Mohon maaf, saat ini kami belum dapat melanjutkan sesi sharing dan konsultasi. Silahkan konsultasikan masalah anda ke Psikolog atau ahlinya, terimakasih.

APAKAH SAYA AYAH YANG BAIK?

Selama ini mungkin kita terkungkung dan terdikte oleh sebuah anggapan bahwa tugas mendidik, mengasuh, mengurus, serta membesarkan anak adalah tugas ibu. Sedangkan tugas ayah adalah mencari nahkah dan memenuhi kebutuhan keluarganya. Tahukah Anda bahwa anggapan itu ternyata SALAH BESAR?

Tugas mendidik, mengurus, mengasuh, serta membesarkan anak-anak dengan baik adalah tugas orangtua, yaitu ayah dan ibu. Jadi, sesungguhnya tugas dan tanggungjawab tersebut tidak hanya menjadi beban ibu saja, tapi juga ayah.

Seorang ayah, memiliki pengaruh dan peran terhadap tumbuh kembang anak-anak mereka sejak bayi hingga dewasa. Sesibuk apapun seorang ayah di kantornya atau dengan urusan pekerjaannya, ia harus selalu menyempatkan diri membantu istrinya untuk mengurus anak. Karena secara psikologis, seorang ayah memiliki ikatan yang sangat erat dan mempengaruhi tumbuh kembang anak serta pembentukan kepribadiannya.

 

AYAH YANG BAIK VS AYAH YANG TIDAK BAIK

1. Ayah yang baik

Seorang ayah yang baik adalah seorang ayah yang senantiasa meluangkan waktunya untuk ikut berperan serta dalan menyukseskan pengasuhan dan pendidikan anak-anak mereka. Ayah yang baik bersikap fleksibel, mau melepaskan kekakuan dan ketegasan di kantor dan menyingsingkan lengan baju untuk menggendong bayi saat ia menangis, menyuapinya saat lapar, bercanda dengan anak-anak, tidak malu mengganti popok bayi atau mencebokinya, dll.

Apakah membantu istri itu menurunkan derajat seorang laki-laki? TIDAK! Jawabannya tentu TIDAK. Justru seorang istri akan merasa sangat terbantu dan semakin menghormati suaminya manakala suaminya dengan sukarela membantu meringankan pekerjaannya tanpa diminta. Seorang istri akan semakin merasa dicintai dan dimengerti.

Pengaruh positif hubungan yang baik antara ayah dan anak :

  • mempererat hubungan ayah dan anak
  • membuat anak merasa lebih percaya diri dan berani menentukan sikap
  • anak menjadi lebih berprestasi
  • membantu anak meminimalisir perilaku yang kurang baik
  • menumbuhkan rasa tanggungjawab pada anak, terutama anak laki-laki
  • menjadikan anak mudah bergaul dengan orang lain

Anda boleh saja menjadi seorang ayah yang tegas dan disiplin pada anak-anak Anda. Tapi, jangan pernah membuat jarak dengan anak-anak Anda. Tempatkanlah Anda pada posisi sesuai dengan waktu dan kondisi yang tepat. Maka insya Allah Anda akan memiliki hubungan yang luar biasa dengan anak-anak Anda.

2. Ayah yang tidak baik

Ayah tipe ini adalah seorang ayah yang cuek dan tidak ambil pusing dengan urusan anak-anak mereka. Ayah tipe ini seringkali melimpahkan seluruh tanggungjawab pengurusan dan pendidikan anak pada ibu. Dan seringnya, jika ada kesalahan pada anak-anak mereka, ayah selalu melemparkan kesalahan itu pada ibu, bahkan menganggap ibu tidak becus mendidik anak.

Ayah yang tidak baik selalu menganggap bahwa dirinya adalah Raja, yang tidak perlu membantu meringankan beban ibu, tidak perlu membantu mengurus keperluan anak, dan cukup berkutat dalam mencari nafkah saja. Ayah seperti ini biasanya akan merasa rendah bila ia harus membantu istri menyuapi anak, apalagi menggantikan popok bayi.

Efek negatifnya, ayah seperti ini biasanya jarang sekali atau bahkan tidak memiliki hubungan yang kuat dengan anak-anak mereka. Sehingga anak-anak tumbuh tanpa figur ayah yang baik, yang dapat memberikan contoh dan teladan yang baik.

Ada banyak efek negatif yang ditimbulkan dari perilaku ayah yang demikian. Biasanya, anak-anak akan menjauh dari ayah, sering menentang, berperilaku menyimpang, takut pada ayah, dan pada akhirnya, anak bisa menjadi berani melawan ibu.

Seseorang pernah berkata kepada saya, “Lha wong bikin anaknya aja berdua, ya harus tanggungjawab berdua. Kok enak banget cuman salah satu yang harus ngurus semuanya,”. Bagaimana menurut Anda?

Karena itu, tidak ada salahnya Anda bertanya pada diri Anda sendiri : sudahkah saya menjadi ayah yang baik bagi anak-anak saya?

Jika belum, cobalah tanyakan hal itu pada diri Anda sekarang, dan renungkan!

Add a Comment

Mohon maaf, saat ini kami belum dapat melanjutkan sesi sharing dan konsultasi. Silahkan konsultasikan masalah anda ke Psikolog atau ahlinya, terimakasih.

Your email address will not be published. Required fields are marked *