BUNDA, AKU JATUH CINTA…

Ada yang “tidak biasa” dengan si kakak. Akhir-akhir ini, sering melamun, sering berkurung diri di kamar. Tidak jarang pula, ia tersenyum-senyum sendiri atau bernyanyi-nyanyi sendiri. Kalau mandi sekarang semakin lama, sampai bikin ayahnya kesal gara-gara harus segera ke kantor. HP juga tidak lepas dari genggaman tangannya. Adaaa…saja sms yang masuk dan membuat pipinya bersemu merah. Makannya juga semakin sedikit. Pokoknya, nggak seperti biasanya, deh!

Wah…wah…ada apa, nih?

Remaja Anda mungkin sedang mengalami apa yang kita sebut dengan VMJ, atau virus merah jambu, alias sedang jatuh cinta. Wow…rasanya seperti flashback waktu kita masih ABG dulu…Pernah merasakannya juga, kan?

Tapi, seiring berkembangnya zaman, dunia remaja sekarang berbeda dengan dunia remaja orangtua zaman dahulu. Banyak kesalahkaprahan yang semakin menjadi akibat bobroknya moral dan akhlak. Kalau dulu, orang masih tahu malu. Dan sering kali menjadi tabu jika berdua-duaan dengan lawan jenis.

Kalau sekarang? Fasilitas banyak mendukung. Terlebih lagi, orangtua banyak menghabiskan waktu untuk bekerja sehingga tidak selalu bisa mengawasi dan memperhatikan anak-anak mereka.

Apa harus dilarang?

Ya, tidak begitu juga. Namanya juga rasa suka, cinta, itu wajar. Adalah hal yang manusiawi manakala seseorang tertarik dengan lawan jenisnya. Tapi, yang terpenting adalah bagaimana kita sebagai orangtua harus pandai-pandai mengelola, sehingga kita dapat membantunya agar tidak terjerumus pada lembah dosa.

Bagaimana cara membantunya mengelola cinta?

Menjadi sahabat. ABG jaman sekarang, lebih suka curhat dengan teman-teman mereka. Jarang sekali ada anak-anak yang mau terbuka dengan orangtua mereka. Kebanyakan merasa takut, segan, dan menganggap orangtua kolot. Untuk itulah, orangtua harus bisa berperan menjadi sahabat bagi anak-anaknya. Biasakan mereka untuk menceritakan hari-hari mereka kepada Anda, jalin komunikasi yang penuh cinta, dan belajarlah menjadi bijak. Berawal dari kebiasaan kita mau mendengarkan cerita mereka, mereka pun akan merasa nyaman. Mereka akan menganggap bahwa kita adalah “pendengar” yang baik dan mampu memberikan solusi yang mereka butuhkan. Kalau sudah mendapatkan kepercayaan mereka, pasti deh, insya Allah, akan mudah mengarahkan mereka.

Pahamkan mereka tentang makna cinta karena Allah. Segala cinta haruslah dilandaskan karena Allah. Bukan hanya nafsu sesaat. Ingatkan mereka bahwa cinta Allah adalah cinta yang paling utama yang harus mereka raih. Jika mereka berhasil meraih kecintaan Allah, maka akan sangat mudah Allah memberikan cinta yang terbaik bagi mereka di dunia.

Bedakan antara; simpati, naksir, dan cinta sejati. Sekilas rasanya sama, tapi ternyata beda jauh. Simpati biasanya muncul berawal dari rasa iba, kasihan, dan ingin menolong. Naksir biasanya muncul berawal dari pandangan atau visual, seperti penampilan yang menawan, sikap yang misterius, dsb. Kedua jenis rasa ini tidak membutuhkan komitmen, dan sifatnya hanya sementara. Sepintas lalu akan hilang begitu saja. Tapi, cinta sejati berbeda. Cinta sejati memiliki komitmen dan pengorbanan di dalamnya. Dan, satu hal lagi, cinta sejati hanyalah cinta yang berdasarkan cinta karena Allah, dan hanya ada dalam bingkai pernikahan. Untuk menuju kesana, tentulah mereka membutuhkan ilmu yang banyak lagi.

Jangan biarkan anak menonton sinetron. Saya sangat terkejut saat mendengar anak-anak usia kelas 1 SD sudah bisa bicara “cinta”. Waktu saya tanya, “cinta itu apa sih, Mbak?” Dengan agak malu-malu ia menjawab, “itu lho…yang kayak di sinetron ini…(dia menyebutkan judul sebuah sinetron yang kini tayang hampir setiap hari di TV)”. Masya Allah…Seharusnya orangtua bisa memilihkan dan memberikan aturan tontonan apa yang boleh dan baik bagi mereka. Bukan membiarkan mereka menonton sembarang acara…

Ajarkan anak untuk menjaga pandangan mereka. Rasa cinta itu datang dari pandangan. Maka ajarkanlah mereka untuk ghaddul bashar alias menundukkan pandangan mereka. Menundukkan pandangan akan membuat mereka lebih bisa menata hati.

Arahkan kreativitas ke jalan yang benar. Biasanya, orang atau anak yang sedang jatuh cinta menjadi lebih kreatif. Mereka menjadi penyair dadakan, menjadi pujangga baru yang menciptakan puisi-puisi atau cerita-cerita yang sarat dengan muatan cinta mereka. Tidak jarang, mereka menyalurkannya dengan menulis surat cinta kepada orang yang mereka senangi. Nah, untuk itulah, arahkan mereka untuk menyalurkannya pada tempat yang benar. Menulis diary atau blog, misalnya. Anda bisa mengarahkannya untuk membukukan tulisan-tulisannya. Lebih bermanfaat, bukan?

Bagaimana? Anda memiliki ide lain?

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *