HOMESCHOOLING KELUARGA ALIFA (PERKENALAN)

Sebenarnya sudah banyak teman yang minta dishare tentang kegiatan homeschooling Alifa. Tapi, baru kali ini kesampaian bikin postingannya. Maaf bagi yang sudah menunggu lama ya…

Kegiatan homeschooling itu dimulai sejak anak lahir, itu yang saya fahami. Jadi, Alhamdulillah…sampai hari ini homeschooling di keluarga kami sudah berjalan 3 tahun 7 bulan. Masih muda banget. Suka dukanya banyak, dilemmanya banyak, bingungnya banyak, tapi senangnya banyaaaaak sekali. Hehehe.

Kenapa kami memilih homeschooling? 

Pertanyaan ini sudah berkali-kali ditanyakan oleh teman-teman dan kenalan kami. Apalagi, melihat Alifa yang cerdas dan suka bergaul, banyak yang menyayangkan bila Alifa hanya sekolah di rumah. Termasuk pertanyaan-pertanyaan seperti ini :

Kenapa sih harus homeschooling? Kenapa mau repot? Kamu nggak kasihan anakmu kalau kuper? Masa’ anak umur segitu cuma kamu kurung di rumah sih? Gimana sosialisasinya nanti? Memangnya kamu nggak punya uang untuk nyekolahin anakmu? Kurikulumnya gimana? Dan siapa nanti yang ngajar?

kegiatan-HS-alifa

Untuk saat ini, homeschooling adalah pilihan terbaik untuk Alifa dari kami, orangtuanya. Pertama, pendidikan putri kami adalah tugas dan tanggungjawab kami sebagai orangtua. Maka selama kami mampu, kamilah yang akan memegang kendali tersebut, kami juga yang harus memantau, dan menjalaninya bersama-sama dengan putri kami. Kedua, kami ingin putri kami dapat menikmati proses belajarnya dengan menyenangkan, tanpa tertekan, tanpa dibanding-bandingkan, dan ia dapat mengeksplorasi keingintahuannya di bawah pengasuhan kami. Ketiga, karena homeschooling itu seru! Kami bebas menentukan apa yang ingin kami pelajari setiap harinya, kami bisa belajar dimana saja, kapan saja, dan tentang apa saja tanpa batas.

Homeschooling bukan berarti Alifa hanya belajar di rumah saja. Rumah itu hanya awal, namun ruang belajar kami yang sesungguhnya adalah “dunia”. Jadi, jangan dikira saya hanya mengurung Alifa di rumah, tidak boleh keluar rumah, tidak boleh main, tidak boleh bersosialisasi atau yang semisal dengan itu. Tidak, bukan begitu. Justru dengan homeschooling, Alifa lebih bisa bebas kemana saja ia mau. Belajar dengan siapa saja yang ia mau, langsung dari ahlinya kalau perlu. Kami belajar di sawah, di sungai, di bank, di kantor pos, di jalan, di kebun, di swalayan, di peternakan, dan dimana saja yang bisa kami kunjungi.

Alifa juga bisa bersosialisasi kok. Kemampuan bersosialisasi kan bukan hanya anak sekolah di sekolah formal atau sekolah di rumah. Lha itu, banyak juga anak yang sekolah di sekolah formal tapi kuper dan susah bersosialisasi. Faktor pendukungnya kan banyak. Jadi, alasan homeschooling berarti anaknya kuper dan anti sosial itu salah besar eh, SALAH BESAR. Hehehe.

kegiatan alifa

Bahkan jika boleh jujur, ketika bertemu dengan anak lain, Alifa menunjukkan kemampuan sosial yang sangat baik. Ia sering menyapa duluan, mengajak bersalaman, mengajak bermain bersama, menggandeng anak yang lebih kecil, membagi miliknya -sering kali tanpa diminta. Terkadang ia memang memasang tampang jutek dan galak, tapi itu bukan pada anak-anak, melainkan pada orang dewasa. Terutama orang dewasa yang belum ia kenal dan tahu-tahu sudah menowel atau mencubit pipinya yang chubby. Yaaa…harap jangan diartikan ini bukan sikap anti sosial ya!

