Mohon maaf, saat ini kami belum dapat melanjutkan sesi sharing dan konsultasi. Silahkan konsultasikan masalah anda ke Psikolog atau ahlinya, terimakasih.

MELATIH ANAK UNTUK BERPUASA RAMADHAN

Ini tahun kedua Fafa, putri sulung saya, (6y 9m) latihan puasa full, biidznillaah. Tahun ketiga belajar puasa, sebenarnya. Tapi yang pertama dulu, Fafa masih belum full puasanya. Awalnya per 3 jam, 4 jam, lalu mundur puasa tengah hari, tapi belum bisa full seperti tahun berikutnya.

Tahun kemarin (tahun keduanya belajar puasa), alhamdulillaah, atas izin Allah juga, Fafa berhasil menamatkan puasa Ramadhan 1 bulan penuh. Meski awalnya ada beberapa “drama”, ada airmata, banyak keluhan, tapi maa syaa Allaah…gadisku berhasil melewatinya dengan baik. Sangat baik malah, menurut saya. Better than her mother. Bunda is very proud of you, Fafa. Baarakallaahu fiiki…

Maka tahun ini, kami bertekad harus lebih baik lagi. Ketika memasuki Rajab, sounding puasa full sudah kami gemakan di rumah. Motivasi dan semangat senantiasa kami tumbuhkan untuk Fafa, bahwa tahun ini harus lebih baik dari tahun kemarin. Topik mengenai puasa Ramadhan ini selalu menjadi obrolan dalam setiap kesempatan.

Memasuki Sya’ban, di akhir-akhirnya kemarin, Fafa melakukan “pemanasan” puasa. Kami mengatur waktu makannya dan mengontrol cemilannya. Fafa anaknya sangat suka ngemil, jadi memang harus latihan mengontrol keinginannya untuk selalu “ngremus” (baca : mengunyah) makanan ringan. Kami katakan padanya bahwa di bulan ini, Fafa masih boleh berbuka di waktu zuhur jika tidak kuat. Karena ini hanya latihan saja. Tapi ketika Ramadhan, Fafa harus berjuang keras dan bersabar untuk bisa sampai maghrib. Alhamdulillaah, dia punya inisiatif “rencana-rencana Fafa” yang dia buat sendiri dan masih menjadi misteri buat saya dan ayahnya.

Adakah reward khusus?

Tidak ada sebenarnya. Saya pribadi punya prinsip, tidak ada “iming-iming” untuk perkara yang menjadi kewajiban agama. Shalat adalah kewajibanmu sebagai seorang Muslim. Puasa Ramadhan adalah kewajibanmu sebagai seorang Muslim. Tidak ada iming-iming kalau kamu begini, kamu akan dapat ini atau itu. Tidak. Memurnikan keikhlasan beribadah kepada Allah adalah bagaimana saya ingin mendidik anak-anak saya. Mereka harus tumbuh menjadi anak-anak yang jauh lebih baik daripada saya dulu.

Fafa memang masih kecil, ini ajang latihan, benar. Fafa juga belum dikenai wajib puasa, benar. Tapi melatihnya untuk menjalankan kewajiban agamanya, harus saya lakukan sedini mungkin. Dengan cara yang tentunya menyesuaikan dengan usia dan kemampuannya.

Saya bukan ibu yang kejam, meski mungkin kelihatannya begitu bagi sebagian orang. Tapi ini ketegasan, salah satu bentuk bagaimana saya mendidik anak saya untuk berpegang teguh kepada Al Qur’an dan Sunnah dengan “mengetatkan geraham”. Anak saya adalah anak akhir zaman. Jika tidak saya kuatkan pondasinya, bagaimana ia bisa bertahan di tengah amukan badai akhir zaman ini?

Ingat ya, tegas berbeda dengan kejam. Tegas adalah hal yang manusiawi, bahkan harus dimiliki setiap orangtua, yang tidak ingin anak-anaknya berakhir dengan pola pikir bahwa agama ini hanyalah “warisan”. Anak-anak saya harus belajar, bahwa agama ini harus dipelajari dan diperjuangkan. Warisan, eh?

Kuncinya, kenali dan ukur kemampuan anak. Itu modal utama kami sebelum ketegasan. Kami yakin anak kami mampu, oke, jalani. Ada saatnya ia mengeluh lapar, motivasi lagi, bakar semangatnya, ajak ia beraktivitas yang membuat lupa pada rasa lapar. Ingatkan kembali apa tujuan ia berpuasa, ingatkan kembali bahwa di belahan dunia yang lain, ada anak-anak menahan lapar tidak hanya saat Ramadhan, tapi sepanjang hari…sepanjang tahun.

