BAGAIMANA CARA MEMULAI HIDUP MINIM SAMPAH?

Menuliskan ini sebenarnya agak awkward buat saya yang masih sangat-sangat newbie soal gaya hidup minim sampah ini. Tapi, menulis bagi saya adalah sebagai reminder sekaligus penyemangat untuk lebih baik dan lebih baik lagi.

So, saya akan menuliskannya berdasarkan pengalaman saya pribadi ya.

Sering muncul pertanyaan, “gimana sih, cara memulai hidup minim sampah?”. Saya hanya bisa menjawab, mulai dari diri sendiri dulu. Itu yang termudah.

Mengganti pembalut dengan menstrual cup

Ya, dalam perjalanan saya menuju hidup minim sampah ini, saya memulainya dari diri sendiri. Dimana kesadaran itu mulai muncul ketika saya mengamati diri saya sendiri yang banyak sekali “nyampah” pembalut setiap bulannya. Saya tipikal yang kalau setiap kali ke kamar mandi, pasti ganti pembalut. Terutama jika sedang deras-derasnya di tiga hari pertama. Atau bahkan, saat bepergian atau di malam hari, saya bisa pakai double untuk menghindari bocor. Kebayang kan, betapa banyak sampah pribadi saya itu.

Kemudian, saya sempat tergiur dengan sebuah iklan pembalut MLM, dimana menurut MLM tersebut, pembalut yang mereka pasarkan selain aman untuk serviks, bebas dioksin, dan juga bisa terurai sampai dengan 1%. Ah, saya pikir, dengan bahan pembalut yang mudah terurai ini, saya bisa setidaknya merasa tenang. Toh, sebanyak apapun pembalut yang saya buang, nantinya akan terurai sampai dengan 1% saja. Dan pemikiran itu berlanjut sampai bertahun-tahun.

Sampai saya akhirnya menemukan menstrual cup. Si cangkir menstruasi yang membuat saya mengurangi banyak sekali sampah pribadi saya. Awal-awal karena masih takut bocor dan belum terbiasa, saya masih pakai setidaknya saat malam hari. Atau menggunakan pantylinernya. Tapi semakin kesini, alhamdulillaah, sampah pribadi saya khusus yang satu itu, akhirnya bisa nol sama sekali.

Memisahkan sampah

Setelah sampah pribadi saya ini teratasi, saya mulai memikirkan soal sampah rumah tangga yang banyak sekali. Perasaan bersalah itu sebenarnya sudah sering muncul. Kok, aku nyampah banget sih? Tapi untuk memilah, atau mencari cara agar sampah berkurang itu rasanya seperti mustahil. Lha gimana, serumah hobinya jajan semua.

Ya, memang harus dilawan. Harus dikomunikasikan dengan semua anggota rumah. Mulai dari yang termudah dulu deh, dipisahkan sampahnya. Organik, sampah kertas, dan sampah plastik. Sampah organik tidak lagi disatukan dengan sampah kertas dan plastik. Dipisahkan sendiri, lalu dikubur di halaman rumah. Tapi sampah kertas dan plastik, masih berakhir di tukang sampah.

Sampah kertas, kadang masih dibakar bersama dengan daun-daun kering di halaman rumah. Waktu itu belum tahu kalau ternyata membakar sampah di pekarangan itu ada larangannya dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.

Di pasal 29 ayat 1 butir G : “Setiap orang dilarang membakar sampah yang tidak sesuai dengan persyaratan teknis pengelolaan sampah”.

Pasal 12 ayat 1 : “Setiap orang berkewajiban mengelola sampah rumah tangga dengan cara yang berwawasan lingkungan”.

Dalam Undang-Undang Nomor 18 tahun 2008 itu juga menyebutkan bahwa Peraturan Daerah dapat menentukan sanksi pidana kurungan atau denda atas tindakan pembakaran sampah.

Setelah tahu, alhamdulillah, banyak sekali berkurang soal ini. Ternyata yaaa…sudah banyak melanggar aturan, termasuk juga mengganggu tetangga. Semoga Allah mengampuni kami atas kekhilafan ini.

Memilah sampah 

Sekedar memisahkan saja ternyata belum cukup. Saya sering melihat, tukang sampah keliling masih harus membongkar dan memisah-misahkan lagi sampah di atas truk. Kebayang banget beratnya pekerjaan mereka.

Akhirnya, memilah sampah harus benar-benar dilakukan. Botol-botol, kemasan tetrapack, kertas, dan lain-lain, semua dipilah di rumah. Sampah yang terbuang hanya boleh sampah yang memang kami sendiri bingung harus diapakan lagi.

Kertas-kertas kami pisahkan jadi satu bersama dengan karton dan kardus. Botol-botol kemasan, plastik kemasan jajanan, kemasan sabun, kemasan tetrapack, kami cuci bersih dan dijemur. Lalu dikumpulkan secara terpisah sesuai kategori. Sampah-sampah ini kami targetkan untuk disetor ke bank sampah terdekat.

Masalah sampah ini, memang harus kerjasama dengan semua anggota keluarga. Anak-anak bersepakat untuk lebih banyak membawa bekal non kemasan. Seperti jajanan pasar, buah, atau buatan saya sendiri.

Kalaupun harus beli makanan di luar dan tidak makan di tempat, kami membiasakan untuk membawa rantang atau kotak makanan dari rumah untuk diisi dan dimasukkan ke dalam kantong kain. Lumayan, bebungkusan itu banyak sekali berkurang dengan cara ini.

Kami masih harus banyak belajar ya. Semua yang di atas itu, masihlah sekedar ala-ala kami. Tapi, kami semangat sekali untuk mengurangi sampah. Semoga bisa istiqomah. Karena menurut salah seorang aktivis di bidang pengelolaan sampah ini, penyakit kita semua adalah ketidakkonsistenan!

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.