REMAJA : KOMPAK DENGAN ORANG TUA

Masa remaja bisa dibilang adalah masa-masa penuh gejolak dalam diri seseorang. Masa ini merupakan masa transisi dari kanak-kanak menjadi dewasa. Tak jarang, dalam proses transisi ini, terjadilah gesekan-gesekan antara orangtua dengan anak.

Adik-adik tentu merasakan sendiri kan, bahwa di fase ini, adik-adik mulai ingin belajar mengatur diri sendiri, ingin bisa memilih sesuai dengan keinginan sendiri, atau sering dilanda kejenuhan dan kebosanan dengan pilihan dan aturan dari orang tua. Bila tak tahan, akhirnya memberontak dan melakukan perlawanan. Pernah, kan?

Di fase transisi ini juga, kita biasanya jadi lebih nyaman kumpul dan curhat dengan teman-teman ketimbang dengan keluarga, khususnya orang tua. Kita merasa bahwa teman-teman kita lebih bisa “mengerti” kita dan mendukung keinginan kita. Apalagi, biasanya nih, anak-anak remaja suka pada bikin geng pertemanan sendiri yang mengusung kekompakan “harga mati”. Betul, tidak?

Sudah menjadi hal yang lumrah atau biasa terjadi jika ada pergesekan antara orang tua dengan anak remaja. Ini dikarenakan belum adanya persamaan sudut pandang antara orang tua dan anak remaja. Orang tua masih selalu menganggap anak remajanya sebagai anak kecil, sementara remaja sudah merasa dewasa dan berhak memutuskan segalanya sendiri dan bosan diatur-atur seperti anak kecil.

Adik-adik, sebenarnya adalah hal yang wajar jika di masa remaja ini, kalian menginginkan kebebasan dan lebih merasa nyaman dengan teman-teman kalian daripada dengan orang tua. Tapi, yang patut kita garis bawahi adalah, kebebasan yang seperti apa yang dibenarkan dan pertemanan yang bagaimana yang dikatakan sebagai pertemanan yang sehat.

Orang tua, terutama ibu, adalah orang-orang pertama dan yang paling mencintai kalian. Tanamkan itu dalam hati. Bahwa ibu dan ayah tidak akan menginginkan keburukan terjadi pada anak-anaknya. Mereka akan selalu berjuang untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Jangan menganggap bahwa orang tua mengatur-atur kalian itu berarti orang tua tidak sayang dan egois. Jangan. Mereka hanya terlewat sayang pada kalian, ingin melindungi kalian, dan mungkin belum faham bagaimana melakukan pendekatan yang tepat pada kalian.

Kalian bisa mengungkapkan perasaan itu dengan mengajak ibu atau ayah berbicara dari hati ke hati. Jangan pakai emosi, ya. Tenangkan diri dulu, kemudian kalian bisa memilih dengan siapa kalian paling nyaman berbicara.

Jika tidak nyaman bicara langsung, kalian bisa menyampaikannya melalui surat. Gunakan bahasa yang baik dan sopan. Ingat, kalian sedang berkomunikasi dengan orang tua. Birrul walidain itu lebih “harga mati” ketimbang pertemanan.

Ungkapkan harapan-harapan dan keinginan kalian. Ungkapkan bahwa kalian ingin orang tua bersikap begini, dan tidak bersikap begitu. Asal kalian menggunakan bahasa yang baik, in syaa Allah, orang tua juga akan mendengarkan dan merespon dengan baik.

Jaga kepercayaan dari orang tua. Nah, kuncinya juga disini. Orang tua mengatur-atur anaknya adalah karena orang tua menilai bahwa kita belum bisa membuat keputusan sendiri dan belum bisa menjaga kepercayaan yang mereka berikan. Coba introspeksi lagi, selama ini kita sudah menjaga kepercayaan mereka belum? Atau masih mencuri-curi kesempatan untuk melanggar? Nah, cobalah belajar untuk menjadi amanah dengan kepercayaan dari orang tua kalian.

Pilih teman atau sahabat yang baik. Baik dari segi akhlak dan juga semangatnya dalam menuntut ilmu. Jauhi teman-teman yang tidak mau diajak menjadi baik. Ingat lho, kita adalah dengan siapa kita berteman. Ketika berteman dengan orang baik, in syaa Allah kita juga akan tertular kebaikan-kebaikannya. Tapi jika kita berteman dengan orang yang suka melanggar aturan, bicara kasar dengan orang tua dan guru, bisa dipastikan lambat laun kita akan tertular berbuat hal yang sama.

Punya teman dekat, punya sahabat, pasti menyenangkan, bukan? Ada yang bisa diajak kompak, diajak curhat dan cerita-cerita, ada yang bisa mendukung dan merangkul kita. Pasti menyenangkan sekali. Tapi…tetap pilih-pilih ya. Mana yang boleh diceritakan dan mana yang perlu disimpan dan tidak boleh diceritakan.

Dalam pertemanan itu ada pasang surutnya. Hari ini berteman dekat sekali seperti perangko, bisa jadi besok bubar jadi musuh bebuyutan. Dan bisa jadi juga, semua rahasiamu jadi bumerang untuk menjatuhkan dan menyakitimu. So, jangan semua hal kamu ceritakan pada teman-temanmu. Bukan mereka yang seharusnya paling mengerti dirimu. Tapi, orang tuamu. Orang tuamu lah yang seharusnya paling tahu banyak tentang apa yang kamu rasakan, apa yang kamu alami, serta rahasia-rahasiamu. Teman bisa menjadi musuh, tapi orang tua selamanya adalah orang tuamu yang tidak akan pernah mengumbar aib anak-anaknya sendiri.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.