PENGALAMAN TOILET TRAINING FAZA

Toilet training barangkali menjadi momen paling berkesan bagi setiap orang tua dalam masa pengasuhan balitanya. Tidak jarang dijumpai kisah-kisah para ibu yang struggling dengan balitanya pada proses toilet training ini. Pun saya.

Pengalaman toilet training kami bersama Faza merupakan pengalaman dengan kesan yang cukup berat bagi kami. Jauh lebih berat daripada ketika bersama Fafa, sulung kami. Tak hanya energi, tapi juga emosi yang teraduk-aduk tak keruan, dan begitu sulitnya memahamkan serta melatih Faza untuk mau buang air di kamar mandi.

Padahal, pengalaman bersama Fafa dulu, saya hanya membutuhkan waktu kurang dari dua minggu saja untuk membuat Fafa mau bilang saat hendak pipis atau pup, serta berhasil di kamar mandi. Seminggu pertama, proses melatihnya setiap berapa jam sekali untuk pipis di kamar mandi dan sounding untuk pup di toilet. Penggunaan pampers hanya malam hari. Itupun hanya untuk berjaga-jaga, karena setidaknya sekali di tengah malam saya menggendongnya dan memintanya untuk pipis di kamar mandi, dan setelahnya Fafa bisa melanjutkan tidurnya lagi sampai subuh tiba.

Terberat pada masa itu adalah ketika beberapa kali Fafa tidak bilang jika ingin pipis, dan entah kenapa, Fafa sangat suka pipis di atas bantal saya. Tapi, alhamdulillah, hanya sebentar saja masa berat ini dilalui. Pekan kedua berjalan dengan mulus, dan setelahnya pampers benar-benar dilepas dan Fafa tidak mengompol lagi. Kalau dihitung-hitung, sampai usia Fafa sekarang, hanya kurang dari 5 kali Fafa mengompol. Alhamdulillah.

Maka ketika Faza memulai toilet trainingnya, perbedaan itu terlihat sekali. Butuh waktu yang lebih lama untuk membuat Faza mau bilang kalau ia ingin pipis. Ada lebih dari dua bulan untuk membuat Faza mau bilang dan pipis di kamar mandi. Dan pada prosesnya, Faza bahkan menolak untuk pup di kamar mandi. Tidak mau bilang dan tidak mau pup di kamar mandi sama sekali. Bahkan meski kami sudah melihat Faza ingin pup, Faza lebih rela menahannya daripada jika harus pup di kamar mandi. Hiks.

Kami mencari solusi. Oke, jika dia memang belum ingin ke toilet, mungkin dia belum nyaman. Kami coba membelikan toilet duduk anak yang bisa digunakan di mana saja. Tak apalah bau sedikit dan repot sedikit, pikir kami. Yang penting Faza mau latihan dulu.

Maka ketika toilet duduk anak itu tiba, kami pun mengajak Faza untuk belajar menggunakannya. Tapi…apa yang terjadi? Faza justru menjadi HISTERIS. Kami kaget sekali ketika pertama kali kami memintanya duduk di atas toilet tersebut, Faza justru meronta-ronta, kabur, sambil menangis keras-keras. Bahkan celana pun masih belum dicopot, belum betulan diminta pup di situ. Baru latihan duduk untuk menggunakannya. Selama setengah jam kami meminta Faza untuk menduduki toilet duduk anak itu, dan selama itu Faza menangis histeris.

Saya langsung frustrasi melihatnya. Dan semakin frustrasi ketika keesokan hari dan selanjutnya, toilet duduk anak itu nyaris tidak terpakai sama sekali. Faza benar-benar menolak. Aaaarrrggghhh…

Baru setelah usaha berminggu-minggu, Faza mau menggunakan toilet duduk itu. Dan hanya untuk pipis. Faza masih belum mau menggunakannya untuk pup.

Lucunya…Faza justru lebih senang pup di kebun kecil kami. Awalnya, ia beralasan ingin melihat bunga. Kebetulan saya memang menanam beberapa tanaman bunga di halaman. Dan Faza suka sekali melihat dan menyentuh bunga-bunga itu. Tapi lama sekali Faza tidak kunjung kembali. Saat saya memanggilnya, Faza terlihat berjongkok di dekat pot-pot tanaman itu, sambil dengan malu-malu mengatakan bahwa ia telah menyelesaikan hajatnya. Ya Salaaaam

Dan selama lebih dari 6 bulan kami struggling menghadapi hari-hari seperti ini. Pada akhirnya, saya menyerah setelah berbagai usaha yang kami lakukan tidak berhasil. Saya membiarkannya nyaman dengan caranya terlebih dahulu. Hanya doa. Semoga hari-hari ini segera usai.

Ketika kemudian ayahnya memutuskan Faza untuk masuk ke Playgroup, saya pun berjuang lebih keras lagi. Minimal, sebelum Faza masuk sekolah, Faza sudah mau pup di kamar mandi. Dan alhamdulillah, atas izin Allah, akhirnya kami berhasil memahamkan Faza untuk mau ke toilet. Kami menemukan beberapa buku tentang kemandirian balita yang salah satunya mengajarkan ke toilet sendiri. Dan rupanya, Faza sangat tertarik dengan buku tersebut. Meskipun hingga saat ini, Faza masih menolak untuk jongkok saat pup, dan memilih berdiri. Tak apalah. Yang terpenting sudah mau dulu. Semoga seiring berjalannya waktu, Faza semakin membaik. Amin.

Semoga para ibu lainnya yang sedang menjalani proses toilet training ini selalu diberikan kesabaran dan juga kemudahan, ya? Jangan menyerah dengan satu teori. Teori satu gagal, coba yang lain, sampai benar-benar menemukan cara yang paling ampuh untuk putra-putrinya di rumah.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.