Ada yang bilang bahwa “anak itu cerminan ibunya”. Kalau ibunya baik, anaknya pasti baik. Begitu juga sebaliknya, jika ibunya buruk, maka anaknya pasti buruk. Apakah benar anak itu hanya tergantung bagaimana ibunya? Mengapa hanya ibu? Bagaimana dengan peran ayahnya?
Pertanyaan ini menyentuh aspek psikologi perkembangan yang cukup dalam. Singkatnya: Ya, anak adalah cerminan orang tuanya, tapi bukan fotokopi yang identik.
Ada benarnya bahwa ibu sering kali menjadi “sekolah pertama” bagi anak. Namun, menyematkan seluruh beban moral dan perilaku anak hanya pada ibu adalah pandangan yang tidak hanya tidak adil, tetapi juga tidak akurat secara ilmiah.
Ada beberapa poin yang perlu kita cermati:
- Peran Ayah: Fondasi dan “Jendela Dunia”
Penting bagi para orang tua (atau calon orang tua) untuk memahami bahwa ayah bukan sekadar pendamping atau pencari nafkah. Dalam psikologi, peran ayah sangat krusial dalam membentuk:- kemandirian dan keberanian: Jika ibu sering kali memberikan rasa aman (nurturing), ayah biasanya mendorong anak untuk bereksplorasi dan menghadapi risiko (challenging).
- kecerdasan emosional: Penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan ayah yang aktif berkorelasi positif dengan kemampuan anak dalam mengelola emosi dan perilaku sosial yang lebih baik.
- model hubungan: Bagi anak perempuan, ayah adalah standar pertama bagaimana dia seharusnya diperlakukan oleh laki-laki. Bagi anak laki-laki, ayah adalah model bagaimana menjadi pria yang bertanggung jawab.
- Teori Nature vs Nurture
Anak tidak lahir sebagai kertas kosong. Ada dua faktor utama yang membentuk mereka:- Genetik (Nature): Ada anak yang secara alami dia memiliki ketenangan, santai, woles, tapi ada juga anak yang memang bawaannya keras kepala, mudah marah, dll.
- Lingkungan (Nurture): Ada juga lingkungan dan pengalaman, di mana ini mencakup pola asuh ayah dan ibu, lingkungan sekolah dan tempat tinggal, pengaruh teman sebaya, hingga apa yang menjadi tontonan mereka sehari-hari.
- Mengapa “Ibu Baik = Anak Pasti Baik” Bisa Keliru?
Pernyataan ini sering kali menjadi beban mental bagi para ibu. Karena kenyataannya:- Anak memiliki kehendak bebas (free will). Seiring dengan bertumbuh dan berkembangnya seorang anak untuk mencapai kedewasaan, mereka akan membuat keputusan sendiri yang bisa jadi berbeda dengan nilai-nilai rumah yang selama ini diajarkan orang tua.
- Pola asuh hanyalah salah satu variabel. Tekanan teman sebaya (peer pressure) dan pengaruh digital di era sekarang punya peran yang sangat besar dalam perilaku seorang anak.
Kesimpulan: Mendidik Anak Adalah Kerja Tim, Bukan Solo Karier
Mendidik anak adalah proyek bersama. Jika ibu baik namun ayah absen (secara fisik maupun emosional), atau sebaliknya, anak akan kehilangan keseimbangan dalam fondasi karakternya. Mau dididik sebaik apapun oleh seorang ibu yang sangat baik sekalipun, jika kehilangan sosok atau peran ayah, secara psikologis anak akan tetap beresiko mengalami “kekosongan” karakter.
Maka ketika seorang anak membuat masalah atau membuat kegaduhan di media sosial misalnya, tidak tepat jika hanya menyalahkan dari sisi ibu. Justru itu adalah cerminan KEGAGALAN AYAH dalam memberikan rasa aman dan menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya. Anak meledak dengan perilaku yang kurang baik itu bukan karena dia “tidak dididik”. Tetapi itu adalah REAKSI MANUSIAWI TERHADAP TRAUMA yang dialaminya, yang selama ini mungkin ia pendam dan memborok.
Lagi, dan lagi: pendidikan anak adalah TANGGUNG JAWAB KOLEKTIF. Menyalahkan ibu atas perilaku anak yang kurang baik sementara ayahnya tidak pernah hadir, atau meninggalkan tanggung jawabnya adalah puncak dari kemunafikan.
Jika memang menurut ayah cara mendidik ibu di rumah tersebut ada yang salah, maka sebagai kepala keluarga seharusnya IKUT MEMPERBAIKI, bukan mangkir atau abai.
Lupa akan peran ayah dalam pendidikan anaknya? Mari kita bantu mengingatkan kembali:
Narasi tentang pendidikan anak, dialog-dialog yang diabadikan dalam Al-qur’an justru lebih banyak menampilkan sosok AYAH sebagai PENDIDIK UTAMA. Telusuri saja ayat-ayat tentang pengasuhan, tokoh utamanya adalah laki-laki: Luqman al-Hakim, Nabi Ibrahim, Nabi Ya’qub, Nabi Zakaria, dll. Semuanya laki-laki.
Jelas, laki-laki adalah qawwam. Pemimpin, penanggung jawab. Ayah adalah orang yang akan pertama kali akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah tentang keluarganya. Atas arah pendidikan anak-anaknya. Dalilnya jelas dan banyak.
Intinya: Anak adalah cerminan dari “ekosistem” di rumahnya. Dan di dalam ekosistem itu, ayah dan ibu adalah dua matahari yang harus bersinar bersamaan. Jadi jika kita tetap ingin memakai istilah “cerminan”, maka istilah yang lebih akurat adalah: “Anak adalah cerminan dari dinamika orang tua dan lingkungannya.”

Leave a Reply