TRAVELLING : PENGALAMAN UMRAH BERSAMA NUR RAMADHAN (PART 2)

Pembekalan/Bimbingan Manasik

Sebelum keberangkatan, para calon jama’ah umrah mendapatkan dua kali pembekalan dari pihak travel yang kami pilih, yaitu Nur Ramadhan. Pembekalan ini bertempat di Bale Ayu Resto yang lokasinya tidak jauh dari rumah kami.

Pembekalan pertama sekitar dua minggu sebelum keberangkatan. Pada sesi ini, kami mendapatkan perlengkapan umrah seperti travel bag, mukena untuk jama’ah wanita, kain ihram 1 stel untuk jama’ah pria, syal, pin, buku manasik, buku do’a, tas sandal, dan tas paspor.

Untuk kain seragam diberikan ketika kami pertama kali melakukan pembayaran biaya umrah. Kemudian ID card dan buku perjalanan diberikan ketika di bandara sesaat sebelum berangkat.

Pada pembekalan pertama, kami digambarkan kondisi di Haramain. Dibekali petunjuk-petunjuk penting mengenai apa yang harus dibawa saat disana.

Sedangkan pada pembekalan kedua, sekitar 3 hari sebelum keberangkatan, mengenai teknis pelaksanaan umrahnya. Pembekalan kedua ini langsung diberikan oleh pembimbing umrah kami yang juga guru kami, yaitu Ustadz Aris Munandar hafizhahullah.

Pada pembekalan kedua ini, jama’ah menyerahkan travel bag yang sudah diisi dengan perbekalan dan perlengkapan umrah untuk dimasukkan ke bagasi. Jadi, pada saat berangkat, kami tidak membawa barang banyak lagi, karena sudah diurus oleh pihak travel.

Concordia Lounge

Keberangkatan

Perjalanan kami dimulai dari Jogja. Sebelum Subuh, kami meninggalkan rumah untuk pergi ke Bandara Adi Sucipto. Kami menunggu pesawat Garuda yang akan membawa kami ke Jakarta di Concordia Lounge.

Di ruang tunggu khusus ini kami menikmati berbagai menu sarapan yang disediakan. Menunya variatif. Namun sayang, saya tidak sempat mencicip kecuali hanya kue kecil dan teh saja. Terlalu bersemangat untuk pergi membuat saya tidak terlalu ingin makan. Sebaliknya, suami saya yang asalnya makan selalu sedikit, justru banyak makan dalam perjalanan ini.

Dan setibanya di Bandara Soekarno Hatta, kami juga menunggu di Saphire Lounge. Disinilah saya baru mulai lapar dan mencoba menikmati sajian menunya.

Setelah melalui proses pemeriksaan di bagian imigrasi yang ternyata agak cukup ribet, termasuk di antaranya air minum yang tidak boleh masuk, akhirnya kami bisa masuk ke pesawat Saudia Airlines SV 825. Dan karena kami mendapatkan seat di zona 4 (dekat dengan pintu masuk), kami bisa sedikit bersantai dan masuk agak belakangan.

Saudia Airlines SV 825

Perjalanan Dengan Saudia Airlines

Saudia Airlines yang kami tumpangi ternyata pesawat yang cukup besar. Dengan posisi seat 3-4-3. Saya dan suami mendapatkan seat di tengah, berdampingan dengan teman satu rombongan kami dari Balikpapan, yaitu Mbak Iim dan Mas Budi. I miss her so much. Semoga bisa bertemu lagi di lain kesempatan.

Pramugari dari Jakarta menuju Madinah ternyata orang Indonesia. Sehingga mudah bagi jama’ah yang tidak bisa berbahasa Inggris atau Arab untuk berkomunikasi dengan pramugari ketika membutuhkan bantuan.

ruang shalat di pesawat Saudia

Hal paling istimewa dari pesawat Saudia ini adalah terdapat ruang khusus untuk shalat. Dengan hijab. Jadi, kami tetap bisa shalat dengan posisi sempurna. Dan bagi saya khususnya, bisa lebih aman dari pandangan laki-laki asing.

Untuk berwudhu, ternyata tidak seperti bayangan sebelumnya, yang akan sangat susah air. Di pesawat, kita bisa berwudhu di toiletnya kok. Sempat suami saya wudhu dengan air di botol spray yang kami bawa. Ternyata, Ustadz yang duduk tidak jauh dari kami melihat dan mengajak suami wudhu secara sempurna di toilet.

Perjalanan kurang lebih 10 jam di dalam pesawat. Kami mendapatkan 2 kali makan dan minum yang menunya lumayan. Porsinya besar, lengkap dengan tambahan roti, selai, mentega, cake, dan juga salad. Rasanya juga not bad. Suami saya yang sudah makan 2 kali di bandara juga ternyata tetap kuat makan lho.

Kami juga bisa mendengarkan dan menonton berbagai video yang disediakan di masing-masing seat. Jadi selama perjalanan yang cukup panjang itu, kita bisa untuk tidak melulu tidur dan makan saja.

Landing Di Madinah

Akhirnya, pesawat kami pun landing juga. Di Madinah Al Munawwarah, Kota Nabi! Maa syaa Allah.

Bandara Prince Mohammad

Hari masih sore ketika kami mendarat. Dan langsung menuju konter imigrasi. Dan disinilah…ujian saya dimulai.

Dari sekian banyak konter, ternyata ada konter khusus dengan petugas wanita. Ada satu di luar dan satu di dalam ruangan. Maka menujulah saya ke konter khusus wanita yang terdekat. Lebih nyaman ya untuk yang bercadar.

Qadarullah, terjadi sesuatu sehingga saya harus menunggu dan bolak-balik ke dua konter tadi. Salah seorang petugas bahkan harus meninggalkan konternya dan pergi mengejar seseorang. Saya tidak paham apa masalah mereka. Sekilas yang saya tangkap dari pembicaraan petugas tersebut dengan temannya adalah sesuatu yang tidak adil bagi mereka. Entah apa.

Ada rasa ingin menangis, karena bolak-balik dilempar kesana kemari sementara yang belakangan datang justru bisa mendapatkan pelayanan lebih dulu. Saya sempat protes, apalagi ketika saya melihat saya adalah satu-satunya tersisa dan belum selesai. Tentunya, merasa tidak enak pada suami dan Ustadz yang menunggu. Alhamdulillah, keduanya bersabar menunggu dan menenangkan saya bahwa tidak apa-apa.

Terkadang, mau tidak mau kita akan membandingkan kualitas kinerja. Dan dengan sangat terpaksa, saya mengatakan bahwa kualitas kinerja di negara saya sendiri masih lebih baik. Meski kembali kepada masing-masing person tentunya ya.

Hotel Al Haram

Dari Bandara Prince Mohammad kami naik bus Dallah yang cukup nyaman menuju hotel. Selama 3 hari di Madinah, kami menginap di Hotel Al Haram. Dengan jarak kurang lebih 50 meter dari Masjid Nabawi.

Tepat setelah adzan Isya’ kami sampai di hotel. Suami bergegas menjalankan shalat pertamanya di Masjid Nabawi, sementara saya yang tidak terburu, harus shalat di hotel.

Kami mengambil paket double. Dengan kamar yang cukup luas, dan kamar mandi yang nyaman plus bath up.

Kota Madinah cukup dingin kala itu. Dingin dan kering. Saya tidak perlu menggunakan jasa binatu, pakaian saya kering hanya dengan menjemurnya di kamar mandi hotel.

Kami mendapatkan 3 kali makan di hotel. Dengan menu yang cukup aman untuk lidah Indonesia. Kebanyakan menu daging. Disinilah saya merindukan bakwan dan cabe. Duh.

Masjid Nabawi dan Shalat di Raudhah

Tidak banyak kata yang bisa saya ungkapkan ketika memasuki Masjid Nabawi pertama kali. Hanya ada syukur, syukur, syukur, dan rasa haru yang menyeruak. Adakah Muslim yang tidak bermimpi untuk datang kemari? Sungguh merugi.

Di tempat inilah, shalat kita bernilai 1000 kali lebih baik dibandingkan shalat di masjid lain kecuali Masjidil Haram.

Di tempat inilah, terdapat sebuah tempat yang merupakan taman-taman surga, yang kita dianjurkan untuk beribadah di sana.

Jika ingin mendapatkan tempat yang lapang, datanglah lebih awal sebelum waktu shalat. Kita masih bisa bebas memilih tempat yang terbaik. Tanpa harus diminta geser oleh petugas atau dilompati seenaknya oleh jama’ah yang baru datang.

Datang awal, dan pulanglah akhir. Karena ketika shalat berakhir, orang berbondong-bondong keluar. Penuh sesak. Diperparah dengan yang selfie atau bahkan live instagram.

Jangan lupa untuk menikmati air zamzam yang telah disediakan di jerigen-jerigen besar yang berderet sangat banyak.

Saya berkesempatan mengunjungi Raudhah di siang hari. Bersama dengan jama’ah wanita, kami dipandu oleh petugas khusus yang disediakan dari Nur Ramadhan.

Qadarullah, kondisi di bagian wanita di Raudhah sangat kacau. Saling berdesakan, saling sikut, berteriak, bercampur antara yang berteriak karena berdesakan dengan mereka yang ngalap berkah.

Ternyata…bahkan petugas pun tidak bisa menghentikan banyaknya tindak kesyirikan yang terjadi disana. Bahkan ngalap berkah pun bisa dengan tali pembatas hijab yang terpasang di tiang masjid! Subhaanallaah…

Bersambung in syaa Allah

Foto : dari suami ^_^

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.