksimalkan potensi anak?

Contoh:

–          Anak pintar menggambar. Buatkan pameran gambar anak tersebut.

–          Anak senang bergaya atau berpose. Buat butik atau salon kecantikan dengan memintanya untuk memperagakannya.

–          Anak senang memasak. Ajari mereka berbagai resep masakan yang mudah, latih dia untuk memasak sendiri untuk acaranya sendiri, dsb.

–          Anak senang berkebun. Buatkan ia taman atau kebun kecil tempatnya bercocok tanam.

–          Anak senang beternak. Buatkan kandang ayam, atau kandang kambing, atau kolam ikan, dsb.

Dengan memaksimalkan potensi anak, sebenarnya kita sendiri juga membuat sebuah investasi yang sangat besar. Dapat juga untuk mencari prospek bisnis atau home industri dengan anak-anak kita sendiri. Kita dapat melatihnya menjadi usahawan-usahawan atau bos-bos kecil untuk usaha mandiri di masa depannya.

Disampaikan oleh Ibu Tuti dalam Training PAUD Bustanul Ulum, Yogyakarta Mei 2010.

Add a Comment

Mohon maaf, saat ini kami belum dapat melanjutkan sesi sharing dan konsultasi. Silahkan konsultasikan masalah anda ke Psikolog atau ahlinya, terimakasih.

Your email address will not be published. Required fields are marked *