TANTANGAN ORANG TUA DALAM PEMBELAJARAN ONLINE DI TENGAH PANDEMI COVID-19

Tidak terasa, sudah lebih dari 2 bulan saya dan suami mendampingi anak-anak menjalani pembelajaran jarak jauh atau pembelajaran online atau school from home (SFH). Anak-anak mulai kami rumahkan menjelang pertengahan Maret lalu. Sedikit lebih awal dari keputusan sekolah, karena saat itu saya jatuh sakit secara mendadak dan sempat was-was jika gejalanya merupakan gejala Covid-19. Meskipun alhamdulillah, bukan.

Apa saja tantangan yang saya rasakan? Tidak banyak sebenarnya. Tantangan terbesar saya masih soal kesabaran.

Semangat meng-homeschooling-kan anak masih memiliki banyak stok di dalam diri saya. Suami saya juga bilang, SFH ini jadi ajang pemanasan dan pembuktian saya, jika nantinya kami benar-benar memutuskan untuk kembali menyekolahkan anak di rumah. Apakah saya sanggup untuk kembali mendidik anak-anak sendiri di rumah, sementara saya juga memiliki kesibukan lain yang juga tidak kalah penting.

Untuk ide dan materi, karena ini judulnya SFH, jadi materi pembelajaran tentu saja mengikuti sekolah dan gurunya anak-anak. Kami hanya tinggal menyiapkan bahan dan perlengkapan pembelajaran serta mendampingi mereka selama proses belajar ini.

Dua pekan pertama adalah yang terberat bagi saya. Selama kurang lebih 10 hari saya sakit, sehingga tidak bisa banyak mengambil peran dalam mendampingi anak-anak. Kondisi rumah cukup kacau dan banyak tugas anak-anak yang terbengkalai ketika itu. Meski setiap kali ditanya, Fafa selalu menjawab, “sudah dikerjakan” atau “sudah selesai”, dan suami juga mengatakan sudah mendampinginya belajar. Tapi saya tahu pasti, anak-anak jika belajar dengan ayahnya memiliki banyak kesempatan untuk menunda, melobi, atau minta keringanan. Mendampingi belajar versi suami dengan versi saya juga jelas berbeda (suami cenderung santai sementara saya perfeksionis). Bisa ditebak, banyak tugas yang tidak terselesaikan dan belum terkoreksi.

Maka ketika saya sudah mulai sehat dan bisa kembali bertugas di rumah, lalu menemukan “kekacauan” tersebut, saya menjadi kehilangan kesabaran. Meskipun saya tahu, saya tidak bisa sepenuhnya menyalahkan suami, karena selain menggantikan peran saya membersamai anak-anak, beliau juga harus bekerja dari rumah dan dikejar deadline proyek kantornya. Tapi, tetap saja, ada perasaan kecewa karena gagal bekerja sama. Walhasil, saya banyak mengomel dan menangis, dan akhirnya meminta Fafa untuk mengulang tugasnya dari awal lagi. Respon Fafa? Ya, sama, menangis juga.

Saya katakan pada Fafa, jika dari awal Fafa mengikuti arahan Bunda untuk disiplin, tidak akan ada kejadian harus mengerjakan ulang seperti ini. Terlebih tugasnya cukup banyak. Sambil mimbik-mimbik, di bawah pengawasan saya yang masih dalam “mode garang”, akhirnya tugas-tugas tersebut bisa dikirimkan tepat pada waktunya. Alhamdulillah.

Belajar dari pengalaman ini, saya sadar bahwa ternyata menumbuhkan kesadaran dan tanggung jawab anak itu tidak mudah. Bahkan untuk usia Fafa yang hampir 10 tahun, saya masih tertatih membimbingnya. Bisa jadi, karena personality kami juga berbeda. Fafa memiliki sifat yang hampir sama dengan ayahnya: santai. Maka meminta pengertian suami agar mau bekerja sama dan menyelaraskan pola asuh kembali saya lakukan, lagi, dan lagi. Kami harus berjalan seirama jika menginginkan kebaikan untuk anak-anak. Alhamdulillaah, suami saya tipe orang yang mau menerima masukan dan mau diingatkan.

Setelah “otoritas” kembali saya ambil alih, SFH pun dimulai dengan lebih disiplin. Kami membuat kesepakatan: jika tugas belum selesai, maka belum boleh bermain, membaca buku (novel ataupun komik), dan menonton. Tidak ada melobi atau minta keringanan. Tugas dinyatakan selesai jika sudah dikoreksi dan dikirimkan ke guru. Untuk Faza, karena tugasnya banyak melibatkan membuat kerajinan tangan, maka saya berbagi tugas dengan ayahnya. Sebelum suami berangkat ke kantor, tugas kerajinan Faza harus sudah selesai. Sehingga saya tinggal mendampingi untuk hafalan dan tugas lainnya dan mengirimkannya kepada guru. Perlahan, kondisi SFH di rumah kami pun mulai membaik.

