TEMPER TANTRUM PADA ANAK

temper tantrum pada anak

Temper tantrum adalah ledakan kemarahan yang terjadi secara tiba-tiba, tanpa terencana. Pada anak-anak, ini bukan hanya untuk mencari perhatian dari orang dewasa saja. Ketika mengalami tantrum, anak-anak cenderung melampiaskan segala bentuk kemarahannya. Baik itu menangis keras-keras, berteriak, menjerit-jerit, memukul, menggigit, mencubit, dsb.

Normalnya, tantrum (baca: marah-marah) pada anak-anak hanya terjadi sekitar 30 detik sampai 2 menit saja. Tapi, jika kemarahan berlanjut sampai pada tingkat yang membahayakan dirinya atau orang lain, maka ini bisa menjadi hal yang sangat serius.

Temper tantrum biasanya terjadi pada anak usia 1-4 tahun. Meski tidak menutup kemungkinan anak-anak yang lebih tua, bahkan orang dewasa pun pernah mengalami ledakan kemarahan ini. Dan pada dasarnya, marah-marah pada anak-anak usia 1-4 tahun adalah hal yang wajar terjadi bagi usia mereka. Kebanyakan anak-anak mengalami hal ini.

Mengapa harus marah-marah?

Temper tantrum biasa terjadi karena beberapa hal pemicu. Diantaranya adalah:

1. Frustrasi. Jangan dikira hanya orang dewasa saja yang bisa frustrasi. Anak-anak pun mengalami hal ini. Misalnya, anak-anak akan menjadi cepat marah manakala mereka tidak bisa mencapai sesuatu yang sangat mereka inginkan. Dalam artian, mereka gagal. Kegagalan memicu rasa frustrasi, dan akhirnya kemarahan itupun meledak.

2. Lelah. Anak-anak yang kelelahan, akan menjadi mudah marah. Aktivitasnya yang padat dan sedikit waktu bermain akan membuat anak-anak cepat marah dan emosi.

3. Orangtua terlalu mengekang. Sikap orangtua yang terlalu banyak mendikte dan mengekang anak, juga dapat berpengaruh bagi emosinya. Anak-anak yang merasa jenuh dengan kekangan orangtuanya, suatu saat akan mencapai titik puncak kejenuhan. Dan marah-marah adalah salah satu bentuk ledakan tersebut.

4. Sifat dasar anak yang emosional. Beberapa anak mewarisi sifat dasar emosional dari orangtuanya. Mereka ini cenderung tidak sabaran, gampang marah meski karena hal-hal kecil.

5. Keinginan tak dipenuhi. Salah satu kesalahan yang sering kali dilakukan orangtua adalah mereka begitu mudahnya membujuk anak-anak dengan iming-iming. Menangis sedikit, anak dibujuk dengan es krim atau mainan. Nah, akhirnya ini akan menjadi kebiasaan, dan anak-anak mengenali pola ini. Suatu ketika, ia memiliki keinginan akan sesuatu, ia akan menangis dan mengamuk jika keinginan tersebut tidak segera dipenuhi oleh orangtuanya.

Bagaimana mengatasinya?

Mengatasi anak-anak yang sedang mengamuk itu gampang-gampang susah. Penuh dilemma. Tapi, ada beberapa kiat yang bisa kita gunakan untuk mengatasi masalah ini.

1. Cari tahu penyebabnya. Dengan mengetahui penyebab anak-anak mengamuk, kita akan mudah menentukan langkah yang harus kita ambil dalam menghadapi mereka.

2. Jangan ikut emosi. Biasanya, orangtua akan ikut-ikutan menjadi emosi manakala anak mereka mengamuk. Orangtua bisa memukul, mencubit, dsb. Apakah itu solusi? Tidak. Anak-anak bukannya akan belajar mengatasi kemarahan mereka, tapi malah semakin menganggap orangtuanya jahat.

3. Abaikan dan ajari anak mengatasi kemarahannya. Jangan turuti semua hal yang diinginkan pada saat itu juga. Bersikap cuek dan tidak memperdulikan kemarahannya, sebenarnya adalah cara yang sangat jitu untuk membuatnya tahu, bahwa kemarahannya tidak bisa membeli keinginannya. Katakan padanya, bahwa hanya anak-anak yang menyampaikan keinginan dengan cara yang baiklah yang akan mendapatkan keinginannya itu dari Anda. Bukan dengan amukan, tangisan, bahkan berguling-guling. Sikap tegas dan konsistensi Anda dengan sikap ini akan membuatnya berlatih lebih disiplin.

4. Sudut diam. Dalam artian, bukan mengurung anak di kamar mandi atau di gudang. Tidak perlu main kunci pintu atau rantai. Cukup sediakan sebuah kursi yang Anda sebut sebagai kursi diam. Saat mengamuk, dudukkan anak disana, dan ia tidak boleh kemana-mana sampai ia bisa menenangkan diri. Boleh juga meminta anak untuk masuk ke kamarnya sendiri dan menenangkan diri. Ia boleh keluar dan kembali menyapa Anda setelah ia tenang.

Normalnya, memasuki usia 5 tahun, saat anak-anak mulai bersekolah dan bergaul dengan teman sebayanya, mereka telah mulai dapat mengatasi gejolak emosi mereka. Sesekali mungkin marah, tapi, mereka lebih bisa menahan diri. Nah, jika dalam waktu bertahun-tahun di masa sekolah mereka belum juga bisa mengatasi permasalahan ini, ini kemungkinan besar menunjukkan bahwa anak-anak bermasalah dalam emosinya. Bisa jadi, karena kesulitan belajar atau kesulitan bergaul dengan lingkungannya. Dan Anda butuh untuk berkonsultasi pada ahlinya untuk mengatasi masalah ini.

135 comments

  1. bunda ihsan says:

    anak saya ihsan,2.8 bulan.akhir2 ini dia sering tantrum.biasanya saya dapat mengatasinya,namun hari2 terakhir ini,tantrumnya lebih ke memukul dan melempar barang2 yang ada didekatnya ke saya. walaupun pada akhirnya setelah 2-3 menit tantrumnya reda dan dia tidur. biasanya setelah itu dia saya beri pengertian dan dia paham dan berjanji tidak mengulangi tantrumnya lagi.saya pun sbg orangtua juga meminta maaf padanya karena sudah ikut2an marah.tapi,kok tantrumnya slalu berulang.saya kuatir ini menjadi kebiasaan.saat dia tidak mendapat keinginannya,tantrumlah dia.apakah kekuatiran saya beralasan?

    • bunda says:

      bunda, terimakasih atas kunjungan Anda. mungkin yg Anda maksud adalah 28 bulan atau 2,8 tahun?
      saya telah membaca komentar Anda di web saya. terimakasih atas kunjungannya. senang rasanya dapat berbagi dengan sesama orangtua.
      Anda menulisnya anak saya ihsan,2.8 bulan pada web. tapi, saya akan mencoba memberikan solusi yang dapat saya lakukan sesuai dengan pengetahuan saya.
      sebagaimana saya pernah mengulasnya dalam artikel saya, Temper Tantrum pada Anak, perlu kita ketahui penyebab mengapa anak sampai mengalami tantrum.
      bagaimana kah pola asuh kita kepada anak selama ini? bisa jadi ia frustrasi, bisa jadi ia sering dimarahi, bisa jadi selama ini ia sering sekali diiming-iming saat dibujuk, dsb.
      saya pernah menghadapi anak yg demikian, bahkan lebih parah. anak ini bahkan berguling guling di tanah, mencakar dirinya, mengamuk karena ibunya tidak mau menuruti keinginannya. setelah saya telusuri, rupanya sang ibu sering kali menuruti anaknya, sering mengiming-imingi dengan banyak hal, sehingga si anak terbiasa kemauannya dituruti. dan saat ibu mulai bosan dengan kemauan anaknya yg terlalu banyak, terjadilah penolakan, dan anak pun tantrum sampai separah itu.
      Bunda Ihsan, kekhawatiran Anda sangat beralasan. ya, jika kita tidak segera menghentikannya mulai dari sekarang, maka akan menjadi kebiasaan yang fatal. anak akan menjadi anak yang egois dan susah untuk dikendalikan.
      Biarkan anak belajar untuk tahu bahwa tidak semua keinginannya dapat dipenuhi. jangan turuti semua kemauannya. katakan secara tegas, bahwa cara meminta yg baik bukanlah dengan kemarahan, rengekan, atau tangisan. Oh ya, Anda mungkin juga perlu memperhatikan sekitaran Anda. bisa jadi, ada pengaruh dari luar yg memicu tantrumnya. misalnya saja, teman bermainnya sering kali dituruti segala kemauannya oleh orangtuanya, atau teman bermainnya juga sering tantrum dan kurang mendapatkan pola asuh yg benar. dan anak Anda menyaksikan itu. lalu ia berpikir, temanku menangis dan marah, semuanya dituruti oleh ibunya. kalau begitu, aku juga mau berbuat sama. itu bisa saja terjadi.
      jika anak sering melempar barang, maka hal pertama adalah meminimalkan barang-barang yang ada di dekatnya. atau, Anda yg pergi. katakan secara tegas bahwa ia boleh menemui Anda setelah ia tenang. tidak perlu ada ancaman atau iming-iming.
      mungkin itu dulu. semoga bermanfaat.

  2. bunda ihsan says:

    terima kasih banyak atas masukannya.oya anak saya 2 tahun 8 bulan. mudah2an saya bisa lebih sabar dan tenang saat ihsan tantrum.informasinya sangat bermanfaat :-)

  3. icha says:

    Bunda, mo minta referensi buku-buku tentang tantrum dong. kalau bisa yang indonesia tetapi kalau harus impor tidak apa. thanks.

    • bunda says:

      coba cari di buku-buku tentang parenting aja mba….biasanya di topik tumbuh kembang anak. terimakasih atas kunjungannya.

  4. zelly says:

    terima kasih bunda,tadinya saya kadang2 menghukum anak (2,5th) di kamar mandi selama satu menit jika dia sedang tantrum,apakah hal tersebut akan tetap mempengaruhi emosinya ke masa depan walaupun kini saya telah merubah cara sesuai yang bunda sarankan?

    • bunda says:

      terimakasih atas kunjungannya di portal kami, ibu Zelly.
      pastikan bahwa ibu memberikan atau menjelaskan alasan mengapa ia dulu harus dikurung di kamar mandi. tentu dengan bahasa yg ia mengerti. kemudian, tunjukkan padanya, bahwa Anda menyayanginya. insya Allah anak akan melihat, bahwa Anda menghukumnya dulu bukan karena Anda membencinya.

  5. Bunda Ninit says:

    Bunda,apakah masih normal jika tantrumnya lebih dari 2-3 mnt? anak saya,2 tahun 8 bln,jika emosinya sedang meledak (tantrum) lebih dari 2-3 mnt,saya sempat mengikuti saran yg sering diberikan org2 atau milist dengan cara pura2 cuek atau diawasi tanpa ekspresi tapi ternyata semakin jadi dan lama,dari yg sabar sampai terpancing emosi,kadang saya bilang ‘kalau kakak blm bisa tenang lebih baik kakak masuk dalam kamar,kalau kakak sudah tenang kakak keluar cari bunda’ tapi malah makin jadi juga,selain itu kalau main bersama teman suka tidak mau berbagi,main dengan teman hampir selalu ada acara rebutan,pukul2an,jorok2an,padahal anak saya perempuan dan kadang ada ibu yg kurang terima.kadang2 (mungkin makdusnya becanda) tiba2 anak saya mendorong temannya baik yg lebih besar maupun kecil.adakah cara lain utk mengatasi hal ini bunda?? terima kasih sebelumnya..

  6. bunda fayyaz says:

    bunda… sy punya anak br 1, umur 3 thn 10 bulan… bunda sy bingung melihat anak sy kok akhir-akhir ini kalo punya kemauan harus terpenuhi saat itu juga, pdhal sdh sy beri pengertian, sy bujuk tapi masih sj ngga mau diam kalo dah nangis, malah skrg suka main pukul, nendang… kadang emosi sy juga terpancing pengen nyubit, gimana yah bunda ngatasin nya… sy jadi dilema banget pikirin ini. kadang sy berfikir apa sy salah ngedidik anak. soalnya sehari hanya bertemu dia sore sampe subuh krn pagi sy harus ke kantor… kebetulan ada adik yang bantu jagain… mohon solusinya bunda

  7. tamamy's mom says:

    bunda, anak saya 3 tahun 10 bln, dr umur 2 tahun, anak saya sdh mulai keliatan tantrumnya. Awalnya saya msh bs mengatasinya, dng memperbanyak waktu bersamanya. dan alhamdulillah tantrumnya sdh jarang bahkan sempat hilang sama sekali dalam waktu yg lumayan lama.
    Tp belakangan ini, tantrumnya suka kembali lagi, yg paling sering disebabkan karna mogok berangkat k sekolah. Awalnya saya atasi dengan membujuknya, dari yg lembut sampai akhirnya saya marahi karna saya jg terpancing emosi. Dan untuk tantrum kali ini lumayan parah, karna saat dia mengamuk, dia cenderung menyerang saya dengan menggigit. dan tak jarang dia jg suka menggigit tanganya sendiri. Lamanya dia mengamuk jg lebih dari 2 mnt. Tp setelah dia tenang, dia akan segera meminta maaf dgn perasaan bersalah sambil memeluk saya erat2.
    Saya memang membiasakan anak saya dengan peraturan2, yg menurut saya msh wajar, misal cuci tangan sblm mkn, bersih2 mau tidur, tidak makan coklat, tdk main panas2an n kotor2an, dll..
    Apa saya trlalu banyak bikin peraturan sehingga anak bosan..? Dan apakah masih wajar sikap anak saya itu..?
    Tambahan, tantrum anak saya itu selalu terjadi bila dengan saya, tdk pernah terjadi saat dia dirumah sama pengasuh atau sama neneknya. Bahkan menurut pengasuh dan neneknya, klo lg ditinggal kerja sama saya, dia sll menjadi anak yg baik n penurut dan selalu mematuhi peraturan2 yg saya buat dengan mudahnya..
    Mohon bunda masukanya,,
    bagaimana saya hrs bersikap,,?
    Terima kasih,,

  8. Arvi says:

    Bunda, anak saya laki-laki usia nya 14 bulan. Saya bingung koq akhir2 ini dia jd sering tantrum ya? tapi tantrumnya ini kalau berjauhan sama saya.
    Saya + suami kerja kantor. pulang sudah malam walo dia masih belum tidur. jadi kalau saya sudah pulang kantor, dia pasti g mau lepas dari saya. Kemarin ini, kami (ibu saya, adik saya dan saya)pergi ke supermarket. karena sudah waktunya sholat Zuhur, jd kami ke musolah dulu utk sholat. kami bergantian, saya yg terakhir. ketika saya mau berwudh, anak saya nangis g mau ditinggal… lumayan lama, nangis, teriak2 sampai saya selesai sholat. saya dekati dia, dia mulai pikul2 saya..seakan protes. BAgaiaman ya bun? apa yg harus saya lakukan?

    Kelihatannya anak saya ini g mau ketinggalan sama saya banget. tp kalau saya berangkat kerja dia g nangis. cuma waktu libur…g mau sama sekali lepas dr saya.

    mohon masukannya ya. terima kasih.

  9. sri says:

    Bunda, mohon sharingnya,
    anak Saya Syifa dari bayi sampai berumur 18bln merupakan anak yg baik dan manis, mau ikut dan bergaul dengan siapa saja. tapi semenjak 6bln yg lalu ketika tantenya alias Adik saya meninggal, perilakunya berubah menjadi temperamental, gampang nangis dan mengamuk, tidak mau ikut siapapun kecuali saya bahkan sama neneknya yg mengasuh dr bayi ketika saya bekerja pun dia tidak mau. apa yg harus saya lalukan bu, klo sudah menginginkan sesuatu hrs dipenuhi kalua tidak akan menangis dan mengamuk sampai terpenuhi malah bias seharian hingga akirnya dia radang.apakah kematian adik saya berpengaruh terhadap psikologisnya? karena memang Alm. Adik saya ini sangat dekat dgn Syifa.

    • bunda says:

      salah satu penyebab tantrum pada anak-anak adalah rasa frustrasi. rasa frustrasi ini bisa disebabkan oleh banyak hal, tidak hanya kegagalan dalam melakukan sesuatu saja, tapi juga bisa karena rasa kehilangan yg tidak bisa ia ungkapkan.
      Ditinggal oleh orang yg sangat dekat bagi anak-anak itu cukup bahkan sangat berat. Sehari – dua hari atau maksimal seminggu anak-anak mungkin masih bisa bertahan. Tapi lebih lama dari itu, dan ia tidak menemukan orang yg dekat dengannya, itu membawa dampak tersendiri baginya. salah satu caranya berekspresi ya, dengan Tantrum itu.
      Sedih karena ditinggal orang yg sedemikian dekatnya dengan kita tentu meninggalkan bekas yg sangat dalam bagi kita, apalagi anak-anak. karena mereka belum dapat memahaminya.
      cara terbaik yg mungkin bisa Anda coba adalah melibatkan anak tersebut dalam mengatasi emosinya. misalnya, Anda bisa mengajaknya berziarah saat hari libur, mengajaknya menggambar bunga, atau apa saja yg menunjukkan kedekatannya dengan sang tante. sambil Anda terus berupaya memahamkannya bahwa meski tante sudah tidak ada, tapi syifa tetap dapat memiliki tantenya sampai kapanpun.
      semoga bermanfaat, ibu. (mungkin ada teman-teman yg dapat menambahkannya?)

  10. unchan says:

    temper tantrum bisa dialami org dewasa jg ga sih ? soalnya pacar saya klo keinginannya ga terpenuhi dia akan mengamuk n menyakiti dirinya sendiri (contoh:nyayat” tangan, benturin kepalanya ke tembok, ngancurin kaca dsb). harus spt apa sy menghadapi org yg spt itu ?

    • bunda says:

      ledakan kemarahan itu bisa terjadi pada siapa saja, mba. tapi, jika sudah sampai pada batas dimana seseorang menyakiti dirinya sendiri jika keinginannya tidak terpenuhi, atau bahkan tindakannya membahayakan orang lain, ini yg perlu dikaji lebih dalam lagi, mba. bisa jadi itu menjurus ke masalah -maaf- self injury. jadi lebih baik datang ke psikolog agar mendapatkan jawaban yg lebih baik dan meyakinkan.

  11. Tri says:

    Bunda, saya kerja kantoran dan punya anak laki-laki usia 21 bulan. Akhir akhir ini dia selalu rewel kl ketemu sama saya.. padahal menurut mbaknya yang jaga dia sehari-hari anak saya ini anak yang anteng dan gak nyusahin.. tapi kl ketemu saya menjadi anak yang cengeng dan gak mau makan. saya tahu mungkin karena kita berdua jarang ketemu jadi anaknya manja.. tapi saya jadi bingung mengatasinya karena dia mau apa.. caranya nangis mll( belum banyak ngomongnya) dan dia suka sekali memukul sepupunya yang lebih muda 4 bulan, bunda gmn yah cara mengatasi anak saya ini.. terima kasih

  12. trish says:

    Salam kenal sebelumnya.. Bunda, anak saya, 20 bulan, akhir2 ini sering sekali marah-marah apabila bangun tidur/terbangun dari tidurnya. Diberi ASI ga mau, padahal dia ga pernah nolak biasanya. Digendong marah2 & memberontak. Baru tenang ketika diperlihatkan film favoritnya atau ikan. Apakah itu tantrum atau mimpi buruk saya ga tau pasti. Hari2 biasa sih dia anak yg manis & nurut. saya & suami jg ngga pernah mengekangnya apalagi memukulnya. Terima kasih sebelumnya bun, saya mohon pencerahannya..

  13. Lia says:

    Sy punya anak usia 3 tahun akhir2 ini dia sering mengamuk dan minta gendong terus. Akhirnya suatu saat dia mengmuk suka pukul2 saya dan akhirnya sy termakan emosi saya dan sayapun memukul pantatnya dan pada saat dia tidur dia menangis dan mengigau dan ktnya yg nakal ibu. Sy jd merasa bersalah bgt, menurut bunda memarahinya akan menjadi anak itu menjadi tambah nakal.

    • bunda says:

      terkadang memukul anak dengan batasan tertentu itu masih boleh, bu. pada beberapa kasus, hal ini bisa manjur untuk membuatnya jera. tapi, ada pula kasus dimana sang ibu yg awalnya tidak suka memukul, kemudian tiba-tiba mmukul anaknya, ini dapat membuat anak merasa terluka. dan responnya macam2. jika si kecil sampai mengigau, ini bisa jadi karena si kecil sensitif. dan menangani anak sensitif ini kita harus pintar-pintar menemukan trik untuk membuatnya jera tanpa melukai perasaannya. jika sudah terlanjur, maka sangat baik bagi ibu untuk memeluknya dan meminta maaf, sambil menjelaskan bahwa ibu tadi memukulnya bukan karena ibu jahat, tapi karena ibu ingin ia menjadi anak yg baik. ibu juga dapat mengajaknya membuat perjanjian, bahwa ibu tidak akan memukul, dan ia harus menjadi anak yg menurut. demikian ibu, mungkin ada teman-teman lain yg mau menambahkan atau sharing?

  14. Anggia says:

    Bunda,artikelnya bagus sekali…anak saya 2tahun 8 bulan tantrum juga sukanya. Saya kewalahan menata hati dan emosi saya. Saya gampang sekali emosi sehingga saat anak saya tantrum saya ikutan tantrum, bahkan smapai menyakiti fisiknya (cubit, nyentil, mukul) yg akhirnya saya sesali juga. Saya tahu itu salah, tapi dgn cara baik2 juga sudah saya lakukan berkali-kali tapi hasilnya tak kunjung ada, makanya saya ikutan frustasi jadinya. Rasanya segala cara baik udah saya lakukan. Sekarang ini anak saya juga senang sekali menyakiti pengasuhnya. Tiba2 mencubit, menyakar. Dengan cara baik2 sudah pernah sya beritahu, dengan marah2 sudah, dengan hukuman sudah, dgn mendiamkan sudah, dan hasilnya tetap nol besar. Dia justru lbh ekspresif lagi. Masih terus diulang. Kadang sambil nglirik saya, berharap saya marah. Cari perhatian saya. Duuuhh saya bingung Bunda…mungkin bunda bisa beri saya jalan keluar? Terima kasih ya….:)

    • bunda says:

      Bunda Anggia, mungkinkah si kecil tantrum karena ingin perhatian Anda? ini bisa saja terjadi. misalnya, ia ingin Anda meluangkan waktu khusus untuknya, namun Anda belum dapat memberikan yg ia inginkan. ini biasa terjadi pada ibu-ibu yg beraktivitas di luar rumah. jadi, tantrum bis amenjadi salah satu bentuk protes anak-anak kepada ibu mereka. dan untuk menangani yg demikian, masing-masing anak punya caranya sendiri. ibu bisa luangkan waktu untuknya, dan di saat tenang, ibu bisa mengajaknya bicara dari hari ke hati. insya Allah anak umur 2 tahun 8 bulan sudah bisa diajak diskusi secara sederhana dengan bahasa yg mudah dipahaminya.

  15. dewi says:

    bunda, mau sharing, anak saya 3thn. Akhir2 ini sering sekali tantrum, kalau sekolah tdk mau plg, d rumah wktunya mandi dia tdk mau, kalau di suruh selalu menolak. Kalau tdk d turuti dia menangis dan seringkali hingga muntah. Kalau dia menangis saya diam saja tp Kadang saya jd tdk sabar menghadapinya. jd dia akan mengerjakan kebalikan dari yg saya suruh, atw hanya mau mengerjakan himbauan saja bukan perintah. Bgmn ya bunda cara mengatasinya?

    • bunda says:

      Bunda Dewi, menurut saya, pertama kali yg perlu Anda cari tahu adalah alasan mengapa si kecil tidak mau pulang sekolah. Adakah sesuatu yg membuatnya takut di rumah? Atau mungkin ia sedang asyik bermain dengan teman-temannya? Juga alasan mengapa ia tidak mau mandi. Ada tipe anak yg pada usia 2-4 tahun sangat susah disuruh mandi. Alasannya macam-macam, takut kamar mandi, takut air, dsb. Kalau demikian, seperti yg ibu katakan di atas, bahwa si kecil lebih mau mengerjakan himbauan daripada perintah, maka Anda perlu menyiasati perintah itu dengan bahasa himbauan.

  16. hani says:

    Makasiih bunda atas sharingnya, bermanfaat sekali untuk mendidik anak saya. Anak saya laki2 umur 2 tahun 4 bulan akhir2 ini sering tantrum apabila keinginannya tidak dipenuhi padahal saya jarang mengiming2 dengan sesuatu kepada anak saya, dan saya juga tidak meladeni anak saya kalo sedan tantrum, dan setelah agak tenang biasanya saya gendong / peluk anak saya dan saya berikan pengertian, namun tantrum anak saya masih sering terjadi berulang2. Apa ini ada hubungannya dengan anak saya yg setiap hai di titip di TPA (sejak umur 1 thn) dikarenakan saya dan suami bekerja. oh ya bunda, anak saya juga selalu menginginkan sesuatu yang sedang dipegang / dimainkan kakaknya (egois), dan kakakna harus selalu mengalah. Mohon sharing dan solusinya ya bunda. Terima kasih sebelumnya

  17. Tuty says:

    Anak saya umur 7 th,tp masih suka mengamuk kalau keinginannya tidak di turuti,terkadang dia punya keinginan tapi tidak mau bilang,tahu2 marah2,nangis dan bahkan mengamuk,menendang pintu,kursi dll.tantrum kah anak saya? Trim’s

  18. kiya says:

    anak saya sekarang umur 3th10bln,dia anaknya sangat aktif dan cenderung menyukai permainan2 dengan emnggunakan senjata sehingga sering teman mainnya kena pukulan dr anak saya,semakin bertambah usia dia cenderung sering menangis/mengamuk dengan memukul orang2 disekitarnya jika keinginannya tidak terpenuhi bahkan saat ini dia bisa menangis terus-terusan jika tidak terpenuhi keinginannya/bosan dengan lingkungan sekitarnya.
    saat ini bahkan teman2 sebayanya ccenderung tidak mau bermain dengannya karena dia selalu ingin menang sendiri(merebut mainan temannya).
    saudara saya bahkan ada yang curiga kalau anak saya menderita autis, karena dia tidak bisa diam dan kalau sudah marah sulit untuk dikendalikan. selama ini tumbuh kembangnya normal dia juga cenderung senang dengan suasana teman yg banyak, tetapi dia belum bisa dikendalikan orang lain sehingga kalau di play group dia masih belum bisa diajari hanya lai-larian sendiri dan menggannggu teman2nya yg lain.
    mohon solusinya bunda, trmksh.

    • bunda says:

      Ibu Kiya, sebenarnya kita tidak bisa langsung menilai seorang anak itu autis atau hiperaktif dengan mudah begitu saja. hal ini hanya bisa dilakukan dengan bantuan diagnosa ahlinya. kadang2 tandanya demikian, padahal sesungguhnya anak itu bisa jadi adalah anak aktif biasa.
      setiap anak, berbeda-beda kemampuannya dalam mengendalikan diri. ada anak yg begitu mudah menahan tangannya untuk tidak cepat memukul, tapi ada juga yg belum bisa. ada juga anak-anak yg begitu mudahnya diajak belajar, tapi ada yg lebih suka bermain. semua itu tergantung bagaimana kita menanganinya.
      pertama, Anda bisa melakukan cek dan konsultasi ke psikolog anak. untuk memastikan bahwa putra Anda adalah anak aktif, atau memerlukan bantuan khusus. selanjutnya, dan ini yg paling menuntut peran terbesar Anda, yaitu bagaimana melatih si kecil untuk mengendalikan diri dan emosinya. Anda bisa menjauhkannya dari mainan-mainan yg dapat membahayakan diri dan temannya. atau, jika dia memaksa, maka Anda harus membuat kontrak dengannya. misalnya, Anda mengijinkannya bermain dengan senjata mainan, tapi ia tidak boleh menyakiti temannya. jika ia melanggar, maka dengan tegas Anda harus mengambilnya. dsb.
      selanjutnya, jika si kecil di playgrup masih suka berlarian, itu wajar Bunda….karena memang usianya masih usia senang bereksplorasi. sebaiknya Anda pun pintar2 dalam memilih sekolah, terutama yg mendukungnya untuk tetap menjadi aktif, namun terarah. demikian Bunda…

  19. bunda rajwa says:

    bunda anak sy rajwa berumur 2 thn 8 bln….sering tantrum dr umur 1 tahun.anaknya tdk sbar…sering mengamuk nangis2 smbil nendang2 sy apabila ad di dktny..trus kalo keinginannya tdk terpenuhi…trus kalo dia lelah ngantuk tp tlat jm tdurny..pasti akn mengamuk. Smbil berteriak2 dan berguling guling wktunya ckp lma 1 smpai 2 jm..sy bingung ap yg hrs sy lakukan…ap ad pengaruhnya dari TPA soalny ank sy di titip di sana…sy jmput sore dan suami sy jg plg ny mlm ank sy sdh tdr..mhn bantuannya y bunda trm ksh!

    • bunda says:

      bunda Rajwa, usia seperti Rajwa memang masanya untuk belajar dan mengenal emosinya. mereka belum paham betul bagaimana harus menahan diri. penyebab utamanya sebenarnya beragam, tergantung bagaimana lingkungan dan orang-orang sekitar membentuknya. bisa jadi, itu adalah salah satu bentuk “protes”nya untuk mendapatkan perhatian yg lebih dari Anda berdua. tentu saja, bekerja di luar rumah terutama bagi ibu tidak sepenuhnya bisa disalahkan, bahkan bisa jadi tidak salah. hanya saja, Anda harus pintar2 membagi waktu, terutama untuk tetap membuatnya merasa bahwa Anda mencintainya dan memilikinya. itu saran saya yg pertama. kemudian, ada baiknya Anda sharing dengan ibu-ibu lain yg juga bekerja di luar rumah. hampir semua ibu merasakan hal tersebut. bahkan ibu yg stay at home pun juga merasakannya. penanganan masing2 anak berbeda satu sama lain. kitalah yg harus pandai2 bersiasat untuk melatihnya menguasai emosi. nah, ada ibu2 lain yg mau menambahkan?

  20. frenny says:

    bunda sy mo share ank sy Ali usianya 3 th,Ali ini suka gemes2 sndr terkadang waktu maen ma tmnnya saking gemes tau2 mukul ato dorong tmnya.berkali2 sdh sy beri pengertian saat diberi pengertian nurut tp ntar diulangi.trus lg kalo ditanya ga mau jwb klo mau jwb ngaco jwbnya.mhn sarannya gmn cr menghadapinya?

  21. Didik says:

    siang bun, saya mahasiswa Tingkay akhir Psikologi , saya ingin melakukan penelitian tentang Tantrum, Masalah bagi saya tentang buku referensi yang bagus buat jadikan landasan Teori tentang Tantrum. terus bun, setelah saya pahami seluruh tentang penanganan Tantrum, saya pernah baca artikel tengan motode pengembangan penanganan Tantrum,Bagaimana menurut bunda dengan pengembangan metode ini.
    trims y bun.

  22. Melda listriani says:

    Bunda saya juga mengalami hal yang sama spt yg lain , anak saya yudha 3 th 10 bln jg suka marah2 ga jelas, setiap kemauan nya hrs cepat, seperti minta susu, kdg suka pup dicelana saya jadi sebel, kakak nya jg azki umur 5 th udah tk setiap pulang sekolah juga suka marah, kadang suka memukul adek nya, apa krn jadwal nya terlalu padat, pagi sekolah ,sore TPA, malam les. Mohon solusi nya bunda, makasi

    • bunda says:

      Kadang kala, jadwal yg terlalu padat dapat membuat anak merasa tertekan dan terkekang. apalagi usianya baru 5 tahun, dan masih dalam masa senang bermain dan memang sebaiknya banyak bermain dan bereksplorasi. pada akhirnya anak menjadi senang melampiaskannya dengan cara narah-marah, memukul adik atau temannya, bahkan tidak jarang tantrum dengan menghancurkan benda2 di sekelilingnya. dan imbas tantrum itu pun dirasakan sang adik. adik azki yg merasa sering dipukul atau dimarahi kakaknya, atau mungkin merasa bahwa ia kurang diperhatikan, juga akan bersikap sama. mudah marah, suka merengek, juga berusaha untuk menarik perhatian ortu dengan cara apapun. saran saya, Anda bisa sedikit merenggangkan jadwal si kakak yg terlalu padat. beri ia waktu untuk bermain dan bereksplorasi, atau masukkan unsur2 pendidikan di setiap permainannya, jangan terlalu memaksakan kehendak kita padanya, dsb. jangan lupa untuk selalu meluangkan waktu kita khusus untuk ngobrol atau bermain bersamanya. demikian, ibu. semoga bermanfaat.

  23. Desi says:

    Bunda,, anak sy laki2 usianya 1 thn 6 bln,, sbelumnya dia anak yg ceria, suka berceloteh walaupun blum bsa dimengerti, dan jarang menangis, kalaupun menangis mudah ditenangkan, misalnya dgn mengajaknya melihat ayam atau kucing di luar rumah, dan stlh itu dia akn bermain kmbali… tpi skrg dia sring menangis tmpa sebab, minta digendong terus, kdg2 mlh smakin mnjadi2 jika dibujuk,, bhkan diberi ASI-pun tdk mau. Apakah itu trmasuk tantrum? lalu bagaimana cara mengatasinya dan usia brapa baru anak bisa berbicara dan bisa kata2nya dimengerti? krena masih sulit bertanya apa sbenarnya yg dia inginkan,, bicaranya blm jelas, tpi sdh mulai mengerti dgn apa yg kita ucapkan…. trima kasih bun…

    • bunda says:

      Mba Desi, masing2 anak berbeda-beda perkembangannya, ada anak yg usia 1 tahun sudah bisa mengucapkan kata2 yg dimengerti oleh orang dewasa, ada yg sampai umur 2,5 tahun belum juga berbicara fasih. Tergantung bagaimana kondisi anak tersebut dan bagaimana kita memberinya stimulasi.
      Setiap tangisan atau kemarahan itu [asti ada sebabnya, Bunda. Kita yg harus pintar2 mengerti situasi dan kondisinya. Mungkin saja si kecil menangis karena menuntut perhatian lebih dari Anda, atau karena ada sesuatu yang mengganggunya (baik itu dari faktor luar maupun dalam diri si kecil sendiri).
      Saran saya, pertama, periksa terlebih dahulu keadaan anak. Mungkinkah ia merasakan sakit di bagian tubuhnya? Atau ia merasa takut pada sesuatu? Atau ia merasa bahwa Anda kurang memperhatikannya, dsb. Kemudian, langkah selanjutnya, selalu luangkan waktu khusus untuk bermain dan bercengkrama dengan si kecil, agar si kecil selalu merasa nyaman dan merasa Anda ada untuknya. Jangan terlalu sering menuruti keinginan si kecil yg minta digendong, atau minta ini itu. Tekankan bahwa ia bisa mendapatkan apa yg diinginkannya dengan cara yg baik, bukan dengan merengek atau menangis.
      Demikian ya, semoga bermanfaat.

  24. sugiyanti says:

    Iya,anak ku umurnya bln depan 3 tahun,sering sekali tantrum,malah sekarang semakin menjadi,dari menendang dan mancakar,anak saya cewe,kadang saya bingung menghadapinya,di minta mandi pasti butuh bujukan ato kadang tidak tahan yah saya marahin,tantrum nya hanya sama saya aj,saya full time mengasuh anak saya sendiri,suami saya jarang meluangkan waktu untuk anak saya,hanya hari libur gta bawa ke mall saja,mohon bantuan nya,krn kadang saya cape menghadapi anak saya dan kadang klo saya cuekan mertua yang mau ambil alih buat menenangkan anak saya,padahal saya ingin mempraktekan yang seperti ibu sarankan,bersikap cuek selama anak tidak dalam ruangan yang bisa menbahayakan dirinya,

  25. Melda listriani says:

    Makasi bunda utk saran nya, sekarang saya lagi mencoba, kiat2 yang bisa membantu temper tantrum pada anak2 saya..

  26. lia says:

    asw. bunda, nama saya lia, ibu dari 2 orang putra, sulung saya berusia 2th 3bln, bungsu 5bln..sejak adiknya lahir dia kelihatan cemburu sekali meskipun saya sudah berusaha seadil mungkin bagi perhatian..saya kira akan kembali normal setelah sebulan..tp ternyata mpe sekarang masih cemburu,kalo adiknya lagi mimi asi,dia minta dipangku juga,sambil bilang “ade buang aja”..akhir2 ini dia lagi hobi ngamuk…kadang berpikir apakah ini efek dari kakek neneknya yg kelewat manjain dia ya?? (kami masih satu atap).. bagaimana solusinya ya bunda?karena saya dan suami ga termasuk golongan ortu yg “sabar”..saya sering cubit dia kalo udah kelewat batas..ayahnya juga demikian,suka menyentil kakinya..kadang sediiiiih sekali setelahnya..haruskah dibawa ke psikolog/psikiater? terimakasih.. wass..

  27. Ria says:

    Bund,,,,anak saya lelaki usia 3thn 5bln.suka sekali tantrum bahkan hampir tiap hari dan tantrumnya lebih dari 10 menit.kalo lagi marah biasanya nangis sambil teriak2,lempar2 barang,gigitin badannya sendiri,pukul saya dan yang paling membuat saya marah selalu mengusir saya dari rumah dan mengucapkan kata bodoh.kalo sudah begitu saya bisa terpancing emosi(pukul).kalo meminta sesuatu harus diturutin adakala juga dapat dibujuk(kadang2) dengan mengatakan apa yang dimintanya tidak bagus dan jelek.saya sudah sering memberi tahu anak saya bahwa apa yang dilakukannya itu tidak baik,tapi tetap saja diulanginya.apa mungkin itu semua karena dia jarang keluar rumah dan bergaul dengan temannya,pola asuh saya yang kurang baik atau karena dia terlalu manja.mohon panjelasannya,,terima kasih

    • bunda says:

      Ibu Ria, ada banyak penyebab anak-anak menjadi tantrum. pola asuh yg salah, lingkungan yg kurang atau bahkan tidak mendidik, kurangnya perhatian, atau bahkan perhatian yg terlalu berlebihan, dsb. usia putra ibu memang sedang masanya tantrum. akan tetapi, jika sampai pada taraf menyakiti dirinya sendiri, ada baiknya ibu berkonsultasi langsung pada psikolog anak. saran saya, ajaklah si kecil bermain dan bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya, agar ia tidak merasa frustrasi terus menerus berada di dalam rumah. hindari menonton atau mempertontonkan acara TV yg tidak layak di depan si kecil, karena bisa jadi si kecil meniru cara marah seperti yg ia lihat di TV. bahkan acara kartun pun ibu harus tetap menyeleksinya lho, bu. ingat, anak-anak mudah sekali merekam apa yg ia lihat atau apa yg ia dengar. maaf, ibu dan suami pun harus berhati-hati untuk bertutur kata di depan si kecil, bahkan jika sedang bertengkar pun, usahakan untuk bertengkar di kamar saja. jangan sampai si kecil mendengarnya. selaraskan pola asuh Anda dengan suami atau kerabat Anda yg lain (jika ada yg ikut mengasuhnya), jangan sampai ada ketimpangan yg membuat si kecil bingung, dan akhirnya menjadikan ketimpangan tersebut sebagai alat untuk mencapai apa yg diinginkannya.

      semoga bermanfaat ya, ibu…

  28. Naning says:

    Dear bunda, anak saya, jemimma umurnya 2th 10bln. Baru2 ini, temperamennya semakin tinggi sejak lahir adeknya
    Adeknya baru umur sebulan. Jemimma sblm adeknya lhr dh punya kebiasaan klo mah lhr nyakar2 & mukul. stlh adeknya lhr smkn sering frekuensi marah2nya dan bahkan ditambah teriak2. Jemimma maunya saya yg handle dia, ga mau dipegang maid. sementara saya mesti handle adeknya jg. Gimana ya bun caranya kontrol emosinya dia, emosi saya jg dan menghilangkan kebiasaan nyakar dan mukulnya. makasi

    • bunda says:

      Dear Ibu Naning, hal ini termasuk hal yg sering terjadi pada anak-anak yg baru memiliki adik baru. ada perasaan “tersaingi”, perasaan takut kehilangan kasih dan cinta Anda, takut kehilangan perhatian Anda, dsb. pada sebagian anak, karena mereka belum begitu mengerti, mereka melampiaskannya dengan tantrum, marah, memukul, dan serentetan “kebandelan” lainnya. jangan lupa, ini adalah salah satu upayanya untuk mendapatkan perhatian Anda. solusinya? Anda bisa dan seharusnya bisa meluangkan waktu khusus untuk si kakak setiap harinya. misalnya, menemaninya membaca atau belajar, mengobrol dengannya. atau Anda juga bisa mengajaknya “merawat” adik baru. ajak ia memperkenalkan hal-hal yg menyenangkan pada adik barunya. seperti membantu Anda memandikan si bungsu, mengambilkan popok, mengajak si bungsu bercanda, dsb. katakan padanya bahwa Anda tetap dan akan selalu mencintainya, dan ia tidak perlu takut kehilangan Anda. dengan bahasa yg bisa ia mengerti tentunya. ceritakan padanya bahwa adik kecil membutuhkan Anda lebih banyak karena adik kecil belum sehebat kakaknya. ceritakan pula bahwa dulu saat si kakak masih seusia adiknya, Anda pun memberinya cinta tak terbatas dan perhatian yg sama….

      semoga bermanfaat

  29. indie says:

    dear bunda, anak saya umur 2 tahun 3 bulan. memang sejak usia 8 bulan di urus mertua saya, saya harus bekerja. karena suami saya tidak bekerja. setelah 2 tahun saya pulang, saya perhatikan setiap sikapnya yang salah tidak pernah di marahi mertua saya, semua kemauannya selalu di turuti. sampe saya benar benar marah karena anak saya sering pegang (maaf) susu, intip2 ke kemaluan, mainkan kemaluannya sendiri. saya yang jadi ortu kesal,risih dan marah. saya marahi, tapi anak saya nangis sekeras2nya. setelah itu lari ke nenek dan kakeknya, begitu terus. mertua saya diam saja. malah seakan2 saya marahi, saya gak sayang anak saya. saya mau bilang ke mertua saya, takut mereka tersinggung di anggapnya mreka gak bener ngurus anak saya. tapi kenyataannya seperti itu. begitupun kalau beli jajan, saya gak turuti, nangis. saya mohon tolong sekali bantu saya. saya sampai berhenti bekerja untuk sekarang karena saya bingung sekali. sedangkan suami saya kurang bertanggung jawab untuk carikan saya nafkah.

  30. sila says:

    Bagus bgt bunda u/ info dan sharingnya. Dan saya sangat kagum dgn owner/admin webnya selalu menjawab dgn ramah. Salut!
    Bun, saya sendiri remaja usia 16thn dan msh mengalami pernah saya baca Gangguan emosi (mudah marah, sering berteriak /
    mengamuk/tantrum), keras kepala, suka memukul dan melempar benda jika sdg kesal) tapi itu (memukul dan melempar benda) saya lakukan seperti refleks dan spontanitas yang tidak terpikir oleh saya, berlangsung seperti itu saja. Sering saya menyesal setelah melakukannya. Apa yang harus saya lakukan ya bun? Saya merasa lelah karena memang emosi saya itu sangat merugikan saya di berbagai hal. Terimakasih bun. Mohon dibantu :)

    • bunda says:

      Dear mba Sila….

      Terimakasih sudah berkunjung ke portal saya, serta terimakasih atas apresiasinya. Semoga ilmu yg sedikit ini dapat bermanfaat bagi Anda dan teman2 semuanya…

      Untuk masalah emosi, memang ada beberapa orang yg memiliki kecenderungan untuk melempar, memukul, berteriak, bahkan ada yg menyakiti dirinya sendiri. Gangguan emosional seperti ini tentu tidak boleh dibiarkan terus menerus. Apalagi Anda masih dalam masa transisi, dimana masa remaja itu emosi seseorang biasanya lebih labil, dan tidak sedikit yg sulit untuk mengendalikan diri. Sangat disyukuri bahwa Anda menyadari bahwa perbuatan itu salah, dan poin bagus untuk Anda karena memiliki keinginan untuk memperbaikinya.

      Saya tidak punya tips khusus, mba Sila. hanya saja, ada sebuah kisah yg sangat menggugah hati dan insya Allah dapat bermanfaat bagi kita semua :

      – Suatu hari ada anak kecil yang mudah sekali naik darah. Ayahnya memberikannya sekantung paku dan mengatakan padanya bahwa setiap kali ia kehilangan kendali terhadap emosinya, ia harus memalu sebuah paku di pagar.

      Hari pertama, anak itu memalu 37 buah paku di pagar itu. Setelah beberapa minggu, ketika ia belajar untuk mengontrol amarahnya, jumlah paku yang dipalu pun semakin menurun. Ia menemukan bahwa lebih mudah untuk menahan amarahnya daripada harus memalu paku-paku itu ke pagar.

      Akhirnya tiba harinya saat anak laki-laki itu tidak kehilangan kontrol emosinya sama sekali. Ia menceritakan itu pada ayahnya dan ayahnya menyarankan anak tersebut untuk mencoba mencabut paku tersebut satu per satu setiap hari, setiap kali ia dapat menahan amarahnya. Hari demi hari berlalu dan anak tersebut akhirnya dapat mengatakan pada ayahnya bahwa paku-paku tersebut sudah hilang.

      Sang ayah memegang tangan anaknya dan membawanya ke pagar. Ia berkata, “Kamu sudah melakukannya dengan baik, anakku, tetapi lihatlah lubang-lubang di pagar. Pagar itu tidak akan pernah sama lagi. Saat kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahan, itu akan meninggalkan sebuah luka seperti lubang ini. Kamu dapat menusukkan pisau ke seseorang dan menariknya. Tidak peduli seberapa banyak kau berkata ‘maafkan aku’ , luka tersebut masih ada di sana. Kata-kata yang menyakitkan sama buruknya dengan menyakiti seseorang secara fisik”

      “Kamu dapat menusukkan pisau ke seseorang dan menariknya. Tidak peduli seberapa banyak kau berkata ‘maafkan aku’, luka tersebut masih ada di sana.” (dikutip dari : http://www.ceritabijakmotivasi.com/paku-dipagar)

      —-demikian mba, semoga bermanfaat ya——

      salam hangat selalu

  31. bundanya satria says:

    bunda,,anakku satria 16bulan sebelum bisa jalan satria anak yg baik,jarang banget nangis..tapi semenjak bisa jalan usia 13 bulan satria muncul tantrumnya..aku udah coba ikutin saran bunda tapi suami susah banget di ajak kompromi jadinya kalo pengen sesuatu selalu diikutin..kasihan katanya..aku ngurus satria cuma berdua aza sama suami jadi kalo suami kerja ya aku sendiri yg ngurus..kalo muncul tantrumnya terus susah di hentikan suka ikut emosi jadinya pernah aku sentil sama mukul pelan kakinya..tapi akhirnya nyesel terus minta maaf ke satria…gimana ya bun cara nyeleseaikannya???

    • bunda says:

      Dear bunda Satria…

      ada satu poin penting yg perlu saya tekankan disini, bahwa dalam mendidik anak, HARUS selalu ada kesamaan, kerjasama, dan kekompakan antara ibu dan ayah, karena tugas mendidik anak bukan hanya tugas ibu saja, melainkan juga tugas ayah. dan agar pendidikan dan pola asuh yg baik berhasil dicapai, ibu dan ayah harus mau belajar untuk kompak. Anda bisa sharing dengan ayah satria, atau menyediak buku-buku parenting, terutama yg membahas tentang peranan ayah dlm pendidikan anak, dsb. keterbukaan antara Anda dan suami sangatlah diperlukan. dan itulah yg kali pertama harus Anda lakukan.

      kemudian, untuk masalah memukul anak, sebenarnya memukul anak itu boleh, selama dalam batas kewajaran dan itu harus mengandung nilai jera. tapi, jika masih bisa dihindari, itu lebih baik. terlebih pada kasus Anda di atas, dimana antara Anda dan suami belum ada kekompakan. ditakutkan anak akan menjadi bingung, dan akhirnya menjadikan “kelonggaran” ayahnya untuk mendapatkan apa yg ia mau. coba alihkan keinginannya. anak usia 16 bulan lebih bisa dikontrol dan dialihkan perhatiannya. misalnya, membawanya ke taman, atau menggambar, atau bernyanyi. putri kecil saya (17 bulan), juga kadang ngotot ingin sesuatu. tapi tidak semua keinginannya kami turuti. kadang jika saya harus mengalihkannya, saya memberinya spidol dan kertas untuk dicoret2, atau mengajaknya menyusun mainan, atau sekedar mengajaknya mengejar kucing di halaman. atau kadang jika saya harus diam, saya akan diam sambil memandangnya (entah dia menangis atau menendang-nendang). lama-lama ia merasa sendiri bahwa kita tidak menyukai kebiasaannya marah2 atau berteriak-teriak. yg terpenting, latih si kecil untuk mengontrol emosinya.

      semoga bermanfaat ya

  32. Nurul says:

    Aqila umur 8 bulan, sekarang ini dia kok maunya sama saya atau pengasuhnya saja, kalau digendong orang lain kok dia nangis ya??? padahal pas umur 7 bulan dia ga begitu.
    trims ya bunda…

    • bunda says:

      ibu Nurul, usia seperti Aqila itu sudah mengenali orang-orang terdekatnya. Dan memang rata-rata anak di usia ini menangis ketika karena merasa asing dan kurang nyaman dengan orang baru. Itu wajar kok. Kita yg harus pandai-pandai menghibur dan membuatnya tidak takut lagi. Terimakasih atas kunjungannya ya…

  33. tatu says:

    Bunda,anakku alvin umur 19bulan.akhir-akhir ini sering mencubit,memukul,dan mengamuk di depan umum.kadang klo lg tantrum diluar ada saja orang2 diluar sana ikut komentar “nakal yaa”,padahal aku menjaga bgt spya ga keluar kata2 itu yg kesannya malah melebel anak.Bagaimana ya bun?sekali masih aku bilangin baik-baik,kedua kali n seterusnya aku cuekin dan pura2 gak menghiraukan,tapi semakin menjadi seperti memancing kemarahan aku,klo sdh begitu kadang emosi jg.

    • bunda says:

      Dear ibu Tatu, sebagaimana yg telah kita ketahui, temper tantrum ini rentan terjadi pada usia 1-4 tahun normalnya. Pada kasus Alvin, saya sarankan ibu tidak perlu mendengarkan dengan “label” yg diberikan orang lain. Biasanya yg sering melabel anak usia seperti Alvin adalah mereka yg kurang faham masalah pendidikan anak. Bagaimanapun, mendidik anak itu sulit lho. Nah, yg perlu ibu lakukan adalah mencari penyebab mengapa Alvin tantrum, ada banyak sebabnya. Kemudian, Anda harus menekankan pada Alvin bahwa “Alvin adalah anak baik, anak baik akan selalu bilang baik-baik sama Bunda”, atau yg semisal dengan itu. Ketika Alvin mulai ingin memancing emosi Anda lagi, diamkan saja. Anda lihat apa yg ingin dia lakukan, tapi diamkan saja. Jika ia semakin sulit untuk didiamkan, sesekali Anda boleh memakai cara “kursi diam”. Katakan padanya bahwa ia boleh berbicara dengan Anda setelah ia berhenti menangis dan marah. Demikian, ibu. Selanjutnya Anda dapat melihat jawaban-jawaban saya pada komentar sebelumnya. Terimakasih.

  34. elisa says:

    anak saya cowok berumur 4 tahun.sikapnya sering marah meledak-ledak,menangis,dan suka mengusili orang disekitarnya,aktif sekali dan selalu menginginkan permintaannya dipenuhi saat itu juga.saya mohon solusinya ya bunda?trima kasih banyak

    • bunda says:

      Ibu Elisa, ada banyak penyebab anak-anak menjadi tantrum. pola asuh yg salah, lingkungan yg kurang atau bahkan tidak mendidik, kurangnya perhatian, atau bahkan perhatian yg terlalu berlebihan, dsb. usia putra ibu memang sedang masanya tantrum. cari dulu penyebabnya mengapa putra ibu tantrum, kemudian sebagaimana yg saya ulas dalam artikel di atas atau jawaban pada komentar sebelumnya, Anda harus sering-sering mengkomunikasikan “sikap” putra Anda ini dengan bahasa yg baik di saat ia sudah tenang. sebagai orangtua, kita pun dituntut untuk bisa tegas dan memberlakukan aturan, apalagi putra ibu sudah cukup besar untuk diajak bicara. misalnya, ada konsekuensi apabila ia mengusili temannya, yaitu ia tidak akan disukai oleh temannya, sehingga ia tidak bisa punya teman. dsb. tegaskan pula bahwa tidak setiap keinginan dapat langsung terpenuhi, dan Anda hanya akan memenuhi keinginan yg disampaikan dengan cara yg baik. demikian, semoga bermanfaat.

  35. yunara says:

    Lelaki sulung saya 5,5 thn. Sdh TK B. Pada dasarnya dia anak yang tenang, baik, manis, mudah diberikan pengertian (terutama bila di luar rumah). Namun sejujurnya setahun belakangan ini, dia kurang menghargai care-giver yang ada di rumah. Entah itu pembantu, eyangnya, bahkan belakangan mulai impulsif jg terhadap kami orang tuanya. Disuruh mandi, makan, apapun juga, hampir selalu dimulai dengan menangis karena harus kami marahi lebih dulu. Bila tiada orang tuanya, terhadap pengasuh ataupun eyangnya dia tidak segan2 melampiaskan tantrumnya yang menurut saya tergolong tidak sopan. Membentak, berteriak, menangis sekencangnya, menjerit bila diingatkan tentang kewajiban2nya (mandi,mkn,tidur, kerjakan PR,dsb.
    Kami coba pakai sistem reward poin untuk kemandiriannya, cukup efektif, meski kurang signifikan. Adakah cara lain utk solusi masalah ini, Bun. Saya kawatir ini berkelanjutan jadi karakternya kelak. Thanks in advance.

    • bunda says:

      Dear ibu Yunara,
      Anda mungkin perlu bekerjasama dengan guru, maid, eyang, atau pihak-pihak yg mengasuh si sulung. Dengan guru di sekolah misalnya, Anda bisa minta pertolongan ibu gurunya untuk menasehati, mengajaknya bicara dengan lembut, atau bisa juga “menantangnya” bersama dengan teman-teman yg lain. Ketika saya masih mengajar, beberapa orangtua pun mengeluhkan hal yang sama. Kemudian saya mengimprovisasi sistem reward itu dengan bekerja sama dengan ortu masing-masing. Bahwa setiap hari akan ada laporan. Setiap pagi, saya bertanya kepada semua anak, “siapa yg bangun pagi tidak menangis? atau siapa yg pagi ini mandi sendiri tanpa disuruh? atau siapa yg hari ini rajin membantu ibu?” saya rasa itu efektif, karena saya melihat dan mendengar laporan adanya perubahan.
      namun yg terpenting adala pola asuh di rumah. jika Anda bekerja di luar rumah, usahakan kerabat atau maid yg mengasuh si kecil memiliki pola asuh yg sama dengan Anda. karena perbedaan pola asuh (misalnya eyang lebih lunak dan lebih memanjakan, atau maid biasanya kurang perhatian, dsb) akan membuat si kecil bingung dan akhirnya menjadikan hal tersebut sebagai senjata untuk mendapatkan keinginannya. Anda bisa mengaplikasikan sistem “kursi diam” sehingga anak terlatih untuk membicarakan keinginannya dengan tenang tanpa menangis atau marah-marah.
      dan jangan lupa….sesibuk apapun Anda, komunikasi efektif adalah kunci keberhasilan Anda dalam mendidik si kecil. terimakasih, salam hangat selalu.

  36. ika permatasari says:

    bunda,senang skali baca ulasan tentang tempertantrum ini.kebetulan anak saya baru ultah yg kedua kemarin.cuma yg mengganggu pikiran,sejak menginjak usia 2 thn,ada kemajuan yg bikin saya kaget yaitu jadi sering tantrum.pinter marah,teriak2,dan nangis.saya memang banyak aturan,mungkin juga sering ngomel ato marah.anak saya type anak yg sangat aktif walaupun perempuan.selalu minta diperhatikan.kalo dirumah berdua aja sama dia,sampai saya mandipun dia harus ada didepan kamar mandi.saya pegang hp dia rebut,pokoknya semua harus cuma memperhatikan dia.kalo engga diperhatikan ada aja alasannya yg mau pipis,pengen muntah aduh pusing nggak punya waktu untuk dirisendiri.suami saya juga engga sabaran orangnya,kalo anaknya lagi “nakal”,dia main bentak aja jadi anak saya engga seberapa dekat sama bapaknya.cuma kalo mau diajak jalan2 aja dia mau ikut bapaknya.kami cuma tinggal bertiga dirumah jadi kadang saya stres sendiri ngadepin anak saya.apakah bijak bunda kalo anak saya disekolahkan supaya dia bisa bersosialisasi dan mengurangi tantrumnya?mohon solusinya agar saya dan suami tidak membuat sikecil jadi stres juga karna keputusan kami.sebatas apa marah yg baik untuk anak 2 tahun?terima kasih banyak sebelumnya….

    • bunda says:

      Ibu Ika, terimakasih atas sharingnya, ya…

      Memang gampang2 susah menghadapi batita. Butuh kesabaran dan energi ekstra, apalagi jika tipe anaknya aktif. Walaupun kadang2 terutama kalau kita lagi sibuk dengan pekerjaan rumah, pasti kesabaran jadi berkurang. Betul tidak?

      Pada usia batita ini memang anak-anak lebih cenderung untuk menuntut perhatian lebih, egosentris, tidak mau diatur, dsb. Kalau saya boleh saran, ada baiknya diikutkan kegiatan PAUD, dimana Anda tetap dapat mengawasinya. Kalau untuk sekolah seperti play grup atau TPA, dimana Anda harus meninggalkannya bersama gurunya saja, sebaiknya jangan dulu. Karena di masa ini, peranan Anda adalah yang terpenting dalam membentuk kepribadiannya. Atau Anda bisa mengajaknya pergi bersilaturahim dengan kerabat Anda, sehingga si kecil punya banyak teman dan ia belajar bersosialisasi dari sana.
      Jangan lupa untuk selalu menekankan budi pekerti atau adab-adab dasar kepadanya. Putri saya Alifa juga dulu sering kali main rebut dan tidak mau ditinggal – bahkan ke kamar mandi sekalipun -, tapi kemudian saya mencoba mengajarinya dan mencontohkannya untuk selalu mengucapkan “pinjam”,”tolong”,”maaf”,”oke”,dan “terimakasih”. Jadi sekarang jika ia ingin mengambil sesuatu dari saya atau ayahnya, ia selalu bilang “pinjam”, meski kadang2 masih suka memaksa dituruti. atau saat saya harus ke wc, saya katakan padanya untuk duduk bermain sendiri dan ia menjawab, “oke”.
      Kuncinya sebenarnya ada pada penempatan posisi, bu. Maksudnya adalah, sering kali kita sebagai orangtua lupa kalau anak-anak adalah anak-anak, bukan orang dewasa yang bisa berpikir banyak hal. mereka adalah anak-anak yg cara berpikirnya masih sangat2 sederhana. namun sering kali kita memperlakukan mereka dan menuntut mereka untuk berpikir dan bersikap seperti orang dewasa.
      Demikian ya, semoga bermanfaat.

  37. desy says:

    Bunda…senang skali bs membaca artikel bunda dan solusi yg diberikan terhdp beberapa mslh yg diajukan. Saya jg ingin rsnya berkonsultasi dgn bunda tentang putri kedua saya yang msh berumur 5,5thn. kbtln sy seorang singgle parent,bekerja…sehingga memang waktu saya bersama anak-anak tidak maksimal,tp saya tetap berusaha untuk berada dekat anak disaat tidak bekerja. masalah yang ada adalah putri saya jika tantrumnya kambuh karena suatu kesalahan yang dibuatnya tapi tidak ingin disalahkan, sering berkata saya jahat,saya nggak syang sama dia,akan mukul saya,dsb. terkadang saya masih bisa bersikap netral dan berusaha memberitahu apa kesalahannya yang dilakukannya,tp dia berusaha terus berkata-kata yang sepertinya memancing saya sampai betul-betul marah.nah ketika saya marah,baru dia diam dan perlahan menyadari kesalahannya. Namun ada satu sisi hati saya sedih bund…selalu harus dimarahi dulu baru dia diam. Apakah sesuatu yang wajar saya marah dengan usianya yang baru 5 tahun dan kemarahan saya itu kadang meledak tp tidak memukul,hanya kata2 saja yang cukup kuat agar dia tau kesalahannya.mohon sran dari bunda,dan terma kasih banyak sebelumnya…

    • bunda says:

      Ibu Desy, terimakasih atas sharingnya ya…
      Salut dengan ibu Desy yg tetap bersemangat dan mau bersabar dalam mendidik anak-anak meski harus tanpa partner. Semoga senantiasa diberi kesabaran dan kemudahan ya…aamiin…

      Usia 5 tahun sebenarnya sudah mulai bisa diajarkan lebih intensif untuk mengatasi gejolak emosi ya, ibu. seperti misalnya, mengucapkan kata-kata yg baik saat harus berbicara dengan Anda, dsb.
      Saran saya begini, jika putri ibu melakukan kesalahan, atau saat ia sedang marah, berikan jeda waktu. Diamkan dahulu, dan berikan kesempatan baginya untuk menenangkan diri, begitu juga Anda.
      “kamu boleh bicara dengan ibu kalau kamu sudah tidak berteriak lagi”, semacam itu. Jadi Anda pun tidak perlu bersuara keras atau memarahinya.
      Kemudian saat Anda dan putri Anda sudah tenang, dalam keadaan yg lebih akrab, Anda bisa memeluknya dan mengajaknya bicara dari hati ke hati.
      Anda bisa mengungkapkan perasaan cinta Anda, atau menanyakan perasaannya hari itu, dan bersama-sama mencari solusi.
      Sering kali anak-anak mengucapkan kata2 demikian hanya karena emosi, sama seperti kita. Mereka mengucapkannya bukan untuk membuat Anda marah, tapi untuk membuat Anda menunjukkan cinta Anda kepadanya.
      Demikian ya, semoga yg sedikit ini bermanfaat.

  38. bundanya satria says:

    iya bunda,,makasih sarannya sangan bermanfaat..sekarang lagi belajar kompakan sama ayahnya..kadang kalo lagi muncul tantrumnya suka diajak jajan aza kalo udah susah di alihkan di diemin aza bun hehehe…

  39. damar says:

    Bunda,anak saya laki2 umur 2thn 5bln, akhir2 ini dia suka tantrum, sering nangis kalau keinginannya tidak terpenuhi, dan selalu bilang mau melakukan sesuatu sendiri(seperti dia mau belajar mandiri), yang bikin saya bingung, misalnya salah satunya, saya jalan berdua dengan dia, trus saya duluan didepan dia nangis minta saya mundur, dan kalau saya mundur dekatin dia, dia nangis, teriak2 minta saya suruh balik didepan, tapi kalau saya balik didepan serba salah dia makin nangis, trus kalau saya tunggu untuk datang mendekat, gaya jalannya dilambat2in seakan2 berat melangkah(geli juga lihatnya kadang)itu gimana ya Bunda mengatasinya? Saya jadi seperti dipermainkan, apakah saya terlalu memanjakan dia, sehingga dia seperti mau mendikte saya. Saya sudah berusaha bicara baik2 dengan dia kalau kita lagi santai bermain dan dia dalam keadaan tenang bahwa kalau menginginkan sesuatu tidak perlu menangis, bilang saja apa maunya, dan dia bilang dia mengerti dan tidak akan mengulangi(untuk umur 2 thn dia sudah bisa bicara dengan bagus) tapi itu terjadi berulang ke hal2 kecil yang lain, semua yang dia lakukan dia mau lakukan sendiri, jadi kalau keduluan dia marah, tapi kalu saya minta maaf ya sudah coba lakukan sendiri dia ngambek, trus nangis,jadi bawaannya sering nangis, dikit2 nangis, tolong bunda saya bingung, sampai kalau dia sudah nangis keras saya mulai teriak keras sama dia maksudnya biar dia dengar apa yang saya bilang, or jadi saya osro bhs jawanya. saya jadi sering sedih, nyesel dan nangis sendiri nantinya, merasa saya bukan ibu yang baik. Saya mohon masukannya bagaimana saya harus bersikap, sebetulnya dia anak yang baik, cerdas. Kejadian ini juga berlaku dengan papanya, Terima kasih banyak sebelumnya.