Alifa juga tetap bisa berkompetisi kok. Ia paling senang dengan perlombaan, terutama lomba berlari, hafalan Al-Qur’an,  dan bercerita. Kami orangtuanya pun mengarahkannya untuk lebih menyukai perlombaan semacam ini daripada lomba fashion atau bernyanyi. Awal tahun lalu, Alifa berhasil juara 1 lomba bercerita kisah Nabi di sebuah TK Islam. Alhamdulillah. Saya bersyukur untuk anak yang begitu luar biasa. Meski tentu saja, putri saya pun juga memiliki kekurangan-kekurangan sama halnya dengan anak-anak lain.

kegiatan-hs-fafa

Kurikulum yang saya pakai mengacu pada kurikulum diknas. Akan tetapi, saya mencoba memodifikasinya sendiri, dengan menyesuaikan dengan materi-materi yang Alifa butuhkan sesuai dengan usia dan kemampuannya. Jadi, meski bersekolah di rumah, kami tidak “buta” kurikulum nasional, in syaa Allah.

Menyekolahkan anak di rumah juga bukan berarti kami tidak punya biaya atau malah pelit dalam mengeluarkan biaya pendidikan anak. Justru ketika kami memutuskan untuk sekolah di rumah, itu tandanya kami siap untuk mengeluarkan biaya yang -biasanya atau bisa jadi- lebih besar daripada ketika ia sekolah formal. Sejauh ini, kami mencoba memberikan fasilitas untuk bermain dan belajar Alifa semampu kami. Karena bagi kami, ini sudah konsekuensi dari homeschooling yang kami pilih.

Bahkan, bila misalnya ada barang yang kami butuhkan namun harganya mahal, kami tidak malu untuk mengatakan pada Alifa bahwa untuk membelinya kami harus menabung dulu. Tujuannya agar Alifa pun tahu bahwa tidak selalu kami punya uang dan tidak selalu keinginannya harus langsung dipenuhi. Harus selalu ada usaha untuk setiap keinginan. Dan Alhamdulillah, Alifa cukup mudah untuk diajak mengerti. Malah tak jarang ia sendiri yang punya inisiatif untuk menabungkan setiap uang temuan di rumah.

Kami juga mengajarkan Alifa untuk bisa memanfaatkan barang-barang bekas yang masih bisa digunakan untuk membuat mainan dan alat peraga belajar. Kami membuat perahu dari botol bekas, parasut dari plastik bekas, truk dan mobil dari kardus bekas, bahkan membuat peraga belajar dari papan dan karton bekas. Tidak harus membeli jika kami bisa membuatnya sendiri.

Sampai saat ini, saya dan suami yang mengajar Alifa di rumah. Homeschooling untuk anak seusia Alifa, belum membutuhkan guru khusus. Apalagi, kami masih merasa mampu mengajarnya sendiri. Kami pun berbagi tugas, agar Alifa pun tak bosan hanya belajar bersama saya terus. Saya mengajar Alifa waktu pagi hingga sore hari. Sedangkan suami saya mengajar malam hari setelah istirahat dari pulang kantor.

Ohya, di rumah kami pun ada klub untuk anak-anak seusia Alifa. Klub ini ada sejak September 2013 lalu. Beberapa teman tertarik dengan proses belajar Alifa yang menyenangkan, dan ingin anak-anaknya juga belajar bersama Alifa untuk persiapan sekolah nantinya. Akhirnya, dengan beberapa pertimbangan, kami pun mendirikan klub ini. Konsep Kids Club ini bukan seperti di sekolah formal. Saya hanya tinggal menyesuaikan dengan belajar Alifa seperti biasanya. Waktu bermain dan belajarnya pun hanya seminggu 3 kali masing-masing 2 jam menyesuaikan dengan waktu luang saya di rumah. Alifa memiliki teman bermain di rumah, saya bisa mengajar lagi tanpa keluar rumah dan tanpa terikat institusi manapun, dan bisa membantu anak lain juga untuk persiapan masuk TK. 

Hmm…apalagi ya? Mungkin itu dulu yah. In syaa Allah akan saya update kan kegiatan-kegiatan homeschooling Alifa lainnya.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *