ANAKKU "DESTROYER"??

Predikat “destroyer” atau perusak sering kali menempel pada anak-anak yang senang merusak atau menghancurkan segala sesuatu yang ada di tangannya. Tapi, ternyata kebiasaan merusak pada anak tidak selalu identik dengan emosi atau kemarahan seorang anak. Ada beberapa sebab yang dapat menjadi pemicu mengapa anak senang sekali merusak benda, baik itu mainannya sendiri, atau benda-benda milik orangtuanya, dengan cara mempreteli (melepas satu persatu), membanting, merobek, mematahkan, dsb.

Apa saja penyebabnya?

  1. Rasa ingin tahu anak yang sangat besar, sehingga anak cenderung ingin melepas atau mencopot setiap bagian benda yang sedang dipegangnya. Ia ingin melihat sisi terdalam suatu benda. Sayangnya, sering kali ia ingin merakitnya kembali, ia tidak bisa melakukannya dengan benar.
  2. Tidak seimbangnya kegiatan fisik dengan perkembangan akalnya. Contohnya, anak-anak berusia 3 tahun sudah diberikan mainan atau benda-benda yang seharusnya diberikan pada anak-anak usia SD, dsb.
  3. Sedang dalam keadaan emosi, baikĀ  itu marah secara langsung, atau ia menyimpan “dendam”, sehingga memiliki kecenderungan untuk merusak barang miliknya dan atau milik orang lain.
  4. Anak jenuh karena terlalu sering berada di dalam rumah sehingga mainan atau benda yang dilihatnya hanya itu-itu saja.

Setelah kita mengetahui sebab-sebabnya, bagaimana cara kita menanggulanginya agar kejadian ini tidak terus menerus terjadi?

  1. Jika anak memiliki rasa ingin tahu yang besar, maka hendaknya orangtua memberikan mainan-mainan atau benda-benda yang sesuai dengannya, serta menjauhkan dari benda-benda yang sekiranya kurang tepat baginya.
  2. Jika anak merusak karena faktor emosi, maka hendaknya orangtua berusaha membuat anak senang dan menghilangkan sebab-sebab mengapa ia emosi.
  3. Membantu anak mengarahkan minat dan keingintahuannya terhadap sesuatu dengan cara membantunya merakit kembali atau membetulkan kembali benda-benda yang telah dilepasnya.
  4. Sering-sering mengajak anak untuk pergi berjalan-jalan keluar rumah, misalnya jalan-jalan ke sawah, taman, atau tempat-tempat untuk menambah pengetahuannya.
  5. Biasakan anak untuk mau bermain sendiri jika tidak ada teman sebayanya di rumah. Tapi tetap berikan pengawasan.
  6. Berikan benda-benda yang aman dan mudah untuk disusun kembali jika anak mencopot bagian-bagiannya.
  7. Sediakan tempat atau area khusus bermain bagi anak, sehingga benda-benda atau mainannya tidak tercecer kemana-mana yang memungkinkan bisa mencelakakan anak sendiri.
  8. Ajak dan ajari anak melakukan permainan-permainan yang baru dan seru, sehingga anak-anak tidak mudah bosan menski ia ada di rumah.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *