RESUME KULWAP : Q&A MENGENALKAN EMOSI PADA ANAK (PART 3)

1.Pertanyaan : Apakah orang dewasa yang sulit mengerti emosinya sendiri dan sering tidak bisa jujur tentang perasaannya adalah akibat dari pendidikan emosi di waktu kecil? Apakah hal ini bisa dan harus diterapi? Bagaimana caranya?

Note: orang Indonesia kebanyakan tidak terbiasa mengekspresikan perasaan bahkan seringnya dari kecil orangtua mengajarkan menutupi emosi seperti : jangan nangis, udah gak usah sedih, dsb.

Jawaban : Bismillaah, iya Bunda, karena memang, perkembangan manusia tidak hanya dipengaruhi faktor genetik, tapi juga pola asuh, lingkungan yang juga dominan.

Jika memang Bunda merasa diri Bunda sangat bermasalah dan butuh bantuan, jangan ragu untuk berikhtiar terapi dan mencari pertolongan ahli. Bunda bisa ke psikolog terdekat di tempat tinggal Bunda. Semoga Allah mudahkan.

Tanya balik : Kalau itu terjadi pada teman, apakah bisa dibantu sebagai temannya? Atau memang harus ke psikolog?

Jawaban : Jika Bunda merasa kompeten dalam membantu teman Bunda, silakan saja.. =)

2. Pertanyaan: Bagaimana menghadapi anak yang tempramen dan suka membantah?

Jawaban : Orangtua tentunya perlu menemukan cara-cara yang cocok untuk anak. Ketika anak tempramen bagaimana mengendalikannya, ketika membantah bagaimana membuat anak menyimak dengan baik.

Yang perlu diperhatikan:

  • Kelekatan emosional anak-orangtua –> jika anak merasa dekat dengan orangtua akan cenderung mau mendengarkan
  • Komunikasi efektif –> kalimat pendek ketika memberi instruksi, kalimat panjang ketika menyemangati
  • Role model –> orangtua memberi contoh bagaimana menyampaikan pendapat yang baik, bagaimana mengelola emosi
  • Aktivitas yang oke yang dapat menyalurkan energi anak yang banyaak sehingga anak menjadi produktif.

Menghadapi anak tempramen tentunya perlu kesabaran dan usaha kreatif dari orangtua dalam mengatasi permasalahan-permasalahan yang muncul. Pada dasarnya, anak butuh bantuan untuk menyalurkan emosinya dan diajarkan bagaimana mengendalikan diri dengan cara yang tepat. Misalnya ketika marah, apa saja yang dapat dilakukan. Ajarkan alternatif aktivitas-aktivitas untuk anak menyalurkan emosinya.

Pahamkan pada anak bahwa merasa marah itu normal dan wajar. Namun mengekspresikan kemarahan, harus dengan cara yang tepat:

  • Tidak menyakiti diri sendiri
    • Tidak menyakiti orang lain
    • Tidak merusak barang.

Beri pemahaman pelan-pelan, tanpa orangtua terbawa emosi/panik/ dsb. Tapi tenang. Semuanya juga ada aturannya. Termasuk dalam berkomunikasi dengan orang tua.

Jangan ragu untuk memberikan konsekuensi jika dibutuhkan, tentunya sesuai kesepakatan. Misalnya: kalau marah-marah tidak terkendali, jatah nonton TV dikurangi, dsb.

Latih pola komunikasi yang baik di rumah, jangan mudah terpancing. Sehingga anak benar-benar dapat belajar dari orangtua yang memang sudah sewajarnya menjadi role model untuk anak, dalam hal apapun, termasuk komunikasi yang baik. Semangat Bunda!

3. Pertanyaan: Mba Innu, kalau anak mudah tersinggung itu bagaimana ya? Perasaannya halus, adiknya ngomong teriak, dianggapnya kasar, dia sedih dan sesekali nangis. Lagi bercanda dengan temannya, terus temannya bilang “olok-olok” buat bercanda, dia berfikir itu ngata-ngatain. Ibunya juga begitu sih, melankolis. Apa itu bisa menurun? Lalu bagaimana menterapinya? Agar dia bisa lebih tegar mengingat nantinya dia akan menghadapi berbagai macam keadaan yang tidak selalu menyenangkan?

Jawaban : Melankolis memang termasuk sifat yang cenderung merupakan bawaan dari orangtua/generasi keluarga sebelumnya. Namun bagaimanapun sifat pun dapat dikendalikan, sehingga tidak dapat menjadi alasan sebagai hal yang mungkin berpengaruh ‘cenderung negatif’ dalam hidup seseorang. Karena manusia pada dasarnya dapat belajar dan terus berubah lebih baik dengan pengalaman dan latihan.

Kunci menghadapi anak: empati…! Terima perasaan anak.

Silakan dibaca lagi materi yang sudah saya berikan ya Bunda.

Namakan perasaan anak, jelaskan masalah yang dihadapi, dan bantu anak mencari solusinya dengan banyak mengajak anak berpikir dari sudut pandang berbeda, tentunya dengan komunikasi yang baik dan kata-kata tulus penuh pemahaman pada anak. Jangan malah penuh kekhawatiran atau tidak menerima perasaan2 anak. Semangat Bunda!

4. Pertanyaan : Dua keponakan saya (5 tahun & 2 tahun) akan ditinggal umroh orangtuanya. Jauh hari sudah disounding “nanti kalo ayah bunda berangkat, kakak & adek sama kakek/nenek yaa”. Nah, kakek & neneknya datang satu pekan sebelum berangkat untuk adaptasi. Kakak sudah bisa menerima, langsung lengket sama kakeknya. Tapi adiknya masih suka nangis kejer kalau tidak lihat bundanya. Ini bagaimana ya? Apa setelah ayah bundanya pergi si adik ini ga bakal stres? Bagaimana mengolah emosi si adik ini agar bisa happy selama ditinggal?

Jawaban : Wajar Bunda. Anak butuh adaptasi apalagi usianya baru 2 tahun. In syaa Allah seiring berjalannya hari anak akan membaik. Terus positif thinking. Orangtua tidak perlu cemas di Makkah sana. Karena anak bisa ‘merasakan’. Doakan yang terbaik untuk anak-anak juga kakek nenek agar diberikan kesabaran luar biasa mengasuh anak-anak.

5. Pertanyaan : Anak saya laki-laki umur 2,5 tahun. Dia mulai menirukan perkataan apa saja yang ia dengar. Jika ia mengucapkan perkataan buruk bagaimana cara orangtua mengekspresikan emosi bahwa perkataan itu buruk dan tidak boleh diucapkan?

Kami sudah coba kasih tahu dengan pelan bahwa itu tidak boleh diucapkan. Tapi kata-kata buruk itu masih saja ia ucapkan dan berulang. Justru jika saat dikasih tahu itu tidak baik anak malah senyum-senyum dan mengulangi kata itu.

Jawaban : Anak belum tahu arti dari perkataan itu. Hanya sebatas meniru. Sehingga orangtua tidak perlu berlebihan (lebay) bereaksi. Tetap tenang. Karena reaksi berlebihan akan dianggap reward untuk anak. Ingat, perkembangan kognitif dan emosi anak 2,5 tahun masih sangat terbatas. Cukup bilang “tidak ya…” dan cuekkin.

In syaa Allah pelan2 anak akan paham. Penjelasan berlebihan malah cenderung memperkuat perilaku tidak diharapkan.

6. Pertanyaan :

  1. Anak saya yang pertama laki-laki usia 9 tahun kurang 3 bulan, punya emosi yang tak terkontrol. Apalagi jika marah bisa tidak ingat atau tidak peduli dengan orang di sekitarnya (saya sendiri kadang-kadang seperti itu). Bagaimana cara mengatasinya ya? Anak juga sering bilang mamah ga adil dan ga mau punya adik.
  2. Anak sulung sering banget bertengkar sama adiknya (± 5 tahun) hanya karena hal yang sepele. Anaknya hiperaktif, suka iseng, susah dinasehati.

Jawaban :

  1. Silakan perbaiki kelekatan dan pola komunikasi dengan anak. Tentunya Bunda perlu menjadi teladan untuk anak juga.
  2. Wajaaar jika anak-anak suka bertengkar, yang penting ajarkan anak untuk mencari solusinya tanpa orangtua harus selalu ikut campur. Kunci: tidak menyakiti diri sendiri, orang lain/merusak barang. Jika dirasa level berantem anak parah, silakan dipisah. Sepakati konsekuensi-konsekuensi yang akan dihadapi anak untuk situasi-situasi tertentu. Dan jika anak melakukan/melanggar anak berhak/siap mendapatkan konsekuensi tersebut.

7. Pertanyaan : Anak saya usia 23 bulan, sekarang sudah punya keinginan kuat layaknya orang dewasa, dan selalu menangis kencang kalau apa yang dia mau tidak dituruti. Kira-kira sebaiknya orangtua mengalah (jatuhnya jadi ga konsisten sama aturan) atau dibiarkan menangis saja? Dan solusinya bagaimana menghadapi kemauan anak yang demikian?

Jawaban : Biarkan menangis. Anak usia 23 bulan sudah masuk fase tantrum, silakan cari tau lebih lanjut tentang ini dan bagaimana mengatasinya. Kata kunci yang lain: time out dan cara mendisiplinkan anak. Semangat ya Bunda. Semoga Allah mudahkan.

Tanya balik : Masih tentang anak saya usia 23 bulan. Dia kan sekarang sudah ada adiknya, usia 2 bulan. Kadang dia suka bersikap agresif mukul wajah/kepala adiknya, kadang juga kakinya menendang-nendang. Apa itu wajar? Kalau wajar, bagaimana sebaiknya reaksi orangtuanya?

Jawaban : Cenderung wajar karena anak sudah mulai masuk fase tantrum. Dan mungkin mengalami sibling rivalry juga. Silakan cari tau lebih lanjut tentang ini ya Bunda.

8. Pertanyaan : Kak, ana punya kenalan yang anaknya terlampau aktif. Terlebih jika ditempat orang, anak ini sembrono mengutak-atik dan merusak barang orang. Karena dari awal orangtuanya tidak tegas dan tidak memarahi si anak jika si anak melakukan kesalahan. Bagaimana solusinya, Kak?

Jawaban : Tentunya lebih tepat jika orang tuanya yang bertanya ya. Saya kira Bunda juga sudah tau jawabannya: orangtua perlu konsisten, menanamkan nilai-nilai ke anaknya, memberikan konsekuensi, dan sebagainya pada anak tersebut.

9. Pertanyaan : Bagaimana mengendalikan emosi anak usia 6,5 tahun yang sedikit-sedikit selalu menangis?

Jawaban : Ajarkan anak bahwa menangis tidak menyelesaikan masalah. Semangati anak bahwa ia mampu lebih tegar. Beri pujian, motivasi, bukti-bukti keberhasilan (foto, video) ketika setiap anak mampu mengendalikan tangisnya.

10. Pertanyaan : Untuk emosi labil bagaimana cara melatihnya menjadi energi positif? Misal untuk kasus anak yang punya kekhawatiran/ bimbang, merasa selalu tidak bisa sebelum mencoba. Bagaimana cara menenangkan dan mendampinginya?

Jawaban : Untuk anak-anak emosinya masih terus berkembang sehingga wajar sekali jika labil. Beri contoh, semangat, motivasi pada anak bahwa ia mampu memutuskan. Beri kesempatan untuk memutuskan sesuatu juga dan jangan selalu diarahkan/dibantu. Anak butuh dipercaya bahwa ia bisa. Berikan bukti-bukti kemampuannya juga. Persering puji dan semangati anak.

11. Pertanyaan : Bagaimana cara mengatasi psikosomatis pada anak usia 4,5 th? Jadi ketika ada sesuatu yangg tidak sesuai dengan yang anak inginkan, anak selalu bilang sakit perut. Jadi saya tidak bisa membedakan ketika anak ini sakit perut karena sakit betulan dan sakit perut karena emosi.

Jawaban : Untuk psikosomatis silakan datang ke ahlinya untuk ditangani ya Bunda. Bisa psikiater atau psikolog anak. Semoga Allah mudahkan.

12. Pertanyaan : Saya masih susah mengendalikan emosi anak saya (perempuan, 5 tahun 9 bulan) ketika ia menginginkan sesuatu (makanan,minuman atau benda) tapi sesuatu tersebut tidak ada, hilang atau habis. Saya berusaha menyampaikan kalau yg diinginkannya tersebut sudah habis atau tidak ada.

Misal : anak ingin kue donat lagi yang tadi malam sudah dia habiskan. Ketika saya menjelaskan sudah habis, belinya jauh, anak tidak mau tahu dan tetap maunya donat tersebut ada. Akhirnya pasti nangis dan diberi pengertian pun susah,  yang kemudian saya terkadang jadi ikut emosi, kenapa kok susah banget untuk menerima. Bagaimana saya harus menyikapi hal tersebut?  Mohon penjelasannya.

Jawaban : Beri pemahaman dengan kesabaran. Kunci : beritahu alasan logis, kalimat menyentuh, disayang-sayang (karena anak tipe seperti itu cenderung perasaannya halus). Pastinya Bundanya harus sabar dan menggunakan kata-kata yang tepat. Kalau tidak sabar, akan sulit sekali mengarahkan anak.

Jika merasa sudah sabar, tinggalkan saja anak. Beri waktu untuk sendiri menyalurkan emosi, berpikir tentang apa yang akan dilakukan. Jika anak siap, baru mengobrol lagi.

13. Pertanyaan : Sulung saya (menjelang 3 tahun) akhir-akhir ini selalu ketergantungan dengan saya. Kalau sudah tidak lihat saya, ia akan mencari terus. Suka tantrum juga. Kalau tidak disegerakan apa yang dia mau, pasti menangis dan mengamuk. Kadang saya emosi juga. Apalagi ada adiknya yang bayi, yang masih sering dikeloni. Jadi bagaimana menghadapi situasi seperti ini agar tidak ikut terbawa emosi? Dan bolehkah saya sesekali mengisenginya untuk melatihnya agar tidak terlalu bergantung dengan saya? Misalnya, saya sembunyi di saat dia tidak melihat saya.

Jawaban : Silakan cari tahu tentang fase tantrum, ya, Bunda. Dan juga time out.  Dan bisa simak jawaban-jawaban pertanyaan di atas. Saya kira permasalah Bunda hampir sama dengan beberapa pertanyaan lain. Semangat!

14. Pertanyaan : Bagaimana mengendalikan emosi seorang anak yang terdiagnosa AUTIS, yang emosinya meledak-ledak setiap saat? Terutama saat dilarang mlakukan sesuatu? Anak usia 7 tahun, dan hiperaktif, seperti tidak ada capeknya.

Jawaban : Silakan konsul kembali pada terapisnya ya. In syaa Allah terapis yang menangani anak lebih paham.

Tanggapan : Terapisnya umminya sendiri. Alhamdulillah.

Jawaban : Untuk anak autis, sebenarnya ketika emosi meledak, bukan karena ia marah atau ingin menyusahkan orang lain. Tapi biasanya ledakan emosinya disebabkan karena tidak bisa menghadapi frustrasi yang dirasakan. Anak sulit mengungkapkannya secara verbal sehingga yang keluar adalah ledakan emosional.

Oleh karena itu penting untuk menciptakan rumah yang nyaman bagi anak yang mengalami syndrome autistik.

Anak butuh rutinitas dan tidak bisa beradaptasi dengan mudah pada perubahan mendadak. Perubahan rutinitas ini sangat membuat mereka stres. Cari tahu stressor yang sulit diterima anak : seperti suara bising, ruangan ramai, dll.

Ajarkan anak teknis menenangkan diri : relaksasi pernafasan, berhitung, atau metode lainnya.

Anak juga tidak dapat menerima stimulus terlalu banyak. Jadi ketika memberi instruksi, satu persatu dengan tenang. Ketika melarang anak, ucapkan dengan jelas mengapa tidak boleh. In syaa Allah anak juga akan memahaminya.

Berikut ada artikel yang cukup konkret yang mungkin bisa sedikit membantu Bunda dalam menghadapi ledakan emosi anak :

Semoga Allah mudahkan ya Bunda.

15. Pertanyaan : Di sekolah usia TK ada 4 anak yg lari-lari ketika di kelas dan mengganggu temannya. Ketika diingatkan pelan-pelan, anak ini marah dan kadang memukul ustadzahnya. Bagaimana cara menstimulasi agar bisa mengendalikan emosi secara wajar?

Jawaban : Saya kira bukan sekedar masalah emosi, namun memang belum paham aturan, yang mungkin memang belum diajarkan orang tua ataupun guru. Guru perlu kerja sama dengan orangtua, sabar mengajarkan anak dan mendisiplinkan anak. Beri tahu aturan bagaimana di kelas, bagaimana bersikap pada guru dsb. Semoga Allah mudahkan.

16. Pertanyaan :

  1. Anak sulung saya laki-laki (7 tahun) termasuk anak penurut, jadi dengan sedikit dipaksa dia akan nurut dengan perintah saya meskipun terpaksa. Namun pada akhirnya saya punya ketakutan anak saya akan mudah terpengaruh orang lain atau tidak punya pendirian karena selalu NURUT. Anak saya ini mudah sekali dipaksa apalagi kalau berhubungan dengan empati.  Bagaimana seharusnya saya menghadapi anak lelaki saya ini,  karena saya berharap anak lelaki saya ini tegas dan berpendirian?  Mau bilang mau,  tidak bilang tidak.
  2. Anak kedua saya perempuan (4 tahun)  sangat ekspresif.  Ketika tidak suka sudah nampak sekali di wajahnya.  Ketika marah dia bisa teriak,  meninju,  memukul, menendang bahkan menggigit meskipun yang dia hadapi seorang anak yang lebih kecil.  Sudah selalu saya nasihati,  jaga lisan,  jaga tangan,  jaga kaki. Wajarkah di usianya tersebut memiliki ekspresi marah seperti itu?  Bagaimana seharusnya saya menyikapi?

Jawaban : Anak yang sudah biasa diarahkan atau dipaksa cenderung inisiatifnya kurang berkembang. Jadi mulai beri kesempatan pada anak untuk memutuskan banyak hal terkait dirinya. Jangan terlalu didominasi.

Untuk poin kedua, wajar namun tidak bisa dibiarkan. Ajarkan anak fungsi masing-masing anggota tubuh. Boleh beri konsekuensi dengan konsisten jika anak melakukan berulang. Peringatan lisan cenderung tidak didengar anak. Lakukan komunikasi efektif dengan kata-kata singkat ketika mengingatkan anak.

17. Pertanyaan :

  1. Apabila seorang ibu sangat kurang dalam menstimulasi emosi anak ketika usia bayi -18 bulan, apakah masih bisa dikejar sekarang setelah anak berusia 2 tahun lebih?
  2. Bagaimana cara mengatasi anak yang hobi teriak2 dengan nada tinggi, melempar barang kepada orang yg baru dikenal, dan merebut mainan teman?
  3. Apakah jenis kepribadian anak punya pengaruh besar dalam hal kontrol emosinya?

Jawaban :

  1. In syaa Allah bisa.
  2. Ajarkan aturan, komunikasi efektif, kata-kata singkat, beri konsekuensi yang sudah disepakati.
  3. Bisa jadi, namun pada dasarnya kepribadian manusia bersifat dinamis. Manusia terus belajar dan dapat berubah dengan pengalaman dan latihan.

18. Pertanyaan : Bagaimana cara mengatasi emosi anak usia di bawah 7 tahun yang terlanjur keras dan kasar akibat hasil didikan keras orang tuanya? Kadang melihat langsung ibunya bertindak kasar, jadi kadang dia meniru langsung, memukul sahabatnya, berbicara dengan berteriak, dll.

Jawaban : Orangtua perlu berubah terlebih dahulu. Minta maaf pada anak. Ajak anak untuk berubah lebih baik bersama-sama. Dan tentunya orangtua perlu mencontohkan ada progres/perubahan lebih baik setiap harinya.

Tanamkan lagi nilai-nilai baik pada anak. Yang utama memang membentuk kelekatan emosi dengan anak kembali. Karena tanpa kelekatan emosi tentunya akan sulit untuk orangtua memperbaiki perilaku anak. Terus husnuzhon pada Allah, perbanyak doa, semoga Allah mudahkan.

Tanya balik :Jazakillah khoir Mbak Innu jawabannya. Terus kalau kita yang menjadi gurunya, apakah kita harus langsung memberi nasehat kepada orangtuanya? Kadang anak saya sebagai teman anaknya juga jadi ikutan berperilaku kasar?

Jawaban : Jika posisi Bunda sebagai guru, pastinya tidak nyaman jika orang tua tersebut merasa digurui.

Mungkin yang bisa dilakukan adalah mengajak diskusi orang tua tersebut tentang kondisi anak. Dan nantinya cari kesempatan untuk  memberikan masukan-masukan. Barakallaahu fiik.

19. Pertanyaan :

  1. Anak perempuan saya (saat ini belum punya adik), umur hampir 10 tahun suka main boneka dan bermain peran. Senang pura-pura memiliki anak kembar, menyusui bonekanya (mungkin karena mengamati ibu lain yang menyusui di depannya). Apakah ini wajar?
  2. Bagaimana jika peran ayah kurang dalam tumbuh kembang, karena kesibukan dan tidak banyaknya ilmu tentang pengasuhan? Dan kebetulan ayah memiliki sakit, terkadang anak merasa malu jika diantar oleh ayahnya ke sekolah.

Jawaban : Wajar Bunda insyaa Allah.

Peran ayah cenderung vital untuk anak perempuan, (juga anak laki-laki pastinya). Secara teori, banyak dibilang bahwa ayah adalah ‘cinta pertama’ sang anak. Jika anak tidak dekat dengan ayah, biasanya anak menginjak usia remaja akan mulai mencari-cari sosok ayah pada diri laki-laki yang dikenalnya. Karena ia butuh perhatian. Oleh karena itu jika anak tidak dekat dengan ayahnya, sebisa mungkin ada sosok pengganti ayah di pihak keluarga yang dekat dengan anak (om, kakak, dsb). Bila ayah tinggal serumah, sebisa mungkin luangkan waktu berkualitas untuk bersama anak.

Terkait kondisi ayah yang sakit dan anak malu, pelan-pelan pahamkan pada anak bahwa bagaimanapun ayah adalah ayahmu yang sayang padamu. Tidak perlu dipaksa tentunya. Pelan-pelan saja dan dimulai dari membangun kelekatan di rumah. Semoga bisa dipahami ya Bunda.

20. Pertanyaan : Bagaimana sikap kita sebagai orangtua ketika menghadapi pertengkaran antara anak pertama dan kedua? Misal sama-sama saling merebutkan sesuatu. Apakah benar kakak tidak boleh mengalah sama sekali? Usia kakak 4 tahun dan adek 1,5 tahun.

Jawaban : Buat aturan yang jelas tentang pemakaian barang. Misalnya yang lebih berhak menggunakan barang adalah pemilik barang tersebut. Atau yang lebih berhak adalah yang memegang duluan barang tersebut. Atau yang lebih berhak adalah yang memang lebih membutuhkan barang tersebut saat itu. Terapkan aturan dengan konsisten in syaa Allah  lama lama anak akan  terbiasa.

21. Pertanyaan : Anak saya laki-laki umur 3 tahun kurang, kalau melakukan apa-apa, misal sedang mainan dan mainannya jatuh, pasti sedikit-sedikit menangis. Tidak bisa memasang sesuatu, nangis. Suka minta bantuan tapi selalu pakai rengekan atau menangis. Anak yang emosinya seperti itu wajar tidak ya? Bagaimana solusinya agar anak bisa menyelesaikan masalahnya tanpa “dikit-dikit nangis”?

Jawaban : In syaa Allah masih wajar Bunda. Namun anak penuh terus dilatih untuk tidak mudah menangis. Semangati anak bahwa dia mampu melakukannya, atau kalaupun tidak mampu, tidak apa apa, tidak perlu menangis, Bunda akan membantu.

Jadi kalau Bunda merasa akan ada situasi yang memang dapat membuat anak stres ketika melakukan suatu tugas, maka tawarkan bantuan. Setelah itu minta anak untuk mencoba kembali sendiri.

Di hari berikutnya ketika anak mengalami stres lagi, bunda tidak perlu langsung membantu, namun menyemangatinya, mengingatkannya bahwa kemarin dia sudah bisa. Hari ini in syaa Allah pasti bisa juga! Semangat!

22. Pertanyaan : Saya sering gagal mendamaikan anak saya yang bertengkar. Kakak usia 13 tahun (perempuan), adik usia 10 tahun (laki-laki). Mereka berdua sering ribut, si kakak orangnya serius, kalau emosi bisa meledak-ledak, sampai teriak-teriak. Si adik suka jahil, suka goda si kakak. Pokoknya semakin kakak marah, si adik malah kesenangan. Bagaimana cara mendamaikan anak yang lagi bertengkar? Bagaimana cara memberi pengertian ke kakak, supaya kalau emosi tidak meledak-ledak atau berlebihan? Terima kasih.

Jawaban  : Tidak perlu selalu ikut campur untuk mendamaikan anak yang bertengkar. Biarkan anak mandiri mengatasi masalahnya sendiri, kecuali memang akan terjadi situasi yang membahayakan fisik anak. Untuk adik ingatkan bahwa perilaku isengnya itu dapat menyakiti sang kakak. Walaupun mungkin adiknya tertawa, tapi kakak merasa tidak nyaman, dan itu adalah perilaku yang tidak oke. Kakak juga ingatkan untuk tetap tenang menghadapi adik. Jika adik isengnya keterlaluan, kakak  bisa tinggalkan adik, dan bermain dulu sendiri.

23. Pertanyaan : Di rumah, ibu saya mengasuh anak kakak sepupu saya dari usia 6 bulan sampai sekarang usia 7 tahun kelas 2 MI. Dia laki-laki. Sebelum saya & adik saya menikah, kami sangat memanjakan dia. Tapi sekarang kami semua dibuat jengkel dia dengan sikapnya yang pemalas, sulit diatur, susah disuruh. Karakter anak ini pendiam, pemalu,  penakut, belum bisa mandiri, minder,  kuper, pemalas, dan cengeng. Dan kami kalau ngomong sama dia bawaannya emosi saja. Dan ini terjadi setiap hari. Setiap hari harus membentak bahkan menjewernya, dan juga membandingkan dengan anak sebayanya yang lain. Bagaimana merubah dia menjadi anak yang pemberani, anak yang rajin, disiplin, dan minat untuk sekolah,  belajar dan mengaji itu ada pada dirinya? Sehingga kami dalam menghadapi dia tidak emosi lagi. Kami sangat sayang sama dia. Ingin sekali melihat dia menjadi anak yang lebih baik. Pemberani,  Mandiri.

Orangtua kandung anak ini berkarir semuanya. Alasan kami mengasuh,  agar dia tidak terlantar, seperti kakaknya dulu. Kurang kasih sayang dan perhatian dari orangtuanya. Dan pada waktu itu saat dia umur 6 bulan,  ibunya lagi mengandung adiknya usia kehamilan 4 bulan. Jadi diasuhlah dia oleh ibu saya, karena ibu saya kesepian di rumah.  Dimana dulu saya dan adik saya masih kuliah diluar kota. Mohon solusinya.

Jawaban : Pastinya cukup sulit mengubah anak yang sudah bertahun-tahun dimanjakan dengan sifat-sifat cenderung negatif yang tertulis cukup banyak menjadi positif yang diharapkan juga banyak. Namun in syaa Allah bisa jika keluarga mau berikhtiar keras untuk ini.

Kunci:

  • Minta maaf karena selama ini ternyata salah mengasuh karena begitu sayangnya. Lalu minta maaf lagi kalau sekarang akan ‘dikeraskan’ karena perasaan sayang yang sama.
    • Minta anak sebutkan kelebihan dan kekurangannya, plus cita-citanya.
    • Treatment yang dapat dilakukan adalah mengubah hal-hal kecil.
    • Minta anak susun apa saja kewajiban-kewajiban atau tugas-tugasnya di rumah dari bangun hingga tidur lagi –> tanggung jawab dan kemandirian.
    • Keluarga benar-benar harus bersinergi menyemangati anak untuk melakukannya.
    • Tentukan konsekuensi juga pastinya harus konsisten..! Anak melanggar, konsekuensi bertindak. Yang efektif untuk anak biasanya: HP, TV, gadget, uang jajan, ga boleh keluar rumah, dsb.
    • Lihat perubahan anak dari hari ke hari apakah dilakukan atau tidak.

Selebihnya untuk ingin anak mandiri, berani, tidak pemalu, tidak kuper, silakan diskusikan cara-cara lain lagi. Satu per satu saja agar dapat fokus ke perubahan karakter tertentu. Pastinya perbanyak doa pada Allah semoga Allah mudahkan.

24. Pertanyaan : Bagaimana cara menghadapi anak menjelang remaja yang mempunyai keinginan, tapi keinginanya itu sangat bertentangan sekali dengan keinginan orangtua? Serta keinginannya itu sangat berbahaya bagi anak tersebut? Usia anak sudah SMP yang selama ini anaknya tidak bermasalah menurut orangtua dan penurut sekali.

Jawaban : Jelaskan baik-baik alasan logis mengapa tidak diperbolehkan. Dengan empati dan menghargai diri anak tersebut. Dan tentunya berikan alternatif-alternatif lain untuk anak pilih sebagai penggantinya.

25. Pertanyaan : Anak saya yang pertama perempuan  (8 tahun) dan SANGAT LABIL sekali emosinya. Kalau tidak pas dengan keinginannya atau terusik sedikit perasaannya akan menjerit atau memukul sejadi-jadinya. Saya selalu menangis saat anak perempuan saya ini sedang marah. Menendang kaca etalase sampai pecah saat adiknya merebut, teriak keras sekali sampai tetangga hafal, terakhir yang saya malu sekali di depan simbahnya menendang dada adiknya saat dimintai roti adiknya tidak boleh. Astagfirullah ini perempuan ya Allah tapi kenapa kasar sekali? Padahal saya tidak pernah menendang dia. Tapi memang pada awal pernikahan kami sebagai orang tua emosi kami juga labil.

  1. Adakah suatu manajemen emosi yang detail bisa saya miliki/saya tulis di dinding agar bisa memantau perkembangan emosi anak perempuan saya agar stabil?
  2. Bagaimana caranya agar adiknya (laki-laki, 5 tahun) tidak suka merebut atau harus punya barang yang sama dengan kakaknya?
  3. Anak yang perempuan ini juga suka meneriaki saya kalau menyuruh tidak sesuai. Nada ngomongnya itu selalu seperti orang membentak. Padahal kami juga udah merubah emosi labil kami pada awal pernikahan tapi kok masih belum ada hasilnya ya untuk perubahan emosi anak?

Jawaban : Mohon maaf sebelumnya untuk Bunda, menurut saya ananda sudah perlu untuk mendapat pertolongan ahli. Jadi silakan cari poli psikologi/ psikolog anak terdekat yang dapat membantu ananda untuk lebih dapat mengendalikan emosinya ya. Karena sepertinya pihak keluarga kesulitan untuk menangani anak.

Saya hanya bisa membantu menjawab poin kedua:

Yaitu buat aturan bahwa siapa yang punya barang, lebih berhak atas barang tersebut, yang lain tidak boleh merebut. Kalau mau punya barang yang sama, tunggu giliran atau menabung. Karena orangtua tidak bisa dengan mudahnya mengeluarkan uang untuk hal-hal yang tidak direncanakan. Penting untuk tegas disini agar adik tidak terpengaruh dengan sikap kakak. Semoga Allah mudahkan ya Bunda.

26. Pertanyaan : Mau ikut nanya boleh? Kalo anak 8 tahun yang masih “dikit2 nangis” bagaimana?

Jawaban : Kalau 8 tahun tidak wajar lagi Bunda. Kecuali anak bunda memang tipe sensitif. Itu pun menangis perlu ada alasannya dan anak sebaiknya dilatih meregulasi emosi dengan baik.

Tanya balik : Jadi perlu bimbingan psikolog ya?

Jawaban : Kalau Bunda merasa dirinya masih terkendali, dan Bunda juga masih mampu membantunya, belum tentu harus ke Psikolog.

27. Pertanyaan : Signifikankah pengaruh diet kasein juga gluten dsb (makanan yang boleh dikonsumsi) terhadap emosi/tantrum seorang anak autis, Mba Innu?

Jawaban : Yang saya pahami, kondisi anak berbeda-beda. Jika memang anak dengan syndrome autism tidak memiliki gangguan pencernaan dan alergi terhadap kasein dan gluten in syaa Allah tidak masalah untuk mengkonsumsinya.

28. Pertanyaan : Kalau anak saya (5 tahun) dia kalau diajak ngobrol atau dipanggil suka diam walaupun dia dengar, itu kalau di rumah. Kalau di sekolah dia suka nangis tanpa sebab, Mba. Kenapa ya?

Jawaban : Wallohu a’lam. Terkait dipanggil tidak menjawab, bisa jadi anak punya skema negatif, bahwa panggilan tersebut diasosiasikan dengan hal yang tidak menyenangkan (misalnya akan dimintai tolong, diceramahi atau lain sebagainya, saya juga tidak tahu).

Atau bisa jadi anak memang sedang asyik melakukan hal yang lain sehingga tidak tertarik untuk menjawab.

Tentang di sekolah, bisa jadi anak menyimpan sesuatu yang sulit diceritakannya sehingga di sekolah suka menangis tiba-tiba. Untuk lebih akuratnya, Bunda ajak kakak ngobrol pelan-pelan dari hati ke hati, penuh kasih sayang agar anak mau terbuka pada Bunda.

29. Pertanyaan : Anak saya 7 tahun, laki-laki, dia hiperaktif sekali, usil , iseng dan emosional. Tak jarang orang menyebut anak saya nakal, bandel atau apalah. Tapi di sisi lain dia anak yang cerdas, di kelas dia termasuk anak yang mudah menyerap pelajaran, dia masuk urutan 10 besar. Saya sebagai orangtua kadang agak kesulitan mengendalikan emosi anak saya. Saya paham plus minus anak saya. Saya pun menginginkan anak saya sebagai anak yang sholeh, baik, wise. Mohon bantuan dan masukannya Bunda, mungkin selaku orangtuanya masih banyak kekurangan saya, apalagi kami dua-duanya bekerja. Terimakasih bunda sebelumnya.

Jawaban : Fokus pada kelebihan anak dan apa yang dapat Anda kerjakan bukan hanya kekurangannya atau yang tidak bisa ia lakukan. Tidak perlu mempedulikan cap negatif dari orang lain. Namun Bunda perlu sekali menyakinkan anak bahwa dirinya adalah anak yang oke, anak yang berharga, anak yang baik, anak yang disayangi, sehingga anak dapat memiliki konsep diri yang positif. Konsep diri yang positif akan mengarahkan anak untuk melakukan hal yang positif pula. Terus fahamkan anak untuk berhati hati ketika usil karena tidak semua orang dapat menerima perbuatannya.

30. Pertanyaan : Kalau sebelum-sebelumnya kan banyak mengulas anak yang tempramen, frontal ketika meluapkan emosi, lalu bagaimana dengan pengelolaan emosi anak yang cenderung pemalu, pendiam, dan tertutup?

Jawaban : Pemalu, pendiam, tertutup, bisa digali lagi. Apakah memang sifat bawaan atau pengaruh lingkungan.

Kalau sifat bawaan, yang penting kan tetap percaya diri, bisa mengeluarkan potensinya, dapat beradaptasi sesuai kebutuhan.

Kalau pengaruh lingkungan, ini yang perlu diperbaiki. Biasanya karena ‘kesalahan’ pola asuh yang kurang menstimulasi percaya diri anak, sehingga pengelolaan emosinya adalah dengan ‘membangkitkan’ rasa aman, rasa percaya anak ke lingkungan, sehingga anak jadi percaya diri. Setelah percaya diri, baru bisa mengeluarkan potensi-potensinya yang sebenarnya.

31. Pertanyaan : Bagaimana cara menstimulasi rasa percaya diri anak?

Jawaban : Sama seperti di atas Bunda. Menumbuhkan rasa percaya diri. Maksudnya tentang anak yang pemalu, pendiam, tertutup kah? Jika ya, pemalu, pendiam, tertutup, bisa digali lagi. Apakah memang sifat bawaan atau pengaruh lingkungan.

Kalau sifat bawaan, yang penting kan tetap percaya diri, bisa mengeluarkan potensinya, dapat beradaptasi sesuai kebutuhan.

Kalau pengaruh lingkungan, ini yang perlu diperbaiki. Biasanya karena ‘kesalahan’ pola asuh yang kurang menstimulasi percaya diri anak, sehingga pengelolaan emosinya adalah dengan ‘membangkitkan’ rasa aman, rasa percaya anak ke lingkungan, sehingga anak jadi percaya diri. Setelah percaya diri, baru bisa mengeluarkan potensi-potensinya yang sebenarnya.

32. Pertanyaan : Mba Innu, saya sering melihat ada anak yang sulit sekali dinasihati sama ibunya. Dia akan menerima nasihat dari ibunya setelah dimarahi sambil mengguncangkan badan anaknya.

Kata saya “jangan seperti itu Bu, kasihan anaknya” lalu dia jawab “anak jaman sekarang tidak rasa takutnya kecuali setelah ibunya marah”.

Apakah tepat jika pola pendidikan yang diterapkan si ibu seperti ini? Jika tidak apa efek sampingnya terhadap anak?

Jawaban : Tentunya tanpa saya jawab, saya yakin Bunda sudah tahu bahwa metode tersebut tidak tepat. Kekerasan fisik sebenarnya tidak membuat anak memahami orang tua, hanya membuatnya merasa takut saja. Sama seperti kita jika diguncang-guncangkan orang, mungkin kita akan takut kan? Tapi apakah kita akan mendengarkan dengan bahagia/ikhlas jika orang yang memukul kita itu menasehati? Yang ada kita akan mengabaikannya bukan? Kalaupun kita lakukan, ya karena terpaksa, takut. Setelahnya kalau bisa menjauh, mendingan jauh-jauh saja deh.

Dan efek ke anak kemungkinan dia tidak akan merasa kedekatan emosional dengan  ibunya. Dan mungkin setelah besar badannya lebih dari ibunya, waktunya ‘pembalasan’ jika ibunya mempertahankan sikap demikian dan tidak memberikan pengajaran nilai-nilai yang baik. Wallahu a’lam.

33. Pertanyaan : Anak saya laki-laki usia 2 tahun. Sukanya menggambar bunga, main bunga. Kadang ingin main gendongan. Tapi oleh orangtua saya dilarang karena khawatir itu termasuk permainan anak perempuan. Apakah ini benar?

Jawaban : Tidak masalah bunda sebenarnya kalau menggambar atau bermain permainan tertentu. Yang penting anak diajarkan tentang peran gender sesuai dengan jenis kelaminnya. Dan tetap dibiasakan lebih banyak main dengan mainan-mainan yang lebih maskulin. Tidak hanya itu-itu saja.

Tanggapan : Sekedar sharing, anak saya laki-laki usia 3 tahun juga sama kok, Mba. Suka main masak-masakan, dulu sempat takut dengan bola, tidak mau main bola dan mobil-mobilan. Kalau memilih sandal atau sesuatu, suka warna pink ikut kakaknya. Dan ternyata itu ngga hanya saya yang merasakan. Tapi, seperti yang disarankan Mba Innu juga, tetap dibiasakan terus saja. Alhamdulillah, lama-lama mulai suka main bola, mobil. Walaupun main masak-masakan juga teteup masih. Hehe. Tetap semangat, Mba.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.