Mohon maaf, saat ini kami belum dapat melanjutkan sesi sharing dan konsultasi. Silahkan konsultasikan masalah anda ke Psikolog atau ahlinya, terimakasih.

SAAT HARUS BERSALIN TANPA SUAMI

Persalinan atau melahirkan adalah proses yang sangat mendebarkan, terutama bagi para calon ibu baru. Hampir setiap wanita ingin saat ia bersalin, ada seorang suami di sisinya yang menemani dan menyupport. Sebab, keberadaan suami di sisi saat proses persalinan adalah kekuatan tersendiri yang dapat menumbuhkan keberanian bagi para calon ibu.

Tapi, tidak selamanya itu bisa berlaku. Kadang kala para calon ibu harus bersabar dan menerima kenyataan bahwa ia tidak bisa melalui proses persalinannya bersama dengan seorang suami di sisinya.

Para ibu tentu tidak perlu terlalu cemas. Ada atau tidak adanya pasangan yang menemani saat proses persalinan bukanlah sebuah masalah yang besar. Sebab hidup harus terus berjalan. Janin dalam kandungan adalah hal utama yang harus dipikirkan. Toh, sudah banyak wanita yang membuktikan bahwa mereka tetap dapat melahirkan dengan baik dan menjalani kehidupan berikutnya dengan baik meski tanpa suami di sisi.

Berikut ada beberapa tips yang dapat dilakukan oleh para calon ibu saat harus menjalani proses persalinannya sendiri:

1. Persiapkan mental. Berat memang, tapi sekali lagi, hidup harus terus berjalan. Sedini mungkin kita harus mempersiapkan mental secara matang. Terlebih jika suami atau pasangan atau ayah janin pergi tanpa kembali. Sebagai seorang calon ibu, kita harus memiliki mental yang kuat. Pikirkan janin yang harus lahir dengan selamat dan sehat. Jika kita ingin mereka lahir dengan selamat dan sehat, maka sebagai ibu tentu kita sendiri juga harus sehat dan kuat. Menangis tidak mengapa, bersedih dan kecewa itu juga hal yang wajar. Tapi, tetap jalani kehamilan dengan tenang dan happy.

2. Positive thinking and confidence. Cemas itu wajar, apalagi jika kehamilan pertama dan kita belum berpengalaman. Tapi, kita tetap harus berpositive thinking dan percaya diri. Selalu husnudzan kepada Allah, berprasangka baik bahwa Allah Yang akan menolong kita dan janin kita. Allah Yang menanamkan janin itu di dalam rahim kita, maka Dia pulalah Yang akan membantu kita mengeluarkannya.

3. Perbanyak dzikir dan membaca Al-Qur’an. Jangan pernah sepelekan kekuatan dzikir dan tilawah (membaca Al-Qur’an). Banyak ibu-ibu yang menjalani proses persalinannya dengan lisan yang tak terjaga; mengumpat-umpat, memaki, berteriak-teriak, dsb. Jangan pernah mau menjadi bagian dari yang tidak baik tersebut. Kita tidak menutup mata, melahirkan itu memang sakit. Sangat sakit, ibarat kita menyabung nyawa. Namun yakinlah bahwa rasa sakit itu ada batasnya, dan kita diuji dengan rasa sakit yang masih bisa kita atasi. Nah, saat bersalin, usahakan yang keluar dari lisan kita adalah dzikir, do’a-do’a dan ayat-ayat Allah. Itu akan sangat meringankan rasa sakit. Kita boleh juga mengaduh, namun mintalah Allah untuk meringankannya.

4. Lakukan kegiatan yang menyenangkan. Jangan terlalu larut dalam kesedihan dan kekecewaan Anda. Lakukan berbagai hal positif yang dapat membuat Anda happy. Belanja kebutuhan bayi, mencari nama untuk anak, kontrol ke dokter, atau menyiapkan kamar dan dekorasinya.

5. Jaga komunikasi. Jika suami Anda pergi untuk kembali, maka jalinlah komunikasi yang baik dengannya. Minta ia untuk tetap memberikan dukungan dan do’a, meski ia sedang jauh dan tidak bisa menemani Anda. Komunikasi yang lancar akan membuat kita merasa lebih tenang dan tidak sendirian.

6. Minta keluarga atau kerabat menemani. Tidak ada suami, kita masih punya keluarga yang lain. Mintalah salah satu atau beberapa anggota keluarga Anda untuk menemani. Atau biasanya bahkan para calon ibu pulang ke kampung halamannya agar dapat ditemani oleh ibu atau sanak keluarga yang lain saat proses persalinannya.

7. Fokus pada kehamilan dan persalinan. Kita mungkin kecewa karena suami tidak bisa menemani atau bahkan tidak mau menemani. Entah karena memang keadaan yang memaksa seperti ia harus menjalani studi di luar kota atau luar negeri, tugas kantor, atau malah karena ia merasa takut jika harus melihat orang melahirkan. Ada pula jenis suami yang kurang atau tidak peduli. Tapi, sudahlah. Jangan terlalu risaukan hal tersebut. Jika Anda masih bisa meminta sedikit kepeduliannya, maka katakanlah bahwa Anda butuh sedikit perhatian lebih darinya. Tapi, jika tidak, maka tetaplah fokus pada diri Anda dan janin Anda. Janin Anda harus lahir dengan selamat, dan Anda juga harus selamat. Itu saja sudah cukup.

8. Jangan terlalu terbawa emosi. Rasa sedih dan kecewa Anda harus segera Anda akhiri. Jangan berlarut-larut. Bayangkan bahwa sebentar lagi akan ada bayi mungil nan lucu yang akan menemani hari-hari Anda. Jika Anda terlalu larut dalam emosi Anda, maka hal tersebut dapat memperlambat dan mempersulit proses persalinan Anda sendiri.

Nah, bagaimana calon ibu? Anda sudah siap menghadapi persalinan Anda?

Add a Comment

Mohon maaf, saat ini kami belum dapat melanjutkan sesi sharing dan konsultasi. Silahkan konsultasikan masalah anda ke Psikolog atau ahlinya, terimakasih.

Your email address will not be published. Required fields are marked *