RESUME KULWAP : Q&A MENGENALKAN EMOSI PADA ANAK (PART 4)

1.Pertanyaan : Mohon bantuan solusinya, bagaimana cara menasehati anak umur 2 tahun yang sudah kecanduan gadget ya? Dia selalu marah-marah, guling-guling padahal saya sedang melatih sedikit-sedikit untuk menjauhi dari gadget.

Jawaban : Kalau sudah kecanduan berarti memang harus distop Bunda. Tidak diberikan sama sekali, termasuk triggernya. Kalau Bunda memang benar-benar ingin membantu anak lepas dari kecanduan berarti memang harus bersedia mengorbankan waktu, materi, tenaga, untuk mengatasi ini.

Perbanyak aktivitas motorik dan sosialisasi anak, persering ajak anak keluar rumah, jangan biarkan anak tidak melakukan apa-apa, beri anak kegiatan produktif. Mungkn 1 pekan – 4 bulan emosi anak akan sangat meledak memang butuh kesabaran lebih untuk mengatasi hal ini.

Oleh karena itu sebaiknya memang tidak dimulai. Untuk anak di bawah 2 tahun, sebisa mungkin memang tidak diperkenalkan gadget sama sekali. Maksimal mungkin 30 menit. tapi dengan kompensasi anak harus beraktivitas outdoor, motorik, sosialisasi, dll dengan  waktu yang lebih lama dari durasi gadgetannya.

2. Pertanyaan : Remaja perempuan usia 16 tahun. Orangtua bercerai karena ayah KDRT terhadap ibunya. Anak tumbuh dengan didikan keras, Ayah jika marah selalu di depan anak-anaknya : main tendang, lempar dll. Sehingga anaknya semua sama, dan ibu selalu menjadi korban. Pasca cerai 5 anak semua ikut ayah, namun jika ayah marah sama anak-anak, anak-anak dikembalikan kepada ibunya. Nah, permasalahan semakin runyam ketika ibu hendak menikah lagi, ternyata remaja ini juga menyukai/jatuh cinta pada calon suami ibunya. Anak ini mengancam akan bunuh diri jika ibunya tetap menikah dengan laki-laki tersebut, dan karena laki-laki tersebut tidak mau menikahi si remaja ini (karena calon suami ibunya menganggap anak ini juga anaknya). Setiap kali pulang ke rumah ibunya, anak perempuan ini selalu minta bertemu dengan calon suami ibunya, yang jika tidak dituruti dia akan mengamuk dan membanting segala perabot rumah yang ada. Mohon solusinya untuk penanganan emosi cinta remaja ini.

Jawaban : Anak usia 16 tahun secara emosi memang masih labil, termasuk dalam hal hubungan romantis.

Terlalu sering terpapar kekerasan dari ayah bisa jadi membuat anak terus mencari sosok ayah sesuai dengan yang ia idamkan. Dan dalam kasus ini, ia menemukan sosok tersebut pada calon suami ibunya.

Saya sendiri pastinya tidak bisa langsung memberikan solusi.

Yang bisa saya sarankan adalah memggali kembali pikiran, perasaan, harapan, anak remaja ini terhadap ibunya, ayahnya, juga calon suami ibunya. Apa yang membuat ia tertarik. Apakah memang ia sudah siap menikah, apa pendapatnya tentang pernikahan, bagaimana hubungan antara suami istri dsb.

Terkait mengamuk dan membanting perabot, jangan dibiarkan terjadi di rumah ibunya. Harus ada yang berani melarang.

BTW, untuk ibunya sendiri jika ingin menikah lagi, diharapkan mengenali dirinya sendiri agar tidak lagi terjerat dalam lingkar KDRT. Karena banyak kasus dimana seorang perempuan yang diKDRT kemudian bercerai dan menikah lagi, meskipun sudah beberapa kali menikah, ternyata pernikahannya lagi-lagi berujung pada KDRT. Walau pastinya tidak semua orang mengalami hal tersebut. Namun setidaknya, ibu tersebut perlu belajar punya konsep diri positif yang tidak mengizinkan siapapun untuk menyakitinya seenaknya, termasuk suami sendiri, juga anak-anak. Dan jangan pernah melabel diri sebagai korban KDRT. Cukup sebagai orang yang pernah mendapat pengalaman KDRT.

Untuk anak, karena ada ancaman hingga ingin bunuh diri (walau biasanya hanya ancaman, cenderung tidak berani dilakukan, wallohu a’lam) jika keluarga merasa sulit mengendalikan perilakunya, silakan hubungi ahli terdekat untuk menanganinya. Semoga Allah mudahkan.

