HUKUMAN YANG EFEKTIF

“Itu si Udin, setiap hari dihajar sama ibunya, kok masih tetap nakal, ya…”

Ibu-ibu di kompleks asyik membicarakan tingkah si Udin, anak Bu Eman di ujung gang. Anaknya mbeling, kalau kata orang Jawa. Nakal sekali. Ia sering kali berbuat ulah, entah memukul anak tetangga, sembarangan mengambil buah di kebun halaman tetangga, bolos sekolah, bahkan sampai memecahkan jendela rumah orang. Ibunya sering kali menghajarnya. Tapi, nampaknya si Udin tidak jera juga.

Kenapa bisa begitu ya?

Masalah memberikan hukuman pada anak, sebenarnya para pakar pendidikan dan psikologi anak sendiri masih memperdebatkan caranya yang paling efektif. Dalam mendisiplinkan anak, efektif atau tidaknya sebuah hukuman tergantung bagaimana orangtua itu mengelola hukuman tersebut. Hukuman yang terlalu berat, terlalu ringan, tidak konsisten, terlalu sering, atau tidak adil, bisa jadi malah menghasilkan efek yang berlawanan dari yang diharapkan.

Pada dasarnya, hukuman adalah konsekuensi dari perbuatan anak. Mengajarkan anak-anak tentang hubungan sebab akibat. Melatih mereka untuk berpikir, memilah dan memilih, perbuatan apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Tetapi, konsekuensi itu pun harus disesuaikan dengan tingkat kesalahannya. Tidak setiap anak bisa dihukumi dengan cara yang sama.

Syarat-syarat hukuman menjadi efektif:

1. Adil. Orangtua tidak bisa menghukum anak-anak atas kesalahan yang tidak diperbuatnya, atau menghukum terlalu berat atas kesalahan yang tidak ia sengaja. Oleh karena itu, sebelum menghukum, orangtua harus mau mendengarkan alasan anak, mendengarkan bukti-bukti dan mencari saksi atas kejadian tersebut. Sebab, apabila orangtua menghukumi anak dengan tidak adil, maka bukannya membuat anak jera dan mau berdisiplin, melainkan membuatnya semakin berbuat ulah.

2. Konsisten. Ketidakkonsistenan Anda akan membuat anak-anak belajar untuk menebak dan membaca batas-batas atau saat dimana mereka bisa lolos dari hukuman ketika mereka melanggar aturan Anda. Dan biasanya, mereka pintar menebak dan mengakali Anda. Untuk itulah, dalam mendisiplinkan mereka, kita membutuhkan konsistensi.

3. Tidak terlalu sering. Ini bukan berarti Anda tidak konsisten. Terlalu sering menghukum berbeda dengan konsisten. Begini maksudnya, jika kesalahan anak sekecil apapun dihukumi dengan memukul, misalnya, ini jelas tidak efektif. Tentunya ada saat dimana anak bisa didisiplinkan dengan cara mengajaknya berbicara terlebih dahulu, melalui step by step. Keseringan menghukum anak, justru akan membuatnya memberontak di kemudian hari. Atau parahnya, dia akan mengadopsi pola pikir, untuk apa aku jadi anak baik, kalau semua kesalahanku sekecil apapun aku selalu dihukum?Bukankah lebih adil kalau aku jadi anak nakal saja?

4. Tidak mengumbar marah. Menghukum anak dengan mengumbar marah; berteriak, memaki, mencela, memukul, dan tindak kekerasan lain adalah tindakan menghukum yang seharusnya kita hindari. Selama anak-anak tidak butuh suara keras kita, tidak perlu kita berteriak-teriak. Selama kesalahan anak tidak perlu dihukumi secara fisik, tidak perlu kita memukul atau menendangnya. Sikap bijaksana dan tenang akan membuat mereka tahu, bahwa Anda menghukum mereka atas kesalahan mereka, karena cinta. Bukan karena benci.

5. Penguatan positif. Metode ini sebenarnya adalah metode yang paling efektif, jika Anda menyelaraskannya dengan keempat hal tersebut di atas. Penguatan positif membuat anak-anak tahu bahwa Anda mendukung setiap usaha mereka untuk menjadi baik. Selain itu, mereka akan merasa sangat dihargai oleh Anda. Timbal baliknya? Tentu mereka akan benar-benar menunjukkan bahwa “aku memang anak baik” dengan menuruti Anda.

Bagaimana? Siapkah Anda menjadi orangtua yang bijak?

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *