ALHAMDULILLAAH, LULUS!

Tanggal 19 September 2020 menjadi salah satu hari terpenting dalam hidup saya. Setelah melalui berbulan-bulan perkuliahan dan penelitian yang menyita banyak waktu, pikiran, tenaga, biaya, dan juga air mata, akhirnya saya dapat berdiri di hadapan para dewan penguji dalam satu majelis sidang tesis (online) untuk mempertanggungjawabkan hasil penelitian saya.

Semuanya atas izin Allah. Di hari-hari terakhir sebelum pendaftaran sidang, saya sendiri sebenarnya sudah nyaris menyerah. Revisi di BAB 3 (Metode Penelitian) begitu sulit bagi saya. Ditambah tanggung jawab pekerjaan utama di rumah, dengan dua anak yang harus didampingi menjalani BDR (belajar dari rumah) yang sangat membutuhkan perhatian penuh.

Pikir saya kala itu, ya sudah, kalau memang saya tidak bisa lulus sesuai target saya (19 bulan), ya, sudah. Qadarullaah. Saya hanya harus ikhlas. Yang terpenting saya sudah berusaha.

Maa syaa Allaah, semua atas pertolongan Allah. Di saat hati sudah benar-benar pasrah, ternyata Allah justru membukakan semuanya. Allah berikan pemahaman, sehingga saya akhirnya bisa memahami apa yang dimaksudkan oleh dosen pembimbing saya untuk saya tulis dalam tesis saya. Alhamdulillaah, akhirnya semuanya terkejar dan bisa selesai sebelum batas waktu pendaftaran ujian ditutup.

Memang, kuncinya itu sabar dan tawakkal. Sayangnya, saya sering lupa praktiknya. Astaghfirullaah wa atuubu ilaih.

Setelah semua bab dinyatakan layak dan mendapatkan persetujuan dari pembimbing, saya pun segera memasukkan berbagai berkas dan persyaratan menempuh ujian tesis. Mulai dari menerjemahkan bagian Abstrak ke bahasa Inggris dan juga cek plagiasi ke bagian perpustakaan.

Ketika melewati cek plagiasi, lagi-lagi semua atas pertolongan Allah, ternyata plagiasi saya dinyatakan 0% setelah dicek dengan Turnitin di bagian perpustakaan. Maa syaa Allaah, saya sendiri sampai terharu. Semua kemudahan dari Allah. In syaa Allah, di lain kesempatan saya coba share pengalaman atau tips bagaimana agar bisa menulis skripsi/tesis yang bebas plagiasi.

Ujian tesis pun tibalah. Hari itu, ada delapan orang yang maju sidang melalui online. Dan saya berada di urutan kedua terakhir. Sudah hampir Asar ketika akhirnya saya maju dan mempresentasikan laporan penelitian saya kepada dewan penguji. Masing-masing dari kami diberi waktu hanya 7 menit. Dan saya harus sesingkat mungkin memaparkan isi tesis yang nyaris 200 halaman tersebut. Rumit ini.

Setelah presentasi, akhirnya tibalah giliran para dosen penguji untuk menanya-nanyai saya. Sebenarnya, pertanyaannya tidak sulit. Hal tersulit adalah untuk “tidak ngotot” kepada dosen penguji. Jiwa emak-emak yang suka ngotot ini justru muncul ke permukaan dan akhirnya menjadi cukup alot di akhir. Kalau ingat ini, antara mau menangis tapi juga geli. Profesor kok, dilawan, ledek ibu saya waktu itu. Ketika saya curhat mengenai kecewanya saya pada diri saya sendiri.

Hari itu rasanya nano-nano. Campur aduk. Antara lega, bahagia, sedih, dan kecewa pada diri sendiri. Tapi, alhamdulillaah, semua berjalan cukup lancar. Dan akhirnya, kami pun dinyatakan LULUS! Maa syaa Allaah, tabarakallaah…

Ada banyak pelajaran berharga yang saya dapatkan dari perjalanan 19 bulan ini. Bertemu dengan teman-teman baru, bertemu dengan para pakar di bidangnya, terbukanya wawasan baru, serta menerjang batas limit diri sendiri. Semua itu pengalaman yang tidak tergantikan.

Tetapi, hal yang tidak kalah penting adalah betapa berharganya sebuah pengorbanan. Saya mungkin tidak akan bisa menjalani ini dan meraih impian saya tanpa pengorbanan dari suami dan anak-anak saya. Suami yang harus rela berbagi waktu di sela-sela pekerjaan kantor untuk gantian menjaga anak di saat saya harus kuliah. Pengorbanan anak-anak yang konsentrasi dan perhatian ibunya harus dibagi dengan tugas-tugas kuliah. Maa syaa Allaah. Terima kasih saya yang tidak terhingga atas kesabaran mereka membersamai saya melewati semua fase ini.

Alhamdulillaah…akhirnya…Lega.

About bunda 577 Articles
Hai! Panggil saya Icha atau Bunda Fafa. Seorang perempuan biasa yang bangga menjadi istri dan ibu rumah tangga, dan ingin terus belajar untuk menjadi luar biasa dengan karya dan dedikasi. Saat ini saya berdomisili di Yogyakarta, bersama dengan suami saya tercinta, Mr. E, dan anak-anak kami, Fafa (2010) dan Faza (2014). Enjoy!

2 Comments

  1. ALHAMDULILLAH SELAMAT DAN SUKSES SELALU BUNDA FAFA,SEMOGA ILMUNYA MENJADI JARIYAH TERBAIK HINGGA YAUMIL AKHIR . AAMIIN

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.