Tentunya, kami juga tidak boleh berpelit-pelit, ya, Moms. Walaupun tidak ada iming-iming, tapi kami faham betul in syaa Allah, bagaimana menghargai usaha keras putri kami. Tahun lalu, tidak ada reward khusus, dalam hal ini iming-iming. Tapi ketika ia berhasil menggenapkan puasanya secara penuh, kami menyiapkan hadiah spesial untuk membahagiakannya. Hadiah yang tidak perlu ia minta, tapi memang bentuk penghargaan dari kami.

Alhamdulillaah, atas izin Allah Yang Maha Besar, cara-cara kami selama ini dapat diterima dengan baik oleh Fafa. Terkadang, muncul manjanya, ada semacam tuntutan ingin ini itu. Atau merajuk ketika adiknya yang belum berpuasa dengan santainya makan dan memaksa makan di dekat Fafa yang berpuasa. Tak masalah, namanya juga anak-anak. Tapi, setelah diberitahu, Fafa pun mau mengerti.

Tapi, tahun ini kami memiliki tantangan baru. Dimana Fafa sudah bersekolah, sudah tentu tidak semua temannya dilatih berpuasa di usia yang sama. Sejak sebelum puasa, saya sudah memberikan motivasi, bahwa bila Fafa di sekolah melihat teman yang makan, Fafa harus menahan diri. Tenang, in syaa Allah ada waktunya Fafa bisa berbuka. Bunda akan masakkan yang enak-enak buat Fafa. Jika Fafa terasa sangat ingin, Fafa menyingkir. Fafa catat apa yang Fafa inginkan untuk berbuka, lalu bilang pada Ayah dan Bunda. Kalau kita ada rizki dan bisa menyiapkannya, kita siapkan untuk Fafa.

Dan tantangan barunya yang lain adalah…Fafa menjalani UKK-nya di bulan Ramadhan ini. Kalau tahun kemarin kami masih di rumah (masih homeschool) kami banyak berkreativitas, maka tahun ini banyak belajar dan mengulang hafalan. Saya tahu ini cukup berat bagi Fafa. Tapi, bukan tidak mungkin untuk dijalani.

Maka, saya dan suami pun berunding. Sambil belajar lagi. Mendengarkan nasehat-nasehat dari para asatidz, dan juga belajar dari teman-teman yang lain dalam memotivasi anak-anaknya. Perlukah reward khusus?

Hingga kemudian, kami memutuskan, baiklah, ada reward khusus tahun ini. Apa yang Fafa sangat inginkan? Oke, itu menjadi reward. Tapi, fokus pada puasanya, bukan pada rewardnya. Saya memberinya satu kali kesempatan untuk membicarakan rewardnya, setelah itu, tidak ada bahasan lagi mengenainya.

Disini wajib bagi kami untuk memegang janji. Bukan janji kosong. Makanya, rewardnya juga harus realistis sesuai isi ATM. Kok ATM? Iya, karena “isi dompet” sudah terlalu mainstream. Hihi. Ohya, dan satu prinsip lainnya, kami menghindari reward dalam bentuk uang.

Dan yang tidak kalah pentingnya, mengajarkan shalat dan puasa harus sejalan ya, Moms. Jangan hanya melatih puasa tapi tidak melatih shalat. Yang awal dulu harus diajarkan justru shalatnya, kan?

Inilah cerita kami di Ramadhan kali ini. Intinya bukan berarti bahwa anak kami hebat, atau kami orangtua yang hebat karena sudah membuat anak kami berpuasa penuh. Bukan. Masih banyak lho, anak dan orangtua lain yang jaaaaaauuuuuh lebih hebat dan berprestasi daripada kami. Kami belumlah apa-apa. Dan tulisan ini, bukan untuk berbangga diri. Melainkan untuk berbagi. Jika bermanfaat, maka ambillah manfaatnya. Jika dirasa tidak bermanfaat, tinggalkanlah.

Semoga Ramadhan tahun ini lebih baik dari yang sebelum-sebelumnya. Aamiin.

 

Sleman, 1 Juni 2017

Bertepatan dengan 6 Ramadhan 1438 H

Menyempurnakan postingan di Facebook pribadi 28 Mei 2017

Add a Comment

Mohon maaf, saat ini kami belum dapat melanjutkan sesi sharing dan konsultasi. Silahkan konsultasikan masalah anda ke Psikolog atau ahlinya, terimakasih.

Your email address will not be published. Required fields are marked *