Tanya balik : Mba Innu, ada pertanyaan nih mengenai emosi remaja semacam ini. Kira-kira bagaimana menyikapinya ya? Dan bagaimana kita sebagai orangtua jika misalnya remaja di rentang usia ini sudah melihat hal-hal yang tidak sepantasnya (pornografi)?

Jawaban : Jika memang sudah melihat, ajak diskusi. Apa perasaannya? Apa yang dipikirkan? Apakah itu baik atau tidak? Pelan-pelan beri tahu dampak negatif kalau pornografi bisa menyebabkan kecanduan, berbahaya untuk otak, bisa merusak yang membuat otak tidak bisa bekerja dengan baik. Sampaikan dengan tenang perlahan, jangan langsung marah/menyalahkan anak. Berikan kepercayaan kalau Ayah Bunda percaya anak bisa menjaga diri. Maafin Ayah Bunda ngga bisa selalu menjaga dan melihatmu, tapi Allah Yang Maha Melihat akan tahu apa yang kita semua lakukan dimanapun kita bersembunyi. Ayah Bunda selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Minta anak berjanji dan berusaha sebaik2nya. Wallohu a’lam.

3. Pertanyaan : Remaja perempuan usia 19 tahun. Pacaran, tapi orangtua melarang karena sudah faham hukumnya yang tidak sesuai syariat. Namun anak ini menolak dan tetap ngotot hanya mau dengan laki-laki yang disukainya tersebut sementara orangtua sudah tidak ridha. Diajukan calon lain, tapi anak ini tetap ngotot berkeyakinan bahwa laki-laki yang disukainya adalah takdirnya. Baiknya bagaimana menangani anak seperti ini?

Jawaban : Silakan lakukan diskusi antara keluarga, musyawarah hingga menemukan jalan keluar terbaik, kalau perlu melibatkan pihak yang dianggap bijaksana, bisa jadi sesepuh di keluarga, atau ustadz. Setelah itu istikharah dengan hasil musyawarah apapun keputusan yang diambil. Wallohu a’lam. Semoga Allah mudahkan.

4. Pertanyaan :

  • Mulai usia berapa sebaiknya anak dikenalkan dengan rasa sayang, cemburu dan cemas?
  • Apa saja contoh role play dalam mengenalkan emosi cinta, cemburu, dan cemas pada anak?
  • Dan bagaimana cara/praktek menerapkan sentuhan fisik dalam mengendalikan emosi cemas pada anak?

Jawaban :

  1. Sejak bayi Bunda, dengan buku-buku atau cerita. Bayi usia 2-4 bulan sudah mulai tertarik dengan buku, jika orang tua membiasakannya membaca buku. Upayakan setidaknya per hari 20 menit .
  2. Contoh role play emosi cinta. Tentunya bikin skenario dulu, dialog bisa ditentukan atau improvisasi sendiri.

Anak: peran sebagai anak

Ibu peran sebagai ibu

Ayah: sebagai ayah

Anak: Ibu yang bikin kue ini? Enak sekali, terimakasih Bu. Aku cintaa sekali sama Ibu.

Ibu: maa syaa Allah, alhamdulillaah. Ibu memang sengaja bikin kue itu untukmu karena ibu juga cinta sekali sama kamu.

Ayah: maa syaa Allah, Ayah bahagia sekali punya istri dan anak yang saling mencintai. Ayah juga cinta Ibu dan anak Ayah.

Untuk cemburu dan cemas silakan dibuat skenarionya sendiri ya.

Peluk anak. Sambil katakan : kakak sedang cemas ya…yuk kita tarik nafas…buang nafas…

5. Pertanyaan : Mba Innu, putri saya yang pertama (8,5 tahun) sangat cemas pada situasi tertentu. Saat usia 5 tahun, dia takut di mobil saat ayahnya mengisi bensin, takut mobilnya jalan sendiri. Seiring waktu perasaan itu hilang. Sekarang saat usia sekolah dia takut dengan situasi seperti: hujan lebat, ayahnya yang tidak segera pulang dari masjid (padahal ayahnya berdiam dulu di masjid). Dia sangat cemas sampai mendekat kepada saya. Saya berusaha untuk bersikap santai dan sesekali menanggapi rengekannya (“Ummi, abi kok tidak pulang-pulang? Ummi, abi kok lama sekali sih?”). Apakah perasaan cemas seperti ini wajar?

Jawaban : In syaa Allah wajar. Ananda memang cenderung peka dan perhatian. Arahkan ananda jika merasa cemas apa yang dapat dilakukan. Terutama berdzikir dan berdoa pada Allah. Yakin bahwa Allah Maha Mengatur semuanya dengan baik. Semua aturan Allah pasti ada kebaikan/hikmahnya.

6. Pertanyaan : Bagaimana menstimulus rasa cinta/empati, cemburu, dan juga cemas pada ananda yang autis kepada orang di sekitar/lingkungannya karena anak seperti ini cenderung cuek, tidak peduli dengan orang lain dan seperti hidup di dunianya sendiri?

Jawaban : Mengajari anak autis tentang emosi memang penuh tantangan berhubung konsep emosi memang cenderung abstrak untuk mereka pahami.

Tunjukkan gambar-gambar berbagai ekspresi wajah manusia. Minta mereka mengingatnya, terutama bagian mata, bibir, atau bagian wajah lain yang dominan pada ekspresi emosi tertentu. Katakan pada anak setiap kali berkomunikasi dengan orang lain untuk selalu melakukan kontak mata.

Untuk anak sendiri, mereka juga perlu mengenali emosinya. Jika mereka sedang tidak terkendali, tunjukkan gambar-gambar wajah dan minta anak menunjuk gambar yang mewakili emosi apa yang mereka rasakan saat itu. Semoga cukup dapat dipahami ya Bunda.

7. Pertanyaan : Anak laki-laki saya umur 6 tahun, apabila melakukan aktivitas seperti belajar, menghafal, duduk mendengarkan, shalat, mengaji dia selalu mengalami gatal-gatal atau garuk-garuk badan tak menentu disertai gerakan kaki yg bergerak-gerak. Ini terjadi juga saat di kelas (TK). Lalu apabila dia melakukan kegiatan yang dia suka, dia tidak mengalami gatal-gatal atau menggaruk. Kondisi badan yang digaruk/gatal sudah dicek tidak ada indikasi yang memicu gatal seperti halnya bentol atau pemicu gatal. Apakah ini termasuk kecemasan atau apa? Dia juga punya phobia (entah bisa dibilang phobia atau bukan) terhadap balon yang dipencet atau diinjak (takut meledak), scan x-ray, USG bayi, dimana histerisnya melebihi ketakutan pada umumnya (tidak wajar). Awalnya sih saya merasa itu wajar atau kecemasan atau ketakutan biasa pada anak. Tapi kok makin tidak wajar ketakutannya (histerisnya). Tindakan saya untuk saat ini tetap memberikan pengertian ke dia kalau semua itu tidak apa-apa dan tidak berbahaya. Lalu apalagi yang harus saya lakukan?

Jawaban : Silakan bawa anak ke psikolog anak untuk mendapat treatment yang tepat ya Bunda. Semoga Allah mudahkan.

8. Pertanyaan : Anak saya usia 6 tahun sudah suka mendengarkan cerita horor kadang lewat temannya di sekolah, kadang melihat tayangan video, sehingga terkadang muncul sifat penakut, tidak berani ke kamar mandi sendiri, membayangkan hal-hal yang horor, dll. Bagaimana mengatasi sifat cemas yang berlebihan tersebut? Kadang anak saya sampai menangis keras kalau cemas berlebihan atau ketakutan.

Jawaban : Beritahu anak untuk tidak menonton lagi kalau takut. Pahamkan anak kalau itu hanya tontonan. Tanamkan akidah juga pelan-pelan bahwa hanya Allah Yang perlu kita takuti jika kita berbuat yang tidak baik. Tanamkan tentang kasih sayang Allah juga.

Terima perasaan anak jika ia merasa takut. Tanya kebutuhannya. Ajak ngobrol baik-baik. Dan lagi, minta anak untuk tidak menonton film horror lagi jika ia belum siap untuk berani.

9. Pertanyaan :

  • Anak-anak saya tidak bisa diam semua dan cara anak-anak mengungkapkan rasa sayang mereka dengan mengagetkan saya (misal mukul punggung), saya sudah sering bilang kalau sayang itu dengan mencium atau memeluk sambil saya praktekkan tapi mereka tetap dengan cara mereka. Bagaimana cara efektif agar mereka mengungkapkan cintanya dengan lemah lembut pada orang lain?
  • Apakah termasuk cemburu pada adiknya 9 bulan karena 2 kakaknya yang 8 & 5 tahun usil sekali pada adiknya. Misal cubit-cubit gemes ke adeknya. Bagaimana cara agar bisa berubah menjadi sayang yang positif?
  • Anak perempuan kelas 1 SD kalau cemas lihat hewan berbahaya dia bisa histeris. Tapi kalau saya lihatkan jam sudah pas menunjukkan waktu masuk sekolah kenapa santai saja? Padahal di sekolah sudah ada peringatan bagi yang telat.

Jawaban :

Terus ajarkan saja dengan penuh kesabaran. 10-20 kali pengingatan dari orang tua belum tentu sudah terekam dalam ingatan anak karena keterbatasan kemampuan berpikir mereka yang belum sempurna. Beri contoh langsung bagaimana mengekspresikan sayang setiap harinya juga. Beritahu dengan kata-kata menyentuh hati bahwa Bunda sedih, punggung Bunda sakit dikagetkan seperti itu dsb.

Poin b sama seperti jawaban poin a ya Bunda.

Mungkin anak ada pengalaman tidak menyenangkan tertentu terkait hewan buas ini. Tidak mesti pengalaman langsung, tapi bisa berupa cerita/ pengalaman orang lain/ buku/tontonan dll.

10. Pertanyaan : Anak saya perempuan umur 7 tahun dan mempunyai adik laki-laki umur 4 tahun. Bagaimana cara menanamkan rasa peduli dan mengalah pada  kakaknya ini terhadap adiknya? Bagaimana caranya agar anak memiliki rasa peduli terhadap pekerjaan ibu di rumah? Misal membantu merapikan rumah, tidak membuat berantakan (membereskan mainannya), dst? Bagaimana cara mengatasi sikap minder pada anak?

Jawaban :

Semua karakter baik perlu diajarkan, dan dibiasakan. Dengan kata-kata verbal, cerita/buku terkait penanaman karakter, dan contoh langsung dari orang tua.

Terus ajarkan dan motivasi anak, termasuk mendisiplinkan mereka sesuai aturan yang disepakati.

Tunjukkan kelebihan-kelebihan anak. Fokus pada kelebihan dan apa yang bisa dilakukannya. Persering puji dan apresiasi anak, beri kesempatan anak mengeluarkan potensinya, tunjukkan bukti-bukti keberhasilan yang pernah ia capai, hindari menuntut anak agar sesuai standar/ekspektasi ortu.

11. Pertanyaan : Bagaimana memberi pengertian kepada anak batita tentang menyalurkan rasa cemburu yang tepat? Misal jika saya sedang membelai si kakak kadang si adek ikut mendekat lalu memukul si kakak. Atau sebaliknya, kakak terhadap adiknya yang sama-sama balita. Dan bagaimana cara ibu mengendalikan emosi agar “tetap waras” di saat anak-anak rewel dan tantrum?

Jawaban : Setiap anak memang ingin diperlakukan spesial Bunda. Oleh karena itu tidak ada salahnya jika Bunda membuat aturan yang tegas terkait kebersamaan dengan Bunda, misalnya mengantri waktu bersama Bunda. Kalau tidak mau mengantri, berarti tidak dapat Bunda sama sekali. Hal yang sama bisa dilakukan ketika anak merengek-rengek dalam hal lainnya. Semangaat ya Bunda. In syaa Allah waktu-waktu seperti ini tidak akan lama dengan kesabaran.

Kalau tidak sabar, bisa jadi akan berlanjut seterusnya. Semoga tidak begitu. Sebenarnya bisa jadi sebenarnya bukan hanya cemburu yang dirasakan anak. Tapi ingin diperhatikan bundanya, ingin diperlakukan spesial, ingin dekat-dekat Bundanya. Dan itu semua bukan cuma soal cemburu.

Perbanyak pujian, menyampaikan kata-kata Bunda cinta kakak, Bunda cinta adik dengan kata-kata verbal yang jelas, dan sentuhan fisik. Optimalkan waktu-waktu berkualitas, seperti menjelang tidur, dsb. Perbanyak waktu menyenangkan bersama seperti baca buku sama-sama, Bunda membacakan, anak mendengarkan, dsb. Semoga Allah mudahkan ya Bunda.

Terkait mengendalikan emosi ketika anak tantrum sudah kita bahas di materi dan tanya jawab sebelumnya. Silakan dicek lagi ya Bunda.

12. Pertanyaan : Saya punya anak 3 laki-laki semua. Sebagai orang tua saya ingin adil dalam memberi kasih sayang dan perhatian kepada ketiga anak saya. Tapi saya masih merasa kesulitan, dikarenakan ketika menghadapi anak pertama saya cenderung lebih senang karena anaknya tipe penurut. Sedangkan anak kedua begitu sulit diatur sehingga kadang memakai sikap agak keras dalam menghadapinya. Bagaimana sikap yang harus saya lakukan dalam mengatur emosi cinta saya sebagai orangtua agar dapat selalu adil kepada ketiga anak saya?

Jawaban : Stop membanding-bandingkan anak. Setiap anak unik, karunia Allah. Semua sudah sepaket dengan kelebihan dan kekurangannya. Fokus pada kelebihan tiap-tiap anak, bukan kekurangan. Fokus pada hal yang dapat mereka lakukan, bukan yang tidak dapat dilakukan. Hati-hati dengan harapan/standar yang kita buat sendiri terhadap anak-anak kita. Karena setiap anak unik dan sudah senormalnya sebagai orang tua mencintai mereka tanpa syarat dengan adil.

13. Pertanyaan : Anak saya, 5 tahun, punya kebiasaan memegang lengan baju saya. Terutama ketika dia sedang tidak ada aktifitas dan saya sibuk dengan urusan kerumahtanggaan. Ketika saya masak, dia duduk atau berdiri dekat saya, sambil memegang lengan baju saya. Begitu juga ketika saya menyusui adiknya, dia juga begtu. Apakah ini juga termasuk ekspresi kecemasannya?

Jawaban : Bisa kecemasan, bisa kesepian tidak ada yang menemani, atau cemburu atau lainnya. Silakan didiskusikan dengan anak baik-baik, untuk menemukan jawaban pastinya.

14. Pertanyaan : Mulai usia berapa anak mulai merasakan dan harus dijelaskan mengenai cinta terhadap lawan jenis? Dan bagaimana cara menjelaskannya?

Jawab : Tiap anak beda-beda. Berdasarkan teori, anak usia 4-5 tahun sudah bisa merasakan ketertarikan pada lawan jenis, dan ini normal.

Kita bisa menjelaskan pada anak terkait emosi ketertarikan mereka (belum tentu cinta) sambil menanamkan nilai-nilai yang kita yakini (misalnya boleh pacaran setelah menikah, dsb tentunya sesuai usia anak/anak sudah mulai bertanya tentang ini).

15. Pertanyaan : Anak saya yang seringkali dicap nakal karena ulah keisengan dan keaktifannya. Tak jarang anak saya dianggap biang kerok kalau di kelas ada permasalahan. Anak saya sering dituduh sebagai pelakunya, tak jarang anak saya suka emosi karena merasa dituduh oleh teman atau pun gurunya sendiri. Seringkali dia suka menceritakan kalau dia kesal dengan perlakuan orang yang menuduhnya melakukan kesalahan tanpa bertanya kepada anak saya sebab akibat permasalahannya. Saya sudah berusaha menenangkannya untuk tidak dendam dengan orang-orang yang berbuat seperti itu kepadanya. Saya pun meminta dia jujur untuk menceritakan kejadian sebenarnya. Tetapi tak jarang juga orang lain tidak percaya. Kalau saya berkomentar tak jarang anak saya malah beranggapan kalau saya membela teman atau guru yang menuduhnya. Bagaimanakah seharusnya saya menghadapi anak saya agar dia tidak terus merasa tertekan dengan keadaan yang seperti itu lagi?

Jawaban : Anak yang aktif memang seringkali dianggap biang kerok, walau sebenarnya belum pasti seperti itu. Diskusikan dengan guru. Minta dijelaskan kronologis kejadian. Tanyakan pula saksi-saksi yang melihat peristiwa secara langsung.

Minta guru agar tidak langsung menyimpulkan sebelum tahu kronologisnya bagaimana tapi TANYA anak. Termasuk apa yang dilakukan, juga perasaan dan pikirannya. Lakukan hal yang sama pada anak. In syaa Allah Bunda dapat merasakan apakah anak jujur/tidak.

16. Pertanyaan : Apakah saat hamil kondisi kejiwaan ibu dapat mengganggu janin? Anak sulung saya dari bayi sering menangis dan tidak bisa ditinggal walaupun hanya sebentar, harus selalu ditemani dan lebih sering menangis teriak-teriak. Berbeda  dengan si adik, kalau sudah kenyang dia bisa mandiri main dan lebih ceria tidak sering menangis.

Jawaban : Iya Bunda, bisa berpengaruh sekali, karena hormon yang ada pada Bunda akan sangat berpengaruh pada janin. Dan tentunya bayi ketika lahir. (terutama hormon kortisol/ hormon stress). Bayi yang terpapar terlalu banyak hormon tersebut ketika di kandungan, setelah lahir akan cenderung lebih rewel.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.