    • bunda says:

      Ibu Damar, terimakasih atas sharingnya ya…
      Apa yang ibu Damar rasakan, juga saya rasakan, dan dirasakan pula oleh jutaan ibu lainnya. Jangan merasa sendiri, karena kami pun juga terkadang merasa bahwa belum bisa menjadi ibu yang baik. Akan tetapi, percayalah, di mata anak-anak – saya yakin – ibu mereka adalah ibu terbaik di seluruh dunia. Kita juga merasakan hal itu pada ibu kita, bukan?

      Ibu bisa membaca artikel saya yang terbaru tentang tantangan menghadapi anak batita http://www.rumahbunda.com/baby-toddler/tantangan-menghadapi-batita/
      Semoga dengan artikel tersebut para ibu semakin bisa memahami bahwa anak-anak adalah anak-anak, bukan orang dewasa yang bisa kita minta untuk bersikap dewasa.

      Dan untuk menghadapi tangisnya, cobalah sesekali untuk tidak menanggapinya. Kalau saya berprinsip, anak-anak tidak boleh mengatur orangtua, jadi kendali ada di tangan kita. bukan dalam artian kita harus bersikap keras dan diktator ya, tapi ada masa dimana kita tidak boleh kalah dengan kemauan si kecil. yg terbaik adalah mencoba menanamkan pemahaman bahwa tidak setiap hal yg dia inginkan bisa terpenuhi dan hanya dengan cara yg baik baru ia mendapatkan apa yg diinginkannya.

      Demikian ya, semoga bermanfaat.

  40. nita says:

    bunda anak saya perempuan 2 tahun kalau sedang tantrum bisa sampai 1 jam baru bisa berhenti terkadang ayahnya terbawa emosi bahkan sampai memukulnya bagaimana cara menanganinya ya bun memeng baru satu bulan ini anak saya lepas dari asi

  41. renny anggraeni says:

    Bunda saya sering melampiaskan kemarahan saya pd ketiga anak laki” sy ketika sedang bermasalh dgn suami sy,sy tau itu tdk boleh,saya ingin merubah prilaku saya dgn memberikan uang denda sebesar 1000 sampai 5000 rupiah ketika saya memukul mereka dan itu atas kesepakatan bersm ketiga anak laki” sy,abyan berumur 9thn,araka 6 thn,ghaisan 4,5th,saya menyesali perbuatan saya dan meminta maaf kepada mereka sblm mereka tidur,terkadang sampai menangis.saya tidak mau membuat masa kecil mereka sama dgn saat saya kecil.atau sy sering mengalah dgn suami karena saya ingin menyudahi prilaku sy y seing melampiaskan amarah sy thdp mereka,….saya tdk nyaman dalam kondisi y tdk harmonis atau bermusuhan dgn org satu rumah…

    • bunda says:

      Ibu Renny, terimakasih atas sharingnya, ya…
      Konflik pasutri memang kadang kala terjadi, dan itu adalah hal yg lumrah dalam rumah tangga. Anda tentu jauh lebih memahami hal ini dibandingkan saya. Akan tetapi, sangat bijak jika anak-anak tidak perlu tahu dan tidak perlu melihat ortunya bertengkar, apalagi jika sampai mereka menjadi pelampiasan. setuju?

      Kalau saya boleh saran, ada baiknya Anda dan suami membuat kesepakatan juga, yaitu tidak menunjukkan konflik berdua di depan anak-anak. karena efeknya akan sangat buruk bagi tumbuh kembang mereka.
      Kemudian untuk kesepakatan denda yg Anda buat dengan anak-anak. Muncul pertanyaan, uang denda itu untuk siapa? anak-anak? jika memang demikian, dampaknya juga akan sangat tidak baik. anak-anak adalah peniru, dan mereka adalah pembaca yg sangat baik. bisa jadi akhirnya kesepakatan tersebut dapat dijadikan alat bagi mereka untuk mendapatkan uang dengan membuat mereka marah. ini bisa saja terjadi, dan sudah banyak kasus terjadi semacam ini.
      Saat Anda kesal dengan suami Anda, tulislah sebuah surat. Tumpahkan semua apa yg Anda rasakan dalam surat itu. Saya sudah mencobanya, dan ternyata itu efektif. Meski pada akhirnya surat itu tidak pernah terbaca oleh suami saya, tapi hati saya menjadi lebih baik. Ketika sudah tenang, barulah ungkapkan perasaan Anda yg sebenarnya kepada suami Anda. saya yakin, saat emosi sudah surut, pembicaraan akan lebih hangat dan lebih dapat diterima. setuju?

      Demikian ya, ini juga pembelajaran bagi saya dan bagi yg lainnya. Terimakasih.

  42. annisa says:

    bunda, saya punya ponakan bernama Sifa usianya 3 tahun. Dia suka tiba-tiba marah jika ada yg orang melakukan sesuatu dan dia tidak senang. Dia suka minta sesuatu dan harus dituruti sesegera mungkin. kalo tidak dia akan mengamuk, nangis teriak-teriak, bahkan menyakiti dirinya sendiri. ex: menggigit tangannya atau menjambak rambutnya sendiri hingga rontok. Dia juga sangat ringan tangan. gampang sekali memukul orang. kadang marahnya hanya sebentar. Tapi kadang lama sekali. dia juga menyadari kalo dirinya sedang marah. soalnya kalo dia marah ke saya, dia slalu bilang ” syifa marahlah sama tante”. tapi itu terjadi sering sekali. sehari bisa berulang kali. kakak saya sudah sering memberi pengertian kepadanya. gak boleh begitu, saru..sama orang tua gak boleh gitu. sampai kakak saya memberikan pengertian yg dimaksud orang tua itu siapa saja. Terkadang kakak saya terpancing emosi dan ikut marah”. hingga mencubit pelan atau memukul pantatnya. saya sudah mencoba memberikan pengertian supaya jangan diseperti itu kan. jika sedang seperti itu saya sering memeluk ponakan saya supaya dia tenang. namun dia malah menangis makin kencang. kadang dia juga diam. apa ini termasuk tantrum?
    tapi bunda dia ini kalo di depan orang yang belum terlalu dekat dengan dia, dia pemalu..jika ditanya diam saja..kemudian dia juga tidak mau bermain dengan teman-teman sebayanya, baik yang disekitar rumah maupun di sekolah. walau temannya sudah mengajaknya bermain tapi dia tidak mau, dia lebih memilih dekat dengan ibunya atau dengan mbak yang merawatnya. bagaimana ya bunda agar dia mudah bergaul supaya tidak kuper? mohon bantuannya.
    terimakasih bunda :)

    • bunda says:

      Mba Annisa, terimakasih atas sharingnya ya…
      Salut lho, mba Annisa mau dan ikut merawat keponakan. Semoga bisa jadi pengalaman berharga kelak ya… ^_^

      Dari keterangan mba di atas, itu termasuk tantrum, ya. Akan tetapi, jika sampai menyakiti diri sendiri, ini berarti butuh perhatian yg lebih serius. Satu poin yg menjadi pertanyaan saya pertama, “darimana syifa mencontoh perilaku menyakiti diri sendiri ini?”. Anak-anak dalam fitrahnya adalah peniru yg baik, bisa jadi, ledakan kemarahannya yg sampai menyakiti diri sendiri itu ia contoh dari apa yg ia lihat. TV misalnya? Apalagi jika anak seusia Syifa sudah bisa bilang, “saya marahlah sama tante”, menurut saya ini mengindikasikan bahwa syifa mencontoh dari orang lain.
      Solusinya, jika ketahuan syifa mencontoh dari acara TV, maka segera hindarkan syifa dari acara2 tidak bermutu seperti sinetron, atau kartun2 yg tidak mendidik. jika ada maid di rumah, tegaskan pula bahwa maid tidak boleh menyetel sinetron atau kartun yg tidak mendidik jika sedang mengasuh syifa.
      Kemudian, bantu syifa untuk melatih mengontrol emosinya. seperti misalnya, kalau syifa marah dan mulai berteriak-teriak, dan kata-kata kita tidak didengarkan olehnya, maka antarkan ia ke kamar tidur, dan tegaskan, “syifa disini dulu sampai syifa bisa diam dan bilang dengan baik-baik”.
      Awalnya mungkin dia akan berontak atau melanggar, tapi tetap harus “tega”. Jangan lupa untuk menjauhkan barang2 berbahaya yg bisa pecah atau dirusak olehnya.
      Anak-anak seusia syifa memang masih egosentris, tapi masih dapat dialihkan. seperti misalnya diajak untuk bermain yg seru, percobaan sulap kecil2an, menggambar, dsb.
      Salah satu solusi yg saya rasa juga cukup baik adalah dengan mengajaknya bersosialisasi. tanpa sosialisasi dengan teman sebayanya, sifat egosentris anak-anak biasanya akan terus berlanjut hingga usia dewasa.
      Anak-anak type seperti syifa ini butuh pemanasan terlebih dahulu, misalnya mengajaknya ke PAUD dekat rumah, ikut TPA, atau mengajaknya bersilaturahim dengan kerabat yg mempunyai anak seusianya.
      Solusi lain bisa dilihat melalui jawaban-jawaban saya untuk pertanyaan sebelumnya. terimakasih ya…

  43. Nikenayu says:

    Adek sepupu saya berumur 7 thn,
    Saya pusing tiap kali liat dia marah2,ngambeg,yang berkepanjangan gara2 permintaannya ga dikabulkan,
    Ngomel-ngomel, dan gampang bad m0od,
    Suka teriak2 ga jelas,
    Hal seperti itu smakin menjadi2 terkdang,atau saat bangun pagi,namun tiap sesudah diguyur aer mandi,smua mereda.. #seakan2 dia kayak bnyk setannya,
    Lalu dia tiba2 lupa akan hal itu,namun saat teringat hal yg membuatnya bad m0od pasti akan tmbh menjadi2,stres saya melihatnya.. Padal ibunya sedang hamil,, ibunya pun stres juga,tp yg namanya seorg ibu pasti slalu bahagia menghadapinya,,
    Tapi saya lama2 pusing dirmh,, krn hanya bisa diam dan menahan kepusingan saya,,
    Apa yang harus saya lakukan?

    • bunda says:

      Halo, mba Niken…
      Susah juga punya adik yg suka marah2 dan gampang bad mood ya? Apalagi untuk usianya yg sudah cukup besar, seharusnya memang sudah lebih bisa mengontrol emosi.

      Posisi Anda sebagai seorang kakak, sebenarnya cukup bagus untuk memberinya masukan. Misalnya dengan mengajaknya ngobrol, sesekali tanyakan saja dengan santai, “kenapa sih, kok kamu setiap pagi selalu marah2?” atau “sebentar lagi kan kamu punya adik, ibumu pasti akan sangat senang kalau kamu bisa menjadi contoh yg baik untuk adikmu.”, dsb.
      Sebagai kakak, Anda juga bisa menjadikan diri Anda sebagai tempat sharing baginya, mengajaknya untuk jalan2, atau mengajaknya untuk memperbanyak mengaji.
      Anda bisa memutarkan kaset mengaji, sehingga suasana rumah menjadi lebih adem dan nyaman.

  44. ummi raihan says:

    ass. bunda anak saya pada tanggal 28 bulan lalu berusia 6 thn. Anak saya ini jika marah selalu disertai ngomel yang macam-macam, misalnya umi jelek, bodoh dll dan kadang disertai dengan memukul. Bunda, tolong bagaimana cara menyikapinya.

    • bunda says:

      Ummi Raihan, terimakasih atas sharingnya ya…

      Usia 6 tahun berarti anak-anak sudah mulai banyak mengerti perbedaan yg baik dan buruk, ya. Dan sudah seharusnya tahu bahwa kata2 “jelek, bodoh” dsb bukanlah kata2 yg baik untuk diucapkan.
      Biasanya, kata2 jelek didapatkan anak dari tayangan TV atau mendengar dari teman2nya di sekolah. Maka, sebisa mungkin, sebagai orangtua kita menegaskan bahwa di rumah tidak boleh ada kata2 jelek keluar, apalagi jika berani memukul orangtua.
      Sering2 bacakan anak buku2 keteladan, sesekali ajak anak untuk melihat anak2 jalan dan pengemis agar terketuk hatinya untuk lebih menghormati dan mensyukuri keadaannya. Saya rasa di usia ini anak-anak sudah mulai dapat merasakan.
      Jika ia mulai marah dan mengomel, segera beri tanda bahwa Anda tidak mau mendengarkannya. Katakan, “bilang sama ummi kalau kakak sudah tenang dan bicara baik2 sama ummi”. Boleh juga mempraktikkan sudut diam, jika Anda berkenan, yaitu menyediakan kursi diam di satu ruangan, dan memintanya duduk disana sampai ia bisa diam dan tenang.
      Yg terpenting, jangan sampai kita ikut emosi, buat kesan bahwa “marah2 tidak berguna dan tidak membuatnya mendapatkan apa yg diinginkan”.

  45. endang says:

    bunda,anak saya 3 tahun perempuan akhir-akhir ini selalu rewel dan menentang saya.nangis yang keras,marah-marah,dan selalu melarang saya dan ayahnya makan sesuatu segala hal harus sesuai dengan yang dia mau.nenek dan kakeknya terlalu memanjakannya, hal ini berlangsung setelah kami pindah rumah berpisah dengan kakek dan neneknya.tapi kalau dirumah orang tua saya dia jadi anak yang penurut.solusinya apa?

    • bunda says:

      Dear Ibu Endang, terimakasih atas sharingnya, ya. Dan terimakasih juga telah berkunjung ke portal saya.
      Salah satu “kekurangan” pengasuhan anak oleh nenek atau kakek adalah -justru- karena kasih sayang mereka jauh lebih besar daripada kepedulian untuk memberikan pendidikan yg baik dan benar. Terutama lagi bagi mereka yg memang sejak awal kurang peduli pada pendidikan anak yg baik dan benar. Kasih sayang yg terlalu besar (baca: memanjakan anak) itulah yg melahirkan sikap-sikap pembebasan, sehingga anak terbiasa kemauannya dituruti, tidak ditegur saat salah, dibiarkan saja berbuat semaunya, dsb. Saya sering melihat yg demikian, ibu. Walau tidak semuanya demikian.
      Apalagi mungkin si kecil merasa selama ini dekat dengan nenek dan kakeknya, maka pindah rumah akan memunculkan rasa rindu dengan orang2 yg biasa mengasuhnya. Atau bisa juga frustrasi, karena selama ini ia dimanja, kemudian saat harus pindah, ia merasa tidak diperhatikan, dsb. Ini adalah masa transisi, dan yakini bahwa masa ini akan lewat seiring berjalannya waktu.
      Saran saya, bangunlah kedekatan dengan si kecil secara lebih mendalam. Misalnya dengan meluangkan waktu untuk membaca buku bersama, berjalan-jalan di taman, dsb. Namun, tekankan pada si kecil -dengan bahasa yg lembut tentunya-, untuk selalu berbicara yg baik jika menginginkan sesuatu. Tanamkan bahwa menangis dan marah2 tidak akan membuatnya mendapatkan apa yg dia inginkan. Saya yakin, awalnya pasti sangat berat. Anda mungkin juga bisa ikut emosi. Tapi, ketika Anda menyadari bahwa emosi mulai muncul, mundurlah sejenak. Jangan ladeni untuk sementara, dan katakan juga padanya bahwa ia boleh bicara dengan Anda jika sudah mau berhenti menangis.
      Nah, jika kondisi tenang sudah tercipta, peluklah si kecil, dan ungkapkan perasaan cinta Anda. Kalau bisa, sesekali ajaklah ia main ke rumah neneknya untuk melepas rasa kangen.
      Anda juga bisa mempertemukannya dengan anak-anak sebayanya di sekitar rumah baru, agar rasa rindunya bisa teralihkan, dan ia memiliki teman untuk ceria bersama. Pada umumnya anak-anak memang demikian. Kita sebagai orangtua-lah yg harus pintar2 mencari berbagai cara untuk “menaklukkan” mereka.
      Demikian ya, yg bisa saya jawab. Semoga bermanfaat.