Seminggu berdisiplin, anak-anak mulai menemukan pola. Dan mereka merasa senang dengan cara ini. Kuncinya: tidak bangun kesiangan, memulai sesuai jadwal, dan tidak menunda pekerjaan. Asal tiga kunci ini dilakukan, maksimal jam 10 pagi keduanya sudah terbebas dari tugas dan bisa bermain sepuasnya.

Bagaimana dengan kebosanan? Pasti. Lebih dari sebulan dikurung di rumah, mentok hanya main di halaman saja, tentu membuat anak-anak sangat bosan. Saya biasanya menyediakan beberapa kegiatan seru-seruan untuk mereka lakukan setelah terbebas dari tugas. Entah itu lego, peralatan melukis, kegiatan bercocoktanam, bermain sensori, atau permainan lainnya. Tapi, terkadang itu tidak berjalan dengan baik.

Meyakinkan anak-anak bahwa kondisi di luar tidak kondusif untuk kembali sekolah itu juga cukup berat, terutama kepada si bungsu. Faza yang tipe anaknya harus detail dan diyakinkan dengan alasan paling logis menurutnya, cukup menguras kesabaran kalau sudah dalam mode mogok alias tidak mood. Dan tidak mood-nya Faza ini bisa berimbas ke kakaknya: mengganggu kakaknya ketika mengerjakan tugas, sampai si kakak berteriak kesal dan marah akibat ulah adiknya. Padahal, Fafa ini tipe anak yang santai, tapi kalau sudah marah, itu artinya memang si adik sudah keterlaluan mengganggunya. Hiks.

Kebosanan juga melanda ketika anak-anak menjumpai belajar yang “itu lagi-itu lagi”. SFH yang kami jalani kebanyakan hanya berupa mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Nyaris tanpa ada materi yang diberikan langsung oleh guru, baik itu melalui audio maupun video. Kebanyakan guru hanya mengirimkan list materi yang harus dipelajari di rumah, deretan soal-soal dan halaman berapa saja yang harus dikerjakan dari buku dan LKS, dan nyaris tanpa feedback. Padahal, saya yakin 1000%, anak-anak merindukan guru-gurunya. Rindu melihat gurunya mengajar. Rindu mendengar suara gurunya. Padahal, ada banyak cara untuk menjadikan pembelajaran online ini menjadi lebih asyik dan menyenangkan bagi anak-anak. Gemes.

Seorang teman sesama wali murid mengeluhkan SPP yang tetap harus dibayar, tetapi tidak diimbangi dengan kemampuan guru dan sekolah dalam mengemas pembelajaran online ini. Saya tidak akan mengeluhkan hal yang sama, tapi, saya sepakat di poin selanjutnya.

Bahkan meski harus membayar full SPP pun, saya pikir tidak masalah bagi sebagian besar orang tua. Asalkan, harus sepadan dan diimbangi dengan kemampuan sekolah dan guru dalam mengemas pembelajaran online ini.

Jangan sampai, guru hanya “seenaknya” memberikan tugas, tugas, dan tugas terus untuk siswa, tapi tidak memberikan materi sama sekali. Tahu-tahu hanya meminta siswa membaca materi di buku ini halaman sekian sampai sekian, lalu kerjakan soalnya di halaman sekian dan sekian close book (tidak boleh melihat di bagian materi), kumpulkan maksimal jam sekian. Lalu tahu-tahu ulangan/ujian, yang tidak jarang diumumkan secara mendadak. Wait, kenapa jadi lebih sulit daripada tugasnya mahasiswa, sih? Ini anak SD, lho.

Anak-anak diberi tugas “membaca”. Yang mana artinya adalah memahami bahkan menghafal isi materi tersebut. Pastinya orang tua bertugas mengajari, memastikan anak-anaknya memahami materi sebelum mengerjakan latihan soalnya. Sementara tidak semua orang tua menguasai materi pelajaran tersebut. Parahnya lagi, ada pula guru yang nyaris tidak memberikan tugas dan materi apapun. Nah!

Intinya, belajar sabar. Lagi, dan lagi. Agar bisa masuk ke dalam golongan orang-orang yang sabarnya bukan sekedar nama di KTP.

Semoga Allah segera mengangkat wabah ini dari negeri-negeri kaum muslimin dan kita dapat beraktivitas normal kembali. Dan semoga saya punya kesempatan untuk menuliskan sudut pandang saya terkait tantangan guru dan sekolah dalam pembelajaran online di masa pandemi ini.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.