MEMBANGUN RASA PERCAYA DIRI PADA ANAK

Siapa yang tak senang ketika melihat anak-anak dengan begitu percaya diri maju ke depan podium memperkenalkan dirinya dan menunjukkan bakatnya? Atau melihat si kecil dengan lantang menyapa seseorang yang baru dikenalnya dengan menyebutkan nama dan usianya, tanpa malu-malu apalagi menggigiti kuku? Senang, bangga, pasti ya.

Tapi, setiap anak berbeda. Ada anak yang memang terlahir sebagai anak yang punya kepercayaan diri tinggi, ada yang butuh “pemanasan” terlebih dahulu, dan ada juga anak yang sangat pemalu atau minderan.

Jangan kecewa jika ternyata anak kita pemalu. Tak perlu juga membanding-bandingkannya dengan anak lain, apalagi sampai memaksanya untuk menjadi seperti anak lain hanya karena ia pemalu. Memiliki anak pemalu bukan berarti kita tidak bisa melatih kepercayaan dirinya. Kita bisa, meski memang butuh waktu dan kesabaran dalam menjalani prosesnya.

Mulai sejak dini

Biasanya, kita baru sadar bahwa anak kita pemalu atau minderan setelah anak itu mulai banyak berinteraksi dalam lingkup sosialnya yang pertama, yaitu saat usia preschool. Seringkali, kita menganggap hal biasa atau memaklumi ketika usia batita anak menolak untuk diajak orang lain selain ayah atau ibunya.

Membangun kepercayaan diri anak bisa kita mulai sedini mungkin. Misalnya, sejak bayi kita biasakan anak bereksplorasi. Bebaskan anak untuk memuaskan rasa ingin tahunya tentang sesuatu. Memang perlu pengawasan khusus, mengingat bayi belum bisa membedakan mana yang berbahaya dengan yang tidak. Tapi, disinilah seninya mengasuh anak.

Kita perlu tahu, bahwa anak-anak yang terbebaskan rasa ingin tahunya akan tumbuh menjadi anak yang kreatif. Anak-anak yang kreatif ini biasanya cenderung lebih percaya diri.

Setelah usia anak lebih besar, kita juga bisa memberinya kesempatan untuk melakukan sendiri apa saja yang sudah bisa ia lakukan. Misalnya, memakai sepatu. Biarkan anak memakai sepatunya sendiri, walapun mungkin awalnya sepatunya masih terbolak-balik kanan dan kiri.

Tunjukkan sikap penghargaan

Sama halnya dengan orang dewasa, anak-anak pun juga butuh dihargai. Ketika anak berbicara atau menunjukkan hasil karyanya, sebisa mungkin munculkan pujian untuk menghargainya. Kita tidak melihat hasilnya, tapi melihat bagaimana anak berusaha.

Tahan diri kita untuk berkomentar negatif dari usaha anak kita. Gambarnya kurang bagus, atau hasil mewarnainya masih belepotan sana-sini, atau sepatunya masih terbalik, hargai itu. Alih-ali kita katakan “pakai sepatu kok kebalik terus sih?”, katakanlah “apakah menurutmu sepatu ini sudah terpasang dengan benar?”.

Sering ngobrol dengan anak

Mengobrol dengan anak itu adalah salah satu upaya dalam membangun satu komunikasi efektif dengan anak-anak kita. Jangan remehkan perkara “ngobrol dengan anak” ini, lho. Sebab, hal ini penting untuk melatih keberaniannya mengungkapkan perasaan atau isi hatinya terhadap kita. Komunikasi yang efektif terjalin, maka in syaa Allah kita bisa lebih mudah membentengi anak-anak kita dari pengaruh-pengaruh buruk di luar sana.

Coba bayangkan ketika komunikasi kita dengan anak tidak baik dan tidak efektif. Anak-anak akan merasa tidak dihargai. Ketika anak-anak merasa tidak dihargai, mereka akan punya kecenderungan mencari orang lain yang bisa mendengar dan menghargai mereka di kala remaja. Bahkan bila itu harus mngikuti pengaruh buruk dari temannya. Yang anak butuhkan adalah rasa dihargai dan diakui.

Dorong untuk melakukan hal-hal yang disukainya

Kita perlu mengamati dan mencari tahu hal-hal atau kegiatan apa saja yang anak kita senangi. Setelah itu, kita bisa memberinya full support dalam melakukan hobinya tersebut. Ketika seorang anak menemukan hal-hal yang ia sukai dan ia tahu ia mampu, maka ia akan lebih percaya diri.

Jika perlu, libatkan anak dalam membantu orangtua. Anak-anak biasanya akan dengan tulus bertanya, “mau dibantuin apa, Mi?” atau “Mi, aku bantu apa?”. Kalau mereka memunculkan inisiatif ini sendiri, jangan lewatkan!

Anak-anak yang sadar bahwa ia mampu melakukan suatu hal, in syaa Allah akan lebih percaya diri ketika ia harus berhadapan dengan orang atau lingkungan baru.

Jangan terlalu memaksa

Kita mungkin akan merasa gregetan ketika anak kita sangat pasif dan pemalu ketika bertemu dengan orang atau teman lain. Misalnya, saat pergi TPA, anak kita hanya mau duduk diam mengamati tanpa mengikuti kegiatan yang diajarkan. Sudah mencoba membujuk rayu agar lebih berani, ternyata belum juga berhasil.

Jangan dipaksa. Tapi berikan motivasi terus. Semakin dipaksa, biasanya anak-anak pemalu akan semakin menutup diri. Anak-anak semacam ini butuh waktu yang agak lama untuk menyesuaikan diri, jadi, berikan ia waktu sebanyak-banyaknya sampai ia siap dengan sendirinya.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.