  46. papapiyu says:

    Bunda..anak saya besok bulan juli yg gede berumur 8 th dan yg kecil 5 th keduanya perempuan, akhir akhir ini yg gede sering tantrum..bangun pagi nangis,marah – marah..Mukul ade’nya atau kadang nyampe gerbang sekolah tantrumnya muncul..kalo lagi ‘tantrum itu bisa 1 sampe 2 jam baru tenang..dan sulitnya lagi istri saya juga seolah olah ikutan tantrum..marah..teriak teriak..jd kayak ada perang di rumah.oh ya bunda,,tantrum anak saya ini selalu ditujukan untuk mamahnya,,dia selalu memancing emosi mamahnya sedang ke saya tidak..maunya apa apa mamahnya,saya jadi super bingung..beberapa cara dari bunda juga jd susah buat saya tempuh ketika saya coba menenangkan atau bilang ‘sabar dong mah’ istri selalu bilang ‘ mamah udah coba sabar..tapi sabar kan ada batasnya..!! ( sambil teriak juga ke saya. (trus nangis dech)kalo saya ladenin juga, jd kita deh yg beratem..selama ini yg saya lakukan kalo lagi ada “perang tantrum” adalah membawa keluar rumah anak saya yg kecil ( 5 th )..saya jg takut ” perang Tantrum” berdampak kepada anak saya yg kecil..mohon sarannya bunda..terima kasih.

    • bunda says:

      Bapak Piyu, terimakasih atas sharingnya ya. Dan terimakasih juga karena sudah menyempatkan untuk berkunjung ke portal saya.
      Umumnya tantrum itu sudah berkurang di usia 5 tahun ke atas. Apalagi di usia sekolah seperti si sulung, biasanya sudah mulai mendapatkan arahan secara intensif juga dari guru-gurunya di sekolah. Nah, sebenarnya apa yg bapak lakukan dengan membawa si bungsu keluar saat “perang tantrum” terjadi, itu sudah benar. Sebaiknya memang yg lebih bisa kita selamatkan, kita selamatkan terlebih dahulu. Tanamkan pada si bungsu, bahwa apa yg dilihatnya bukanlah hal yg baik, dan Anda berharap bahwa si bungsu bisa lebih memaafkan kakaknya dan tetap menyayangi kakaknya. Kalau perlu, ajarkan si kecil untuk menjadi sahabat bagi kakaknya.
      Kemudian, untuk istri Anda, saya pun sebagai wanita dan ibu pada khususnya, bisa memahami sekali kondisinya. Lelah dan sibuknya mengurus rumah, belum lagi anak2 yg “memancing emosi” (baca: meminta perhatian), tentu membuatnya semakin stress dan emosi pun mudah meledak. Orang yg paling tepat untuk menenangkan dan menghiburnya adalah Anda. Namun, berikanlah masukan untuk istri Anda di saat Anda hanya berdua saja dan dalam keadaan tenang. Karena menyuruhnya untuk bersabar di saat emosi, justru akan menambah emosinya. (Begitulah wanita, pak…^_^). Jangan lupa untuk sering2 memberinya pelukan atau ciuman hangat, genggam tangannya saat Anda hendak pergi ke kantor, saya yakin, perhatian dan sntuhan Anda akan memberikan energi tambahan yg luar biasa pada istri Anda.
      Sedangkan untuk si sulung, cobalah untuk mencari tahu lebih dalam tentang penyebab ledakan emosinya. Mungkinkah ia memiliki permasalahan di sekolah? Dengan teman-teman atau gurunya mungkin? Apakah ia terlalu sering dituntut atau dimarahi oleh mamanya? Atau mungkinkah ia sangat membutuhkan perhatian lebih dari mamanya? Atau justru sebenarnya ia pun juga menuntut perhatian lebih dari Anda?
      Karena terus terang, saya juga anak perempuan sulung di keluarga saya. sejak kecil saya dituntut ortu saya untuk selalu mengalah pada adik2 saya, harus selalu mandiri, dan sering juga dimarahi. Nah, saat saya beranjak remaja, saya bukannya menjadi anak yg lebih dewasa dari usia saya. Saya justru semakin menuntut perhatian dari ortu saya, terutama ibu. bagaimanapun, saya membutuhkan perhatian dan kedekatan yg lebih untuk melewati gejolak masa remaja saya. Mungkin itulah yg juga sedang dialami oleh putri sulung Anda.
      Penerimaan setiap anak tidaklah sama. Ada anak yg dididik dengan cara demikian bisa menjadi pribadi yg dewasa dari usianya, ada juga yg justru sebaliknya, akan menjadi lebih manja.
      Coba sesekali luangkan waktu untuk berdua saja dengan si sulung. Misalnya, mengajaknya jalan2, kemudian bicaralah sebagai seorang sahabat untuknya. Tanyakan padanya apa yg ia rasakan, dan mengapa sering kali ia harus membuat marah ibunya.
      Posisi Anda sebagai kepala keluarga sangatlah tepat untuk mengakhiri “perang tantrum” tersebut. Adakanlah “rapat” keluarga setiap hari, setengah jam saja untuk mendengarkan curhat anak dan istri Anda. Atau sesekali ajak mereka jalan2 bersama untuk refreshing, dsb. Jangan lupa, selalu tambah porsi kesabaran Anda untuk keluarga Anda.
      Anda adalah seorang ayah yg baik, dan saya salut karena Anda telah meluangkan waktu Anda untuk membaca, untuk belajar menjadi ayah dan suami yg baik bagi keluarga Anda. Semoga Allah senantiasa melimpahkan cinta untuk Anda dan keluarga Anda. aamiin. Bravo!

      • papapiyu says:

        Makasih Bunda untuk saran dan sharingnya..secepatnya saya kan adakan “rapat curhat” di rumah..rasanya itu yg slama ini belum pernah terjadi di rumah..makasih bunda, semoga Alloh juga selalu memberikan cinta dan kesehatan untuk bunda juga keluarga..

  47. vivi says:

    Salam kenal , bunda ..
    Saya vivi , saya tertarik banget tentang mengulas tantrum ini ..

    Anak saya , nathan (3thn 3bln) , emank memiliki sifat tantrum , dan setelah saya baca2 itu , benar apa kata bunda , kemungkinan besar karna suami saya suka mengiming2kan mainan kpd nathan , kdg itu juga yang buat saya pusing ketika apa yang nathan minta tidak di dapatkan , tantrumnya itu suka teriak2 & nangis Gɑ̤̈ mau berenti , emank cuma sebentar dia marah2nya ,tp anehnya , kalau dia sedang tantrum , kalau saya baik2 kasih pengertian , malah tambah menjadi teriakannya & sampai memukul saya / banting barang(kdg malah minta ijin dulu ke saya boleh banting barang ga ma?). yang membuat saya jadi kdg terpancing emosi , tak jarang suka saya pukul saking kelewatannya dia , kalau saya sudah marahhh / diamin dia , dia lgsg diam (mungkin karna takut di pukul ), Чάπĝ saya ingin tanyakan , saya awalnya mau masukkan dia playgroup saja karna dia itu gampang bersosialisasi sama anak2 seumurannya , tp wkt saya k tmpt sekolah , dia bilang blon mau sekolah.. Saya takut klo saya paksakan dia sekolah , nanti dia akan stress dlm pertumbuhannya , krn saya sehari2 24jam bersama dia slalu ..

    Sebaiknya solusi yang tepat u/ anak saya sperti apa ya? Saya sudah memberi pengertian k suami tidak bole iming2in mainan / apapun .. Tolong sarannya , bunda .. Makasi sebesar2nya .. :)

  48. lulu says:

    anak aku udah 8 thn,tp msh suka ngamuk,kadang2 .klo sesuatu yg dia inginkan tdk di penuhi,kdang yg dia inginkan bkn suatu benda ,tp kdang saatnya dia belajar ,tp ttp mau nonton tv..klo di ksh masukn dgn cr halus ..kdang ttp marah…jd gmn cr mengatasinya?

  49. dysta says:

    Lam knl bunda.. Sy dysta ponakan q umr 2,5 th,dia tiap tidur sllu ngamuk,nangis n sring bgt trbangun,pling bbrpa mnit ja n stlh tu mnta mnum llu tdr lg,tp hal prti tu trulang trs pe tba wkt pg,jd ksian jg ortu jg ank’y mua g bs tdr nyenyak.
    Kira2 pa y pnybaby bs prti tu,, tu trjdi mang sjak bayi.
    Mhn saran n solusi’y.. Mksh byk sblmy.

  50. wibelson says:

    mohon saran bun.
    Anak saya cowok baru 8 bulan, kalo tidur malam sering terbangun trus nangis teriak-teriak, marah-marah, malahan ampe nyubitin tangannya sendiri. Abis digendong oleh siapa pun yang dia mau + dgn posisi yang dia mau dia diam lagi, kejadian ini baru terjadi seminggu ini. Ada cara gak biar dia gak ngamuk-ngamuk, kasian tetangga, suara bayi kami keras sekali.
    Bantu solusi ya bun, thank’s….

  51. Susanna says:

    Anak saya, sekarang umurnya 18 bulan. Sewaktu dia berumur 15 bulan, pernah jatuh dari tangga dan mendapat 5 jahitan di kening. Sejak kejadian itu, tantrumnya semakin parah. Sama seperti ulasan di atas, tantrumnya muncul saat dia frustrasi, tdk bisa melakukan sesuatu, Keinginan tidak dipenuhi, dan mungkin sifat dasar anak saya yg emosional, warisan dari papanya yg gampang emosi.

    Anak saya sulit dinasehatin, entah karena dianya belum mengerti omongan kita atau karena dia sendirii yg susah dibilangin. Kadang bisa tanpa sebab, dia jerit2 sendiri disertai tangisan, juga menjambak rambut orang. Tadi pagi untuk pertama kalinya, kubawa dia ke sekolah playgroup. Di sana, ada anak2 sebaya dia, tapi begitu dia nampak anak2 tersebut, anakku malah mendorong dan menarik rambut mereka. Aduh… Benar2 bikin malu saya. Setelah itu, saya tegor dia, eh dia malah jerit2 sepanjang pelajaran. Anakku jerit sampai urat lehernya nongol semua. Akibatnya, sekarang suaranya sudah serak. Eh, udah serak, masih saja jerit. Di kelas itu, tidak ada anak yg menangis sampai menjerit kesettanan seperrti anak saya, rasanya sedih sekali melihat anak sayA..

    Kejadian lain, kalau minta sesuatu ga dikasih, jeritan ya sampai bikin tetangga pada keluar semuA. Entah anak saya ada kelainan ga

  52. christine says:

    Bunda, anak saya 2thn, sekarang suka tantrum, kalau tantrum suka membenturkan kepala ke tembok, memukul kepala sendiri, membanting barang, dll, dan akhirnya menangis. Permasalahan lain adalah, anak saya reflux, jadi kalau menangis sedikit saja, pasti muntah parah, makanan yg sudah disantapnya keluar semua, bahkan muntahnya keluar lewat hidung. Pertanyaan saya : (1) Bagaimana cara mengatasi tantrum pada anak reflux, bun, saya bingung kalau keinginan tidak dituruti, berarti membiarkan anak saya muntah2, sedangkan kalau menurutinya berarti saya tidak konsisten. (2) Bagaimana merubah sikap anak supaya saat marah tidak melukai diri sendiri maupun org lain? Mohon saran ya bun, terimakasih

    • bunda says:

      halo, ibu Christine….
      jika tantrum anak sudah sampai pada taraf self injury atau menyakiti diri sendiri, saya menyarankan Anda untuk berkonsultasi ke psikolog anak untuk menggali informasi lebih lanjut. apalagi untuk anak usia 2 tahun, tantrum dengan self injury ini cukup berbahaya dan membutuhkan penanganan serius.
      namun jangan berkecil hati, karena usia 2 tahun adalah usia yg masih sangat muda dan Anda masih memiliki kesempatan yg sangat besar untuk mengubahnya. saran saya, latih si kecil untuk tidak selalu menuruti apa yg diinginkannya. perbaiki pola asuh dan samakan pola asuh Anda dengan ayah atau maid. pasangi alat pengaman seperti gabus lantai dan tempelkan di dinding untuk menghindari benturan keras, jauhkan segala benda yg berpotensi untuk pecah dan membahayakan, serta segera pegang tangannya jika ia mulai memukuli dirinya sendiri. satu hal yg juga penting, hindari menonton TV yg tidak layak dilihat anak-anak, bahkan kartun sekalipun. karena biasanya, anak-anak akan mencontoh apa yg ia lihat dari TV maupun lingkungannya.

  53. Tyas says:

    Anak pertama sy Ganjar 3th10bln, diusia 2th dia sudah mandiri seperti makan sendiri, gosok gigi sendiri dan setelah main selalu merapikan mainan sendiri. Tp setelah punya adik tepatnya setelah tinggal dirumah sendiri 6bln yg lalu Ganjar jd gampang sekali marah dan nangis, tak jarang sampai loncat” sambil teriak” dan sering kali saat sy menyusui adiknya dia minta susu dan harus sy yg membuatnya kalo sy jawab nanti setelah ade selesai mimik pasti langsung marah”. Ganjar tidak mengijinkan orang lain selain papa mama nya untuk gendong adiknya bahkan makan atau pergi harus bareng adiknya tp kalo sy menyusui adiknya dia selalu punya permintaan dan harus sy yg melakukan padahal sy sudah berusaha memberi pengertian padanya. Anak” memang dimanja oleh papanya meski sy sudah melarangnya. Sy minta saran soalnya kalo marah” sampai urat”nya keluar semua dan dia jg tidak mau masuk playgrup dan ngaji lg alasannya gurunya bukan mama. Sy bener” minta saran, trimakasih sebelumnya.

  54. fitria yunitasari says:

    anak saya berumur 3th.dia sering mengalami tantrum.setelah saya baca-baca,kemungkinan karena turunan dari sifat ayahnya yang suka marah.anak saya jika marah sampai menggigit tangannya sendiri,dan membanting sesuatu barang yang dilihatnya.mohon saranya.trimakasih ya bu.

  55. ferika says:

    Bu…mohon bantuannya juga.anak saya umur 2 tahun 9 bulan.juga sukanya nangis teriak2 jika minta sesuatu dan tidak diperbolehkan.dan repotnya lagi kalau bukan saya , ibunya yang gendong atau melayani..anak saya akan menangis. Saya sudah melakukan dari cara halus sampai memukul.mohon bantuannya bu. Terima kasih.

    • ummi says:

      klo sy pura-pura nangis ja.. dia langsung berhenti nangis langsng ciumin n belai belai saya
      setelah reda br kita nasehati

  56. Farah says:

    Anak saya berumur 12 tahun. Dia sangat perasa. Jika tegang atau tersinggung pasti ia langsung menangis. Apalagi ia dalam proses penyesuaian di kelas 7 smp. Bagaimana mengatasi emosi itu ya bu?

  57. eka says:

    Makasih bunda, masukan nya sngat berarti buat saya, karna saya jg punya anak bernama gusti pangestu, usia 3 thn 2 bln dia sering mengalami tantrum, ya gitu malah sering membantingkan diri sendiri, pukul2 kepala pake tangan/botol, semakin saya memarahi utk dia berhenti menangis, eh malah makin jdi marah nya… Mohon saran nya bunda makasih

  58. nuning says:

    anak saya berusia 7 tahun,kalau keinginannya tidak dituruti pasti marah2 dan seperti mau memukul saya, kalau saya peringatkan seperti tidak peduli tetep marah dan sambil bicara terus,nanti setelah agak reda marahnya nangis2 minta maaf saya,tapi ya diulangi lagi. gimana ya bun,cara mengatasinya? saya takut dia tidak bisa mengendalikan emosinya?

    • bunda says:

      usia 7 tahun sudah seharusnya mulai mengerti dan belajar untuk mengendalikan emosinya ya. saran saya, ibu Nuning cobalah untuk bersikap tegas. buat peraturan yg jelas tentang reward yg akan didapatkannya dengan perbuatan yg baik, dan juga konsekuensi bila ia melanggar peraturan Anda. buatlah kesepakatan dengan anak Anda. karena di usianya, ia sudah bisa diajak diskusi lebih serius. tegaskan pula bahwa setiap keinginan tidak bisa selalu langsung dituruti. sesekali, bila Anda kewalahan dengan ledakan emosinya, Anda bisa menerapkan metode “sudut diam”. bukan berarti mengurungnya di kamar atau di kamar mandi ya. tapi, secara tegas (sekali lagi, tegas disini bukan marah ya), Anda mengatakan padanya : “kakak, sekarang masuk kamar kakak sampai kakak bisa bicara dengan baik sama mama”. beri juga pengertian padanya, bahwa meminta maaf bukan berarti kesalahan yg sama boleh diulangi lagi, tapi harus selalu diperbaiki. jangan lupa, Anda juga bisa memberinya reward jika ia berhasil menaklukkan emosinya. semoga bermanfaat.

  59. andina says:

    bunda.. bayi sya berusia 8 bulan… dulunya dia selalu ceria.. suka tersenyum. tapi 1 mgg terakhir ini jadi mudah marah.. kira2 knapa ya bun? apakah ini tahap dr perkembangan?

    • bunda says:

      ya, tantrum atau marah itu tahap dari perkembangan seorang anak, mba. tapi, upayakan untuk selalu tidak ikutan marah yah. tenangkan bayi Anda dan alihkan perhatiannya.

  60. nurhasanah says:

    saya mempunyai anak perempuan usia 6th.anak sya baru satu.dia pemarah klo dah marah ngamuk2 dan barang2 dirumah bisa diacak2 selama klebih 30menitan.saya dah buat perjanjian klo begitu lg akan dihukum tapi tetap saja tdk tkut dg hukuman apa lg mamanya klo marah suka mukul saya.pernah ketika itu tjadi saya tidak bisa menahan air mata sampai saya berpikir ko sebegitunya anak saya,sampai saya bilang kamu tu yg lahirin mama dll.tapi besok2 ya begitu lg.bagaimana ya caranya mhadapi kaya cara diatas dah sya coba tpi msh juga. mhn pjelasannya.mksh

    • bunda says:

      jadi begini, ibu Nur, jika ibu biasa menghukum atau mengancam dengan hukuman kepada anak ibu, lambat laun ia akan kebal dan tidak takut lagi terhadap hukuman tersebut. ya, pada beberapa tipe anak memang ada yg demikian. bagaimana jika dicoba dengan metode sudut diam?
      ketika putri ibu mulai tantrum dan tidak bisa dikendalikan, ibu bisa memintanya untuk duduk di tangga, atau diam di kamar, atau duduk di sebuah kursi khusus yg Anda tetapkan sebagai sudut diamnya. tegaskan padanya, “kakak duduk disini sampai kakak bisa bicara dengan baik sama mama” atau “diam disini sampai kakak tenang, baru kakak boleh bicara sama mama” atau yg senada dengan itu. awal-awal putri Anda mungkin anak berontak dan menolak. tapi, tetap paksa ia berada dalam sudut diamnya sampai ia bisa tenang dan diam. setelah itu, baru Anda peluk ia dan katakan padanya bahwa untuk bicara, ia harus menggunakan kata-kata yg baik dan tidak dengan mengamuk. semoga bermanfaat.

  61. AndiMerella says:

    Saya itu mempunyai tiga anak semuanya perempuan,dan yang paling besar umurnya 12 thn.yang 12thn itulah yang menjadi pertanyaan,saya ini orangnya pemarah sekecil apapun hal itu pasti saya akan memarahi anak saya,sampai sampai ank sya yang 12thn ini suka bilang”ish,berisik bawel banget sih.”saya itu kalau udh marah teriak,ngomel2 nggak karuan dan gak akan selesai kalau saya blm dpt kesibukan seperti memasak…dia(yg 12thn)pulang sore dri sklh(krna masuk siang)saya marah2hi dan sedikit mengancam untuk tidak diantarkan sklh,dia mulai menangis,dan tiba2 dia memukul,menjambak rambut,dan memukul hidungnya sendiri hingga berdarah,dan pernah jga dia berteriak”Berisik!!!”jika saya mengomel…yang saya tanyakan ada apa dgn dia?apakah itu normal?tlng dijawab saya mohon sekali…makasih..

    • bunda says:

      Bunda Andi, setiap anak mengamati dan belajar banyak hal dari orangtuanya. Dan orangtua adalah contoh utama dan pertama bagi anak-anak.
      Bila seorang anak begitu mudah marah dan emosi, maka itulah cerminan dari apa yg ia lihat selama ini.
      Bunda tadi mengatakan bahwa bunda adalah orang yg sangat emosional dan sangat suka mengomel, sekecil apapun masalah yg Anda hadapi. Inilah kuncinya. Pertanyaannya bukan, “mengapa anak saya begitu?” tetapi, “bagaimana saya bisa mengubah keadaan ini menjadi lebih baik?” itulah tepatnya.
      Saya sangat bisa memahami keadaan si sulung, dan bisa memahami mengapa ia sampai bisa menyakiti dirinya sendiri dan berteriak “berisik” kepada Anda.
      Bisa jadi, si sulung merasa frustrasi, stres dengan sikap Anda yg terlalu mudah marah serta terlalu sering mengomel. Apalgi, di usianya yg sekarang, dimana ia sedang mulai memasuki masa remaja, ada gejolak-gejolak yg berbeda dengan saat ia masih kecil.
      Ia tidak bisa memahami mengapa Anda begitu mudah marah, mengapa Anda begitu mudah mengomel, mengapa Anda harus selalu memarahi dan mengancamnya. Bentuk protesnya akan sikap Anda adalah dengan menyakiti dirinya sendiri.
      Karena itu, Bunda, mari bersama-sama kita memperbaiki diri, agar anak-anak dapat melihat contoh yg baik dari kita. Cobalah untuk menata emosi, untuk tidak terlalu cepat dan tidak terlalu mudah mengomel, marah-marah, berteriak, dan mengancam.
      Masih ada banyak cara lain untuk mengingatkan anak, mendisiplinkannya, atau…setidaknya kita bisa belajar untuk menahan diri agar tidak mudah marah. Apalagi untuk hal-hal sepele. Jangan sampai hal-hal yg kecil kita besar-besarkan hanya karena kita tidak mau menahan emosi.
      Dan ketika kita mulai bisa membenahi diri, maka akan mudah anak-anak untuk kita arahkan menata emosinya.
      Demikian, ibu, semoga bermanfaat.

  62. Mila says:

    Skrg anak saya usianya 18 bulan, namanya angel, dia anak yg aktif ga bs diam, pintar krn cepat mengerti, dan cpt meniru, mandiri sgl sesuatu ingin dia lakukan sendiri, makan sendiri, pemberani, sbnrnya dia jarang sekali rewel atau merengek meminta sesuatu, kalaupun dia merengek mnta sesuatu ga aku kasih plg nangis bentar ntr di ajak ngomong yg lain diam, tp yg jd kepikiran skrg, skrg dia sllu takut klo liat org asing yg datang ke rumah apalg rombongan, takut kalo badannya di pegang dokter saat periksa, takut jg klo di pegang sama tukang urut, nah takutnya itu nangisnya sambil ngamuk” bisa berguling” di lantai, kalo sama org yg mau pegang badannya ( dokter / tkg urut ) dia nangis ngamuk sm melawan badan nya keras bngt, kalau dirumah dia srg nangis ngamuk” smp banting” badannya gara” takut td, atau rewel krn ngantuk, atau malam hari terbangun dr tidur aduh nangis ngamuk hrs di gendong sm says aja lg mamanya sm yg lain ga mau baru bs diam, kalau saya udh kehilangan kesabarang kadang bisa marah atau kurung dia di kamar tp ga di kunci smp diaagak tenang, apakah cara saya ini salah bund? Dan bagaimana mengatasinya ? Trims

    • bunda says:

      Bunda Mila, ada memang tipe anak yg ketika di rumah, ia sangat aktif, tapi begitu bertemu dengan orang asing, ia menjadi pemalu dan menarik diri. Atau pada anak seusia Angel, ia menunjukkannya dengan rasa takut dan menangis. Nah, tidak jarang pula, ada anak dengan tipe seperti itu yg menangis bahkan sampai tantrum berguling-guling karena ia sedang mencari perhatian orang-orang di sekitarnya. Jadi, bunda Mila harus mencari tahu apa penyebabnya mengapa si kecil bisa sedemikian takutnya saat bertemu dengan orang lain.
      Solusinya, sering-seringlah mengajak si kecil bersosialisasi. Misalnya, Anda ajak ia pergi ke rumah tetangga atau kerabat, dan biasakan ia untuk mau bersalaman dan menyapa orang lain. Atau Anda bisa menunjukkan teman-teman seusianya yg tidak takut pada orang lain.
      Ketika si kecil sedang tantrum, usahakan untuk memegang badannya bila ia menunjukkan tanda-tanda akan membanting dirinya sendiri. Alihkan perhatiannya untuk hal lain, dan upayakan untuk membantunya mengatasi emosinya sedini mungkin.

      Semoga bermanfaat.

  63. tri wahyuningsih says:

    salam kenal bunda…
    Putri sy baru berusia 3 tahun.setelah sy baca artikel anda sy menyimpulkan memang sepertinya putri sy suka mengalami tantrum demikian juga kata salah seorang sepupu sy yg kebetulan sedang mempelajari pengajaran anak usia dini.sy sering binggung menghadapi sikap putri sy yg suka merebut mainan milik temannya sedang mainannya tidak boleh dipinjem oleh temannya.jika dia tidak berhasil merebut mainan tsb dia jadi marah dan cenderung tidak mau kalah.segala pengertian sdh sy coba sampaikan ke dia tp putri sy selalu kekeh dgn keinginannya.dia jg sulit sekali dikendalikan.bisakah bunda memberi sy tips supaya sy bs sabar dan sukses ketika memberikan pengeertian pada putri sy.trimakasih….

    • bunda says:

      Ibu Tri, anak di usia 3 tahun memang masih egosentris. Tingkat egonya masih sangat tinggi. Apa yg ada dalam pikirannya adalah semua barang adalah miliknya, ia belum memahami betul kepemilikan orang lain. Apalagi, bila didukung dengan keadaan yg selalu mengkondisikan ia sebagai pusat perhatian, seperti misalnya anak tunggal, dimanjakan, dan biasa dituruti kemauannya.
      Perlahan-lahan, coba untuk terus memberinya arahan, jangan hanya di saat ia merebut mainan atau saat ia tantrum saja. Tapi di saat ia sedang duduk bersama Anda, atau bermain sendiri bersama Anda. Sesekali, ajari ia untuk membagi kue atau permen miliknya dengan teman-temannya. Usia 3 tahun juga sudah bisa diarahkan melalui tayangan edukatif atau buku bacaan ya. Jadi Anda bisa menyiasatinya melalui media, kemudian mempraktekkannya.
      Selalu ada jalan untuk menjadi orangtua yg baik, insya Allah.

  64. hafshah says:

    salam knl bunda
    putra sya brumr 2 th, ia sring tantrum mengamuk guling-guling, menjerit, berteriak, trkdg memukul yg tdk tau sbbbnya pokoknya serbaslh, ktka sdg trtdr pn bbrpa saat tba2 menangis dn mengamuk kemudian meminta susu dn tdr kmbli.
    ayahnya bekrja d jkt, sya d crb brsma ank sya. apkh ank sya kurg perhatian krna sya jg bkrja? mohon solusinya, trimaksh

    • bunda says:

      Bunda Hafsah, selalu ada penyebab mengapa si kecil menjadi tantrum. Di samping karena usianya memang sedang masa-masanya mudah tantrum, pastilah ada sebab yg bisa memicu tantrumnya.
      Karena itu, seperti jawaban saya yg sebelum-sebelumnya, identifikasi terlebih dahulu penyebab si kecil menjadi tantrum. Baru kemudian kita bisa mencari solusinya.
      Kemudian, yg tidak kalah penting, masa-masa balita adalah masa dimana si kecil membutuhkan perhatian ekstra dari orangtuanya, terutama ibu. Ketika anak terlalu sering ditinggal, tanpa memberinya waktu yg berkualitas untuk bersama dengan Anda, lambat laun ia akan merasa terabaikan. Salah satu bentuk protesnya karena merasa terabaikan adalah dengan tantrum tadi. Apalagi, bila selama ini juga jauh dari ayahnya.
      Karena itu, saya sarankan Anda, bila memang tidak memungkinkan untuk keluar bekerja, cobalah untuk selalu meluangkan waktu Anda khusus untuk si kecil. 1/2 jam saja di pagi hari sebelum ke kantor, Anda bisa mengajaknya bermain atau membuatkannya mainan, atau sekedar menyuapinya sambil bercerita. Kemudian setelah Anda pulang kantor, Anda bisa meluangkan kembali waktu Anda minimal 1 jam untuknya, bercerita mengenai harinya, dsb.
      Jika ada waktu libur, usahakan waktu tersebut benar-benar Anda manfaatkan untuk mencurahkan perhatian Anda untuk si kecil dan keluarga Anda. lakukan kegiatan-kegiatan yg dapat membangun ikatan Anda dengan si kecil. lari pagi bersama, berenang, memasak bersama, berkebun, dsb.
      Sebaik-baik tempat tumbuh dan berkembang seorang anak, adalah di sisi ibunya. Semoga bermanfaat.

  65. dila says:

    saya mempunyai 2 putri yg pertama usianya 5th dan adiknya 1th11bln. saya mempunyai masalah dengan anak saya yg pertama, saat ini dia sdh sekolah tk b. dari tk a anak saya selalu nangis u sekolah tapi hanya awalnya saja (pagi hari ketika saya antar) kalau sdh belajar dia enjoy dan mau bermain dengan teman2nya serta gurunya, dari penilaian gurunya dia bisa mengikuti semua pelajaran disekolah. itu berlangsung kurang lebih 4 bulanan, selanjutnya dia mulai senang untuk sekolah. tapi ketika memasuki tk b mulai seperti tk a, dan itu berlangsung sampai sekarang. memang jarang menangis hanya merengek dan memegang baju or tangan saya dan itu membuat saya jadi stres karena sebentar lagi akan masuk sd. untuk masuk sd harus ikut tes dan rata2 orang tua diminta tidak menemani anaknya ketika tes dan akhirnya membuat saya jd pesimis. selain itu anak saya ini sekarang kalau mau apa harus dituruti berbeda ketika dia tk a yg masih mau dikasih pengertian. bunda bagaimana ya saya menghadapinya dan saya harus bagaimana terhadap anak saya ini. mohon solusinya bunda… sebelum dan sesudahnya terimakasih banyak.

    • bunda says:

      Bunda Dila,
      Mungkin putri Anda adalah anak dengan type yg butuh “pemanasan” terlebih dahulu. Tidak perlu cemas, karena kecemasan Anda justru akan membuatnya semakin merasa kuatir dan takut untuk memulai sesuatu yg baru.
      Pertama, untuk masalah keinginannya yg harus selalu terpenuhi. Ada banyak sebab mengapa si kecil kini menjadi lebih penuntut dibandingkan sebelumnya. Bisa jadi karena pengaruh teman, televisi, lingkungan sekitar, atau bahkan kita sebagai orangtuanya. Solusinya :
      – jika penyebabnya adalah pengaruh teman2 sekolah yg terbiasa memiliki sesuatu, maka jelaskan padanya dengan bijak bahwa di dalam keluarga Anda tidak terbiasa membeli barang-barang mahal, apalagi bila barang tersebut mudah rusak, atau hanya sebentar dipakai. tawarkan padanya pilihan untuk lebih baik menabung untuk membeli sesuatu yg lebih bermanfaat daripada yg ia inginkan saat itu.
      – jika penyebabnya adalah TV atau iklan, Anda bisa mengganti tayangan TV dengan DVD atau komputer atau setidaknya minimalisir pemutaran TV di rumah Anda. bagaimanapun, TV lebih banyak pengaruh buruknya dibandingkan pengaruh baiknya. kemudian, karena anak-anak sangat mudah terpengaruh dengan iklan, Anda bisa mengatakan, “coba lihat, yg iklan artisnya cantik ya? tapi tahukah kamu bahwa sebenarnya artis itu dibayar supaya bilang makanan itu enak. padahal, lebih seru kan, kalau kita bisa membuatnya sendiri bersama-sama?”
      – dsb.

      Kedua, untuk permasalahan sulit beradaptasi di lingkungan baru untuk pertama kalinya. sebelum masuk sekolah, atau saat mendaftarkannya di sekolah baru, Anda bisa lho, mengajaknya melihat-lihat isi sekolah. melihat ruang kelas, kantin, tempat olahraga, perpustakaan, dan kenalkan ia pada guru-guru yg akan mengajarnya di kemudian hari. dengan mengenal lebih dahulu lingkungan sekolah barunya, umumnya si kecil akan lebih pede. Nah, selain itu, Anda pun bisa memberinya pengertian bahwa ketika ia ingin melanjutkan sekolah ke SD, ia harus berani sendiri. misalnya, “dulu mama waktu sekolah juga sendiri lho. kan kalau masuk SD, sudah besar, jadi harus berani sendiri. asyik lho, kita bisa belajar lebih seru, punya banyak teman. anak mama juga pemberani dan sudah besar, kan? siap deh pakai baju seragam yg beda…ini keren lho…”

      Nah, bagaimana? semoga bermanfaat ya!

  66. sukma says:

    Saya mempunyai putri umur 2 tahun…seminggu ini dia gampang sekali mengamuk…terutama kalau dia gagal melakukan sesuatu yg dia mau …dia bisa mengamuk, menangis gak mau berhenti smp lebih dari sejam…kalau sudah marah dia gak mau didekatin siapapun termasuk saya mamanya sendiri…saya sudah menggunakan cara untuk membiarkan putri saya menenangkan dirinya sendiri, tp yg saya takutkan adakah pengaruh menangis yg lama buat dia?selain itu saya takut kalau dia tumbuh jadi anak yg gampang putus asa…mohon soliusinya bunda…terima kasih..

    • bunda says:

      Bunda Sukma, salah satu penyebab anak mudah sekali tantrum adalah karena keinginannya yg belum seimbag dengan kemampuannya, sehingga ia merasa frustrasi dan putus asa. Tantrum adalah bagian yg wajar dalam perkembangan anak seusianya. Maka, saat Anda harus menghadapi si kecil yg sedang tantrum, cobalah untuk tenang dan berpikir positif terlebih dahulu. Jika Anda merasa Anda ingin marah atau sedang merasa lelah, maka buatlah diri Anda tenang terlebih dahulu dan tidak ada salahnya untuk menyingkir sesaat. Hindari mencubit atau memukul atau memberinya hukuman fisik, tapi cobalah untuk mengabaikannya. Jika kata-kata Anda tidak mau didengar olehnya, angkat si kecil ke tempat yg lebih aman agar ia tidak membahayakan dirinya sendiri dan orang lain, di kamar misalnya. Dudukkan ia di kursi kecil, katakan padanya, “kakak tenang dulu, nanti baru bilang baik-baik sama mama ya” lalu keluarlah dari kamarnya. Si kecil umumnya akan cenderung lebih tenang ketika ia menyadari bahwa ia tidak dipedulikan. Tapi, bila Anda atau orang-orang di sekitarnya justru melakukan tindakan yg membuatnya “merasa dipeduli” dengan tantrumnya tadi, umumnya dia akan lebih menjadi-jadi, alias semakin cari perhatian. Nah, jika ia sudah tenang, barulah Anda mengajaknya bicara. Kebiasaan ini akan hilang dengan sendirinya seiring dengan bertambahnya usia, jika orangtua mau dan bisa memberikan perhatian untuk membantunya meredam emosinya.

  67. Narra says:

    Salam Kenal Bunda,
    Saya mempunyai ank laki berusia 4th, yg tergolong telat bicara…pas umur’y 3,5th alhmdulillah ank saya sudah ada sdkit perkembangn untuk bs mengucapkn bbrp kosakata tp blm bs mngucapkn mnjadi kalimat. Selain dia telat bicara ank saya jg trmasuk tantrum krn gmpang mrh dan ngamuk2 klau apa yg dia mw tdk di dapat/dikabulkn..dan terkdng kalau lg main pun tiba2 suka mrh2 smbil memukul kepala sendiri…kadang saya suka malu kalau ank saya sudah ngamuk2 dg suara keras dan loncat2 sambil memukul kepala’ya di depan umum (dilibgkungn tetangga)..karna kalau sudah pukul2 kepala yg melihat (tetangga) suka jd kaget melihat’ya krn ngeri ngeliat kpala’ya dipukul2 kencang. Kadang sya serba slh kalau ksh pengarahan atau tanya yg ank saya mw krn dia sndiri pun blm bs bicara jls… Mohon solusi’ya untuk bs mrnghilangkan tantrum’ya yg suka pukul2 kepala dg keras…trima kasih..

  68. rahma* says:

    slam knl bunda,..
    sy mempunyai seorang putri berumur 1,2 th..
    sy binggung bunda apa yg di alami anak sya ini trmasuk kdlm tantrum,tp bkannya tantrum trjadi pda anak usia 2-3 th?..
    ?bgini bunda putri sy sejak umur 8 bln sering menjatuhkan drinya sendiri kebelakang ktika ia tdk dpt meraih bnda yg dia ingnkan.wktu itu dy bru bisa du2k sy kira itu hanya sementara dan akan hilang seiring dy tumbuh.tp bunda mkin kesini gejala yg dia tinjukan mkin mengkhawatirkan dia sering membenturkan kpalanya ketembok,memukul kpalanya sendri,menjenggut rambutnya sendri jika dia di larang sy sdh sering mencoba mengalihkannya ke hal lain tp cra ini jrang brhasil..bunda,pdahal dlm prkembangannya dia tumbuh normal dy anak yg cerdas mempunyai dya ingat yg kuat dan respon yg cepat,bnyk org yg blng klo kemampuannya di atas anak seusianya..
    dia juga sering trbgun ktika malam dan menangis tiba2..mohon pnjelasannya ya bunda,sy tkut ada kjadian yg tdk diingnkn pda anak sy..

    • bunda says:

      Bunda Rahma, tantrum itu bisa terjadi kapan saja, bunda. Hanya saja, cenderung meningkat saat balita berusia 2-4 tahun.
      Dari apa yg saya tangkap dari kisah Anda, putri Anda mengalami tantrum mulanya karena ia merasa gagal. memang, salah satu penyebab bayi/balita tantrum adalah karena rasa frustrasi akibat kegagalan atau ketidakmampuannya terhadap sesuatu. Dan memang seharusnya si kecil mulai dilatih untuk mengontrol emosinya.
      Kedua, untuk tahap usianya yg sekarang, si kecil tantrum karena ia sering menghadapi penolakan atau larangan Anda. misalnya saat ia ingin main, anda menyuruhnya makan. lambat laun bila hal ini sering terjadi, akan ada konflik batin dalam dirinya yg akhirnya meledak menjadi tantrum.
      Selanjutnya, yg perlu dilakukan adalah menghindarkannya dari contoh-contoh pengekspresian emosi yg salah. seorang balita tidak akan tantrum dengan membentur-benturkan kepala ke tembok atau menjambak rambut sendiri bila ia sebelumnya tidak melihat “contoh” yg sama. Bisa jadi pengaruh TV, atau lingkungan sekitar.
      Jika si kecil suka membentur-benturkan kepala, maka usahakan beri lapisan yg tebal dan lembut pada dinding atau lantai agar kepalanya tidak mengalami benturan yg keras. pindahkan barang apapun yg bisa dibanting atau melukainya.
      Karena itu, saya sarankan untuk mengidentifikasi terlebih dahulu penyebab si kecil menjadi tantrum. Apakah ia frustrasi karena terlalu banyak dilarang, ataukah karena ia kecapekan, ataukah karena ia lapar, dsb. Menemukan penyebabnya, akan mempermudah Anda dalam menanganinya.

  69. Alia Nurul says:

    Anak saya termasuk tipe anak Tantrum..
    Cara mengatasinya klo dya sdh dalam kondisi seperti itu, sya akan ajukan pilihan kepada dya..
    klo dya msh ngamuk trs mka akan sperti ini atw dya plih diam maka akan sperti ini..
    dari pilihan tersebut mka anak diajak utk belajar memilih n skaligus berfikir dampak mana yg lbh bnyak menumbulkan kebaikan..
    terkadang anak Tantrum itu bs membwt malu qt disaat qt berada diluar rumah, tp qt hrus ttp bersbar menghdapinya smbl memberikan pilihan2 tsb..

  70. Laura says:

    putri saya umur 14 bulan, saya sangat khawatir dengan prilakunya yang suka membanting kepala ke belakang secara tiba2. Ketika usia 5 bulan dia sdh suka menjatuhkan diri ke belakang ketika di dudukan.

    Sampai skr sih tdk ada benturan yang fatal karena saya selalu sedia bantal dimana dia duduk. Tp sejak kecil perkembangannya terlambat, duduk sendiri di usia 8 bln, jarang bersuara, kdg suka teriak tiba2. Jarang tersenyum, sering rewel, dan blom mengoceh. Klo dipanggil suka cuek dan tidak mau meniru. Saat ini dia sudah bs berdiri dgn bantuan dan jalan masih dititah. Kira2 anak sy kenapa ya bunda?? Apakah anak saya autis??
    Saya bingung soalnya anak saya masih ada kontak mata.

    • bunda says:

      Bunda Laura, diagnosa apakah seorang anak itu autis atau tidak, itu hanya bisa dilakukan oleh ahli. Kadang-kadang, kita melihat ciri-ciri autis pada diri anak kita, padahal sebenarnya bukan. Jika Anda merasa kuatir dan perlu melakukan cek, maka saya menyarankan untuk langsung datang kepada ahlinya.
      Bayi usia 5 bulan, sering kali belum bisa duduk dengan tegak, bunda. putri saya bahkan berdiri dulu baru duduk, lho. karena itu tidak jarang ia jatuh terbanting ke belakang. tapi, bukan karena membanting diri. kelihatannya memang seperti ia membanting dirinya sendiri, tapi sesungguhnya tidak. itu karena tulangnya belum kuat untuk duduk.
      Mengenai masalah keterlambatan, indikator perkembangan anak itu sifatnya sangat subjektif, bunda. kadang-kadang bahkan perkembangan yg satu dengan yg lain tidak bersamaan. misalnya, ia cepat sekali bicara tapi lambat berjalan, atau sebaliknya.
      Banyak balita yg saya temui baru bisa berjalan saat usianya 18 bulan. Bisa jadi karena badannya terlalu gemuk, atau tulangnya belum kuat, atau karena balita tersebut “malas”.
      Begitu juga dengan kemampuan berbicara, ada balita yg 1 tahun sudah bisa mengoceh banyak, suka tertawa dan responsif. Tapi ada juga yg tidak. Tergantung bagaimana kita menstimulasi anak tersebut sebenarnya.
      Jadi, seperti saran saya sebelumnya, jika Anda kuatir, silakan datang ke ahlinya dan konsultasikan segala hal tentang anak Anda. Dan jangan lupa, jangan terlalu sering membanding-bandingkan anak kita dengan anak orang lain. Karena bagaimana anak kita tumbuh dan berkembang, itu semua bergantung pada anak kita dan cara kita sendiri dalam mengasuhnya. Semoga bermanfaat.

  71. merry kurniawan says:

    bunda, kasus saya sama seperti bunda christine, anak saya skrg usia 2 thn 2 bln, kenapa ya dia suka tantrum malam2 lagi tidur tau2 bangun terus nangis lama dan kalo di didiemin malah ngamuk, bentur2in kepala dan banting2 barang? kalo sudah begitu dia tidak mau digendong ataupun ditegor, saya jadi pusing, emang si ga tiap hari jarang2 kdg seminbggu sekali kdg ga sama sekali, solusinya apa ya bun? kadang ga enak sama tetangga

    • bunda says:

      Bunda Merry, kondisi emosional seorang anak semakin meningkat pada usia 2 tahun. Maka, sudah menjadi hal yang umum jika anak usia 2-4 tahun sering sekali mengalami tantrum. Namun, tantrum ini umumnya akan semakin berkurang setelah kontrol fisik dan kemampuan verbalnya meningkat, ditambah dengan penanganan yg tepat dari orangtua.

      Coba identifikasi terlebih dahulu, penyebab putra Anda mengalami tantrum pada saat malam hari. identifikasi tersebut akan lebih mudah karena sesuai dengan kisah Anda, anak Anda tantrum tidak setiap malam. bisa jadi, ia kelelahan, lapar di tengah malam, atau stres karena ada sesuatu hal yg dialaminya di siang hari, dsb. setelah mendapatkan petunjuk akan penyebab tantrumnya, maka penanganannya akan lebih mudah.
      Jika si kecil suka membentur-benturkan kepala, maka usahakan beri lapisan yg tebal dan lembut pada dinding atau lantai agar kepalanya tidak mengalami benturan yg keras. pindahkan barang apapun yg bisa dibanting atau melukainya. peluk si kecil sambil menenangkannya tanpa harus ikut emosi, bisa jadi ia tantrum karena badannya ada yg sakit atau pegal, atau ia sedang merasa khawatir. maka pelukan ibu adalah hal yg paling ia butuhkan. jika ia masih sulit untuk diajak tidur kembali, coba tawarkan untuk membacakan cerita atau mungkin roti/biskuit jika ia merasa lapar.
      Ohya, jangan lupa, untuk usia balita, pola makan itu berpengaruh pada pola tidurnya juga. balita yg pola makannya baik, maka pola tidurnya pun juga akan baik.
      Untuk masalah malu dengan tetangga, saya rasa wajar kok, bunda. namanya juga punya balita. hampir sebagian besar ibu pernah mengalaminya. apalagi bila tantrumnya tidak sering. kalau perlu, mungkin Anda bisa menjelaskan kepada tetangga Anda mengenai kondisi si kecil, sekaligus sharing bila mereka bisa membantu Anda mencari solusi untuk si kecil.
      demikian, semoga bermanfaat ya…

  72. dewi says:

    Anak laki2 umur 3,7 th,,memiliki sifat tantrum & dya jga blm lancar berbicara,hanya sepatah kata saja yg bisa dya ucapka,misalnya dia haus,dya hanya bilang “minum” bukan “ma aku haus,aku ingin minum” selain itu dya juga sering memukuli adiknya,awalnya saya pikir dya hanya cemburu kpd adiknya krn jarak mereka ber2 hanya 1,5 th. Tp semakin lama,kenakalannya srmakin menjadi,saya kasihan melihat adiknya yg terus d pukuli wlw adiknya sedang diam,saya takut akan mengganggu psikologi si adik. Dan si kaka jga suka marah & mengamuk tanpa sebab,tdk ingin berbagi dgn adik & temnnya,suka sekali merusak barang,melempar mainan,kadang suka menimpuk temannya. Saya mohon solusinya bu,sptnya saya sdh mulai ingin menyerah,dr mulai cara halus sampai kdg saya memukul & mengurungnya sdh tdk mempan lg untuknya. Apa mungkin ketrlambatannya bicara jga mempengaruhi emosionalnya,,??tas solusinya saya ucapkan terimakasih

    • bunda says:

      Bunda Dewi, jangan pernah menyerah untuk selalu belajar menjadi ibu yg baik. Setiap anak adalah anugrah sekaligus ujian, dan Allah selalu menguji hambaNya sesuai dengan kemampuan hambaNya. Setuju?
      Untuk permasalahan yg saat ini Anda hadapi, memang salah satu penyebab anak menjadi mudah tantrum adalah karena faktor frustrasi atas keterbatasan diri. Anak-anak dengan keterbatasan kemampuan secara fisik atau secara intelektual semua memiliki kecenderungan untuk lebih emosional. Begitu juga dengan si sulung, bisa jadi memang keterlambatannya dalam masalah verbal bisa memicu rasa frustrasi. Ia ingin mengungkapkan, tapi tidak bisa. Sehingga akhirnya yg muncul adalah gerakan tangan yg lebih cepat (memukul, menonjok, merebut, dsb) yg sebenarnya itu sebagai ganti atas peringatan “ini punyaku, jangan diambil” yg tidak mampu ia ungkapkan secara lisan. Masalah jarak kelahiran sebenarnya tidak begitu pengaruh ya. Banyak juga kok anak-anak yg selisih kelahirannya dekat dengan adiknya, tapi mereka justru bisa kompak dan saling menyayangi.

      Tapi, tidak menutup kemungkinan bahwa faktor kecemburuan membuatnya menjadi lebih mudah emosi. Misalnya, ia sering melihat adiknya dilimpahi kasih sayang yg lebih ketimbang dirinya, tentu saja ia marah. Dan akhirnya, ia memukul. Kalau sudah demikian, berarti memang si sulung sedang mencoba untuk menarik perhatian Anda.
      Atau terkadang anak suka memukul/menggigit/mencubit karena gemas, tapi tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata saja, akhirnya tangannya “maju” lagi.
      Saran saya, Anda bisa konsultasi dengan psikolog anak di kota Anda untuk meminta saran sekaligus untuk mengecek apabila ada indikasi si sulung membutuhkan penanganan khusus. semoga bermanfaat.

  73. merry kurniawan says:

    bunda, comment saya kog ga dijawab ya? saya kan juga mau tau solusi apa yang bisa saya ambil ataupun apa yang terjadi mengenai anak saya, trims

Comments are closed.