SEBERAPA PENTING NILAI RAPOR ANAK? SEBUAH SUDUT PANDANG

Hari pembagian rapor tiba. Di lini masa media sosial saya bertaburan cerita para orang tua tentang rapor anak-anak mereka. Termasuk saya.

Tentu, ada sebuah kebanggaan terselip ketika mendapati rapor anak kita memuaskan. Saya pribadi tidak bisa menutupi hal tersebut. Terlebih, ketika ternyata hasilnya di luar ekspektasi.

Bayangkan, selama musim ujian, rasa-rasanya saya yang sibuk belajar, sementara Alifa putri saya justru santai, menganggap seolah ujian akhir semester hanya sesuatu hal yang biasa saja dan tidak perlu dihadapi dengan tegang. Kepala saya yang “ngebul” membuatkannya soal-soal, membacakannya materi dan meringkaskannya agar lebih mudah ia pahami. Sementara anaknya tetap cool dan tidak ragu mengambil kesempatan untuk membaca komik atau novelnya.

Maka ketika hari pembagian rapor tiba, saya jugalah yang biasanya lebih tegang ketimbang anaknya sendiri.

Tapi, meskipun saya tipikal perfeksionis, saya tidak memaksakan bahwa anak saya harus selalu juara, atau rapornya harus selalu bagus. Saya memiliki pengalaman di waktu kecil yang kurang menyenangkan soal nilai. Sehingga dalam pemahaman saya pribadi, yang terpenting adalah proses.

Saya tidak marah pada anak seberapapun hasil yang ia dapatkan. Namun yang saya ingin lihat adalah bagaimana usaha anak saya. Makanya saya cerewet sekali kalau anaknya nampak bersantai. Walaupun semakin kesini, saya semakin melihat bahwa putri sulung saya ini adalah jiplakan ayahnya, yang memang segala sesuatu dihadapi dengan santai tanpa beban.

Banyak orang tua bereaksi marah atau kecewa secara berlebihan ketika melihat rapor anaknya tidak bagus. Atau prestasi menurun. Tidak jarang bahkan semakin menekan anak dengan banyak menceramahi atau memberikan hukuman.

Saya pernah melewati masa itu semua. Dan itu pengalaman terburuk dalam hidup saya. Dan betapa sulitnya untuk keluar dari ingatan yang buruk untuk bisa menikmati bahwa belajar adalah suatu proses yang menyenangkan.

Karenanya, saya tidak ingin melakukan hal yang sama kepada anak-anak saya.

Saya pribadi menyadari, ketika saya memasukkan anak saya ke sekolah formal, maka berarti kami harus siap untuk mengikuti sistem dari sekolah tersebut. Dimana, hingga saat ini, sekolah memiliki standar nilai tertentu (KKM). Dan sistem peringkat -yang mau tidak mau tetap akan ada meski tidak lagi dicantumkan di rapor- yang masih berpegang pada prinsip “anak paling pandai di kelas adalah yang paling tinggi nilai rapornya”. Dan itu berarti, harus menguasai semua mata pelajaran.

Maka saya mencoba memahamkan kepada putri saya bahwa inilah sistem dari sebuah sekolah. Karena sekolah formal adalah pilihannya sendiri, maka ia harus belajar memahami konsekuensi dari pilihannya. Tentunya dengan bahasa yang anak saya mudah pahami ya.

Pada intinya, saya menekankan padanya bahwa saya tidak ambil pusing dengan seberapa nilainya. Yang saya ingin lihat darinya adalah bahwa ia bertanggungjawab atas pilihannya tersebut, dengan belajar. Terserah belajar menurut caranya yang seperti apa.

Walaupun pada prakteknya, “belajar” versi saya dan versi Alifa yang berbeda ini sering kali membuat saya hilang kesabaran. Ibu perfesionis vs anak yang santai. Hehehe.

Kesadaran bahwa sekolah adalah sebuah sistem itulah yang membuat saya lebih santai dalam menghadapi proses Alifa di sekolah.

Sekolah tentu memiliki target. Apalagi sekolah yang sudah terdaftar, akan selalu ada penilaian dari Diknas. Dan memasukkan anak ke sekolah, ya memang harus menghormati sistem tersebut. Ini adalah sistem pendidikan negeri kita. Semua dari atas.

Untuk menyemangati anak, saya biasanya menawarkan reward berdasarkan pencapaiannya. Awal sekolah dulu, saya menargetkannya masuk 10 besar akan ada hadiah. Kemudian semakin kesini, semakin naik melihat kemampuannya.

Reward juga jangan dibayangkan sesuatu yang mewah dan mahal. Ukur kemampuan setiap orang tua saja. Dan saya tidak membiasakan memanjakan anak. Dibelikan peraut pensil unik atau bahkan Alifa pernah request hadiah tahu petis di Sunday Morning untuk nilai rapor terbaiknya.

Dan yang tidak kalah penting adalah memahamkan dan memotivasi anak bahwa kita tidak harus menguasai segala bidang. Dan kita sebagai orang tua memang tidak bisa. Realistis saja, kita sendiri tidak bisa. Toh, di SMA ada penjurusan, saat kuliah juga sudah lebih spesifik.

Saya selalu katakan kepada Alifa, mana pelajaran yang paling ia minati, itu yang kita genjot untuk diunggulkan. Pelajaran lain yang dia kurang minat, tetap dipelajari semampunya tanpa meninggalkan keseluruhannya.

Dan meskipun saya dan ayahnya dulu anak eksak (IPA), tapi ketika melihat Alifa lebih menyukai seni dan bahasa, ya kami hormati itu. It’s okay, jika suatu ketika dia berkata pada kami ingin menjadi komikus atau penulis novel. Tidak masalah.

Kami menyekolahkannya bukan untuk menjadikannya pintar. Kami menyekolahkannya untuk belajar, mengambil ilmu dari orang lain, yaitu guru-gurunya.

Jadi, Moms. Jangan berkecil hati ketika hari ini Anda mendapati nilai putra atau putri Anda belum memuaskan. Nilai bukan segalanya. Tapi hargai prosesnya. Jangan berikan hukuman, atau berhentilah menceramahi anak tentang nilai jelek. Dan jangan sekali-kali membandingkannya dengan saudara atau temannya yang lain.

Anak kita tidak harus menguasai semuanya. Justru kita harus mengolah dan menggali lebih dalam apa yang menjadi minat dan bakatnya, mengunggulkannya dari sisi itu. Lalu kedepankanlah budi pekerti dan akhlak mulia. Karena nilai bagus hari ini, tidak menentukan kecerahan masa depannya.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.